Seirei Gensouki Volume 8 Bab 4: Bayanganmu Bahasa Indonesia
Bab 4: Bayanganmu
Begitu Rio, Celia, dan Aishia meninggalkan Amande melalui gerbang timur, mereka berjalan ke timur menyusuri jalan utama. Setelah beberapa waktu berlalu, mereka memastikan tidak ada seorang pun di sekitar mereka sebelum terbang ke angkasa. Mereka terus melanjutkan perjalanan melalui udara menuju Galtuuk, ibu kota Kerajaan Galarc, dan tiba di pinggiran ibu kota sebelum matahari terbenam. Setelah mereka mencari tempat terpencil di area berbatu di pinggiran kota, mereka mendirikan rumah batu.
Celia duduk di sofa ruang tamu dan meregangkan tubuh. “Rasanya sudah agak lama sejak terakhir kali aku tinggal di rumah ini.”
“Kita hanya tinggal di sana selama beberapa hari, namun banyak hal terjadi selama kita berada di Amande.” Rio meletakkan teh yang telah disiapkannya di atas meja dan menyetujuinya dengan senyum geli.
“…Ya. Rasanya agak aneh. Aku baru tinggal di rumah ini sebentar, tapi rasanya seperti aku sudah pulang ke rumah,” kata Celia dengan penuh perasaan.
“Terima kasih sudah mengatakannya. Mungkin itu karena tidak ada orang lain di sekitar sini, jadi kamu bisa santai secara mental,” tebak Rio.
“Ya, pasti itu alasannya.” Celia mengangguk malu-malu.
“Lagipula karena kita bisa mulai mandi lagi, dan makan bersama dengan Haruto,” sahut Aishia. Celia terkikik, menyetujuinya dengan gembira.
“Ah, itu benar — kamu benar juga. Aku menantikannya.”
“Aku harus pergi untuk sementara waktu mulai besok, jadi kita hanya bisa makan bersama malam ini dan besok pagi, tapi aku akan mencurahkan segalanya untuk memasak malam ini. Professor, Aishia, kalian bisa bersantai dan mandi sementara itu,” saran Rio kepada mereka berdua.
“…Mm, itu ide yang menggoda, tapi bisakah kamu mengajariku cara memasak malam ini? Kamu sudah berjanji padaku sebelumnya, ingat?” tanya Celia, pipinya merona merah samar.
“Tentu saja. Aku tidak keberatan sama sekali, tapi bukankah lebih baik jika kita melakukannya di waktu yang tidak terlalu terburu-buru?” Jika dia memasak untuk pertama kalinya, akan lebih baik untuk belajar terus-menerus selama beberapa hari berturut-turut. Rio akan pergi besok, jadi tidak banyak yang bisa dia ajarkan hanya dalam satu pelajaran.
“Tidak. Aku akan tinggal bersama Aishia selama kamu pergi. Aishia bisa memasak beberapa makanan sederhana, tapi setidaknya aku harus bisa membuat satu hal sendiri, kan? Dan aku juga bisa berlatih saat kamu pergi,” kata Celia dengan sedikit rasa malu.
“…Aku mengerti. Kalau begitu, mari kita lihat apakah aku bisa mengajarimu beberapa resep sederhana,” saran Rio dengan senyuman lembut.
“Yup!” jawab Celia dengan gembira, dan mereka bertiga membuat makan malam bersama malam itu.
◇ ◇ ◇
Keesokan paginya, saat Rio bersiap untuk berangkat ke desa…
“Aku berangkat sekarang,” ucapnya setelah melangkah keluar dari rumah batu. “Aku akan pergi selama dua minggu, jadi tolong jaga satu sama lain.” Ia menatap Aishia saat berbicara kepada Celia.
“Tentu saja. Serahkan Aishia padaku,” kata Celia dengan bangga.
“Akan kulakukan. Kau juga jaga diri ya, Aishia,” kata Rio sambil terkekeh.
“…Paham,” ujar Aishia, sebelum tiba-tiba memeluk Rio.
“E-Eh?!” Rio sendiri merasa terkejut, tapi Celia bahkan jauh lebih terkejut lagi darinya. Matanya membelalak lebar saat melihat Aishia memeluk Rio dengan ekspresi tercengang.
“Ada apa, Aishia?” tanya Rio pelan pada Aishia. Meskipun mereka berdua selalu dekat satu sama lain, ini adalah pertama kalinya mereka berpelukan seperti ini.
“Terjauh apa pun jarak kita atau ke mana pun Haruto pergi, aku akan selalu bersamamu. Jadi jangan takut, jangan bimbang, dan tempuhlah jalan yang kau pilih,” ucap Aishia dalam momen langka di mana ia begitu banyak bicara. Kata-katanya terdengar agak ragu-ragu dan samar, tapi Rio bisa menebak alasan di balik sikapnya itu. Kemungkinan besar karena Rio telah menuntaskan pertemuan takdirnya dengan Lucius dengan cara yang begitu tak terduga.
…Tidak ada yang bisa luput darimu, Aishia. Terima kasih,” kata Rio dengan sedikit canggung disertai senyuman tipis.
Sejak pertarungannya dengan Lucius, hasrat untuk balas dendam telah bergejolak dengan hebat di dalam dada Rio. Meskipun begitu, ia mengira dirinya telah bersikap biasa saja kepada orang-orang di sekitarnya, tetapi mustahil untuk membohongi sosok yang jiwanya terikat dengannya. Walaupun sedikit canggung karena isi hatinya begitu mudah dibaca, ia juga merasa tenang karena suatu alasan. Rio dengan patuh menyerahkan dirinya pada pelukan Aishia, namun Celia sadar kembali dengan tersentak dan berbicara dengan panik. “H-Hei, hei! Berapa lama kalian mau berpelukan terus?! Itu curang banget — lepaskan sekarang! Aku sama sekali tidak boleh lengah di dekat kalian!”
“Baiklah.” Rio mengangguk geli dan perlahan menjauhkan diri dari Aishia.
“Aku tadi hanya berpamitan. Bukankah kau juga akan melakukannya, Celia?” Aishia memiringkan kepalanya.
“T… B-Benar juga. Kau akan pergi selama beberapa waktu, j-jadi kurasa—” Celia secara refleks berniat menolak, tapi kemudian wajahnya merona merah saat ia menyetujuinya dengan enggan.
“Yah…” Rio mencoba memprotes, tapi Celia mulai mendekat. Karena ia yakin Celia akan terlalu terkejut untuk melakukan apa pun, Rio menelan kembali kata-katanya dengan sedikit rasa terkejut.
“…H-Hati-hati, ya, Rio. Aku akan melatih resep-resep yang kau ajarkan dan menunggu di sini!” Dengan wajah yang memerah padam, Celia memeluk Rio dengan sekuat tenaga. Tubuh Celia kecil, namun hangat.
“…Ya. Aku akan segera kembali.” Rio tersenyum sedikit canggung dan membalas pelukan Celia.
◇ ◇ ◇
Rio menjauh sedikit dari rumah batu dan mengeluarkan kristal teleportasi. Sebenarnya ia bisa menggunakannya di depan Celia, tapi jika ia melakukannya, ia dapat membayangkan bagaimana mata Celia yang panik akan mencari penjelasan pada Aishia. Sekalipun ia memberitahunya terlebih dahulu, pembicaraannya akan menjadi sangat panjang.
“Transilio.” Rio merapal mantra dan mengaktifkan kristal teleportasi di tangannya. Udara berdistorsi dan melengkung di sekitar kristal teleportasi, melenyapkan Rio bagai ditelan udara kosong. Pada saat berikutnya, hutan di sekeliling desa memenuhi pandangannya. Teleportasinya berhasil.
“Aku yakin seseorang akan datang ke sini jika aku hanya menunggu, tapi…” Ia memutuskan untuk mendekati desa itu sendiri kali ini. Menghentakkan kakinya ke tanah, Rio melesat ke udara dengan seni roh dan bergerak melintasi hutan. Bangunan-bangunan desa berjajar rapi tepat di bawahnya, dan menjulang melewati mereka adalah pohon raksasa yang merupakan tubuh utama Dryas. Rio terbang dengan santai, menuju ke pohon tempat balai kota desa itu berada—yang berukuran besar, tetapi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ukuran pohon Dryas. Tak lama kemudian, seekor burung besar terbang naik ke langit dari permukaan tanah. Itu adalah Ariel, roh kontrak Orphia.
“Onii-chan!”
Dan orang pertama yang menyambut Rio adalah, seperti yang sudah diduga, Latifa. Sebagai seorang saudari angkat, ia tidak ingin menyerahkan peran itu kepada siapa pun. Menunggangi punggung Ariel, ia melambaikan kedua tangannya dengan penuh semangat dari jarak sekitar belasan meter. Orphia dan Miharu juga berada di punggung Ariel.
Saat Rio pertama kali melihat Latifa, bibirnya melunak membentuk senyuman, tetapi ketika ia melihat Miharu di sebelahnya, wajahnya sedikit mendung.
Miharu…
Dia mengalihkan pandangannya; dia tidak sanggup menatapnya secara langsung. Gadis itu begitu bersinar, rasanya seolah ada seseorang yang mencekik dadanya.
“…?” Miharu menyadari bahwa Rio mengalihkan pandangannya dan memasang wajah khawatir. Dia terus menatap wajah Rio setelah itu, namun Rio tetap enggan menatap matanya. Sementara itu, Rio dan Ariel bersua di udara.
“Selamat datang kembali, Onii-chan!” panggil Latifa dengan senyum yang cerah.
“…Aku kembali, Latifa. Kamu terlihat sehat,” balas Rio dengan senyuman lembut di wajahnya.
“Yups!” Latifa mengangguk penuh semangat.
“Senang bisa bertemu dengan kalian lagi, Orphia, Miharu. Aku tidak terbiasa melihat kalian berdua keluar untuk menyambutku; ini agak di luar dugaan,” ucap Rio kepada mereka berdua, dengan sedikit rasa malu. Kali ini, dia bisa memberikan senyuman hangatnya yang biasa kepada Miharu tanpa mengalihkan pandangannya.
“Begitukah? Selama kamu pergi dari desa, kami menjadi teman dekat. Benar kan, Miharu?” Orphia terkikik.
“Yups. Lagipula, kita selalu bersama,” kata Miharu sambil tertawa bahagia. Mungkin kejadian Rio mengalihkan pandangan tadi hanya ada di dalam imajinasinya…
“Dengar, Onii-chan. Bolehkah aku melompat ke sana?” bujuk Latifa gelisah, sepertinya tidak sabar menunggu sampai mereka tiba di tanah.
“Tentu saja tidak — itu berbahaya. Sebentar lagi kita sampai di tanah. Bersabarlah,” tegur Rio kepada Latifa sambil tersenyum geli.
“Hih, kenapa kita tidak bisa turun lebih cepat?” Latifa sedikit menggembungkan pipinya dan melihat ke bawah. Balai kota sudah berada tepat di depan mata mereka saat kelompok itu perlahan-lahan turun melewatinya.
“Kalau dipikir-pikir, aku tidak melihat Lady Aishia bersamamu…” kata Orphia.
“Aishia sedang menjaga rumah di Strahl.”
“Oh, benarkah?” Mata Orphia melebar.
“Ya. Guru yang berhutang budi padaku sebenarnya sedang berada di bawah perlindunganku saat ini, jadi kami tinggal bersama. Dia tinggal di sana untuk menjaganya, seperti seorang pengawal.”
“Guru yang berhutang budi itu adalah orang yang kamu sebutkan sebelumnya, kan? Wanita yang berusia lima tahun lebih tua. Namanya Celia, kalau aku tidak salah ingat?” tanya Orphia. Telinga rubah Latifa yang berbulu lembut berkedut saat mendengar bahwa Rio tinggal bersama seorang wanita muda. Namun, dia tidak melakukan tindakan apa pun untuk menyela pembicaraan mereka.
Mata Rio sedikit melebar. “Ya. Ingatanmu bagus.”
“Fufu. Tentu saja aku akan ingat — itu adalah sesuatu yang kita diskusikan bersama. Tapi kesampingkan itu, kenapa kamu kembali kali ini? Belum begitu lama sejak terakhir kali kamu pergi…” kata Orphia dengan sedikit malu-malu, sebelum memiringkan kepalanya dan mengganti topik.
Rio menatap Miharu. “Aku telah menemukan keberadaan kakak tingkat Miharu, Sumeragi Satsuki. Aku ingin melaporkan hal itu dan mendiskusikan rencana masa depanku, jika memungkinkan.”
“…Kamu menemukan… Satsuki…” Miharu pasti sangat terkejut, karena dia berkedip-kedip dengan ekspresi kosong di wajahnya.
“Pertama-tama aku akan pergi melapor kepada para tetua kepala atas kepulanganku, tapi setelah itu aku ingin Aki dan Masato ikut mendengarkan penjelasanku mengenai situasinya. Di mana mereka sekarang?” tanya Rio.
“Ah, kurasa mereka sedang berlatih dengan Sara dan Alma sekarang,” jawab Miharu sambil terkesiap.
“Tapi Sara dan yang lainnya pasti sudah menyadari bahwa Onii-chan telah kembali, jadi mungkin mereka sudah menuju ke balai kota?” tambah Latifa.
“Benar juga,” setuju Orphia. “Kurasa kita sebaiknya langsung pergi ke balai kota seperti ini,” lanjutnya sambil memberi gestur agar Rio terus turun.
“Aku mengerti. Sebenarnya, aku bisa melihat mereka sekarang.” Rio menatap ke bawah ke arah alun-alun di depan balai kota dan tersenyum ketika melihat Sara dan yang lainnya. Sesaat kemudian, mereka mencapai tanah.
Latifa langsung memeluk Rio. “Sekali lagi, selamat datang kembali, Onii-chan!”
“Senang bisa kembali, Latifa. Aku senang melihat kalian semua tampak sehat juga, Sara.” Rio menangkap tubuh Latifa sambil tersenyum kecil, lalu menatap Sara yang tadi berlari menghampiri.
“Selamat datang kembali, Rio.” Sara menyapa Rio dengan suara yang bersemangat, entah karena berlari tadi atau karena kebahagiaan melihat Rio lagi. Meskipun begitu, dia tidak sampai megap-megap kehabisan napas. Sara tidak menjalani semua latihan beratnya hanya untuk sekadar kehabisan napas karena berlari kecil. Yang berarti alasan di balik suara bersemangatnya itu sudah sangat jelas.
Pada saat itulah Alma akhirnya muncul, berlari cepat dengan Masato dan Aki mengekor di belakangnya. Alma juga tidak terlalu kehabisan napas, tetapi Masato dan Aki tampak sedikit terengah-engah.
“Sara sangat cepat, kami hampir tidak bisa mengejarnya,” kata Alma dengan nada lelah sambil melirik ke arah Sara.
“Jujur saja. Kami sudah cukup kesulitan berlari cepat tanpa artefak sihir,” setuju Masato sambil menyeringai.
“Ahaha,” tawa Aki geli sambil menatap Sara.
“Fufu, begitu ya? Kenapa kamu terburu-buru sekali, Sara?” tanya Orphia, yang juga ikut tertawa.
“A-Aku hanya tidak ingin kehilangan jejak Rio, jadi aku berlari mendahului yang lain untuk menemuinya lebih dulu dan menunggu yang lain,” jawab Sara dengan suara bernada tinggi, sambil menegaskan dengan kuat bahwa dia melakukan itu demi kebaikan semua orang.
“Alang-alangan, meskipun kamu tidak terburu-buru, dia pasti akan menunggu. Benarkan, Rio?” tanya Orphia, beralih menatap Rio.
“Ya, lagipula ada sesuatu yang ingin kukatakan pada Aki dan Masato juga,” ujar Rio dengan tenang sambil mengangguk.
“…Kepada kami?” Aki dan Masato saling bertukar pandang lalu menatapnya dengan bingung.
“Aku telah menemukan keberadaan Satsuki.”
“B-Benarkah?! Bagaimana dengan kakakku?!” tanya Aki terbata-bata, menjadi orang pertama yang langsung bereaksi.
“Sayangnya, aku masih belum bisa menemukan keberadaan kakak laki-lakimu…”
“B-Begitu ya…” Bahu Aki merosot karena kecewa.
“Tapi sekarang setelah kita tahu Satsuki ada di sini, hampir dipastikan kakakmu juga berada di dunia ini. Sejauh ini, semua pahlawan tanpa terkecuali berafiliasi dengan sebuah kerajaan, jadi kurasa itu sangat masuk akal.” Meskipun berafiliasi dengan sebuah kerajaan mendatangkan lebih banyak masalah tersendiri, Rio mengatakan hal itu untuk menghibur Aki. Latifa mengamati percakapan mereka dari dekat sambil tetap bergelayut di lengan Rio.
“…Ya. Hanya dengan mengetahui di mana Satsuki berada saja sudah membuatku senang. Bisa jadi kakakku dan Satsuki bersama, atau semacamnya,” pikir Aki secara optimis.
“Itu benar. Untuk sekarang, aku ingin pergi menemui para tetua sepuh untuk membuat laporan, jadi mari kita lanjutkan membahas ini di sana,” usul Rio dengan senyuman tipis.
“Ya!” setuju Aki dengan antusias. Sementara itu, Miharu sedari tadi menatap profil samping Rio saat ia bercakap-cakap dengan Aki.
“…” Ingatannya samar dan tidak jelas, tetapi mimpi yang dilihatnya beberapa hari lalu itu… Dia tidak bisa melupakannya. Itulah pemicu yang membuatnya sangat tumpang tindih antara pria ini dan teman masa kecilnya.
“Ada apa, Miharu? …Miharu?” Karena Latifa sedang bergelayut pada Rio, dia merasakan tatapan yang diarahkan Miharu kepadanya dan memanggilnya.
“…Eh? Apa?” Miharu tersadar kembali dan memiringkan kepalanya dengan canggung.
“Tidak apa-apa, kamu tadi hanya menatap Onii-chan dengan melamun…” kata Latifa sambil menatap Miharu dengan selidik. Rio dan yang lainnya juga tertarik oleh perkataan Latifa dan menatap ke arah Miharu.
“Ah, benarkah? Apa aku tadi begitu?” Miharu menyadari bahwa perhatian tertuju padanya dan menundukkan kepalanya dengan tidak nyaman.
“…Oh, apa itu karena kamu ingin memeluk Onii-chan juga, Miharu?” tanya Latifa dengan suara ceria. Mendengar itu, Sara, Orphia, dan Alma semuanya menatap Miharu dengan penuh minat.
“Eh? …Ah, tidak, itu…” Miharu terkejut, tubuhnya bergidik kaget. Ketika matanya bertemu dengan mata Rio, dia menyembunyikan wajahnya untuk menghindari tatapan pria itu.
“Hei, Latifa. Jangan menggoda Miharu,” peringat Rio sambil tersenyum masam.
“…Baik!” Latifa menyetujui dengan patuh dan mengalihkan pandangannya ke arah Miharu untuk mengamati ekspresinya.
“Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi,” ajak Rio kepada kelompok itu untuk berjalan menuju para tetua utama.
Sara memimpin jalan dan menyetujui, berjalan menuju pintu masuk balai kota. “Ya, ayo.”
Orphia dan Alma melirik Miharu sejenak sebelum mengikutinya. Begitu pula dengan Aki dan Masato yang melemparkan pandangan ke arah Miharu sebelum berjalan pergi.
Sebelum mulai berjalan mengikuti Sara dan yang lainnya, Rio berhenti dan menatap gadis yang masih bergelayut padanya. “Apa kamu tidak mau berjalan sendiri, Latifa?”
“Hmm… Kalau begitu, bolehkah aku menggandeng tanganmu, Onii-chan?” tanya Latifa kepada Rio seperti anak manja. Dia mungkin menghargai setiap detik singkat yang bisa dihabiskannya untuk menyentuh Rio, itulah sebabnya dia bisa berbicara begitu terbuka kepadanya.
“Ya, tentu saja.” Rio langsung mengangguk.
“Yey! Ehehe.” Wajah Latifa mengendur saat dia meraih tangan kiri Rio. Ekspresinya memancarkan kebahagiaan murni.
“…” Miharu berdiri mematung saat menyaksikan interaksi mereka.
“Ayo kita pergi, Latifa?” Meskipun Rio menyadari tatapan Miharu, dia memilih untuk tidak menatapnya dan menarik tangan Latifa sambil berjalan pergi. Latifa sepertinya menyadari hal itu dan mengangguk canggung saat mereka berjalan, sebelum menoleh ke belakang.
“Ayo pergi, Miharu!”
“Ah, ya. Benar juga.” Miharu tersenyum lebar dan perlahan mulai berjalan, tetapi tatapannya masih terpaku pada punggung Rio —
“…Apakah itu kamu, Haru-kun?” bisiknya tanpa suara ke arah punggung Rio, tetapi suaranya pasti tidak sampai kepadanya, karena Rio tidak bereaksi.
◇ ◇ ◇
Kelompok itu menuju ke lantai paling atas balai kota untuk menemui tiga tetua kepala desa. Rio menyapa mereka terlebih dahulu, lalu memberi tahu mereka tentang bagaimana dia telah menemukan Satsuki, persis seperti yang telah dia ceritakan kepada Miharu dan yang lainnya.
“Begitu ya — aku mengerti sekarang. Jadi, apa niatmu selanjutnya, Tuan Rio?” High elf Syldora bertanya kepada Rio.
“Dalam waktu satu setengah bulan ke depan, akan ada sebuah perjamuan untuk secara resmi memperkenalkan keberadaan sang pahlawan, Satsuki. Aku sebenarnya telah menjalin hubungan dengan seorang bangsawan tertentu yang akan memungkinkanku untuk menghadiri perjamuan tersebut.”
“Ah, jadi kamu berencana menemui gadis bernama Satsuki itu di perjamuan tersebut?” tanya Tetua kurcaci Dominic.
“Ya, benar sekali,” jawab Rio. Ursula, tetua kepala werefox, tampak ragu.
“…Tetapi, apakah semuanya akan berjalan dengan begitu lancar?”
“Seharusnya begitu. Pihak tersebut adalah bangsawan yang cukup terkenal di Kerajaan Galarc, dan menyadari tujuanku untuk menemui Satsuki. Permintaanku untuk mendampingi mereka ke perjamuan itu pun diterima,” jawab Rio.
“Begitu ya. Apakah kamu memberi tahu mereka tentang Lady Miharu dan yang lainnya?” tanya Syldora dengan mata terbelalak. Rio menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak, aku merahasiakan situasi Miharu.”
Mendengar itu, para tetua kepala saling berpandangan dan memiringkan kepala mereka.
“…Rasanya kondisinya cukup menguntungkan bagimu, Tuan Rio. Apakah kamu yakin tidak ada motif tersembunyi di sini?” tanya Syldora mewakili para tetua kepala lainnya.
“Meskipun aku tidak bisa memastikannya seratus persen, sepertinya tidak ada. Waktu yang kami habiskan bersama memang singkat, tetapi aku percaya bangsawan itu cerdas dan memiliki rasa tanggung jawab yang kuat,” kata Rio mengenai kesan yang didapatnya tentang Liselotte.
“Begitu ya. Jika kamu sampai mendeskripsikannya seperti itu, maka kami pun akan mempercayai karakter orang ini,” kata Syldora, senyumnya semakin melebar sambil terkekeh.
“Namun, ini akan menjadi perkumpulan para pahlawan serta para bangsawan dan keluarga kerajaan manusia. Tidak mungkin mereka membiarkanmu masuk secara cuma-cuma, bukan? Sebenarnya rangkaian kejadian seperti apa yang terjadi hingga kamu bisa mendapatkan akses ke perjamuan itu?” Dominic menyelidiki lebih jauh mengenai bagaimana undangan Rio bisa didapatkan. Meskipun penampilannya kasar, dia sebenarnya adalah orang yang penuh pertimbangan dan tidak memegang posisi sebagai tetua kepala tanpa alasan.
“Aku menyelamatkan bangsawan yang bersangkutan saat mereka berada dalam krisis. Aku sempat berniat membantu mereka sebagian untuk tujuan itu, tetapi sepertinya mereka merasa sangat berhutang budi dan membuat pengaturan seperti itu sebagai bentuk rasa terima kasih.”
“Begitu ya. Jadi begitu rupanya,” Dominic tersenyum paham.
“Mengetahui kepribadianmu, mereka pasti memiliki penilaian yang baik juga,” kata Ursula dengan senyuman kecil. Syldora mendengus dan ikut tersenyum.
“Yah, kita bisa mendengar lebih banyak tentang itu nanti sambil menikmati segelas atau dua gelas minuman. Kita sekarang sudah mengerti situasi secara garis besar. Berdasarkan apa yang telah kamu ceritakan kepada kami, tidak ada kebutuhan bagi kami untuk campur tangan di mana pun untuk saat ini. Apakah itu benar?” tanya Dominic.
“Ya.”
“Tentu saja.”
Syldora dan Ursula langsung merespons bersamaan.
“Begitulah situasinya. Tokoh utamanya adalah para anak muda, bagaimanapun juga. Tentu saja, kami akan memberikan pendapat kami jika diperlukan, tetapi sudah sepantasnya kalian berdiskusi dan memutuskan di antara kalian sendiri. Bagaimana menurutmu, Rio?” tanya Dominic.
“Ya,” setuju Rio. “Itu juga yang kumaksud. Miharu, bagaimana menurutmu?”
“…Aku…” Miharu tidak bisa langsung merespons, ada ekspresi ragu di wajahnya. Dia membalas tatapan Rio, tetapi dia menggigit bibirnya, kehabisan kata-kata.
“A-Aku ingin menemuinya! Aku ingin melihat Satsuki! Ada kemungkinan kakakku bersama dengannya, dan bahkan jika tidak, dia mungkin tahu sesuatu tentangnya! Aku harus pergi dan bertanya!” kata Aki.
“Hmm…” Masato tampak sedang memikirkan sesuatu, dengan tangan bersidekap dan ekspresi termenung di wajahnya. Rupanya, Aki adalah satu-satunya yang tidak memiliki keraguan dalam perasaannya.
“A-Ada apa, Masato? Apa kamu tidak ingin menemui kakak kita?”
“Bukannya begitu, tentu saja aku ingin menemuinya. Hanya saja… aku masih di tengah-tengah pelatihan pedangku, dan sepertinya kita tidak bisa kembali begitu saja jika kita pergi,” kata Masato.
“I-Itu…” Ekspresi wajah Aki berubah, membuatnya terdiam karena tidak nyaman. Bahkan Aki tidak terbawa emosi dan mengatakan bahwa Masato bisa melanjutkan pelatihan pedangnya di tempat lain, karena Aki tahu bukan itu masalahnya. Masato dapat mendedikasikan dirinya untuk pelatihan pedangnya di desa ini, di mana dia memiliki teman-teman yang bisa menjadi saingannya. Aki sendiri telah mendapatkan teman-teman yang tak tergantikan di desa tersebut, dan dia telah melihat Masato bekerja keras dalam pelatihan pedangnya. Dia mungkin tidak ingin gagal di tengah jalan.
“Lagipula, kebaikan apa yang akan kita dapatkan jika kita pergi? Kita dibawa ke desa ini justru karena kita akan menghalangi Haruto, bukan?” kata Masato, mengemukakan argumen yang masuk akal.
“Itu benar, tapi…” Aki benar-benar kehabisan kata-kata.
“Kalian sama sekali tidak akan menjadi gangguan. Mungkin itu akan sulit, tetapi sudah tugas ku untuk mengatasi hal itu. Itulah sebabnya aku ingin mendengar apa yang sebenarnya kalian bertiga pikirkan,” kata Rio dengan suara yang menenangkan. Masato dan Aki saling berpandangan sebelum menundukkan kepala kepada Rio.
“…Terima kasih.”
“Terima kasih banyak.”
Rio melanjutkan, “Tapi ada beberapa syarat yang menyertainya, jadi aku akan memberitahukan hal itu kepada kalian terlebih dahulu. Setelah mendengarkannya, luangkan waktu untuk memikirkannya, diskusikan satu sama lain, lalu berikan jawabanku kepada kalian.”
“B-Baiklah. Apa itu?” Masato mempersiapkan dirinya dan bertanya.
“Pertama, premis utama dari semua ini adalah bahwa Satsuki saat ini berada dalam posisi sebagai pahlawan yang berafiliasi dengan Kerajaan Galarc — ini pada dasarnya sudah pasti. Namun, masalah dari berafiliasi dengan sebuah kerajaan adalah dia mungkin tidak bisa bergerak bebas di luar, dan kita tidak bisa begitu saja pergi dan menemuinya dengan mudah. Kalian mengerti ini, kan?”
Dengan memiliki pahlawan Satsuki — seorang murid dari Enam Dewa Bijak — yang berafiliasi dengan mereka, kerajaan dapat meningkatkan kekuatan dan pengaruh mereka sendiri. Pada dasarnya, dia adalah idola portabel untuk dipuja.
Akan menjadi langkah yang buruk jika merusak suasana hati Satsuki, jadi kerajaan mungkin tidak akan melakukan apa pun untuk memprovokasinya. Namun, mereka tetap akan mengawasi pergerakan Satsuki dan secara tidak langsung mencoba mengendalikannya. Sulit untuk mempercayai bahwa mereka akan membiarkannya bergerak dengan bebas.
“Ya, kurang lebih begitu,” kata Masato dengan ragu-ragu. Aki dan Miharu mengangguk setuju juga.
“Aku sudah menceritakan kepada kalian tentang Enam Dewa Bijak sebelumnya, kan? Mereka adalah dewa-dewa yang dipuja di wilayah Strahl. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kaum bangsawan di setiap kerajaan di Strahl dibentuk di atas fondasi kekuatan Enam Dewa Bijak. Sekarang setelah para pahlawan — murid-murid dari Enam Dewa Bijak — telah turun di setiap kerajaan, mereka tidak bisa menutup mata terhadap urusan yang begitu serius. Bagaimanapun juga, nilai keagamaan para pahlawan terhubung secara langsung dengan nilai politik mereka,” jelas Rio dengan terus terang.
“…” Miharu, Aki, Masato, dan para spirit folk lainnya mendengarkan perkataan Rio dengan penuh perhatian.
“Hal itu, tentu saja, juga berlaku untuk Kerajaan Galarc. Mereka akan berusaha mendapatkan keuntungan politik sebesar mungkin dari Satsuki. Meskipun begitu, aku yakin kalian bisa membayangkan potensi bahaya jika kalian bertiga tiba-tiba muncul di hadapan Satsuki, bukan? Kerajaan mungkin akan mencoba mengamankan kalian bertiga sebagai bentuk jaminan, dengan dalih perlindungan.”
“Eh…” Aki dan Masato sama-sama menelan ludah.
“Aku mengatakannya dengan cara yang menakutkan, tetapi tentu saja mengambil tindakan yang membuat Satsuki marah biasanya merupakan langkah yang buruk, jadi aku meragukan mereka akan mencoba melakukan hal yang terlalu memaksa,” kata Rio sambil tersenyum masam, mengangkat bahunya.
“Itulah sebabnya aku tidak mengatakan kalian tidak boleh pergi menemui Satsuki. Namun, jika kalian pergi, aku ingin kalian bersiap-siap. Seperti yang dikatakan Masato, sangat mungkin kalian tidak akan bisa kembali ke desa ini dengan begitu mudah setelahnya,” lanjutnya.
…Baiklah,” Miharu dan yang lainnya mengangguk dengan sungguh-sungguh.
“Dan hanya itu peringatan yang harus aku berikan. Tentu saja, aku bersedia memberikan saran dan menyampaikan semua risiko yang dapat aku pikirkan, tetapi kalian semua yang akan membuat keputusan akhir. Aku ingin menghargai pendapat kalian, itulah sebabnya kalian bertiga harus memikirkannya sendiri. Jadi, kurasa kita cukupkan sampai di sini untuk hari ini,” kata Rio, mengakhiri pertemuan hari itu.
◇ ◇ ◇
Setelah itu, kelompok tersebut memutuskan untuk langsung pulang agar Miharu, Aki, and Masato punya waktu untuk berpikir. Suasana yang agak berat menyelimuti mereka di perjalanan pulang — terutama bagi para pengunjung asal Jepang, yang hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sara, Orphia, and Alma membaca situasi tersebut dan memutuskan untuk mengawasi mereka dalam diam untuk saat ini. Sementara itu, Latifa juga tetap diam sebagai bentuk pengertian, tetapi pandangannya tertuju pada Rio alih-alih Miharu. Dia berjalan di samping Rio dengan tenang sambil menggenggam tangannya, sesekali mendongak menatap wajah Rio dengan ekspresi lembut.
Dengan demikian, rombongan tersebut tiba di rumah.
“Karena Rio sudah kembali hari ini, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat makanan yang enak untuk makan siang,” kata Orphia dengan suara ceria semampunya setelah memasuki rumah.
“Aku akan membantu,” tawar Rio segera.
“Ah, aku juga…!” sahut Miharu, terdorong oleh Rio untuk secara refleks menawarkan bantuan.
“Tidak, Rio sebaiknya bersantai saja di ruang tamu, ya. Dan Miharu, bukankah kamu punya banyak hal untuk dipikirkan hari ini? Serahkan ini padaku.” Orphia menggelengkan kepala sambil tersenyum ceria.
“…Baiklah kalau begitu, jika kamu memaksa.” Rio mengangguk sambil tersenyum.
“Terima kasih, Orphia,” kata Miharu dengan nada meminta maaf.
“Kemampuan memasakku tidak begitu bagus, tapi aku akan membantu sebagai gantinya, Orphia.”
“Aku juga bisa membantu.”
Sara dan Alma sama-sama mengambil inisiatif untuk ikut membantu.
“Yups, untuk sekali ini kita bertiga bisa membuat sesuatu bersama!” setuju Orphia dengan gembira.
“…Orphia, apa aku harus membantu juga?” tawar Latifa dengan ragu-ragu.
“Fufu, pergilah dan manjakan diri dengan Rio selagi kau masih punya kesempatan,” kata Orphia sambil tersenyum. Latifa mengangguk dengan senyuman lembut di wajahnya sendiri.
“Baiklah, terima kasih!”
Semua orang mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Orphia, Sara, and Alma menuju ke dapur, sementara Rio dan Latifa pergi ke ruang tamu dan duduk di sofa. Miharu, Aki, dan Masato masing-masing masuk ke kamar tidur mereka.
Latifa tampaknya membaca situasi dengan caranya sendiri, karena dia tidak dengan antusias memohon perhatian Rio seperti biasanya, melainkan duduk diam di dekat sisi Rio. Dia pasti merasa sangat tenang di sana, karena Latifa jatuh tertidur dengan damai dalam waktu sekitar sepuluh menit, kepalanya berada di pangkuan Rio sementara dia bernapas dengan lembut dalam tidurnya.
“Zzz… zzz…”
“…” Ujung bibir Rio sedikit mengendur saat dia melihat wajah Latifa yang tidur dengan damai sambil dengan lembut menepuk-nepuk kepalanya.

Tiba-tiba, Miharu muncul di ruang tamu, dan mendekati Rio dengan gugup. Meskipun menyadari kedatangan Miharu, Rio terus membelai Latifa dalam diam.
Miharu mengumpulkan tekadnya dan memanggil Rio. “Um, Haruto, apa kau punya waktu sebentar?”
“…Ya, tentu saja.” Rio tersenyum tipis sekilas dan perlahan menganggukkan kepalanya.
◇ ◇ ◇
Rio memindahkan Latifa yang sedang tidur agar berbaring di sofa sebelum mengikuti Miharu keluar rumah, atas permintaannya untuk berbicara berdua saja.
Rio berhenti pada jarak yang tidak terlalu jauh dari Miharu dan berbicara terlebih dahulu. “Apa yang ingin kamu bicarakan?”
“…Um, aku ingin tahu apa yang kamu pikirkan tentang semua ini,” mulai Miharu dengan ragu-ragu.
“Apa yang kupikirkan?” Mata Rio sedikit melebar saat dia memiringkan kepalanya ke samping.
“Ya. Menurut kamu, apa yang sebaiknya kita lakukan mengenai hal ini? Aku ingin mendengar pendapatmu,” jelas Miharu, bergantung pada jawaban Rio.
“…Biar kulihat. Aku akan menghadiri perjamuan itu sendirian dan menghubungi Satsuki. Setelah mendengar apa yang diinginkan Satsuki sendiri mengenai semua ini, aku akan mencari solusi jangka panjang tentang apa yang harus dilakukan. Kemudian, mungkin pada waktu yang sama, aku akan diam-diam menyelundupkan Satsuki keluar kastil dan membawanya ke tempat kalian, mungkin. Tentu saja, aku harus membuat kalian bertiga menunggu di suatu tempat dekat kastil.” Rio menawarkan apa yang dianggapnya sebagai opsi paling aman.
“…Itu berarti kamu berpikir kita harus menemui Satsuki, ya?” konfirmasi Miharu pelan.
“Ya. Kalian tentu ingin memastikan keselamatan masing-masing dengan mata kepala sendiri terlebih dahulu, kan?” tanya Rio.
“Ya,” Miharu mengangguk mantap sebagai tanggapan.
“Itulah tujuan dari menyelundupkannya keluar secara sementara untuk pertemuan rahasia. Risiko dari hal itu saja sudah cukup tinggi, jadi itu bukan opsi yang bisa diulang sering-sering, tapi untuk acara satu kali seharusnya ada banyak cara untuk mewujudkannya,” jelas Rio.
“Jika kita ingin terus menemuinya, kita harus pergi ke kastil sendiri, begitu maksudmu?”
“Jika Satsuki berada dalam posisi di mana dia tidak bisa berjalan keluar dengan bebas, itu mungkin satu-satunya pilihan. Bahkan jika dia bisa keluar, seseorang pasti akan mengawasi pertemanannya, jadi keberadaan kalian pasti akan ketahuan oleh kerajaan,” Rio menyetujui pertanyaan Miharu dengan raut wajah berpikir. Yang lebih penting adalah apakah Miharu benar-benar ingin bertemu dengan Satsuki terlepas dari hal itu.
“Kalau begitu, jika — jika kerajaan mengetahui tentang kami, apakah kami masih bisa tetap bersama denganmu bahkan dalam situasi seperti itu?” tanya Miharu dengan wajah yang sangat khawatir.
Rio sempat ragu sejenak, sebelum mengalihkan pandangannya dari Miharu yang tampak bersalah lalu menjawab. “Aku… tidak tahu. Jika keberadaan kalian menjadi titik kelemahan bagi Satsuki, aku yakin kerajaan akan mencoba mengamankanmu dan kedua anak itu. Tentu saja, itu akan bergantung pada seberapa besar pengaruh Satsuki atas kerajaan…”
Ada kebutuhan untuk menyelidiki terlebih dahulu bagaimana kerajaan akan memperlakukan Miharu, Aki, dan Masato jika mereka mengetahui tentang keberadaan mereka. Rio memperkirakan dia akan dapat mengetahui beberapa detail spesifik dengan menghubungi Satsuki pada malam perjamuan. Namun, pada akhirnya tidak ada cara untuk mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi sampai semuanya terungkap.
Setidaknya, saat ini Rio memiliki Liselotte dari Kerajaan Galarc sebagai koneksi, yang berarti mengandalkan bantuan darinya bisa menjadi pilihan lain.
“Oh, benar,” Miharu mengangguk, bahunya terkulai kecewa.
“…Namun, jika kalian bertiga berencana untuk kembali ke Jepang suatu hari nanti, alangkah baiknya jika kalian juga menemui Takahisa. Tidak perlu terburu-buru, tapi tidak perlu juga menahan diri untuk mencari bantuan, jadi tolong diskusikan hal itu dengan Aki dan Masato. Seperti yang kubilang tadi, kalianlah yang harus membuat keputusan,” kata Rio sambil tersenyum agak canggung.
Kami… kembali ke Jepang…
Itulah alasan mengapa mereka bertiga dilindungi oleh Rio. Itulah yang telah mereka diskusikan saat pertama kali tiba di dunia ini dan berbicara dengan Rio.
Namun, begitu Miharu mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Rio sekali lagi, perasaan cemas dan panik yang tak terlukiskan muncul di dalam dirinya, membuat tubuhnya menciut. Jika Haruto sebenarnya adalah Haruto yang dulu dikenalnya, apakah dia akan menyarankan agar mereka kembali ke Jepang? Pikiran itu begitu membebaninya.
“U-Umm!” Tanpa dia sadari, mulut Miharu sudah bergerak.
“Ya?” Melihat Miharu yang biasanya penurut tiba-tiba meninggikan suaranya dengan nada yang agak kasar membuat mata Rio membelalak kaget.
“Apa kamu — apa kamu pernah berpikir untuk kembali ke Jepang sendiri, Haruto?” tanya Miharu dengan ekspresi yang sangat frustrasi. Dia telah menghindari topik sensitif ini hingga sekarang, tapi dia harus tahu.
Rio ragu-ragu sejenak sebelum menjawab dengan sedikit desahan. “…Itu tidak mungkin.” Dia tidak menjelaskan secara jelas apakah dia ingin kembali atau tidak.
“Kenapa bisa begitu?” tanya Miharu dengan tatapan kosong.
“Bahkan jika aku kembali, orang yang menjadi diriku di kehidupan sebelumnya sudah mati. Jika aku kembali ke Jepang sekarang, aku tidak akan punya tempat untuk dituju. Aku bahkan tidak akan tercatat dalam dokumen resmi mana pun, tahu?” Petunjuk senyuman mencemooh diri sendiri tampak di wajah Rio saat dia menjawab dengan penuh kesulitan.
“…Tapi, apa kamu tidak punya… entahlah, penyesalan, atau hal-hal yang ingin kamu lakukan?” tanya Miharu. Itu adalah pertanyaan lancang yang jarang sekali keluar darinya.
“…Entahlah,” jawab Rio, menghindari jawaban.
“Kalau begitu, Haruto di kehidupan lalumu itu…” Miharu mencoba menanyakan sesuatu, terbata-bata dalam ucapannya, tetapi suara Latifa tiba-tiba bergema.
“Onii-chan?”
“Ada apa, Latifa?” kata Rio, melihat ke arah asal suara itu. Tanpa disadari, pintu rumah telah terbuka, menampakkan Latifa yang berdiri di sana.
“Oh, hanya saja Onii-chan tidak ada saat aku bangun, jadi…” kata Latifa dengan ragu-ragu.
“Begitu ya. Maaf, aku tadi sedang mengobrol dengan Miharu,” beri tahu Rio, dengan senyuman lembut terukir di wajahnya.
Latifa menggelengkan kepalanya dan mendekati Rio. “Tidak apa-apa. Apa kalian sudah selesai bicara?”
“…Apa kita sudah selesai?” tanya Rio kepada Miharu.
“Ah, umm… Ya.” Miharu tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia malah menyetujuinya dengan bimbang.
“Kalau begitu, aku akan berjalan-jalan sebentar. Aku ingin menyapa para tetangga sekarang setelah aku kembali, juga. Orphia dan yang lainnya sepertinya sedang menyiapkan makan siang, jadi aku akan segera kembali. Apa yang ingin kamu lakukan, Latifa?” tanya Rio kepada Latifa, menjaga jarak dari Miharu.
Latifa terdiam sejenak, namun pada akhirnya perlahan menggelengkan kepalanya. “…Aku lewat saja, tidak apa-apa.”
“Begitu ya… Kalau begitu aku akan segera kembali. Terima kasih, Latifa,” kata Rio saat ia berangkat, sambil menepuk pundak Latifa.
“Yup, sampai jumpa lagi.” Latifa bergidik kaget, mengangguk canggung saat ia mengantar kepergian Rio.
Jadi pada akhirnya dia menyadarinya…
Latifa telah mendengarkan percakapan Rio dan Miharu dari ambang pintu sejak pertengahan obrolan mereka — alasan mengapa Rio berterima kasih padanya adalah karena hal itu. Latifa sendiri bahkan tidak menyadari bahwa ia telah mengatur waktu interupsinya seperti itu, dan merasakan ketidaknyamanan yang tidak dapat dijelaskan karenanya.
“…Sampai jumpa lagi, Haruto.” Miharu masih tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi menelan kembali kata-katanya saat ia mengantar kepergian Rio.
◇ ◇ ◇
Setelah Rio pergi, Latifa dan Miharu ditinggalkan berdua saja di dekat ambang pintu.
Miharu tiba-tiba membuka mulutnya. “…Begini, Latifa.”
“Hm? Ya?” jawab Latifa dengan canggung.
“Umm, apa kamu…” Meskipun Miharu yang mulai berbicara, ia tampak sangat ragu-ragu dengan kata-katanya. Konflik batinnya sangat terlihat. “Latifa, seberapa banyak yang kamu tahu tentang Haruto?” tanyanya dengan penuh rasa takut.
Saat ini, satu-satunya orang yang tahu bahwa Rio memiliki ingatan tentang kehidupan masa lalunya adalah dewan para tetua dan Dryas sendiri. Sara, Orphia, Alma, dan Latifa telah menemani Miharu berkeliling, jadi mereka tidak hadir dan tidak mengetahuinya. Rio memberi tahu Miharu tentang hal itu sendiri, jadi Miharu telah menghindari membicarakan kehidupan masa lalu Rio di hadapan para gadis rakyat roh hingga sekarang.
Namun…
Miharu memiliki kecurigaan bahwa adik angkat Rio mungkin tahu tentang kehidupan masa lalunya.
“…Maksudmu apa, seberapa banyak?” tanya Latifa dengan ragu-ragu.
“Aku hanya penasaran apakah kamu tahu kenapa dia menggunakan nama samaran ‘Haruto,’ atau semacamnya, mungkin.” Miharu menghindari tatapan Latifa dan berbicara dengan terbata-bata.
Latifa terdiam sejenak sebelum langsung menuju ke inti masalah yang coba dijelaskan oleh Miharu secara bertele-tele. “…Apakah kamu mungkin menanyakan tentang kehidupan masa lalu Onii-chan?”
“B-Berarti kamu memang tahu soal itu.” Ekspresi Miharu tiba-tiba berubah, dan dia menggigit bibirnya.
“Yups, Onii-chan memberitahuku sebagai bukti ikatan persaudaraan kami,” angguk Latifa.
“Kalau begitu… Kalau begitu… apa kamu tahu, Latifa? Apakah nama samaran Haruto — Haruto itu… Apakah itu namanya di kehidupan masa lalunya?” tanya Miharu dengan sungguh-sungguh.
“…Aku tidak bisa memberitahumu hal itu. Onii-chan memintaku untuk tidak menceritakan apa pun kepada siapa pun tentang kehidupan masa lalunya.” Latifa menggelengkan kepalanya perlahan.
“Dia bilang kalau…”
Miharu bertanya-tanya apa sebenarnya arti dari hal tersebut. Itu bukanlah sesuatu yang biasanya ingin disebarkan oleh seseorang. Dia tidak tahu mengapa pria itu tidak ingin hal itu disebarkan, tetapi dia tidak dapat menerima jika itu hanya sekadar masalah privasi.
Meskipun begitu, dia tidak bisa memaksa Latifa untuk memberitahunya, jadi Miharu hanya mengepalkan kedua tangannya.
“Meskipun kamu tidak bisa bertanya padaku, kenapa kamu tidak bertanya langsung pada Onii-chan saja?” usul Latifa dengan ekspresi yang sangat bermasalah.
“…Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi rasanya dia sedang menghindari aku. Terutama sejak dia kembali kali ini,” kata Miharu sambil mengerutkan kening dengan sedih.
Aku juga sempat memikirkan hal yang sama. Tapi aku juga berpikir kalau itu hanya perasaanku saja…
Rio benar-benar tampak seperti sedang menghindari Miharu tadi, pikir Latifa. Dia pertama kali menyadari ada sesuatu yang aneh selama interaksi antara kembalinya Rio ke desa dan sebelum mereka masuk ke balai desa bersama-sama. Seolah-olah Rio dengan sengaja menghindari tatapan mata Miharu…
Namun, bahkan jika itu benar, Miharu juga bertindak dengan aneh. Sejak Rio kembali, mata dan perhatiannya terus-menerus tertuju padanya.
“…Kenapa kamu ingin tahu tentang kehidupan masa lalu Onii-chan?” tanya Latifa sambil mengamati ekspresi Miharu.
“Jika aku menjawabnya, maukah kamu memberitahuku nama Haruto di kehidupan masa lalunya?” Miharu tampak sangat frustrasi saat dia mengajukan cara bagi mereka untuk bertukar informasi.
“Aku tidak bisa melakukan itu.” Latifa menggelengkan kepalanya perlahan.
“…Maaf, tidak seharusnya aku mengatakan hal itu. Aku minta maaf,” sesal Miharu dengan perasaan bersalah. Itu adalah sikap yang tidak pernah ia tunjukkan dalam keadaan normal, jadi ia pasti merasa sangat kalah telak.
“Tidak, tidak apa-apa…” kata Latifa dengan ekspresi merenung, mengamati wajah Miharu untuk membaca isi hatinya.
Mungkinkah… tidak, lebih mungkin kalau Miharu…
Berdasarkan percakapan mereka sejauh ini, Latifa hampir seratus persen yakin bahwa Miharu mencurigai Rio adalah Amakawa Haruto di kehidupan masa lalunya.
Tapi… sejak kapan?
Kapan dia menyadarinya? Karena nama mereka sama? Jika itu satu-satunya faktor, dia pasti sudah mengambil semacam tindakan sejak lama. Pasti ada faktor lain, pikir Latifa.
Ah, apa waktu itu…? Latifa tiba-tiba teringat sesuatu dan mengerti.
Kejadiannya adalah saat mereka membuat kue apel di kelas memasak — mereka sedang membicarakan pertama kalinya Rio dan Latifa datang ke desa. Saat mereka menceritakan bagaimana Rio dilemparkan ke dalam sel penjara, Orphia dan Alma berkata bahwa mereka pernah mendengar Rio mengigau memanggil ‘Mii-chan’ dalam tidurnya.
Waktu itu, Latifa menyadari bahwa ekspresi Miharu jelas-jelas berubah. Dia memang tidak bertindak aneh setelah itu, tetapi sangat mungkin dia mulai menyimpan kecurigaan sejak saat itu. Kemudian, setelah benar-benar melihat Rio lagi, keraguan itu semakin menguat.
Apakah Onii-chan menyadari perubahan sikap Miharu? Apakah itu sebabnya dia menghindari Miharu? tebak Latifa.
“Latifa?” Miharu memiringkan kepalanya dengan canggung, mengamati wajah Latifa. Latifa tadi tenggelam dalam pikirannya sendiri, jadi Miharu kemungkinan besar bertanya-tanya apa yang sedang terjadi padanya.
Latifa berpikir keras sejenak sebelum perlahan membuka mulutnya. “…Begini, Miharu.”
“Ada apa?”
“Aku tidak bisa menceritakan tentang kehidupan masa lalu Onii-chan kepadamu. Tapi aku bisa menceritakan tentang kehidupan masa laluku,” ujar Latifa setelah membulatkan tekadnya.
“Eh…?” Miharu tertegun. Sesaat, dia tidak mengerti apa yang dikatakan Latifa, karena dia sama sekali tidak tahu bahwa Latifa memiliki kehidupan masa lalu.
“Aku juga punya kehidupan masa lalu. Sebuah cerita yang baru kukatakan pada Onii-chan. Tapi aku akan menceritakannya kepadamu juga, karena ini kamu. Syaratku adalah kamu harus menjaga kerahasiaan apa pun yang kukatakan, dan kamu harus menjawab satu pertanyaanku setelah aku selesai,” kata Latifa dengan penuh tekad sambil menatap lurus ke arah Miharu.
“Latifa…” Miharu merasa bingung dengan topik mendadak yang dibahas ini.
“Bagaimana? Apakah kamu menerima syarat ini? Meskipun tidak adil jika mengatakannya begitu saja saat kamu tidak tahu apa-apa tentang masa laluku, jadi aku akan memberitahumu satu hal di awal. Aku mengenal Onii-chan di kehidupan masa laluku. Kami tewas dalam kecelakaan lalu lintas yang sama.”
“Ah…” Miharu terkesiap kaget.
“Aku mungkin berubah pikiran nanti, jadi aku hanya akan menunggu selama sepuluh detik. Sepuluh, sembilan, delapan…”
“T-Tunggu! Aku ingin mendengarnya. Tolong beritahu aku, Latifa. Aku berjanji akan mematuhi syarat-syaratmu.”
“Paham. Maaf, kali ini akulah yang mengatakan hal yang tidak adil. Tapi sebagai gantinya, aku akan menceritakan tentang masa laluku kepadamu. Kurasa kamu tidak akan menyesalinya,” kata Latifa dengan nada meminta maaf.
Dia ingin mengetahui perasaan Miharu. Sama seperti keinginan Miharu untuk mengetahui kehidupan masa lalu Rio, Latifa ingin tahu mengapa Miharu mengulik kehidupan masa lalu Rio.
Miharu menggelengkan kepalanya dengan sopan, “Tidak apa-apa. Aku tidak ingin memaksakan diri, tapi apakah kamu akan langsung menceritakannya?”
“Yups. Aku adalah seorang anak sekolah dasar di kehidupan masa laluku. Onii-chan adalah seorang mahasiswa, dan kami saling kenal karena kami naik bus yang sama ke sekolah kami masing-masing.”
“…” Miharu fokus mendengarkan, jadi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
“Awalnya, aku tidak terbiasa naik bus. Aku hanya menggunakannya sesekali pada hari hujan, tapi suatu ketika aku terlewat pemberhentian dan pergi ke tempat yang tidak kuenal. Saat aku ketakutan dan mulai menangis, Onii-chan membawaku pulang ke rumah. Itulah pertama kalinya aku bertemu dengan Onii-chan. Hanya itu saja yang kubutuhkan untuk… Tidak, Onii-chan di masa laluku sangat baik dan tampan, aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Lalu aku membuat Ibu mengizinkanku naik bus ke sekolah. Dan itu terjadi satu tahun sebelum kami meninggal…”
Latifa berhenti sejenak di situ sebelum melanjutkan, mengenang detail-detail tersebut dengan penuh kasih.
“Tapi pada akhirnya, bahkan dengan waktu selama satu tahun, aku tidak pernah mendapatkan keberanian untuk berbicara dengan Onii-chan lagi. Ah, aku tahu aku sempat bertanya mengapa kamu sendiri tidak bisa berbicara dengan Onii-chan sebelumnya, tapi kalau dipikir-pikir lagi, aku benar-benar tidak pantas mengomentari Miharu, ya? Aku masih punya banyak hal yang belum berani kukatakan, bahkan sampai sekarang.” Latifa tersenyum sedih.
“Latifa…” Miharu mengepalkan kedua tangannya erat-erat karena merasa sakit hati.
“Makanya, sebenarnya aku tidak begitu dekat dengan Onii-chan di kehidupanku sebelumnya. Tentu saja, sejak menjadi diriku di dunia ini, aku sudah mendengar banyak cerita dari Onii-chan, tapi aku berjanji padanya kalau aku tidak akan menceritakan hal itu kepada siapa pun. Maaf—kurasa aku tidak bisa banyak menceritakan hal padamu, ya?” pinta Latifa meminta maaf dengan penuh penyesalan. Mungkin dia hanya ingin menceritakan tentang dirinya kepada seseorang. Mungkin dia ingin Miharu tahu tentang dirinya — itulah, mungkin, alasan mengapa dia mengangkat topik seperti itu.
“Itu tidak benar.” Miharu tersenyum sekilas sambil menggelengkan kepalanya.
“Terima kasih. Kalau begitu, sebagai penutup, aku akan menceritakan sedikit tentang seperti apa rupa Onii-chan bagi diriku di masa lalu. Dan bagi diriku yang sekarang juga…” Setelah mengatakan itu, secercah niat tertentu tampak terlihat di mata Latifa. Bisa jadi membicarakan kesan tentang Haruto saat dia masih menjadi Suzune merupakan pelanggaran terhadap janji yang dia buat kepada Rio. Setidaknya, itu jelas merupakan area abu-abu.
Tapi Latifa tetap ingin mengatakannya. Dia harus mengatakannya, pikirnya. Jika dia ingin terus mencintai Rio di masa depan, dia merasa harus menghadapi Miharu secara langsung di sini dan saat ini juga. “Onii-chan selalu… Onii-chan dalam ingatanku selalu memasang ekspresi sedih di wajahnya. Tatapan matanya tampak kosong, seolah-olah dia sedang melihat seseorang yang tidak ada di sana. Seperti seseorang yang sangat penting telah tiada, dan dia tahu orang itu tidak akan kembali…”
Latifa tahu siapa orang penting itu. Dia sudah berada di ambang batas garis berbahaya pada saat ini, jadi dia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain itu.
“Haruto itu…” Miharu berkedip.
“Aku tidak tahu… Aku tidak tahu apakah Onii-chan masih memandangi orang itu sampai sekarang. Tapi, kau tahu. Aku sangat mencintai Onii-chan. Dia menyelamatkanku di dunia ini juga.”
“B-Benarkah?” Pengakuan mendadak Latifa membuat kepala Miharu terhuyung ke belakang karena terkejut.
“Yups. Kalau dipikir-pikir, aku belum pernah menceritakan kepadamu tentang apa yang terjadi… Tentang kehidupan yang kujalani sebelum aku datang ke desa…”
“Kudengar kamu bepergian bersama Haruto…” kata Miharu dengan gugup.
“Itu terjadi sebelum itu. A-Aku… Aku dulunya adalah seorang budak. Pada saat aku mendapatkan kembali ingatan kehidupan lampauku di dunia ini, aku telah dilahirkan dan dibesarkan sebagai seorang budak.”

“Ah…” Miharu tertegun tanpa kata-kata mendengar pengakuan Latifa.
“Wilayah Strahl adalah wilayah manusia, jadi praktis tidak ada komunitas seperti desa ini di mana orang-orang dari berbagai ras tinggal bersama. Kalaupun ada, mereka adalah budak. Tidak ada tempat bagi kami selain perbudakan.” Latifa melanjutkan dengan ekspresi bermasalah. “Para bangsawan yang memilikiku membesarkanku sebagai seorang pembunuh bayaran. Mereka memasang kalung sihir padaku, agar aku tidak bisa membangkang. Itulah mengapa, ketika aku mendapatkan kembali ingatan kehidupan lampauku, aku sudah membunuh orang. Setelah ingatanku bangkit pun, dengan tangan ini, aku…”
Tubuh Latifa sedikit bergetar saat dia menatap kedua tangannya. Mengingatnya saja pasti sangat menyakitkan. Itu adalah masa lalu yang biasanya dia simpan rapat-rapat di lubuk ingatannya.
“Tidak apa-apa, Latifa. Kalau itu menyakitkan, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk menceritakannya kepadaku.” Miharu mendekati Latifa dan meraih tangannya. Dia berbicara dengan ekspresi penuh kepedihan di matanya.
Latifa menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. “Tidak, aku harus menceritakannya… Demi mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu nanti. Makanya… Kamu mungkin tidak ingin mendengar ini, tapi aku ingin kamu mendengarnya. Bolehkan?”
“…Iya.” Miharu mengerutkan kening, lalu mengangguk dalam-dalam.
“Terima kasih. Sebagai seorang pembunuh bayaran, aku… Aku dikendalikan oleh kalung perbudakan, dan disuruh membunuh Onii-chan seperti yang lain… Itulah yang terjadi antara aku dan Onii-chan, sebelum kami datang ke desa,” kata Latifa dengan penuh rasa malu, menggigit bibirnya sambil menatap Miharu.
“…Latifa.” Air mata perlahan menetes dari mata Miharu. Kisah itu sungguh terlalu berat untuk ditanggung.
“Aku pura-pura pingsan agar bisa membunuh Onii-chan. Tapi, aku tidak mungkin bisa menang melawan Onii-chan, dan keadaan berbalik dengan mudah padaku. Aku pikir aku akan dibunuh, tapi aku tidak ingin mati, menjadi ketakutan, lalu benar-benar menangis histeris, yang membuat Onii-chan akhirnya pingsanku…” kata Latifa dengan nada getir. Itu benar-benar kenangan yang menyedihkan.
“Meskipun begitu, Onii-chan tidak membunuhku. Sebaliknya, dia melepas kalung yang mengendalikanku. Lalu dia membawa aku, yang tidak memiliki tempat di Strahl, yang tidak lebih dari sebuah beban, jauh-jauh ke desa ini. Dia memberi seseorang sepertiku, yang bahkan tidak memiliki kehendak sendiri, kesempatan untuk menjalani kehidupan biasa,” lanjut Latifa dengan suara pelan namun tegas.
“…” Miharu merasa terharu dan berdiri di sana dalam keheningan.
“Aku telah banyak merepotkan Onii-chan. Aku berhutang banyak padanya, lebih dari yang bisa kubayar dalam seumur hidup ini. Onii-chan itu baik, jadi dia akan menyangkal semua itu, tapi itu sama sekali tidak benar. Itulah sebabnya aku akan mendedikasikan hidupku untuk membalas budi kepada Onii-chan. Itulah yang kurasakan…” kata Latifa, lalu berhenti sejenak.
“…Kamu benar-benar mencintai Haruto, ya,” ucap Miharu pelan. Terlihat sangat jelas dari percakapan mereka tadi bahwa Latifa benar-benar mencintai Rio. Begitu jelasnya, hingga rasanya hampir menyilaukan mata jika dipandang secara langsung.
“Iya, betul sekali. Aku mencintai Onii-chan. Aku mencintainya sebagai kakak, dan sebagai seorang pria. Aku jatuh cinta pada orang yang sama sebanyak dua kali.” Latifa mengangguk.
“B-Begitu ya…” Entah kenapa, Miharu merasakan dadanya sesak dan memasang ekspresi kesakitan.
“Makanya, kurasa aku mengerti. Alasan kenapa Sara, Orphia, Alma, dan kenapa semua orang juga mencintainya… Mereka sepertinya masih merasa bersalah atas perlakuan buruk mereka padanya karena kesalahpahaman saat pertama kali kami tersesat ke desa ini, tapi aku tahu mereka mencintainya.”
“…Benar,” Miharu mengangguk dengan susah payah. Karena mereka telah hidup bersama bagaikan sebuah keluarga, Miharu sedikit banyak juga menyadari hal itu.
“Bagaimana denganmu, Miharu?” tanya Latifa tiba-tiba.
“…Eh?” Sesaat, Miharu tidak yakin apa yang dimaksud oleh pertanyaan itu, matanya membelalak. Namun, dia langsung mengerti maksudnya dalam sekejap dan tersentak kaget.
“Apakah kamu juga mencintai Onii-chan, Miharu? Ini adalah syarat yang kuberi di awal. Pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu,” tanya Latifa terus terang, menatap Miharu dari dekat.
“Ehm…” Miharu tidak bisa langsung menjawab, wajahnya menunjukkan ekspresi ragu-ragu yang teramat sangat.
“Kamu tidak perlu buru-buru. Aku ingin mendengar perasaan aslimu,” kata Latifa dengan tenang.
“Aku… aku punya seseorang yang kucintai saat aku masih kecil.” Miharu perlahan membuka mulutnya, berpikir keras. “Aku mungkin mencintai orang itu sebesar rasa cintamu saat ini. Sudah wajar bagi kami berdua untuk bersama setiap hari, dan aku pikir sudah wajar pula bagi kami untuk bersama selamanya… Aku, dan teman masa kecilku. Aki juga ada di sana, dan kami bertiga biasa bermain bersama,” lanjutnya.
“Mm-hm…” Latifa mengangguk, mendesak Miharu untuk melanjutkan.
“Tapi waktu kebersamaan kami tidak berlangsung lama. Saat aku berusia tujuh tahun, anak laki-laki itu harus pindah jauh bersama ayahnya, setelah orang tua mereka bercerai. Hanya aku dan Aki yang tertinggal. Aki adalah adik perempuan anak laki-laki itu, tahu. Dia jadi membencinya sekarang, tapi saat itu, dia sangat menyayangi kakaknya. Setelah kakaknya meninggalkannya, dia mengurung diri di kamarnya selama berhari-hari dan menangis,” kata Miharu perlahan, mengenang masa-masa itu.
Mata Latifa membelalak ketika mengetahui bahwa Aki membenci Haruto, tetapi dia memilih untuk tidak membahas hal itu dan malah bertanya dengan gugup tentang keadaan Miharu saat itu. “…Apakah kamu menangis, Miharu?”
“Aku tiga tahun lebih tua dari Aki. Aku berkata begitu agar diriku terdengar lebih keren, tapi aku juga menangis. Aku menangis sepanjang hari saat dia pindah,” jawab Miharu sambil tersenyum pahit. “Tapi, saat kami berpisah, dia membuat janji kepadaku. Bahwa saat dia dewasa nanti, dia akan datang menjemputku. Itulah sebabnya kami harus menikah. Dengan begitu, kami bisa selalu bersama, dia bisa selalu berada di sisiku, dan melindungiku dengan taruhan nyawanya…” ucapnya dengan tatapan sedih dan menerawang jauh.
“Miharu…” Latifa merasa dadanya seperti mau hancur. Pada akhirnya, Haruto masih bisa menepati janji itu, bahkan hingga sekarang. Dia akan melindungi Miharu dengan taruhan nyawanya.
“Aku orang yang sederhana, jadi aku sangat bahagia dan berhenti menangis karenanya. Aku tidak tahu apakah aku masih mencintai orang itu sekarang setelah aku dewasa, tapi kenangan masa itu adalah harta berharga bagiku. Makanya… Makanya… Aku tidak bisa membayangkan memiliki hubungan seperti itu dengan pria lain sampai sekarang. Tapi…” kata Miharu dengan malu-malu, mengerutkan kening di akhir kalimatnya.
“Tapi?” Latifa menelan ludah.
“…Entahlah. Hal seperti ini, aku tidak pernah… Selama tinggal bersama Haruto, aku mulai menumpang-tindihkan eksistensinya dengan orang yang kukenal. Aku tahu itu adalah hal yang salah — aku terus mengatakan pada diriku sendiri — tapi akhir-akhir ini perasaan-perasaanku terus bergejolak. Garis waktunya tidak cocok, jadi itu tidak mungkin terjadi.”
Berputar-putar, terus berputar. Pikiran dan perasaan Miharu tersedot ke dalam lingkaran setan yang negatif. Wajahnya mengernyit kesakitan saat dia menundukkan kepalanya, tetapi setelah beberapa saat, dia mengangkatnya lagi.
“Orang yang kucintai saat aku masih kecil bernama Amakawa Haruto. Nama yang sama dengan Haruto.” Dia menatap Latifa sambil berbicara pelan, seolah mencari jawaban.
“…Maaf. Aku tahu apa yang ingin kamu tanyakan. Meski begitu, aku tidak bisa menceritakan apa pun tentang kehidupan masa lalu Onii-chan dari mulutku sendiri.” Lagipula, itulah yang telah dia janjikan. Latifa menggelengkan kepalanya dengan penuh penyesalan.
“Ya. Aku juga minta maaf, karena telah merepotkanmu seperti ini… Alasan aku belum bertanya langsung kepada Haruto mungkin karena aku masih belum menemukan jawabanku sendiri. Aku terlalu takut untuk memastikannya…” Miharu menggigit bibirnya karena malu.
“…Itu bisa dimengerti. Kamu adalah seorang kakak bagi keduanya, jadi kamu harus memikirkan Aki dan Masato.”
Kenyataannya, Miharu berada dalam posisi sebagai anak sulung di mana dia selalu harus memikirkan kedua orang itu, bukan hanya dirinya sendiri. Namun, poin yang pada akhirnya membuat Miharu tetap teguh pendiriannya adalah ketidakcocokan garis waktu. Tidak mungkin Amakawa Haruto adalah seorang mahasiswa, karena dia adalah anak kelas satu SMA seperti dirinya. Itulah sebabnya, secara logis, tidak mungkin mereka adalah orang yang sama.
Itulah kutukan pengikatnya. Karena dia mengerti ada selisih waktu, Miharu tanpa sadar takut untuk memastikannya dengan Rio. Dia percaya itu bukanlah sesuatu yang harus dia pastikan, dengan perasaan samar bahwa sesuatu akan berubah jika dia melakukannya.
“…Ya. Aku harus tetap tegar. Demi kedua anak itu,” ucap Miharu pada dirinya sendiri.
Meskipun itu bisa diartikan sebagai cara untuk menghindari masalah dengan Rio, benar juga bahwa dia harus menghadapi masalah dengan Satsuki secara langsung. Jika dipikir-pikir, dalam hal urgensi, ini jauh lebih penting. Bagaimanapun juga, bertemu dengan Satsuki bukan hanya sesuatu yang menyangkut Miharu; hal itu juga akan sangat memengaruhi Aki dan Masato di masa depan. Rio telah menyiapkan kesempatan seperti itu bagi mereka, jadi mereka tidak boleh menyia-nyiakannya.
Itu adalah urusan mereka sendiri. Mereka tidak bisa begitu saja menyerahkannya kepada orang lain, dan mereka juga tidak bisa membebankan semuanya kepada Rio. Miharu sedikit tenang, memaksa perasaan sedihnya masuk kembali ke dalam dadanya.
“Saat aku melihatmu, aku berpikir pada diriku sendiri bahwa aku juga harus berusaha lebih keras. Terima kasih — karena telah mendengarkan ceritaku, dan karena telah menjawab pertanyaanku.” Bibir Latifa melunak membentuk senyuman saat dia berterima kasih kepada Miharu, merasa senang karena dia bisa melakukan percakapan yang jujur.
Aku juga tidak berpikir keadaan saat ini bisa terus berlanjut, pikir Latifa dari lubuk hatinya yang paling dalam, meskipun dia tidak bisa menjelaskannya secara logis. Sekarang setelah dia tahu perasaan Miharu condong kepada Rio, dia tahu masalah antara Rio dan Miharu harus diselesaikan sebelum dia bisa dengan bangga menghadapi Rio sendiri. Dia tidak bisa memberikan segalanya kepada Rio sebelum itu.
“Umm, apa hanya itu yang ingin kamu tanyakan padaku?” tanya Miharu dengan gugup.
Latifa melirik ke arah pintu masuk dan tersenyum sedih. “Yup. Aku sudah tahu seperti apa perasaanmu sekarang. Seperti yang kukatakan di awal, kamu tidak boleh menceritakan apa yang kukatakan kepadamu kepada siapa pun, ya? Terutama kepada Onii-chan.”
“Yup, aku janji,” setuju Miharu, membalas senyuman itu dengan lembut.
“Kalau begitu, ayo pergi,” kata Latifa dengan suara yang sedikit lebih keras, berbalik menghadap pintu. Pintu itu berderit pelan, bergerak tipis seolah-olah ada angin yang bertiup. Di sisi lain adalah —
…Miharu. Apa itu benar?
Itu adalah Aki. Dia telah mencari Miharu untuk membicarakan beberapa hal ketika dia mendapati keduanya sedang bercakap-cakap di luar rumah dan akhirnya menguping. Aki berlari masuk ke dalam rumah untuk menghindari ketahuan.
“Ada apa, Aki?” Sesampainya di ruang tamu, Aki berpapasan dengan Sara, yang matanya sedikit membelalak.
“Ah, bukan apa-apa, aku tadi cuma berjalan-jalan sebentar, kupikir itu mungkin bisa membantu menjernihkan pikiranku, atau semacamnya…” kata Aki, mengarang alasan di tempat.
“Oh, aku paham perasaan itu. Duduk diam juga bukan gaya-ku,” setuju Sara sambil terkikik. Tepat pada saat itu, Miharu and Latifa masuk kembali ke dalam.
“Kami kembali!” Begitu Latifa memasuki ruang tamu, dia menyapa Aki dengan penuh semangat.
“Selamat datang kembali. Tunggu, kalian pergi ke mana? Bagaimana dengan Rio?”
“Kami tadi mengobrol di dekat luar rumah. Onii-chan pergi berjalan-jalan sebentar di luar. Dia bilang mau menyapa para tetangga. Aku yakin sebentar lagi dia akan kembali.” Latifa menjawab pertanyaan Sara dengan nada bicaranya yang biasa.
“Begitu ya. Kalau begitu, mari kita makan siang begitu Rio kembali. Semua persiapannya sudah selesai.”
Hidung Latifa berkedut saat dia mengendus, lalu dia tersenyum sambil terkikik. “Yup! Kamu membuat berbagai macam makanan hari ini. Baunya sangat enak. Baunya tercium sampai ke luar rumah, jadi aku kelaparan.”
“Baunya… tercium? Aku baru bisa merasakannya begitu kita masuk ke dalam…” Mata Miharu membelalak kagum.
“Itu karena aku adalah manusia rubah! Aku sangat peka terhadap bau.” Latifa membusungkan dadanya dengan bangga.
“Begitu ya.” Miharu terkikik geli. Latifa menatap Aki yang berdiri diam agak canggung, lalu memanggilnya dengan lembut penuh kekhawatiran.
“Aki, kamu tidak apa-apa? Kamu terlihat kurang sehat…”
“T-Tidak, aku baik-baik saja. Tidak ada yang salah sama sekali.” Aki menggelengkan kepalanya dengan canggung, suaranya melengking tinggi.
◇ ◇ ◇
Tak lama setelah itu, Rio kembali, dan waktu makan siang pun tiba. Meja makan dipenuhi dengan jamuan yang telah disiapkan oleh Orphia, Sara, dan Alma, tetapi suasana di ruangan itu terasa agak canggung. Ada percakapan yang terjadi, tetapi tidak semeriah biasanya.
Aki, Masato, dan Miharu khususnya memasang ekspresi kaku di wajah mereka. Alasannya, tentu saja, adalah apa yang telah dijelaskan oleh Rio sekembalinya dia. Bahkan Masato yang biasanya periang pun berpikir serius tentang apa rencana tindakan mereka selanjutnya.
“Ngomong-ngomong, Rio,” kata Orphia tiba-tiba.
“Ya?” jawab Rio segera, menatapnya.
“Seperti apa orang bangsawan yang akan membawamu ke perjamuan itu?”
Meskipun mereka mungkin tidak terlibat secara langsung, itu tetaplah seseorang yang akan diandalkan oleh Miharu dan yang lainnya. Dia pikir tidak ada salahnya mengetahui lebih banyak tentang seperti apa orang tersebut.
Dengan begitu, perhatian semua orang tertuju pada Rio.
“Biar kulihat… Seperti yang kukatakan kepada para tetua agung sebelumnya, dia cerdas dan memiliki rasa tanggung jawab yang kuat. Dia dipercaya untuk memimpin kota di usia muda, dan juga mengelola sebuah organisasi besar yang didirikannya sendiri. Aku yakin tidak ada orang yang lebih pantas disebut ‘berbakat’ selain dirinya,” jelas Rio.
“Dia seorang wanita? Kukira dia seorang pria…” Orphia mengerjap kaget. Yang lainnya juga tampaknya berasumsi bahwa bangsawan tersebut adalah seorang pria, jadi mereka semua sedikit terkejut.
“Ya, kurasa usianya seumuran dengan Orphia,” konfirmasi Rio dengan tenang.
“Sama seusiaku?” gumam Orphia kagum.
“Haruto, apakah orang itu jangan-jangan… Amande…” kata Miharu tiba-tiba. Sepertinya dia memikirkan seseorang.
“Ya. Dia adalah gubernur Amande sekaligus presiden Guild Ricca,” konfirmasi Rio.
“Eh? Bukankah Guild Ricca itu tempat yang menjual pakaia… pakaian renang yang coba kita buat ulang?” Orphia hampir mengucapkan kata pakaian dalam, tapi segera meralatnya menjadi pakaian renang. Desa tersebut saat ini sedang memproduksi pakaian dalam modern dan pakaian renang eksperimental berdasarkan apa yang dibawa oleh Miharu dan yang lainnya ke desa. Karena ada begitu banyak kesempatan untuk menggunakan pakaian dalam, Orphia mengucapkannya secara refleks, namun dia tampaknya menganggap kata itu sedikit memalukan untuk diucapkan di depan Rio.
“Yup. Amande adalah kota terdekat saat kita tinggal di wilayah Strahl…” Miharu mengangguk, berpikir keras. Dia tahu bahwa Guild Ricca menjual banyak barang yang mirip dengan produk Jepang modern, jadi ada kemungkinan sang presiden, Liselotte, juga bereinkarnasi seperti Rio…
Yang berarti Rio mungkin telah membagikan informasi tentang kehidupan masa lalunya kepada Liselotte.
“Kamu bilang kalau kamu menyelamatkan Liselotte dari suatu situasi sulit, tapi apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Alma karena penasaran.
“Ini cerita yang panjang, tapi singkatnya: ada serangan monster besar-besaran di Amande, dan aku bekerja sama dalam upaya pembasmian,” jawab Rio secara garis besar.
“Apakah semuanya berakhir dengan baik?” tanya Miharu dengan cemas. Dia tidak pernah membayangkan hal seperti itu akan terjadi setelah mereka meninggalkan Amande.
“Ya. Aku tidak akan berada di sini jika tidak begitu. Hanya untuk berjaga-jaga, aku menyuruh Aishia menunggu di suatu tempat yang jauh dari Amande,” jawab Rio sambil tersenyum.
“Kita tidak mendapatkan monster di desa ini, jadi agak sulit dibayangkan, tapi jika Rio bilang itu berskala besar, pasti ada jumlah yang luar biasa banyaknya,” gumam Alma.
Monster tampaknya hidup di area yang dekat dengan peradaban manusia, jadi hampir tidak ada yang bertempat tinggal di Alam Liar. Sebaliknya, segala jenis makhluk buas berkeliaran dengan bebas. Dia sangat tahu bagaimana mereka bisa menjadi ancaman saat mereka berkumpul mengeroyok.
Sementara itu, minat Sara sebagai seorang prajurit terusik. “Bisakah kamu menceritakan seperti apa rasanya bertarung melawan monster, jika kamu tidak keberatan?”
Mungkin itu juga karena mereka berkumpul untuk makan di mana mereka lebih banyak diam dari biasanya sehingga dia pikir itu adalah topik yang bagus untuk dibahas.
Latifa mengangkat tangannya. “Ah! Aku justru ingin mendengar tentang situasi di mana Onii-chan dan gurunya, Celia, tinggal bersama!” Itu adalah hal yang mengganggunya sejak Rio kembali ke desa dan dengan santainya menyebutkan bahwa mereka tinggal bersama. Sekarang setelah semua orang berkumpul, dia pikir ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya.
“Dih, Latifa, jangan menyela orang lain saat mereka sedang berbicara… Tunggu, tinggal bersama! Kamu benar! Apakah benar kalian tinggal bersama?!” Sara mencoba memprotes Latifa dengan jengkel ketika topik tentang Rio yang tinggal serumah dengan Celia muncul dan dia langsung berubah pikiran, ekspresinya langsung berubah.
“B-Begitu. Ini juga cerita yang panjang, tapi…” Rio sedikit terkejut, namun dia menjawab sambil meringis.
“Sungguh menarik sekali, Sara,” ucap Alma sambil terkikik.
“Ah, bukan, bukan begitu…” Karena Sara sudah menunjukkan reaksi yang berlebihan, dia menggumamkan kata-katanya sambil merona merah padam. Orphia terkikik saat melihat Sara bertingkah seperti itu.
“Hei-hei, apa dia wanita simpanan lokalmu, Onii-chan?” tanya Latifa tiba-tiba.
Mendengar itu, para rakyat roh tampak terkejut dan terbatuk.
…Bukan. Dari mana kamu belajar kata seperti itu?” Rio pasti merasa kepalanya mulai pening, karena dia menekan kepalanya dengan sebelah tangan secara perlahan.
“Dari Dominic,” jawab Latifa dengan jujur.
“Begitu ya. Aku akan menegurnya nanti saat aku melihatnya,” kata Rio sambil menghela napas. Dia merasa perlu menekankan agar tidak mengajari Latifa hal-hal aneh seperti itu…
“Ya ampun, orang tua itu… Aku juga akan memarahinya. Aku minta maaf atas ulahnya.” Alma merasa malu dengan keluarganya sendiri dan meminta maaf kepada Rio dengan bahu yang terkulai lemas.
“Dengar, Onii-chan. Bagaimana kalian bisa sampai tinggal bersama? Dia adalah seorang wanita bangsawan, kan?” Latifa masih penasaran dan mengerucutkan bibirnya sembari mendesak Rio untuk berbicara. Sara dan gadis-gadis lainnya juga tampak tertarik, menatap Rio lekat-lekat.
“Baiklah, akan kuceritakan,” Rio mengangguk dengan senyum kaku, lalu menjelaskan rangkaian peristiwa yang berujung pada penyelamatan Celia.
◇ ◇ ◇
Malam harinya, Miharu memanggil Aki dan Masato ke kamarnya. Mereka bertiga duduk di kursi mengelilingi sebuah meja kecil.
“Apakah kalian berdua sudah memantapkan pemikiran kalian mengenai situasi ini?” tanya Miharu, langsung pada intinya.
“…Yah,” Aki mengangguk.
“Aku masih dalam tahap memikirkannya, tapi aku juga ingin mendengar pendapat kalian,” kata Masato sambil menggaruk kepalanya dengan kasar.
“Begitu ya. Kalau begitu, mari kita bicarakan. Aki, bisakah kamu mulai dengan menceritakan pemikiranmu?” tanya Miharu.
“Aku… Aku ingin kembali ke Strahl. Jika ada kesempatan Kakak berada di sana dan ada kemungkinan aku bisa menemuinya… Kalau begitu aku ingin menghadiri perjamuan itu,” kata Aki dengan serius.
Miharu mengangguk. “Begitu ya… Lalu bagaimana denganmu, Masato?”
“Masalah utama yang mengganjaliku adalah kemungkinan kalau kita tidak akan bisa kembali ke sini. Bersama Haruto mungkin berarti dia bisa mengajariku ilmu pedang, tapi… Tujuan utamaku adalah menang sekali melawan Arslan…” kata Masato sambil merenung. “Tapi kurasa kita harus menemui Satsuki dan Kakakku pada suatu saat nanti. Yah, rasanya tidak enak mengetahui kita akan menjadi beban, tapi aku memang ingin pergi menemui mereka,” tambahnya.
“Apakah kita benar-benar tidak akan bisa kembali ke desa ini? Bersama Kakak dan Satsuki,” gumam Aki.
“Bukankah mereka bilang kalau raja tidak akan menyetujui hal itu? Setidaknya, Satsuki sekarang berafiliasi dengan Kerajaan Galarc,” Masato mengulangi perkataan Rio sebelumnya, menyatakan hasil yang diprediksikan.
“Tapi kita tidak tahu bagaimana perasaan Kakak dan Satsuki tentang hal itu.”
“Itu mungkin benar, tapi bukankah itu sebabnya kita harus menemui mereka untuk mencari tahu? Kakak dan Satsuki mungkin sudah berteman dekat di dalam kerajaan, tahu?” Terlepas dari apakah mereka bisa meninggalkan kerajaan atau tidak, ada kemungkinan bahwa mereka tidak ingin pergi.
“Makanya kubilang kita harus pergi menemui mereka dan menanyakannya secara langsung. Kita juga harus membicarakan apakah kita bisa kembali ke Bumi atau tidak. Itu masalah kita, kan?” Daripada membiarkan Rio bertindak sebagai perantara, ada hal-hal yang hanya dapat disampaikan oleh orang-orang yang bersangkutan.
“Mmgh, begitu ya… Tapi seandainya pun Kakak dan Satsuki ingin datang ke desa ini, dan kita bisa kembali ke sini juga, apakah kita bahkan diizinkan untuk mengajak mereka? Bukankah tempat ini seharusnya menjadi rahasia? Kita sudah berjanji.”
“Itu… akan membutuhkan konsultasi dengan Rio dan para tetua…” suara Aki mengecil di akhir. Dia sepertinya merasa seolah-olah mereka telah menimbulkan cukup banyak masalah bagi Rio and desa tersebut, jadi dia memasang raut wajah yang tidak nyaman.
Masato mengangkat kedua tangannya sebagai gestur menyerah dan menatap Miharu. “Mm… ini tidak bagus. Aku masih sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana menurutmu, Miharu?”
Tatapan Aki beralih mengikuti Masato ke arah Miharu. Miharu mendengarkan pembicaraan mereka berdua dalam keheningan yang penuh renungan selama ini. “…Aku bisa memahami kekhawatiran kalian berdua. Selain semua itu, aku ingin mengikuti Haruto.”
“Aku juga!” sahut Aki.
“Tunggu, Aki. Biarkan aku melanjutkan.”
“B-Baiklah…” Aki terkejut dan mengangguk dengan tidak nyaman.
“Seperti yang dikatakan Aki, ini adalah masalah kita. Itulah mengapa ini bukan sesuatu yang harus kita serahkan sepenuhnya kepada Haruto… Akan lebih baik jika kita bertemu langsung dan mendiskusikannya. Bukankah begitu?”
“…Ya,” setuju Aki dengan penuh kekhawatiran.
“Tapi, seperti yang dikatakan Masato, kita kemungkinan besar akan menjadi beban dan menghalangi. Makanya… Ini memang bukan jalan tengah yang sebenarnya, tapi aku berpikir untuk mewakili kalian berdua dan menghadiri perjamuan malam bersama Haruto,” kata Miharu.
“Lalu bagaimana dengan kami…?” tanya Aki dengan cemas.
“Kalian akan tetap tinggal di desa ini. Jika kalian bersikeras, kita bisa bertanya apakah kalian bisa ikut ke Strahl, tapi hanya aku yang akan menghadiri perjamuan malam. Aku ingin kalian menunggu bersama Ai-chan di tempat yang aman dekat kastil,” kata Miharu, sambil mengamati wajah Aki.
“Tapi itu… Itu berarti meskipun Masato dan aku mengikuti kalian ke Strahl, ada kemungkinan kita sama sekali tidak bisa melihat Satsuki, bukan?” tanya Aki dengan ekspresi yang sangat frustrasi.
“…Ya. Haruto bilang dia akan mencoba membawa Satsuki keluar dari kastil jika memungkinkan, tapi itu tidak menjamin dia bisa melakukannya, hanya ada kemungkinannya saja. Tentu saja, aku akan mencoba mendiskusikannya dengan Satsuki juga untuk melihat apakah kita bisa memasukkan kalian berdua ke dalam kastil, tapi itu juga tidak dijamin,” jelas Miharu kepada Aki dengan jujur. “Apakah kamu tetap ingin pergi ke Strahl terlepas dari semua itu, Aki?”
“Uh…” Aki tidak dapat langsung menjawab, dengan ekspresi hampir menangis di wajahnya.
“Bagaimana denganmu, Masato?” lanjut Miharu.
“Aku…” Masato ragu-ragu dengan ekspresi masam.
“Kita tidak tahu posisi seperti apa yang akan kita tempati di kastil nanti, jadi kehadiran kita bertiga justru akan menjadi beban yang lebih besar bagi Haruto, kan? Makanya, aku ingin kalian membiarkanku berbicara dengan Satsuki sendirian dulu.” Dengan begitu, bahkan jika Miharu tidak dapat bergerak di dalam kastil, Aki dan Masato bisa kembali ke desa.
“…Miharu, kau…” Aki tiba-tiba mengangkat kepalanya, mencoba mengatakan sesuatu dengan tatapan penuh pertimbangan.
“Ada apa, Aki?” Miharu menatap balik ke arah Aki, mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
“Miharu, kau… Haruto…”
Apa kau menyukai Haruto? Apakah karena kau begitu menyamakan Haruto dengan pria itu? Apakah itu sebabnya kau ingin berada di sisi Haruto?
Itulah yang ingin Aki tanyakan, tetapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya dan mulutnya tidak mau bergerak. Sebaliknya, ekspresi yang sangat cemberut terukir di wajahnya dan dia merengut dengan air mata di pelupuk matanya.
“…Dengar, Aki. Aku tahu kau mungkin merasa sulit untuk mengandalkanku, tapi aku juga kakak perempuanmu. Kita memang tidak sedarah, tapi aku tumbuh bersama kalian selama ini, jadi aku percaya kita bersaudara. Makanya… Jika kau menganggapku seperti itu, bisakah kau menyerahkan ini padaku untuk kali ini saja?” tanya Miharu dengan wajah bermasalah. Aki menggigit bibirnya karena frustrasi dan tiba-tiba berdiri.
“…Baiklah.” Dia memeluk Miharu, membenamkan wajahnya ke dada Miharu.
“Terima kasih, Aki. Maafkan aku.” Miharu tersenyum lembut dan menepuk punggung Aki untuk menghiburnya.
“Tidak apa-apa. Tapi aku tetap ingin pergi ke Strahl. Bahkan jika aku tidak bisa menemui Satsuki atau kakakku kali ini, aku ingin berada di sisimu.” Aki menggelengkan kepalanya dan semakin mengeratkan pelukannya pada Miharu.
“Aki…” Tentu saja, Miharu juga membalas pelukan Aki dengan lebih erat.
“…Um, apa kalian berdua melupakanku?” Masato tampak tidak nyaman karena terpaksa menyaksikan pemandangan kasih sayang saudari mereka, lalu ia menegaskan keberadaannya dengan rasa canggung.
“Apa? Kau ada di sini?” kata Aki kepada Masato, dengan matanya yang sedikit bengkak karena air mata.
“Eh, ya, aku ada di sini. Dari awal tadi,” tegas Masato.
“Hmm… Jadi? Apa, kau ingin dipeluk oleh Miharu juga? Jijik. Sifat mesum sekali.” Aki menatap Masato dengan pandangan tidak suka, mencoba menyembunyikan rasa malunya.
“Apa— Bukan, bukan begitu! Aku tidak sedang memikirkan betapa irinya aku atau betapa empuknya pelukan itu!” sangkal Masato dengan wajah memerah.

“Kau hanya sedang menggali kuburanmu sendiri…” Meskipun Aki merasa jengkel, dia tidak bisa menahan tawanya.
“D-Diam kau!” gerutu Masato dengan panik.
“Yah, terserahlah. Kalau begitu, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau ingin tinggal di desa dan melanjutkan latihan pedangmu?” tanya Aki kepada Masato, berusaha mengembalikan percakapan mereka yang sempat melenceng.
Masato menggaruk kepalanya dengan malu-malu. “Ah, yah. Kalau sudah begini, aku juga harus merendahkan kepala di hadapan Haruto. Aku ingin pergi ke Strahl juga.”
“Hmm, jadi kau tetap ikut rupanya. Padahal tadi kau tidak terlihat begitu antusias…” Aki menatap lekat-lekat wajah Masato.
“Diam. Aku berubah pikiran.” Masato membuang muka.
“Oh, begitu ya.” Senyuman terukir di bibir Aki.
“Fufu.” Miharu memperhatikan mereka berdua dengan senyum geli di wajahnya. Mereka akhirnya kembali seperti diri mereka yang biasa. Namun, setelah keputusan diambil, mereka harus segera bergerak.
“Pertama-tama, mari kita temui Haruto bersama-sama. Setelah itu kita panggil Sara dan yang lainnya untuk menyampaikan laporan kita bersama,” usul Miharu.
“Yup.”
“Baiklah.”
Aki dan Masato mengangguk bersamaan.
Setelah keputusan diambil, mereka bertiga mengunjungi kamar Rio dan mengetuk pintu, dan balasan Rio langsung terdengar. “Silakan masuk.”
“Tunggu, Latifa?!” Tampaknya ada sedikit kehebohan di dalam.
“Permisi…” Miharu membuka pintu dengan ragu-ragu. Rio sedang menggendong Latifa di punggungnya — atau lebih tepatnya, Latifa sedang menempel di punggung Rio. “Selamat malam, Miharu.”
“Umm, selamat malam, Haruto. Apakah kamu punya waktu sekarang?” Melihat Rio menggendong Latifa di punggungnya membuat Miharu ragu-ragu.
Rio tersenyum tipis. “Ya, kami tadi hanya bercanda. Jika kalian bertiga datang bersama-sama, itu berarti kalian sudah mengambil keputusan, kan?”
“Ya,” kata Miharu.
“Ahaha, kamu sangat menempel pada Haruto, ya, Latifa.” Ketika Aki melihat Latifa yang bergelayut di punggung Rio, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum sedikit kaku melihat kedekatan di antara keduanya.
“Yup!” Latifa mengangguk dengan senyuman tanpa beban.
“Untuk sekarang, silakan masuk ke dalam. Latifa, bisakah kamu pergi ke ruang keluarga atau kembali ke kamarmu sendiri?”
“Eeh, tapi aku juga ingin dengar.” Latifa mengerucutkan bibirnya.
“Ini adalah percakapan yang penting. Kamu mengerti itu, kan?” Rio memperingatkannya dengan ekspresi bermasalah. Mendengar itu, Latifa menggembungkan pipinya dan turun dari punggung Rio, lalu dengan patuh beranjak pergi meninggalkan ruangan.
“Um, Latifa boleh tinggal,” kata Miharu. “Sebenarnya, kami juga berniat memanggil Sara dan yang lainnya ke sini, supaya kita semua bisa berbicara bersama-sama. Tentang apa yang kami pikirkan.”
“Aku juga?” Latifa memiringkan kepalanya dengan ragu.
“Yup. Aku ingin kamu mendengarkannya juga,” kata Miharu sambil tersenyum lembut.
“Aku mengerti. Kalau begitu, mari kita bicara di ruang keluarga.” Rio menghormati keputusan mereka dan menyarankan agar mereka pindah tempat.
◇ ◇ ◇
Sara, Orphia, dan Alma dipanggil ke ruang keluarga Rio. Begitu semua orang berkumpul dan duduk di sofa, Rio mulai berbicara.
“Sekarang, bisakah kalian beri tahu kami apa yang telah kalian bertigautuskan untuk dilakukan?”
Miharu menarik napas dalam-dalam. “Ya. Pertama-tama, kami bertiga telah sampai pada kesimpulan bahwa kami semua ingin pergi ke Strahl.”
“Aku mengerti. Jika itu yang pertama, apakah masih ada lagi?” tanya Rio.
Permintaan itu sangat sesuai dengan perkiraannya. Tidak ada yang perlu diherankan. Baik Latifa maupun gadis-gadis rakyat roh juga tidak tampak terlalu terkejut. Namun —
“Aku… aku ingin menghadiri jamuan malam itu bersamamu.” Latifa dan gadis-gadis rakyat roh tersentak mendengarnya.
“…Jika kerajaan mengetahui keberadaan kalian, para bangsawan dan kaum ningrat mungkin akan mencoba mencari cara untuk memanfaatkan kalian. Aku yakin mereka akan memperlakukan kalian dengan sopan di permukaan, tetapi itu berarti mengungkap nama dan wajah kalian ke muka publik sejak saat ini dan seterusnya. Ada kemungkinan orang-orang yang mencoba menggunakan hal itu untuk konspirasi mereka sendiri akan muncul. Kalian menyadari semua ini, namun tetap ingin menghadiri jamuan tersebut. Benar begitu?” Permintaan Miharu untuk ikut menghadiri jamuan itu juga sedikit di luar dugaan, membuat Rio terdiam sejenak sebelum memastikan niatnya.
“…Ya,” Miharu mengangguk dalam-dalam, menyampaikan tekadnya sendiri. Sekalipun dia tidak bisa menghadiri jamuan itu, jika dia membuat dirinya siap untuk menemui Satsuki kapan saja, dia akan dikenal orang pada suatu saat nanti. Itu hanya masalah cepat atau lambat.
Namun lebih dari segalanya, Miharu benci menyerahkan segalanya kepada Rio seorang diri. Meskipun menyerahkan segalanya kepada Rio mungkin memang merupakan pilihan yang bijak, hal itu juga terasa seolah-olah Rio akan pergi ke tempat yang sangat jauh, yang membuatnya merasa cukup ketakutan. Pilihan ini adalah keinginan egois Miharu sendiri — ini adalah kesempatannya untuk menggenggam masa depannya di tangannya sendiri. Sekarang, apakah Rio akan menerima keegoisannya atau tidak adalah hal lain.
Miharu mengamati wajah Rio dengan cermat, merasa sedikit takut.
“…Kalau begitu, biarkan aku mengonfirmasi satu hal lagi. Jika ini demi kamu, lalu bagaimana dengan Aki dan Masato?” tanya Rio, sambil menatap mereka.
Miharu memeras seluruh keberaniannya untuk menjawab pertanyaan Rio. “Aku berharap mereka bisa menunggu di dekat kastil.”
“…Bergantung pada bagaimana diskusi kita nanti, ada kemungkinan Aki and Masato tidak akan bisa menemui Satsuki meskipun mereka pergi ke Strahl. Kalian mungkin pergi dengan sia-sia, kau sadar akan hal itu?” tanya Rio.
“Ya, kami sudah memperhitungkan hal itu. Setelah kami bertiga berbicara, aku menyampaikan permintaan ini kepada mereka. Inilah yang telah kamiutuskan,” kata Miharu dengan tegas.
“Begitu ya…” Rio menghela napas kecil dan menatap Aki serta Masato sekali lagi. Keduanya mengangguk dan membalas tatapannya. Mereka tidak tampak ingin mengatakan apa-apa lagi; Rio dapat melihat bahwa mereka benar-benar telah menerima hal ini.
Sementara itu, para gadis rakyat roh semuanya memperhatikan mereka dalam diam.
“Apakah tidak apa-apa, Haruto? Atau membawa kami bertiga terlalu sulit…” tanya Masato dengan cemas sambil menundukkan kepalanya ke arah Rio. Meskipun Rio bisa menggunakan seni roh untuk terbang, tidak mungkin dia bisa membawa Miharu, Aki, dan Masato sekaligus saat melakukannya.
“Tentu saja aku harus memastikan terbang dengan aman, tapi bukan berarti itu mustahil,” jawab Rio kepada Masato dengan senyum masam. Di sisi lain, Sara, Orphia, dan Alma saling bertukar pandang secara diam-diam.
“Kalau begitu…” Masato dan Aki menelan ludah, menunggu keputusan akhir Rio.
“Jika itu adalah jawaban yang kalian bertiga ambil setelah pertimbangan matang, maka kita akan melanjutkannya dengan cara itu.” Rio tersenyum lembut. Jika keputusan mereka ini diambil secara gegabah, dia akan memberi mereka lebih banyak peringatan, tetapi dia bisa tahu bahwa bukan itu masalahnya.
“Hore!” seru Masato dan Aki bersamaan, sambil melakukan *high-five* satu sama lain.
“Baguslah.” Sara tersenyum bersama gadis-gadis lainnya, mengamati Masato dan Aki.
“…Apakah kamu yakin?” Miharu tadinya mengharapkan lebih banyak penolakan, jadi ketika semuanya berjalan dengan begitu lancar, matanya membelalak kaget.
“Ya. Bukankah kamu sendiri yang memintanya?” kata Rio dengan ekspresi geli.
“Umm, tapi, aku pikir kamu akan menentang keikutsertaan kami ke kastil. Itu juga akan merepotkanmu, jadi… umm…”
“Itu tidak benar. Seperti yang kubilang — aku akan menghargai keputusan kalian. Jika ini demi membantu kalian bertiga kembali ke Jepang suatu hari nanti, maka aku akan mengerahkan segala upaya untuk membantu. Terlebih lagi jika ini adalah jawaban yang kalian pikirkan baik-baik. Makanya, daripada khawatir menjadi gangguan atau beban bagiku, aku ingin kalian membuang pikiran seperti itu dari benak kalian,” kata Rio dengan tenang kepada Miharu yang sedang mengerutkan kening.
“…Baiklah.” Saat Rio mengucapkan ‘kembali ke Jepang,’ Miharu mau tak mau merasa kesal sekaligus sedih, wajahnya sedikit berubah tegang. Namun, dia langsung memperbaikinya menjadi wajah serius dan menyetujuinya pelan-pelan.
Latifa tampak merasakan sesuatu, mengamati Miharu dengan ekspresi jengkel.
“Namun, tentu saja akan ada tindakan pencegahan yang harus kita ambil agar Miharu diizinkan menghadiri jamuan makan itu, jadi aku berharap kalian mematuhinya. Apakah itu tidak apa-apa?” Rio menatap lekat-lekat ke arah Miharu, menegaskan kata-katanya.
“B-Baiklah. Terima kasih atas pengertiannya.” Miharu mengangguk dalam-dalam dan membungkukkan kepalanya kepada Rio.
Komentar