Seirei Gensouki Volume 10 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia
Cerita Pendek Bonus
Kamu Mesum!
Rio telah menyelesaikan pekerjaannya hari itu di rumah batu dan sedang beristirahat sejenak di sofa ruang tamu. Diselimuti oleh selimut kesayangannya, dia merasakan sedikit rasa kantuk menguasainya dan tidur siang selama sekitar setengah jam.
“Hmm…?”
Tanpa disadari, Aishia dan Latifa telah duduk di kedua sisinya dan tertidur bersandar di bahunya. Hanya ada mereka bertiga di ruang tamu.
…Kalau begini terus aku tidak bisa bangun.
Melihat mereka berdua tidur begitu pulas membuat dia enggan untuk berdiri dan membangunkan mereka. Tapi di sisi lain, leher mereka akan kaku jika terus tidur seperti ini.
Mungkin sebaiknya aku gendong saja mereka ke tempat tidur? Rio merenung.
“Oh, kamu sudah bangun, Rio,” kata Celia, yang berjalan masuk bersama dengan Sara.
“Ya. Kemana yang lainnya pergi?” tanya Rio sambil melihat sekeliling ruang keluarga.
“Kami tadi baru saja minum teh di kamar Orphia, tapi camilan kami habis, jadi kami keluar untuk mengambil persediaan,” jawab Sara sambil terkikik.
“Begitu ya. Mumpung kalian di sini, bisakah kalian singkirkan selimut ini dariku? Sepertinya aku tidak bisa bergerak sekarang.”
“Tentu, tunggu sebentar.” Atas permintaan Rio, Celia mendekat untuk menyingkirkan selimut darinya.
“…Mm. Pagi.” Aishia perlahan mengerjap-nerjap membuka matanya.
“Pagi, Aishia. Masih mengantuk?” tanya Rio sambil memerhatikan Aishia yang mengucek matanya.
“Ya…” Aishia mengangguk, masih setengah tertidur.
“Bisakah kamu berubah ke wujud rohmu dan masuk ke dalam diriku sebentar? Aku mau menggendong Latifa ke tempat tidur.”
“Baiklah.” Aishia langsung menghilang. Dengan begitu, Rio bisa bergerak dengan bebas.
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan membawa Latifa ke tempat tidur.” Dia menoleh ke arah Latifa dan mengangkatnya ke dalam dekapannya dengan cara yang sudah biasa dia lakukan. Bibir Latifa melengkung membentuk senyuman bahagia saat dia menyerahkan dirinya kepada Rio.
“Dia tidur begitu nyenyak.” Celia memperhatikan wajah tidur Latifa dan tersenyum.
“Tapi terkadang dia sengaja pura-pura,” kata Sara sambil menghela napas.
“Dia kan manusia-serigala berekor sembilan–maksudku, ras siluman rubah,” Celia tertawa geli.
“Kalau begitu, aku pergi dulu,” kata Rio, lalu mulai berjalan menuju kamar Latifa. Sementara itu, Sara pergi mengambil camilan dari dapur dan kembali ke kamar Orphia bersama Celia. Orphia dan Alma sedang menunggu di dalam.
“Selamat datang kembali, kalian berdua,” sapa Orphia kepada mereka berdua dengan senyuman hangat.
“…Ada apa dengan selimut itu?” tanya Alma, melihat ke arah Celia.
“Ah, ini punya Rio…”
Selimut itu masih terasa hangat dari panas tubuh Rio; dia telah melipatnya saat Sara pergi mengambil camilan. Rio belum juga kembali, jadi dia akhirnya membawa selimut itu bersamanya—hampir seolah-olah dia merasa tidak sanggup berpisah darinya. Tatapan Sara, Orphia, and Alma secara alami tertuju pada selimut tersebut.
“Kalau dipikir-pikir, sebenarnya tidak perlu membawanya bersamaku. Rio mungkin sudah kembali, jadi aku harus meletakkannya di ruang tamu,” kata Celia dengan nada suara yang sedikit tinggi. Entah kenapa dia merasa malu.
“Hehe, kenapa kamu tidak menggunakan kesempatan ini untuk mencoba tidur dengan selimut Rio? Masih hangat, kan? Aku yakin rasanya pasti luar biasa,” kata Orphia kepada Celia dengan senyuman usil.
Celia mengerjap beberapa kali sebelum wajahnya memerah. “Eh? A-Aku tidak bisa melakukan itu!”
“Kalau begitu, bagaimana denganmu, Sara? Alma?” tanya Orphia kepada keduanya.
“A-Apa yang kamu bicarakan, Orphia?” tanya Sara dengan malu-malu, tampak terguncang oleh ucapan itu. Alma pura-pura tidak mendengar untuk menghindari mencari masalah sendiri.
“Benarkah? Kalau begitu, aku akan meminjamnya dan tidur dengannya,” gerai Orphia sambil terkekeh, menatap Celia.
“K-Kamu tidak boleh melakukan itu! Mesum!” Celia memeluk selimut itu erat-erat ke dadanya.
“Hehe, itu cuma bercanda,” kata Orphia dengan geli.
“…Ampun deh.” Pipi Celia tetap merona merah sementara dia merengut.
“Orphia terlihat serius, tapi dia bisa menjadi orang yang suka usil,” desah Sara lelah.
Semakin lama dia memegangnya, semakin besar kemungkinan percakapan itu akan berbelok ke arah yang aneh. Pemikiran itu membuat Celia berdiri. “Ahaha… Aku mau menaruh selimut ini di ruang tamu. Rio mungkin sudah kembali sekarang.”
“Sayang sekali ya, Sara.”
“Bukannya begitu!”
Meninggalkan gadis-gadis yang sedang bertengkar itu di belakangnya, Celia kembali ke ruang tamu seorang diri.
“Rio masih belum kembali…”
Tidak ada seorang pun di ruang tamu. Celia berjalan menuju sofa tempat Rio tidur tadi. Dia baru saja hendak meletakkannya di atas sofa, ketika—
“…Hmph.”
Kehangatan selimut itu begitu menenangkan, hingga dia ragu untuk melepaskannya. Celia menatapnya. Setelah beberapa detik, dia tiba-tiba memeluknya erat dan membenamkan wajahnya ke dalam selimut tersebut.
“…Hangat.”
Dan sepertinya juga beraroma seperti Rio. Sara dan Latifa pasti tahu betul…
Tunggu, apa yang sedang kulakukan?! Berhenti! Sekarang akulah yang jadi pelaku mesum!
Celia sadar dari lamunannya dan buru-buru menjauhkan selimut itu dari wajahnya. Namun meski begitu, dia tetap mendambakan kehangatan tersebut, merasa iri pada Aishia dan Latifa yang selalu menempel pada Rio tanpa ragu.
“S-Satu kali lagi, sekali saja…”
Celia perlahan mendekatkan kembali selimut itu ke wajahnya. Namun, ketika pintu kamar Latifa terbuka dengan suara klek! dia terperanjat bangkit dan membeku.
“…Eh? Profesor? Anda masih di sini.”
Rio memiringkan kepalanya dengan rasa ingin tahu melihat Celia yang berdiri sendirian di ruang keluarga. Untungnya, dia sama sekali tidak melihat apa yang baru saja dicap oleh Celia sebagai tindakan mesum.
Celia mengembuskan napas lega dan mengendalikan detak jantungnya yang berdegup kencang sebisa mungkin untuk memberikan jawaban yang tenang. “Y-Ya. Aku tak sengaja membawa selimutmu ke kamar Orphia, jadi aku mengembalikannya.”
Satu Adegan dari Perjamuan
Pada malam pertama perjamuan yang diselenggarakan oleh Kerajaan Galarc, saat Satsuki pertama kali diperkenalkan, Miharu berdiri di samping Rio bersama Liselotte, ketiganya bergerak bersama.
Ada aliran bangsawan yang datang silih berganti untuk menyambut mereka, jadi mereka belum berpindah tempat sejak awal perjamuan, menerima para bangsawan satu demi satu di lantai atas.
Tamu utama malam itu adalah sang pahlawan, Satsuki, sehingga dia menarik paling banyak perhatian, tetapi Miharu juga menarik perhatian yang hampir sama besarnya dari para bangsawan. Meskipun sebagian alasannya adalah karena dia adalah teman Satsuki, kecantikannya yang anggun juga memegang peran besar.
“Ya ampun, pemandangan yang sangat indah. Rambut hitam pada gadis seperti itu…”
“Benar sekali. Baik pancaran Lady Satsuki maupun keanggunan Lady Miharu—pasti ada banyak pemuda yang jatuh hati pada mereka.”
Para bangsawan paruh baya yang sudah berkeluarga memuji Miharu dengan kagum. Banyak dari para bangsawan tersebut telah terpikat oleh kecantikannya yang eksotis, yang jarang terlihat di wilayah Strahl, dan menatapnya dengan tatapan penuh gairah. Namun pada saat yang sama, Rio menuai rasa iri karena didampingi oleh Miharu dan Liselotte, salah satu wanita lajang paling cantik di Kerajaan Galarc.
Tatapan yang bisa kurasakan… sepertinya bukan hanya imajinasiku saja.
Rio dapat menebak alasan di balik sebagian besar tatapan itu dan tersenyum kecut. Liselotte pasti menyadarinya juga, tetapi dia sudah terbiasa dengan situasi seperti itu dan tampak sangat tenang. Sementara itu, Miharu sepertinya belum menyadari tatapan penuh gairah tersebut.
“Ada apa, Haruto?” Miharu langsung menyadari Rio sedang menatapnya dan bersuara. Rio sedikit terkejut melihat betapa peka Miharu terhadap tatapannya, tetapi dia tetap tersenyum.
“Bukan apa-apa. Apa kamu lelah?”
“Aku baik-baik saja,” jawab Miharu sambil tersenyum lebar. Melihat senyumnya dari dekat membuat emosi yang tak terlukiskan membuncah di dalam diri Rio. Entah itu milik Amakawa Haruto atau milik Rio, dia sendiri tidak tahu.
“Syukurlah kalau begitu,” jawab Rio sambil tersenyum, menyembunyikan perasaan yang bersemayam di dalam hatinya.
Kata-Kata Ajaib untuk Membuat Omurice Terasa Lebih Enak
Tidak lama sebelum Miharu menghadiri perjamuan di Kerajaan Galarc, Rio telah meninggalkan rumah batu itu sendirian, jadi Miharu, Latifa, dan Celia menyiapkan makan siang sedikit lebih lambat dari biasanya. Begitu dia kembali, Rio menunggu di ruang makan sampai mereka selesai memasak.
“Terima kasih sudah menunggu, Onii-chan!”
Latifa muncul membawa nampan, ditemani oleh Miharu dan Celia.
“Tada! Makanan kesukaan Onii-chan—omurice! Miharu mengajari Celia dan aku cara membuatnya dengan sangat lezat! Bagaimana menurutmu?” Latifa memamerkan omurice di atas nampan dengan senyuman tanpa beban.
“Terima kasih—tampak lezat. Dan terima kasih kepada Miharu dan Profesor Celia juga.”
“T-Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit penasaran tentang cara membuatnya setelah mendengar omurice adalah kesukaanmu dan merasa itu enak saat aku mencicipinya. Aku tidak melakukan hal khusus apa pun,” jawab Celia dengan malu-malu atas ucapan terima kasih Rio.
“Itu tidak benar. Celia yang membuat sebagian besar nasi ayamnya,” imbuh Miharu sambil terkikik.
“Hei hei, Onii-chan. Bolehkah aku menuangkan saus tomat di atas omurice-mu?” tanya Latifa dengan mata berbinar-binar.
“Ya, tentu saja.” Rio mengangguk dengan santai. Latifa lantas menulis “I love you” dengan saus tomat di atas telur dadar setengah matang yang lembut itu.
“Selesai. Ini dipenuhi dengan cinta kami, jadi pastikan kamu menghabiskannya, ya!” Latifa menyeringai sambil menatap wajah Rio. Celia dan Miharu sama-sama tampak malu mendengar ucapannya.
“Baiklah,” jawab Rio canggung. Dia mengangkat sendoknya untuk menyembunyikan rasa malunya.
“Ah, tunggu! Ini belum selesai,” seru Latifa.
“…Eh? Benarkah? Bukankah Miharu baru saja bilang kalau itu sudah selesai?” Celia memiringkan kepalanya sambil menatap Miharu.
“Ya. Karena kita masih belum mengucapkan kata-kata ajaib agar rasanya jadi jauh lebih enak,” kata Latifa dengan bangga sambil membusungkan dadanya yang mungil dan masih dalam masa pertumbuhan.
“Kata-kata ajaib…?” Sebagai seorang penyihir, mata Celia membelalak karena tertarik.
“Hehehe! Aku akan mengucapkannya sekarang, sebelum makanannya menjadi dingin.” Latifa menyeringai usil.
“Biar enak, guk guk kyun!”
Telinga rubahnya berkedut saat dia menggunakan kedua tangannya untuk membentuk simbol hati dan mencurahkan rasa cintanya ke dalam omurice tersebut.
“A-Apa… itu…?” tanya Celia dengan wajah yang memerah padam.
“Itu adalah kata-kata ajaib untuk menambahkan cinta ke dalam omurice. Sekarang giliran kalian berdua! Coba kulihat…”
Latifa mendekatkan wajahnya ke telinga Celia dan Miharu, lalu membisikkan sesuatu kepada mereka. Dia mungkin sedang mengajari mereka kata-kata ajaib itu.
“T-Tidak mungkin! Aku tidak bisa mengucapkan hal yang memalukan seperti itu!” Celia terkejut, wajahnya masih memerah. Miharu berusaha tersenyum untuk menyembunyikan rasa malunya.
“I-Ini juga sedikit terlalu berlebihan bagiku…”
“Hmph, aku tidak percaya kalian berdua tidak mau memberikan cinta kalian kepada Onii-chan.” Latifa sedikit merengut.
“A-Aku tidak bilang begitu!” protes Celia dengan salah tingkah.
“Benarkah? Kalau begitu, kulihat kau melakukan apa yang sudah kuajarkan, Celia.”
“Ugh…”
“Professor, Anda tidak perlu memaksakan diri melakukannya.” Rio mencoba memberikan jalan keluar kepada Celia, yang tanpa sadar telah menggali kuburannya sendiri.
“A… Aku tidak memaksakan diri. B-Buatlah jadi lezat, mesra kyun.”
Dengan wajah yang sangat merah dan suara berbisik, Celia membentuk simbol hati dengan kedua tangannya. Namun, dia segera mencapai batas rasa malu yang bisa ditanggungnya dan membenamkan wajahnya di kedua tangannya sambil mengerang.
Latifa menoleh kepada Miharu dengan penuh semangat. “Sekarang giliranmu!”
“Umm…” Miharu diselimuti kecemasan, suaranya terdengar lebih melengking dari biasanya.
“Sudahlah. Kamu membuat Miharu kesal, jadi hentikan saja sampai di sini. Miharu, kamu tidak harus mengikuti permintaannya,” desah Rio dengan lelah, lalu mengambil sendok untuk mulai makan.
“Ah, t-tunggu sebentar!” panggil Miharu untuk menghentikan Rio.
“A-Aku akan merasa tidak enak pada Celia j-jika aku satu-satunya yang tidak melakukannya… Jadi… B-Buatlah jadi lezat, moe moe, kyun… Wah.” Gumam Miharu sambil membentuk simbol hati dengan tangan.
Penerimaan Elemental ☆
Di Jepang, di suatu tempat di dalam kota…
Saat itu adalah musim semi, dan kelopak bunga berwarna merah muda pucat menari-nari tertiup angin selama upacara penerimaan sekolah. Haruto sedang mengunjungi kampus dari universitas induk tempat sekolah afiliasinya berada.
Dia berada di sana bukan karena hendak memulai masa kuliahnya di universitas, melainkan untuk merayakan penerimaan kakak tingkatnya.
“Selamat, Satsuki.”
Pada siang hari di hari upacara penerimaan, dia menunggu sedikit lebih awal dari waktu pertemuan mereka untuk menyampaikan ucapan selamat kepada Satsuki, yang datang belakangan.
“Terima kasih, Haruto. Bagaimana menurutmu tentang hakama-ku? Apakah ini cocok untukku?” Satsuki terkikik, mengangkat kedua lengannya sedikit untuk memamerkan hakama-nya.
“Ya, ini indah. Baik hakama maupun dirimu yang memakainya,” puji Haruto dengan senyuman lebar.
Pipi Satsuki memerah karena malu, sebelum dia mengarahkan pandangannya yang sedikit menegur kepada Haruto. “…Kamu benar-benar tidak ragu mengucapkan hal seperti itu. Padahal, itu sama sekali tidak terdengar sombong atau palsu.”
“Umm, apa aku mengatakan sesuatu yang salah?” tanya Haruto dengan canggung melihat tatapan Satsuki.
“Tidak, kamu sangat tepat sasaran. Terima kasih.” Satsuki menghela napas ringan tetapi tetap berterima kasih kepadanya dengan gembira.
“Tapi jika kamu mengatakan itu kepada setiap gadis, kamu mungkin membuat beberapa orang salah paham dengan maksudmu, jadi pastikan kamu memilih kepada siapa kamu mengatakannya meskipun itu hanya sanjungan,” tambahnya sambil mengarahkan jarinya ke arah Haruto.
“Itu bukan sanjungan. Dan aku mengatakannya karena ini adalah kamu, Satsuki.”
“…” Satsuki mengerjap beberapa saat sebelum memalingkan wajahnya secara menyerong dari Haruto.
“Aku benar-benar akan salah paham, bodoh,” gumamnya agar Haruto tidak bisa mendengarnya.
“…Satsuki?” panggil Haruto, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
“Bukan apa-apa, aku hanya muak dengan ketidakmampuanmu untuk belajar. Apakah Miharu dan yang lainnya masih dalam perjalanan ke sini?” ucap Satsuki terus terang, sambil melihat sekeliling ke arah lingkungan sekitar mereka.
“I-Iya. Masih ada sedikit waktu sebelum jam pertemuan.” Haruto sedikit meringis, melirik jam umum di dekat situ.
“Hmm. Kurasa kita hanya berdua saja sampai saat itu,” kata Satsuki santai.
“Sepertinya begitu,” balas Haruto biasa saja.
Satsuki sedikit mengerucutkan bibirnya sebelum dia tiba-tiba memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang dan menoleh ke arah Haruto. “…Ngomong-ngomong, apa rasanya kita sedang diperhatikan?” Saat ini mereka berada di dalam area kampus universitas, di halaman tepat sebelah sekolah afiliasi yang dihadiri oleh Haruto. Oleh karena itu, ada lebih sedikit orang yang berkunjung untuk upacara penerimaan, namun masih ada kelompok-kelompok yang ramai di sana-sini.
“Bukankah itu karena kamu, Satsuki?”
“Aku?”
“Karena kamu terlihat cantik mengenakan hakama,” ujar Haruto.
“…I-Itu tidak benar!” Satsuki jelas merasa malu, tapi dia pasti tidak senang jika hanya dirinya sendiri yang merasa malu. “Belum tentu ada banyak kesempatan untuk berduaan dengan seorang gadis yang memakai hakama. Untung sekali ya, kan Haruto?” tanyanya dengan pelototan.
“Ya, sungguh,” setuju Haruto diiringi tawa kecil yang geli.
“…Entah kenapa, aku hanya ingin melihatmu memasang ekspresi malu, bahkan jika itu adalah hal terakhir yang kulakukan.” Satsuki menggembungkan pipinya dan menatap tajam ke arah Haruto.
“Kenapa? Kumohon, jangan.”
“Rasakan ini!” Satsuki dengan usil memeluk lengan Haruto saat pemuda itu mundur dengan waspada. Mereka tampak persis seperti sepasang kekasih, membuat para siswa laki-laki yang lewat memelototi mereka dengan rasa iri.
“Apa—Satsuki?!” Haruto akhirnya merasa malu dan rona merah muncul di wajahnya.
“Jarang-jarang dipeluk oleh gadis yang memakai hakama, jadi bukankah ini bagus? Jika kamu mau, aku bahkan akan memakainya lagi—khusus untukmu,” kata Satsuki, menatap Haruto dengan senyuman tanpa beban.

Komentar