Seirei Gensouki Volume 7 Epilog Bahasa Indonesia
Epilog
Sebenarnya jam berapa sekarang? Dan di mana tempat ini?
Miharu bertanya-tanya samar di dalam kesadarannya yang mengantuk.
“Miharu.” Seseorang memanggil namanya.
Ai-chan… Ya, itu suara Aishia.
Tanpa disadarinya, Aishia sudah berdiri di hadapan Miharu. Aishia menatap wajah Miharu lekat-lekat. “Meskipun ini sementara, hubungan antara jiwamu dan jiwaku akan tercipta karena jalur yang terbentuk. Apakah tidak apa-apa?” tanyanya tiba-tiba.
“Umm, apakah ada masalah jika jiwa kita terhubung?” Mulut Miharu bergerak di luar kehendaknya sendiri untuk memastikan dengan gugup.
Ah, ini adalah sebuah mimpi. Dari sebelum kita datang ke desa… Miharu menyadari bahwa dia berada di dalam mimpinya sendiri, menghidupkan kembali sebuah peristiwa masa lalu secara jelas.
“Tidak juga. Mungkin sesekali akan ada momen empati bersama?” jawab Aishia sambil memiringkan kepalanya.
“Empati?”
“Pikiran kita mungkin akan terhubung satu sama lain.”
“Umm, apa yang akan terjadi jika itu terhubung?” Miharu tidak dapat membayangkannya di dalam kepalanya dan meminta penjelasan yang lebih spesifik.
“Pikiran dan ingatan orang lain mungkin akan ditransmisikan kepadamu dalam bentuk tertentu. Seperti déjà vu. Aku bisa memicu efek empati secara sengaja jika kita berada dalam kontak langsung, tapi aku tidak bisa memicunya dengan sengaja dari jarak jauh. Hal itu juga tidak akan sering terjadi. Dan itu tidak bisa dikendalikan. Tapi itu mungkin terjadi ketika salah satu dari kita merasakan emosi yang kuat,” Aishia menjelaskan dengan hati-hati demi Miharu. Meskipun biasanya seseorang akan merasa ngeri dan tidak menyukainya, Miharu sama sekali tidak menunjukkan keengganan, menerima jalur sementara dengan Aishia.
“Tidak apa-apa. Gunakan esensi sihirku sampai Haruto kembali.”
“…Baiklah, terima kasih,” kata Aishia.
Dengan demikian, begitulah cara Miharu dan Aishia membentuk jalur sementara di antara mereka. Tapi mengapa dia memimpikan hal itu sekarang? Miharu merenung dengan pikirannya yang mengantuk, tetapi dia tidak tahu. Saat dia sedang berpikir, penglihatannya berubah sekali lagi. Mimpi yang berbeda tampaknya akan segera dimulai.
Siapa itu? Miharu mengerjap keheranan. Seorang ibu berambut hitam dan anaknya yang juga berambut hitam berusia sekitar lima tahun berjalan dengan gembira di depannya sambil bergandengan tangan. Mereka tampaknya berada di suatu kota di Strahl.
“Hei, Ibu. Kenapa aku dan Ibu punya rambut hitam? Kita adalah satu-satunya orang yang berbeda dari orang-orang di sekitar kita.” Anak laki-laki itu bertanya kepada ibunya dengan rasa penasaran.
“Begini, Rio. Itu karena ayahmu dan Ibu datang ke sini dari tempat yang jauh, sepertinya.” Ibu itu menjawab pertanyaan anak laki-laki itu dengan wajah bermasalah.
Rio? Itu… Haruto? Dan ibunya Haruto? Dia sangat cantik… Begitu Miharu menyadari bahwa dia sedang melihat Rio kecil, dia memperhatikan ibu anak itu dengan linglung.
“Hei, Ibu. Apakah semua orang yang tinggal di tempat jauh punya rambut hitam?” Rio bertanya dengan rasa penasaran.
“Ya, benar sekali. Bukan hanya aku dan kamu saja. Rambut ayahmu berwarna hitam, rambut kakekmu berwarna hitam, dan rambut nenekmu juga begitu,” jawab ibunya dengan senyuman lembut.
“Huh… Suatu hari nanti aku ingin bertemu kakek dan nenek.” Rio melihat senyuman ibunya dan balas tersenyum.
…Begitulah. Nanti aku akan mengajakmu menemui mereka begitu kamu sudah dewasa. Mereka berada di tempat yang disebut wilayah Yagumo,
“Benarkah? Ini janji?”
Senyuman Rio terlalu polos untuk ditolak. “Ya, ini janji.” Wanita itu memberikan senyuman keibuan dan mengangguk dengan suara yang penuh kasih sayang. Itu adalah hari yang hangat dan indah dalam kehidupan seorang ibu dan anak.
Namun, penglihatan Miharu berubah sekali lagi. Di sana, ibu yang tadinya memegang tangan Rio dan berjalan beberapa saat lalu, kini sedang ditindih dengan posisi telentang oleh seorang pria berbadan kekar.
“Hei Rio, apakah kamu merasa frustrasi?” Pria itu mencibir dengan senyuman yang mengerikan, senjatanya menembus tubuh sang ibu. Rio muda meringis ketakutan dan menangis sambil menggapai ibunya dengan linglung.
Uh… Miharu tidak bisa menahan diri untuk tidak memalingkan pandangannya dari pemandangan tersebut.
Tiba-tiba, Rio yang sudah dewasa berdiri tepat di sampingnya. Rambutnya berwarna abu-abu dan dia mengenakan pakaian yang biasa dilihat Miharu padanya. Rio menggenggam pedangnya erat-erat di tangannya sambil menatap tajam ke arah pemandangan yang mengerikan itu.
Ah, H-Haruto… Dia seharusnya tidak melihatnya, pikir Miharu, tetapi mulutnya tidak mau terbuka.
Rio sama sekali tidak memedulikan keberadaan Miharu, melainkan hanya mengamati tragedi itu dengan tatapan yang sangat dingin. Sesaat kemudian, Rio mulai berjalan ke arah pria tersebut.
Miharu tidak bisa mengalihkan pandangannya. Dia langsung tahu apa yang coba dilakukan oleh Rio. Pada detik berikutnya, Rio memenggal kepala pria itu tanpa ragu sedikit pun.
Ah! Di situlah kesadaran Miharu kembali kabur. Kesadarannya memudar dengan cepat. Ketika dia membuka matanya di pagi hari, dia mungkin akan kehilangan ingatan tentang mimpi itu.
T-Tidak, aku tidak boleh. Jangan terbangun… Miharu tidak ingin tahu cerita yang begitu menyedihkan, tetapi dia juga tidak ingin melupakannya. Ingatan tentang mimpi ini adalah sesuatu yang dia rasa tidak boleh dilupakan. Dia pikir itu adalah sesuatu yang harus dia hadapi secara langsung, betapa pun menyakitkannya itu. Ketakutan, kesedihan, frustrasi, dan rasa tak berdaya membuat Miharu tidak bisa berbuat apa-apa selain merangkul Rio dalam mimpinya.
Hatinya terasa sakit… Namun saat itulah pintu ingatannya tertutup rapat dengan keras. Kesadaran Miharu akhirnya memudar…
Dan fajar pun menyingsing.

Komentar