Seirei Gensouki Volume 4 Bab 6: Belanja Bahasa Indonesia – Litenovel

Seirei Gensouki Volume 4 Bab 6: Belanja Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 6: Belanja

Setelah makan, Rio memanggil Aishia untuk bergabung dengannya di luar agar dia bisa berbicara berdua saja dengannya.

Hari itu adalah hari yang sempurna untuk pergi berbelanja: cuacanya cerah, dan angin sepoi-sepoi yang menyegarkan berhembus lembut melewati padang rumput.

“Kau bisa terbang dengan seni roh, kan? Apakah kau memiliki spesialisasi elemen tertentu?” tanyanya sambil meregangkan tubuhnya dengan ringan dan bersantai.

Sebagai seekor roh — leluhur dari seni roh — Aishia tentu saja tahu tentang seni roh juga. Dengan seni roh, seorang pengguna atau roh biasanya memiliki elemen spesialisasi mereka sendiri. Pengguna berpengalaman dan roh berpangkat tinggi semuanya dapat menggunakan tingkat tertentu dari setiap elemen, jadi Rio berasumsi Aishia juga bisa terbang.

“Ya, aku bisa terbang. Spesialisasiku sama dengan Haruto. Aku mahir dalam semuanya,” konfirmasi Aishia dengan pelan.

“…Begitu ya. Padahal aku pernah dengar kalau pengguna universal itu sangat langka.”

Pengguna seni roh universal dan para roh jumlahnya sangat sedikit. Karena Rio sendiri adalah salah satu dari sedikit pengguna luar biasa tersebut, dia tidak menunjukkan keterkejutan yang berlebihan selain matanya yang sedikit melebar.

“Itulah kenapa aku juga bisa bertarung. Aku bisa melindungi Haruto. Aku bisa tetap berada di sisi Haruto,” kata Aishia tiba-tiba.

“Aishia…” Mata Rio semakin melebar kali ini, menggumamkan nama Aishia.

“Kamu bisa bersandar padaku kapan pun kamu butuh. Katakan saja, Haruto.”

Mata Rio melebar mendengar perkataan Aishia, lalu dia tersenyum lembut. “…Terima kasih. Aku mungkin harus meninggalkan rumah dalam waktu dekat. Saat waktu itu tiba, bisakah aku menyerahkan perlindungan Miharu ke tanganmu, Aishia? Tentu saja, aku ragu kamu harus melakukan apa pun selama kalian semua berada di rumah ini.”

“Baiklah,” jawab Aishia pelan namun bisa diandalkan.

“Selain itu, kita akan pergi berbelanja hari ini. Bisakah aku memintamu menemani Miharu dan bertindak sebagai penerjemahnya selama kita di luar?”

“Ya, tentu.”

“…Terima kasih.” Rio berterima kasih kepada Aishia dengan senyuman yang bahkan lebih damai di bibirnya. Dia begitu patuh dan sungguh-sungguh, hingga Rio tidak bisa menahan perasaan kasihan padanya.

“Apakah hanya itu?” tanya Aishia sambil memiringkan kepalanya.

“Mm, aku sebenarnya ingin mencoba terbang di udara bersama, tapi bisakah aku menguji kemampuan bertarungmu sebagai gantinya? Kita tidak akan menggunakan seni roh yang mencolok, sih… Apa kamu bisa bertarung dalam jarak dekat?” tanya Rio. Percakapan mereka barusan telah menggelitik rasa penasarannya tentang seberapa baik roh berwujud manusia seperti Aishia dapat bertahan dalam pertempuran.

“Aku bisa.”

“Kalau begitu, mari kita lakukan latih tanding ringan. Kita harus segera pergi berbelanja, jadi kita buat singkat saja.”

“Baiklah.”

“Oke. Saat batu ini menyentuh lantai, pertandingannya dimulai. Apa kamu sudah siap?” Rio memungut sebuah batu, lalu mengambil jarak sejauh 15 meter antara Aishia dan dirinya.

“Yups.” Aishia mengangguk kecil.

Begitu Rio memastikan anggukannya, dia melempar batu itu ke atas secara perlahan. Batu tersebut membentuk garis parabola di udara sebelum mendarat di tanah.

Seketika itu juga, Aishia menghilang.

Kenyataannya, Aishia telah bergerak tepat di hadapan Rio dalam sekejap. Pada saat bersamaan, tangannya menggapai untuk mencengkeram pakaian Rio.

Cepat sekali! Teknik lemparan, ya? Mata Rio terbuka lebar karena terkejut sebelum tangannya bergerak secara refleks. Keringat dinginnya bercucuran, dan dia menghindari tangan Aishia sambil melangkah mundur.

Dia telah meremehkannya; tanpa sadar Rio telah mengategorikan Aishia sebagai seseorang yang perlu dilindungi. Namun, Aishia memusnahkan kenaifannya dalam sekejap, seolah-olah dia sedang membuktikan kekuatannya sendiri kepada Rio.

Aishia memperkecil jarak di antara mereka dengan tekad bulat, melancarkan serangan yang terampil. Dengan kombinasi gerakan tipuan, kepalan tangan dan kakinya mengarah ke Rio dengan kecepatan yang mengerikan. Kekuatan di balik satu pukulan saja akan cukup untuk merusak tubuhnya yang diperkuat jika pukulan itu telak mengenainya.

Namun, Rio masih mampu menghindari setiap serangan dengan mulus.

Ada sesuatu yang familier dari cara dia bergerak… Tunggu, apa dia meniru gerakanku?! pikirnya, melihat bahwa teknik bertempur jarak dekat Aishia selaras dengan gaya miliknya sendiri. Meskipun dia tidak yakin apa alasannya, ada kemungkinan kalau Aishia telah mempelajari teknik yang sama dengannya secara tidak sadar, persis seperti saat dia mempelajari bahasanya.

Selama beberapa saat, Aishia terus melancarkan serangan ke arah Rio, sebelum tiba-tiba mengubah pola serangannya. Dia mundur sejenak dan menciptakan jarak di antara mereka, lalu menggunakan seni roh angin — seperti halnya Rio — untuk mempercepat gerakannya, mengacaukan suasana di sekitar saat dia melesat maju lagi.

Sambil menarik napas dalam-dalam, Rio mengerahkan sejumlah besar ode dari dalam dirinya untuk meningkatkan efek penguatan fisik dan menajamkan inderanya lebih jauh lagi. Saat Aishia mendekatinya, Rio hanya bisa melihat gerakan Aishia dengan susah payah menggunakan inderanya yang telah dipertajam. Tiba-tiba, Aishia mengarahkan telapak tangannya ke arah Rio, tetapi Rio bergerak ke sisi Aishia dan menggeser langkahnya untuk menghindari telapak tangan yang terulur itu secara bersamaan. Dia kemudian berniat membuat Aishia kehilangan keseimbangan dan menggunakan momentum itu untuk melemparnya dengan ringan ke arah tujuannya bergerak. Mata Aishia melebar, tetapi dia dengan anggun melakukan salto di udara untuk mendarat dengan cekatan di tanah, lalu berbalik untuk kembali menyerang sekali lagi.

“T-Tunggu! Sudah cukup, Aishia! Aku sudah mendapat gambaran yang bagus tentang kemampuanmu sekarang!” seru Rio. Aishia langsung mematung di tempat.

“…Aku tidak bisa mendaratkan satu pukulan pun. Kamu menghindari semuanya,” gumamnya pelan.

“Um, yah, gerakan-gerakan itu sudah kutahu sebelumnya… Jadi bisa dibilang aku belajar lebih lama darimu?” balas Rio sambil tersenyum kecut. Dia tidak tahu seberapa banyak pengalaman nyata yang dimiliki Aishia di medan perang; yang dia tahu hanyalah bahwa Aishia tertidur selama beberapa tahun terakhir. Tidak aneh jika kemampuannya tumpul, meskipun dia adalah seorang roh.

“Haruto benar-benar kuat.”

“Ahaha, terima kasih. Kita tidak boleh terlalu terlambat, jadi ayo kita cepat kembali ke dalam rumah.” Dengan begitu, Rio dan Aishia kembali masuk ke dalam.

◇◇◇

Setelah pertandingan tandingnya dengan Aishia, Rio bersiap untuk berangkat ke Amande.

“Baiklah, kami akan pergi sekarang. Kalian akan aman selama berada di dalam rumah ini, tapi kami akan berusaha untuk segera kembali secepatnya. Pastikan kalian tetap di dalam,” kata Rio kepada Aki dan Masato yang ditugaskan menjaga rumah.

Rumah tersebut telah diperkuat dan sulit untuk dibobol secara fisik begitu dikunci dan diamankan, serta dilindungi oleh versi padat dari penghalang di sekitar desa rakyat roh, sehingga sebagian besar penyusup dari luar bahkan tidak akan pernah melangkah masuk ke dalam jangkauan penghalang tersebut. Kecuali jika musuh yang tangguh kebetulan lewat tepat di dekat rumah itu, tempat ini kemungkinan besar aman. Daerah sekitarnya sepi dari orang-orang dan padang rumputnya memiliki sedikit sekali monster, jadi probabilitas lawan yang ganas untuk lewat sangatlah rendah.

“Ya, kami mengerti. Jagalah Miharu, Haruto.”

“Tolong berhati-hatilah dalam perjalanan kalian.”

Masato dan Aki berbicara saat mereka mengantar kepergian mereka.

“Aku sudah menyiapkan makan siang yang bisa dimakan dingin di atas meja makan untuk kalian, pastikan saja kalian memanaskan sup miso-nya. Kalian tahu cara memanaskannya, kan?” tanya Miharu dengan cemas.

“Kami akan baik-baik saja. Kamu sudah mengajari kami berkali-kali.”

“Sudah berapa kali memangnya, Miharu? Pergi sana!” Keduanya menanggapi sikap terlalu protektif Miharu dengan senyuman kecut.

“Ayo pergi, Miharu,” desak Rio.

“Baiklah…” jawab Miharu dengan enggan. “Kami akan segera kembali.”

“Tapi apa kalian benar-benar bisa kembali hari ini? Rasanya kita benar-benar dikelilingi oleh dataran… Apa kotanya sebenarnya sangat dekat atau bagaimana?” tanya Masato dengan penasaran.

“Kalau dipikir-pikir, aku belum memberitahu kalian bagaimana cara kita pergi. Aku akan menunjukkan sesuatu yang menarik. Ayo keluar sebentar, kalian berdua,” kata Rio, meninggalkan ruang keluarga menuju pintu depan. Aishia langsung mengikutinya, dan ketiga orang lainnya pun perlahan-lahan menyusul.

Begitu mereka keluar dari rumah, area dataran berumput yang sangat luas membentang di hadapan mereka di luar.

…Ini benar-benar pemandangan yang luar biasa,” gumam Miharu, merasa takjub oleh pemandangan daratan yang membentang hingga ke cakrawala. Sekarang setelah sehari penuh berlalu, perasaan bahwa dia berada di dunia lain benar-benar menguat saat dia memandangi pemandangan tersebut. Aki dan Masato turut bergumam kagum.

“Kalian akan melihat sesuatu yang jauh lebih luar biasa,” ujar Rio dengan senyuman tipis tersungging di bibirnya.

“Bahkan lebih dari ini?” Miharu menoleh dengan ragu, tak bisa membayangkan bagaimana hal itu mungkin terjadi.

Alih-alih menjawab Miharu, Rio berbicara kepada Aishia yang berdiri dengan tenang. “Aishia. Aku ingin melihat seberapa jauh kamu bisa terbang, jadi bisakah kamu memperlihatkannya padaku?”

“Tentu.” Aishia mengangguk pelan. Kemudian, kedua kakinya mulai melayang dari tanah. Dia terus naik dengan mudah, seolah mengabaikan gaya gravitasi.

“Eh? …Eh? Apa?” Miharu dan yang lainnya terkejut, mendongak menatap Aishia yang naik ke atas dengan kaget. Dia sudah naik tinggi ke langit, bergerak bebas di udara dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Dia bilang dia bisa menggunakan semua jenis seni roh, tapi kurasa itu memang sudah diduga dari roh humanoid. Rio mengamati sosok Aishia dengan kagum.

Sementara itu, Masato sadar kembali. “Wah! Apa itu sihir juga?!” tanya dengan penuh semangat.

“Itu berbeda dari sihir, tapi untuk sekarang kamu bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang mirip. Nanti lain kali akan kujelaskan detailnya,” jawab Rio singkat. Penjelasan yang tepat akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama.

Tepat pada saat itu, Aishia turun dengan lembut ke arah tanah.

“Bagaimana?” dia memiringkan kepalanya dan bertanya kepada Rio dengan suara datar setelah mendarat dengan mulus.

“Sempurna — aku tidak punya keluhan. Maaf mengatakan ini tepat saat kamu mendarat, tapi apakah kita berangkat sekarang? Kamu juga sudah siap, kan, Miharu?” Rio tersenyum dan mengangguk kepada Aishia sebelum beralih menatap Miharu.

Sambil tersentak, dia melangkah maju dengan ragu. “B-Baik. Silakan pimpin jalan.”

“…Mungkin agak terlambat menanyakan ini sekarang, tapi apakah kamu tidak takut ketinggian?” tanya Rio dengan hati-hati.

“Aku tidak apa-apa… Kurasa.” Miharu mengangguk, meskipun dengan sikap yang sedikit gugup. Dia belum pernah terbang di udara seperti itu sebelumnya, jadi yang bisa dia lakukan hanyalah berandai-andai.

“Kurasa kita harus mengetahuinya setelah kita berada di atas sana. Kita akan terbang perlahan pada awalnya.”

“Ya, tolong.”

Rio memanggil Aishia, tetapi ketika dia melihat sekeliling, Aishia tidak terlihat di mana pun. “Aishia… Huh?”

Dia sebenarnya ingin Aishia yang menggendong Miharu, karena dia pikir itu akan lebih baik daripada membiarkan seseorang dari lawan jenis yang melakukannya, tetapi…

“Kalau kamu mencari Aishia, dia sudah pergi,” kata Masato sambil menunjuk ke langit; Aishia sudah berada agak jauh di atas. Dia tampaknya sedang melakukan pemanasan untuk penerbangan, karena dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan turun kembali.

“Haha… Um, apa kamu keberatan kalau aku yang pergi bersamamu?” tanya Rio kepada Miharu dengan gugup disertai tawa hambar.

Miharu mengangguk penuh rasa ingin tahu. “Eh? Tidak, aku tidak apa-apa dengan itu.” Dia belum menyadari apa yang membuat Rio merasa canggung.

“Umm, aku harus menggendongmu…” aku Rio dengan susah payah, dan Miharu akhirnya mengerti.

“A-Ah, begitu ya. Benar juga.” Pipi Miharu berubah menjadi merah padam karena malu.

“Ahaha, mungkin tidak jadi saja. Aku akan memanggil Aishia kembali dan menyuruhnya menggendongmu.” Rio tertawa sedikit canggung dan mengabaikannya, bersiap untuk naik ke atas dan memanggil Aishia turun kembali. Namun, karena tidak ingin bersikap tidak sopan kepada Rio, Miharu berbicara dengan panik.

“T-Tidak! T-Tidak apa-apa, aku tidak keberatan!”

Rio berbalik dengan senyum kaku. “Kamu tidak harus memaksakan diri, tahu?”

“T-Tidak apa-apa, sungguh. Aku sama sekali tidak keberatan, jika itu kamu. Aku mempercayaimu, jadi… kumohon.” Dengan kata-kata yang terburu-buru, Miharu menghentikan Rio dan membungkuk karena malu.

“…Umm… Kalau begitu, permisi.” Setelah berpikir cukup lama, Rio memutuskan bahwa penolakan di sini akan dianggap tidak sopan. Dia perlahan mendekati Miharu untuk menggendongnya. Dengan persetujuannya, Rio mengangguk dan mengangkatnya dengan gaya pengantin (*bridal-style*).

“Umm, a-apa aku berat?” tanya Miharu dengan wajah yang sangat merah.

“Sama sekali tidak — kamu sangat ringan. Seperti bulu, begitu pepatah bilang.” Rio menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar.

Pada kenyataannya, Miharu bertubuh mungil dan ringan. Dia memiliki tubuh feminin yang lembut, yang tanpa sengaja dirasakan oleh Rio melalui pakaiannya, meskipun dia mengenakan mantel luar yang tebal — dipinjam dari Rio — di atas seragamnya. Sejujurnya, Rio cukup berjuang keras di dalam hatinya, namun dia berusaha setengah mati untuk memasang ekspensi tenang agar tidak terganggu oleh tubuhnya.

“Aku akan fokus terbang seaman mungkin, tapi pastikan kamu berpegangan dengan erat.”

“B-Baiklah,” jawab Miharu dengan suara kecil sambil mengangguk, lalu berpegangan pada Rio dengan malu-malu. Dia menyandarkan berat badannya dengan lembut ke tubuh Rio dan mencengkeram pakaiannya. Wajah mereka hampir begitu dekat hingga bisa bersentuhan.

Rio sengaja mengalihkan pandangannya dari Miharu untuk berbicara kepada Aki dan Masato yang berdiri di samping. “Kami berangkat sekarang. Pastikan kalian mengunci pintu dengan benar.”

“Baiklah. Biarkan aku terbang saat kalian kembali!” Masato melambaikan tangannya sambil tertawa santai.

“…Tolong jaga Miharu ya.” Aki menundukkan kepalanya sambil memperhatikan wajah mereka berdua lekat-lekat, karena merasakan atmosfer aneh yang mengalir di antara keduanya.

Rio tersenyum tipis dan mengangguk sebelum melompat meninggalkan tanah dan membubung ke udara. Sosok Aki dan Masato di bawah sana terlihat semakin lama semakin kecil.

“Waaah, luar biasa.” Miharu membelalakkan matanya mengamati sekeliling sambil mempererat cengkeramannya pada Rio.

insert6

Sambil tersenyum tipis melihat ekspresi kebingungan di wajah Miharu, Rio menoleh untuk memanggil Aishia, yang entah sejak kapan sudah menunggu di udara. “Ayo pergi, Aishia.”

“Baiklah.” Aishia memperhatikan Miharu yang digendong oleh Rio dengan seksama, lalu mengangguk.

◇◇◇

Miharu memandangi pemandangan indah yang tak berujung dari angkasa dengan tatapan kosong. “…Wah, kita benar-benar terbang di langit,” gumamnya takjub, beberapa menit setelah penerbangan dimulai.

“Apakah ini lebih indah daripada pemandangan dari daratan?” tanya Rio dengan senyum yang terukir di bibirnya.

“Indah sekali. Aku belum pernah melihat sesuatu seindah ini sebelumnya,” jawab Miharu dengan suara terengah, terpesona oleh pemandangan indah di hadapannya.

“Aku senang mendengarnya. Masih butuh waktu cukup lama sampai kita tiba di kota tujuan, jadi silakan nikmati sepuasnya. Kamu akan melihat banyak pemandangan berbeda di sepanjang jalan.”

“Ya!” Sambil mengangguk gembira, mata Miharu bergeser ke sana kemari menikmati pemandangan.

Melihatnya membuat Rio ikut mengalihkan pandangannya, dan ia pun turut menikmati pemandangan tersebut. Di ujung pandangannya terdapat jajaran pegunungan dan permukaan danau di kejauhan; semuanya berkilau diterpa sinar matahari yang menembus celah-celah awan. Mereka terus melaju dengan santai selama sekitar setengah jam hingga akhirnya tiba di tujuan mereka, Amande.

“Aishia. Kita tidak bisa langsung mendarat di tengah kota, jadi kita akan berhenti di hutan saja.”

“Mengerti,” jawab Aishia, lalu mereka mendarat bersama di dalam hutan.

“Maaf, Miharu. Kita akan berjalan kaki dari sini. Tanahnya cukup sulit untuk dilewati, jadi aku akan menggendonmu sampai kita tiba di jalan raya,” kata Rio.

Area tersebut dipenuhi oleh vegetasi lebat dan semak-semak berlumut, membuat pijakannya sangat buruk untuk berjalan. Meskipun Miharu mengenakan mantel, rok seragam dan sepatu kulit yang dipakainya di dalam akan membuat perjalanan itu terasa sulit.

“B-Baiklah. Terima kasih,” jawab Miharu sambil mengangguk gugup.

“Aku akan berlari sedikit, jadi mungkin akan sedikit lebih terguncang daripada saat kita terbang. Hati-hati jangan sampai tergigit lidahnya. Ayo, Aishia,” kata Rio kepada Miharu dan Aishia, sebelum melompat maju dengan lembut. Meskipun ia sedang menggendong Miharu, ia mampu melompati jarak beberapa meter dalam sekali langkah.

“W-Wah. Luar biasa… Apakah ini juga sejenis sihir?” Sambil mempererat pegangannya pada Rio dalam diam, Miharu membelalakkan matanya menyaksikan kemampuan manusia super yang jelas-jelas ditampilkan di hadapannya. Aishia juga mengikuti di belakang Rio dengan gerakan yang lincah.

“Aku memperkuat tubuh dan kemampuanku menggunakan teknik yang disebut seni roh. Aku juga memberikan dorongan kecil pada diriku sendiri dengan mengendalikan angin untuk membantu pergerakan dan pendaratanku. Beritahu aku jika ini terlalu cepat untukmu,” kata Rio demi mempertimbangkan keadaan Miharu.

Miharu menggelengkan kepalanya dengan tenang. “Aku baik-baik saja. Ini bahkan tidak terlalu terguncang.”

Kelompok itu tiba di jalan yang mengarah ke Amande hanya beberapa menit kemudian. Setelah memastikan tidak ada orang lain di sekitar, Rio dengan lembut menurunkan Miharu ke tanah dan menyerahkan sebuah kalung padanya. “Sebelum kita masuk ke kota, tolong kenakan ini.”

“Baiklah. Benda apa ini…?”

“Sebuah artefak yang mengubah warna rambutmu — orang-orang berambut hitam akan menarik perhatian di sekitar sini. Rambutmu akan kembali normal begitu kamu melepas kalungnya, jadi tidak perlu khawatir tentang hal itu.”

“Aku mengerti,” kata Miharu sambil mengangguk, lalu mengenakan kalung itu sesuai permintaan. Begitu ia memakainya, kalung itu secara otomatis mulai menyerap esensi Miharu dan seketika mengubah warna rambutnya.

“…Wah, warnanya benar-benar berubah.”

“Itu cocok untukmu. …Sebagai informasi, kota yang akan kita tuju bernama Amande. Apa kita bisa berangkat sekarang?” puji Rio kepada Miharu dengan sedikit canggung sebelum mulai berjalan dengan santai. Miharu dan Aishia mengikuti di belakangnya.

Sepuluh menit kemudian, mereka keluar dari hutan dan telah mencapai Amande.

Miharu menatap dengan takjub. “…Ada banyak sekali orang.”

Mereka memasuki kota dan mendapati kerumunan yang sangat ramai, karena pasar pagi masih buka. Kios-kios berjejer di mana-mana, dipenuhi dengan suasana yang riuh dan penuh kehebohan.

“Ini adalah kota perdagangan, jadi suasananya sangat sibuk. Sebagian besar wilayah kerajaan adalah tanah kosong, jadi orang-orang cenderung berbondong-bondong mendatangi kota seperti ini,” jelas Rio.

“Begitu ya… Aku harus berhati-hati agar tidak tersesat,” kata Miharu dengan perasaan kagum bercampur cemas saat dia mengamati orang-orang yang lalu-lalang di tengah kerumunan.

“Jangan khawatir. Miharu sebaiknya melakukan ini,” kata Aishia, lalu tiba-tiba menggenggam tangan kiri Rio.

“Umm…” Rio memasang ekspresi bingung sementara wajah Miharu merona karena malu.

“Sekarang kita tidak akan tersesat,” ujar Aishia polos. Ucapan itu memang benar, tetapi baik Rio maupun Miharu terlalu diliputi rasa malu untuk saling menggenggam tangan.

“Kamu tidak akan memegangnya?” Aishia memiringkan kepalanya bingung. Ekspresinya membuat mereka meragukan diri sendiri, bertanya-tanya apakah mereka adalah orang aneh karena terlalu salah tingkah.

“Ahaha. Kalau begitu… permisi.” Dengan senyuman geli, Miharu perlahan meraih tangan Rio.

“Ayo pergi.” Aishia menyenggol Rio — membuat Rio terkekeh sambil tersenyum — lalu mereka bertiga akhirnya mulai berjalan.

Namun, baik Miharu maupun Aishia adalah gadis-gadis berparas sangat cantik yang langsung menarik perhatian para pria di sekitar. Mereka melemparkan tatapan penuh kebencian dan iri kepada Rio, karena dia menggenggam tangan kedua gadis itu.

“…Haha… Baiklah, kalian berdua — kenakan kerudung kalian. Sepertinya kita terlalu mencolok,” saran Rio dengan otot wajah yang berkedut, tidak sanggup menahan tatapan-tatapan itu.

◇◇◇

Di kawasan bisnis pusat Amande…

“Rupanya, toko ini menyediakan semua kebutuhan sehari-hari wanita,” penjelasan Rio kepada Miharu dan Aishia saat dia berdiri di depan sebuah bangunan yang menjulang tinggi. Dia telah bertanya kepada seorang pemilik kios wanita apakah ada toko yang menjual semua kebutuhan yang diperlukan seorang wanita; tidak masalah jika harganya lebih mahal asalkan kualitasnya lumayan. Semua pemilik kios wanita menunjuk ke toko ini.

“Sungguh bangunan yang luar biasa…” kata Miharu sambil mendongak menatap bangunan berlantai empat itu.

“Namanya Guild Ricca, dan ini adalah cabang langsung dari guild perdagangan yang terkenal bahkan di kerajaan-kerajaan tetangga. Gubernur kota ini, Liselotte, juga merupakan presiden Guild Ricca.”

Ada beberapa toko yang dimiliki oleh Guild Ricca di Amande; kota ini bahkan bisa dianggap sebagai basis bagi guild tersebut.

Toko ini seharusnya menyediakan berbagai macam barang berguna.

Rio teringat terakhir kali dia mengunjungi Amande beberapa tahun lalu. Lebih tepatnya, rumor yang dia dengar ketika mampir ke kota itu dalam perjalanannya dari Strahl ke Yagumo.

Ya — Rio secara sepihak mengetahui tentang gadis bernama Liselotte. Wanita muda berbakat itu adalah putri Adipati Cretia, penguasa besar Kerajaan Galarc. Dia juga orang pertama yang membawa makanan olahan “pasta” ke dunia ini. Jelas bahwa Liselotte, atau mungkin seseorang yang bekerja dengannya di baliknya, menggunakan pengetahuan dari Bumi.

Skala Guild Ricca telah berkembang pesat dalam beberapa tahun Rio pergi dari wilayah Strahl. Guild itu bahkan telah menjadi guild perdagangan terkemuka di beberapa kerajaan tetangga juga; mereka pasti telah mengembangkan banyak produk baru dalam beberapa tahun terakhir.

Tidak mungkin bagi Rio untuk membuat barang-barang kehidupan sehari-hari yang digunakan oleh wanita Jepang modern, jadi ini adalah solusi yang sempurna bagi Miharu untuk berbelanja.

Tepat sebelum mereka memasuki gedung, Rio berbicara. “Baiklah, aku serahkan sisanya kepada kalian berdua. Aku akan kembali ke toko ini sekitar satu jam lagi. Serahkan saja urusan penerjemahan kepada Aishia.”

Karena ini adalah cabang yang khusus menjual produk-produk yang ditujukan untuk wanita, sulit bagi Rio untuk masuk sebagai seorang pria. Dia mungkin perlu membeli pakaian dalam dan hal-hal semacam itu, jadi dia pikir paling mudah untuk menyerahkan tugas mendampingi kepada Aishia.

“B-Baiklah…” Miharu mengangguk ragu-ragu.

“Aishia, tolong jaga Miharu… Dan pastikan kalian tidak meninggalkan toko ini.”

“Ya, serahkan padaku.” Aishia mengangguk dengan tulus.

…Yah, aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Lagi pula, mereka tidak akan bisa berbelanja dengan santai jika ada aku di sekitar.

Rio memutuskan untuk mempercayai mereka berdua. Meskipun dia masih memiliki beberapa kekhawatiran, dia tahu dia tidak boleh terlalu overprotektif. Keamanan toko tampak cukup dapat diandalkan sehingga kemungkinan adanya pelanggan aneh akan kecil.

“Kalau begitu, sampai jumpa nanti.”

Setelah berkata begitu, Rio melepaskan tangan Miharu dan Aishia.

◇◇◇

Setelah berpisah dengan gadis-gadis itu, Rio mulai mengumpulkan informasi di sekitar area bangunan tempat Miharu berbelanja.

Informasi menyebar dengan lambat di dunia ini, karena metode komunikasinya belum begitu maju. Oleh karena itu, orang-orang yang paling tahu informasi adalah para bangsawan, pedagang, dan anggota guild. Mereka menyerap berbagai macam informasi karena kontak mereka dengan banyak orang, serta kemampuan mereka untuk berkolusi dengan orang lain yang sejenis guna membentuk jaringan intelijen mereka sendiri. Itulah sebabnya orang-orang biasa seperti Rio tidak bisa mendapatkan banyak informasi hanya dengan bersikap pasif. Untuk menemukan informasi yang diinginkannya, dia harus sering berhubungan dengan banyak orang setiap hari atau secara proaktif mendekati mereka yang memiliki pengetahuan.

Saat ini, Rio secara efektif mengumpulkan informasi dengan berkeliling ke lapak-lapak dan berbicara dengan para pedagang. Dia bukan bagian dari guild dan tidak memiliki kenalan bangsawan, jadi satu-satunya cara dia bisa mengumpulkan informasi adalah melalui para pedagang yang ada di hadapannya. Dengan membeli produk mereka dan mengajak ngobrol dengan berkedok percakapan santai, para pedagang menjadi lebih terbuka untuk berbicara. Meskipun kecil kemungkinan dia mendapatkan informasi yang sangat rahasia atau sangat dapat diandalkan, usahanya kemungkinan besar tetap akan membuahkan hasil.

Rio mengunjungi sebuah kedai yang menjual sate bakar dan memesan cukup banyak sebelum berbicara kepada pemilik kedai wanita itu. “Apakah ada hal penting yang terjadi baru-baru ini? Aku benar-benar terkejut ketika pilar-pilar cahaya itu muncul beberapa hari yang lalu.”

“Ya ampun, apa kamu belum dengar? Orang-orang bilang itu adalah tanda kemunculan sang pahlawan,” jawab pemilik kedai itu sambil memanggang daging.

“P… pahlawan?” Kata pahlawan membuat Rio terkejut, hingga membuat matanya membelalak.

“Setidaknya kamu tahu tentang ramalan suci, kan? Ramalan tentang pahlawan agung yang muncul berdampingan dengan enam pilar cahaya. Karena peristiwa persis dari ramalan itu telah terjadi, rumornya adalah sang pahlawan juga telah muncul.”

“Ah, benar, ada hal seperti itu. Begitu ya…” Rio mengangguk paham.

Penduduk wilayah Strahl percaya pada dewa-dewa yang dikenal sebagai Enam Dewa Bijak. Meskipun Rio sendiri bukan seorang yang religius, dia pernah mengikuti pelajaran selama waktunya di Akademi Kerajaan, sehingga dia masih bisa mengingat secara samar-samar detail dari teks-teks suci tersebut.

Ini mungkin berkaitan dengan bagaimana Miharu dan yang lainnya muncul di dunia ini… Atau mungkin mereka terseret ke dalam pertikaian? Jika benar begitu, apakah itu berarti dua orang bersama mereka… adalah para pahlawan? pikir Rio, langsung menguraikan informasi tersebut dan membuat hipotesisnya sendiri.

“Apakah ada hal lain yang mencolok akhir-akhir ini di sekitar sini? Aku sedang berpikir untuk pergi ke Kerajaan Beltrum dalam waktu dekat…”

“Hmm… Mereka baru saja terlibat dalam pertempuran kecil berskala sedikit lebih besar dengan Kekaisaran Proxia di utara belakangan ini, tapi itu sih hal yang biasa terjadi.” Pemilik kedai wanita itu bergumam saat menjawab, lalu teringat sesuatu. “Oh, benar juga. Jika kamu menuju ke Kerajaan Beltrum, maka kamu harus melewati jalan barat, kan?”

“Ya, benar.” Dalam kasus Rio, dia akan terbang melintasinya menggunakan seni roh, tapi dia tetap mengangguk.

“Beberapa petualang telah dilaporkan hilang baru-baru ini setelah berangkat menjalankan misi di sepanjang jalan barat. Bukan hal yang aneh bagi orang-orang dengan pekerjaan seperti mereka untuk melarikan diri, tetapi bahkan petualang terampil pun ikut menghilang, jadi hal itu menjadi topik yang cukup hangat. Kamu terlihat muda, tapi pakaianmu menandakan kalau kamu juga seorang petualang. Hati-hatilah di sana.”

“…Begitu ya, terima kasih banyak.” Rio mengucapkan terima kasih kepadanya dan menyimpan percakapan mereka baik-baik di dalam kepalanya.

Setelah itu, pemilik kedai terus mengajak Rio mengobrol bahkan tanpa dipancing; dia adalah orang yang cukup banyak bicara, sesuatu disyukuri oleh Rio karena tujuannya adalah untuk mengumpulkan informasi. Namun, sebagian besar obrolannya tidak berkaitan dengan topik yang dia minati, jadi Rio memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan mereka dan pergi ketika wanita itu mulai berniat untuk mengenalkan putrinya kepada Rio.

Rio mendatangi beberapa kedai lagi setelah itu, tetapi tidak dapat mengumpulkan informasi baru sebelum dia kembali ke tempat Miharu dan Aishia.

◇◇◇

Rio saat ini berdiri di depan toko Guild Ricca.

Hmm… Katanya aku akan kembali setelah satu jam, tapi apa tidak apa-apa kalau aku langsung masuk begitu saja? Itu adalah toko yang khusus menjual berbagai macam barang kebutuhan sehari-hari wanita; sebagai seorang pria, tempat itu rasanya hampir seperti tanah suci terlarang, membuatnya merasa takut untuk masuk.

Pada saat itu, Aishia keluar dari toko sendirian. Miharu sama sekali tidak terlihat.

“Eh… Aishia? Di mana Miharu?”

“Haruto sudah kembali, jadi aku keluar untuk mencarimu. Miharu masih berbelanja,” jawab Aishia singkat.

“Oh, begitu. Tapi… bagaimana kamu tahu aku sudah kembali?”

“Kita terhubung oleh sebuah jalur, jadi aku tahu saat kamu berada di dekat sini.”

“Begitu ya… Kalau dipikir-pikir, Sara dan para <i>spirit folk</i> lainnya sempat menyebutkan hal seperti itu.”

Rio mencoba mengingat apa yang mereka katakan tentang roh kontrak saat dia berada di desa — sesuatu tentang bagaimana pemilik kontrak dan roh kontrak terhubung secara mendalam dan spiritual melalui sebuah jalur. Aishia baru saja bangkit, tetapi Rio bertanya-tanya dengan rasa penasaran apakah kepekaan mereka terhadap hubungan tersebut akan semakin meningkat seiring berjalannya waktu.

“Miharu akan khawatir, jadi ayo kita kembali dengan cepat.” Aishia meraih tangan Rio dan mencoba kembali masuk ke dalam toko.

“Benar juga. Umm, apa… tidak apa-apa kalau aku ikut masuk?”

Yah, seharusnya tidak apa-apa dengan adanya Aishia di sana, pikir Rio, membiarkan dirinya ditarik. Jika ada masalah, dia toh bisa pergi lagi.

Tanpa diduga, dia bisa melihat beberapa pria lain yang mendampingi wanita di dalam toko. Masing-masing dari mereka tampak agak tidak nyaman berada di sana — Rio sangat bisa merasakannya.

Saat Rio dan Aishia memasuki toko, tatapan para pria yang tadinya berdiri sebagai pendamping secara alami tertuju pada kecantikan Aishia. Namun, para wanita yang mereka dampingi dengan jeli menyadari perubahan pada diri para pria itu dan memberi mereka beberapa tanda peringatan, seperti berdehem dan sejenisnya. Para pria itu dengan canggung berpura-pura seolah-olah mereka tidak sedang menatap, meskipun mereka masih melirik secara diam-diam. Mungkin hal serupa juga terjadi saat Rio sedang mengumpulkan informasi tadi.

“Miharu ada di lantai empat.”

Aishia mengabaikan tatapan dari semua pria dan membimbing Rio. Tangan mereka yang saling bertautan pasti terlihat mencolok, karena perhatian para pria maupun wanita di dalam toko tertuju pada mereka. Para pria melayangkan tatapan iri kepada Rio, sementara para wanita tampak menatap wajahnya dengan penuh kagum.

“Ya ampun, ternyata dia bersama seseorang.”

“Hmm…”

“Yah, setidaknya pria itu cocok dengannya.”

Suara para wanita itu terdengar di seluruh penjuru toko.

Canggung sekali… Rio merasakan ketidaknyamanan yang luar biasa.

Tatapan-tatapan itu tidak pernah benar-benar lepas dari mereka, jadi dia fokus menatap punggung Aishia dalam diam sambil melangkahkan kakinya. Mereka menaiki tangga hingga tiba di lantai empat.

“Kita sudah sampai.”

Mendengar suara Aishia, Rio akhirnya mengedarkan pandangannya kembali ke sekelilingnya. Dia dihadapkan pada pemandangan:

“…Eh? Ah…”

Sebuah toko pakaian dalam.

Tidak ada pria yang mendampingi kali ini, seperti yang sudah diduga, dan para wanita yang ada di sana semuanya sedang memilih pakaian dalam yang cocok untuk mereka sesuka hati. Miharu ada di antara mereka. Dia berdiri tepat di hadapan Rio dan menatap pakaian dalam dengan ekspresi serius. Di tangannya terdapat bra yang manis dan modis dengan sedikit hiasan renda di atasnya.

“Miharu,” panggil Aishia.

“Oh, Ai-chan. Dari mana saja? Ah, Haruto juga sudah kembali… sekarang…” Miharu mengalihkan pandangannya dari pakaian dalam ke arah suara Aishia. Rio juga berada di sana, menggenggam tangan Aishia. Dia melakukan kontak mata dengan Miharu.

Miharu mencoba menyapa Rio dengan senyuman ketika dia menyadari ada sesuatu yang sangat salah dengan situasi tersebut. Dia membeku di tempat.

Pakaian dalam di tangan Miharu masuk ke dalam penglihatan Rio, menyebabkannya meminta maaf sambil membuang muka. “M-Maaf.”

“Eh, ah…?!” Miharu akhirnya mengerti situasinya dan menyembunyikan pakaian dalam di tangannya dengan panik. Pipi-nya berubah menjadi merah padam.

“Umm, aku minta maaf. Sungguh,” kata Rio, meminta maaf sekali lagi. Dia langsung mencoba melepaskan tangan Aishia dan membalikkan badannya, tetapi cengkeraman tangan Aishia sangat kuat secara mengejutkan, jadi dia tidak bisa bergerak. Yang bisa dia lakukan hanyalah menundukkan kepalanya dan menatap lantai sebagai gantinya.

“Ah, umm, a-aku juga!” Miharu menundukkan kepalanya ke arah Rio sebagai balasan.

Saat mereka saling bertukar salam dengan membungkuk, seorang pelayan wanita di toko itu tampaknya merasa curiga, lalu dia menegur mereka. “Apakah ada masalah?”

“Kami bertiga datang ke sini untuk berbelanja,” ringkas Aishia dengan suara datar, lalu menatap wajah Rio dan menggenggam tangannya. Itu sudah cukup untuk meyakinkan sang pelayan toko.

“Oh, begitu ya. Kalau begitu tidak apa-apa; pria yang mendampingi tidak dilarang masuk atau semacamnya. Ada banyak pelanggan yang ingin membawa mereka serta dan meminta pendapat mereka juga,” katanya, menggelengkan kepala dengan senyuman penuh pengertian.

Pada suatu titik, mereka telah menarik perhatian para wanita lain di toko pakaian dalam tersebut. Mereka telah mengetahui situasinya dan terkikik geli sendirian.

“A-Aku akan kembali satu jam lagi. A-Aishia, lepaskan tanganku…” kata Rio, dengan cepat mundur dari toko pakaian dalam itu setelah dia membuat Aishia melepaskan genggaman tangan mereka.

Kurasa aku akan menulis surat untuk Profesor Celia… Aku harus memberitahunya bahwa aku akan terlambat. Namun, aku pasti akan menemuinya…

Begitu dia melangkah keluar dari toko, dia berjalan menuju cabang Guild Ricca yang menangani pengiriman.

◇◇◇

Kira-kira satu jam kemudian, Rio sekali lagi kembali ke gedung tempat Miharu berbelanja. Mereka sepertinya baru saja selesai berbelanja, atau Aishia telah merasakan kedatangannya, karena mereka berdua keluar untuk menemuinya.

Ketika mata Miharu bertatapan dengan Rio, dia tersipu karena malu. Rio meringis tidak nyaman.

“Aku minta maaf atas kurangnya pertimbanganku tadi,” pinta Rio.

“T-Tidak, akulah yang seharusnya lebih berhati-hati. Lagi pula, kau diajak oleh Ai-chan. Ahaha… Aku akan sangat berterima kasih jika kau bisa melupakan semuanya.” Miharu tertawa malu-malu dan menggelengkan kepalanya; itu adalah usaha yang patut dipuji darinya untuk melupakan kejadian tersebut.

“Y-Ya. Selain itu, sepertinya kalian tidak membawa tas apa pun. Apakah kalian sudah selesai berbelanja?”

“Ah, pihak toko bilang mereka akan menyimpan tas-tas itu. Kita bisa mengambilnya di perjalanan pulang nanti.”

“Begitu ya… Layanan yang berguna. Kalau begitu, ayo kita berbelanja pakaian Masato.”

Miharu mengangguk atas usulan Rio. “Ya, silakan.” Mereka entah bagaimana berhasil mencairkan suasana canggung di antara mereka berdua.

Tiba-tiba, Aishia menggapai tangan kiri Rio dan menggenggamnya. Rio tersenyum melihat betapa wajarnya gerakan itu bagi mereka sekarang.

“Umm, bo… bolehkah aku memegang tangan kananmu?” tanya Miharu kepada Rio dengan malu-malu.

“…Tentu. Kita tidak mau sampai terpisah,” balas Rio menyetujui dengan sedikit tersipu.

Dengan begitu, bertiga mereka menuju ke toko berikutnya sambil berpegangan tangan. Mereka menemukan sebuah toko pakaian pria yang layak dalam hitungan menit dan masuk ke dalam untuk memilih pakaian untuk Masato. Miharu memeriksa semua pakaian dengan cermat untuk memilihkan sesuatu yang bagus untuk Masato, ketika dia tiba-tiba menemukan pakaian yang tampak bagus untuk Haruto.

“Yang ini sepertinya cocok untukmu, Haruto.”

“B-Benarkah?”

“Ya. Bisakah kamu mencoba mecucukannya ke tubuhmu? …Ah, lihat, itu benar-benar cocok untukmu.”

Dia menyerahkan pakaian itu untuk dipegang oleh Rio, lalu mundur untuk melihatnya dari kejauhan dengan senyum sumringah. Rio tersenyum sebagai balasan, tampak agak malu-malu.

“Terima kasih banyak. Aku kekurangan pakaian sehari-hari, jadi kurasa aku akan mengambil ini.”

Karena Rio biasanya mengenakan pakaian tempur atau setengah tempur yang juga dapat berfungsi sebagai pakaian kasual, dia tidak memiliki banyak pakaian yang khusus untuk dipakai sehari-hari. Ini adalah kesempatan sempurna untuk memperbaikinya.

“Umm, kalau begitu apakah lebih baik membeli beberapa potong lagi?”

“Tentu. Karena kau sudah di sini, bolehkah aku meminta bantuanmu untuk memilihnya? Aku kurang begitu pintar dalam memilih pakaian…” pinta Rio dengan senyum kecut.

“Jika kau tidak keberatan, kalau begitu…” Miharu mengangguk ragu-ragu, lalu mulai memilih pakaian tidak hanya untuk Masato, tetapi juga Rio. Dia memiliki selera busana yang bagus, dan memastikan untuk memadupadankan pakaian Rio agar serasi satu sama lain.

Waktu berlalu begitu cepat. “Terima kasih banyak, Miharu. Kita sudah berbelanja dengan baik, berkatmu,” kata Rio setelah dia selesai membeli barang-barang mereka.

“Tidak, akulah yang seharusnya berterima kasih. Aku sangat bersenang-senang hari ini.”

“Aku senang mendengarnya. Begitu pelajaran bahasa kalian sudah sedikit maju, kita harus datang ke sini lagi bersama Aki dan Masato sebagai penyegar… Karena rencananya kita akan tinggal di tempat kita sekarang selama sebulan lagi, setidaknya.”

Setelah mereka mempelajari bahasa tersebut cukup banyak, dia mungkin akan membawa mereka ke desa kaum roh. Meskipun demikian, hal itu mungkin akan memerlukan diskusi lebih lanjut terlebih dahulu.

“Ya, kumohon!” kata Miharu, tersenyum bahagia.

◇◇◇

Rio dan gadis-gadis itu dapat kembali ke rumah batu di ladang sebelum matahari terbenam. Mereka makan malam dan kemudian duduk bersantai menikmati teh bersama, ketika Rio tiba-tiba berbicara.

“Sebenarnya, aku mungkin mendapatkan beberapa informasi yang masuk akal hari ini tentang dua orang yang bersamamu tepat sebelum kalian dibawa ke dunia ini. Itu juga bukan berita buruk.”

“B-Benarkah?!” gagap Aki, langsung tertarik pada perkataan Rio.

“Kurang lebih begitu. Informasi itu tidak akan terlalu bisa dipercaya dalam keadaan normal, dan sayangnya itu tidak membantu kita mengetahui keberadaan mereka.” Rio mengangkat bahunya dan mengangguk.

“Jadi, apa yang kau ketahui tentang mereka berdua?” desak Aki tidak sabar.

Rio tersenyum tipis. “Mereka berdua… mungkin telah menjadi pahlawan, kurasa,” jelasnya dengan terus terang. Aki mau tak mau meragukan apa yang baru saja didengarnya.

“…Hah?” tanyanya.

Bukan hanya Aki yang meragukan apa yang didengarnya, tetapi Miharu dan Masato juga memasang ekspresi terkejut. Reaksi mereka bisa dimengerti; lagipula, pahlawan bukanlah jalur karier yang umum bagi orang Jepang masa kini.

“Yah, kurasa itu adalah reaksi yang wajar.” Rio mengamati reaksi ketiga anak bumi itu dengan senyum masamnya yang biasa. Sementara itu, Aishia menguap kecil dan mengantuk dari tempat duduknya di samping Rio.

“Hei, Haruto. Maksudmu pahlawan itu seperti karakter utama dalam permainan video?” tanya Masato ragu-ragu.

“Kemungkinan besar memang seperti itu.”

“Hah… Serius? Kakak laki-laki menjadi pahlawan, katamu… Kurasa aku bisa sedikit memahaminya, tapi itu sama sekali tidak cocok untuknya!” kata Masato dengan ringisan geli.

“Dunia ini juga memiliki keyakinan agama, dan kitab suci berbicara tentang sebuah ramalan di mana para pahlawan dipanggil. Fenomena dalam ramalan itu menjadi kenyataan hampir bersamaan dengan saat kalian bertiga ditarik ke dunia ini. Itulah sebabnya ada rumor yang beredar bahwa para pahlawan telah muncul di wilayah Strahl.”

“Dan pahlawan-pahlawan itu adalah Satsuki dan Takahisa?” tanya Miharu.

“Ya. Ramalan tersebut menyatakan ada enam pahlawan, jadi aku yakin mereka pastinya adalah dua di antaranya. Peristiwa yang terjadi berskala cukup besar sehingga memang seperti itu kenyataannya.”

Meskipun Rio terlalu teralihkan oleh suara feminin di dalam kepalanya untuk melihat mereka secara langsung, enam pilar cahaya yang muncul pada saat itu telah memancarkan ode dan mana dalam jumlah yang sangat besar — cukup untuk membuatnya percaya bahwa para pahlawan memang dapat dipanggil dari dunia lain.

“Kalau begitu… apakah kita bisa menemui mereka berdua jika kita mencari tahu di mana semua pahlawan itu berada?!” tanya Aki penuh harap.

“Jika hipotesis ku benar, maka ya. Ramalan itu mengatakan para pahlawan akan muncul di dekat Batu Suci, tetapi siapa yang tahu di mana letak Batu Suci tersebut,” jawab Rio dengan ekspresi bermasalah. Ada banyak informasi yang tersedia dengan mudah mengenai lokasi Batu Suci, tetapi sudah biasa untuk menganggap bahwa semuanya menyesatkan atau palsu.

“Mana bisa begitu…” Wajah Aki menjadi suram karena kecewa.

“Tidak apa-apa. Mereka pasti berada di suatu tempat di Strahl, jadi selama kita terus menunggu, lebih banyak rumor tentang para pahlawan pada akhirnya akan beredar. Yang terbaik adalah kita menunggu dengan sabar. Tentu saja, aku akan melakukan apa pun yang kubisa untuk mencari tahu lebih banyak tentang Batu Suci dan para pahlawan, tetapi aku ingin kalian bertiga fokus mempelajari bahasa ini untuk sekarang. Apakah kalian tidak keberatan, Miharu?” Rio menatapnya untuk meminta tanggapan.

“Ya. Kami akan membebankan semuanya kepadamu, Haruto, tapi tolong jaga kami,” kata Miharu menyetujui sambil meminta maaf.

“Kalau begitu, itu sudah diputuskan — kalian akan mulai belajar bahasa ini besok. Terkadang mungkin akan terasa sedikit berat, tetapi semakin keras kalian berusaha, semakin cepat kalian belajar. Kalian pada akhirnya akan bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk hal-hal lain. Mari kita lakukan yang terbaik!” kata Rio kepada yang lain untuk memotivasi mereka.

“Ya, mohon bimbingannya!” kata Aki dengan penuh semangat, terdorong oleh kata-katanya.

“Belajar, ya… Meskipun kita sudah datang ke dunia lain, hal-hal yang harus kita lakukan tidak berubah…” Masato menghela napas dan menggerutu pada dirinya sendiri.

“Masato, aku memperingatkanmu sekarang. Jika kamu tidak melakukannya dengan benar, aku akan marah.”

“Aku tahu!” Masato mengangguk dengan pahit menanggapi peringatan Aki. Setidaknya dia sadar bahwa ini adalah tugas yang penting.

Miharu mengamati mereka berdua dengan senyuman manis.

◇◇◇

Setelah itu, Rio bekerja sama dengan Miharu dan Aishia untuk membereskan semuanya. Mereka akan mulai belajar bahasa pada pagi hari, jadi Aki and Masato disuruh tidur lebih awal.

“Kerja bagus, Miharu… Dan kamu juga, Aishia. Kita juga harus segera tidur,” kata Rio kepada kedua gadis itu di meja makan.

Miharu membungkuk. “Baiklah. Terima kasih untuk semuanya hari ini, Haruto. Kamu juga, Ai-chan,” katanya sambil menatap Aishia.

“Kerja bagus, Miharu,” jawab Aishia dengan nada mengantuk.

“Ahaha. Kamu terlihat mengantuk, Aishia — ayo kita langsung tidur. Selamat malam!”

Rio berpikir jika dia berlama-lama lagi, dia hanya akan membuat Miharu and Aishia tetap terjaga bersamanya, jadi dia mulai berjalan menuju kamarnya.

“Selamat malam,” kata Aishia, sebelum mengikuti Rio dari belakang. Miharu mengucapkan selamat malam kepada mereka, lalu berjalan menuju kamarnya sendiri.

“Tunggu, eh? B-Bukannya kamarmu di sebelah kamarku, Ai-chan? Di arah sana kan cuma ada kamar Haruto. Kamu tidak mau tidur?” Miharu merasa ada yang aneh dengan arah tujuan Aishia dan memanggilnya untuk menghentikannya.

“Aishia?” kata Rio dengan mata terbelalak, bertanya-tanya ada apa.

“Aku mau tidur.” Aishia memiringkan kepalanya dengan tatapan kosong.

“Um… Di mana?” tanya Rio dengan gugup.

“Di kamar Haruto.”

“H-Hah?!” seru Miharu terkejut mendengar jawaban Aishia.

“Um… Padahal kamu punya kamar sendiri. Kamu seharusnya tidur di sana,” kata Rio dengan hati-hati kepada Aishia sambil memegang kepalanya dengan tangan kanannya.

“Aku tidur dengan Haruto,” ucap Aishia dengan polos dan tanpa beban.

“T-Tidak, kamu tidak boleh melakukannya,” tolak Rio dengan panik, tetapi Aishia justru tampak penasaran mengapa hal itu tidak boleh dilakukan.

“Kenapa tidak boleh?”

“Yah, itu karena…”

Tampaknya dia tidak begitu paham dengan batasan pribadi antara seorang pria dan wanita. Rio kehabisan kata-kata saat dia menatap Miharu untuk meminta bantuan.

“Ah, umm. Begini, Ai-chan… Agak bermasalah — atau lebih tepatnya, tidak pantas — bagi seorang pria dan wanita untuk tidur bersama di kamar yang sama jika mereka tidak dalam hubungan yang intim,” jelas Miharu dengan hati-hati, mencoba menyelamatkan Rio dari dilemanya.

“Kenapa?”

“U-Umm…” Pertanyaan polos Aishia membuat Miharu kini yang kehabisan kata-kata. Ternyata sangat sulit untuk menjelaskan aturan dan norma moral yang berlaku di masyarakat manusia menggunakan kata-kata. Hanya dengan mengatakan bahwa hal itu tidak diizinkan saja tidak cukup bagi roh seperti Aishia untuk memahaminya.

Aishia menatap Miharu dengan mata yang polos. “Bukankah aku dan Haruto memiliki hubungan yang intim?”

“Ah, erm, bukan itu maksudku.”

Intim? Apa maksudnya intim? Kenapa kata-kata yang tepat begitu sulit untuk dipilih? Meskipun sudah berusaha sebaik mungkin, Miharu benar-benar kebingungan.

“Jika kita tidak bisa tidur berdua saja, kalau begitu apa kamu ingin ikut bergabung juga?” usul Aishia.

“I-Itu bahkan lebih tidak mungkin lagi!” Miharu memerah dan menggelengkan kepalanya.

“Kenapa?”

“Hah? Ah, karena… A-Aku sudah punya seseorang yang aku cintai. Ah — tidak, tunggu, b-bukan berarti aku benci Haruto sama sekali, kok!” Miharu berbicara dengan terbata-bata dan menjawab semuanya dengan kejujuran yang konyol.

“…Ya, aku tahu. Haha.”

Mendengar bahwa Miharu memiliki seseorang yang dicintainya sempat menjadi kejutan kecil bagi Rio, tapi dia entah bagaimana berhasil mempertahankan senyuman di wajahnya. Dia sudah sedikit mencurigai hal semacam itu sebelumnya.

“Aku tidak mengerti,” gumam Aishia pelan pada dirinya sendiri. Rio menghela napas dan tersenyum masam. “…Kenapa kamu ingin tidur bersama denganku, Aishia?”

“Aku bisa memulihkan ode dengan lebih efisien di sisi Haruto. Rasanya juga lebih nyaman,” jawab Aishia. Mengesampingkan bagian kedua, itu adalah alasan yang sangat logis.

“Oh, memulihkan esensi. Itu benar… Tapi kalau kamu adalah roh, kamu seharusnya bisa mengambil wujud astral juga, kan? Bukankah kamu bisa menekan penipisan esensimu lebih banyak dalam wujud itu…?”

Karena Aishia memiliki bentuk humanoid, rasanya begitu wajar baginya untuk mewujud secara fisik sehingga Rio lupa bahwa para roh biasanya lebih suka berada dalam wujud astral mereka. Mewujudkan dan mempertahankan bentuk fisik menghabiskan sejumlah esensi sihir tertentu, jadi itu adalah penggunaan energi yang sangat tidak efisien.

“Wujud… astral?” tanya Miharu, tidak mampu mengikuti percakapan tersebut.

“Dia memiliki tubuh fisik saat ini, tetapi pada intinya, roh sebenarnya adalah perwujudan dari mana. Jadi, seperti namanya, mereka memiliki bentuk spiritual. Biasanya, mereka tak terlihat oleh manusia — bentuk itu disebut wujud astral.”

“…B-Begitu ya. Kalau begitu, Ai-chan bisa mengambil wujud astral itu juga?” Miharu tampak sedikit ragu saat menatap Aishia.

“Aku bisa.” Aishia mengangguk. Tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi partikel cahaya lembut dan membubar dalam sekejap mata.

“D-Dia menghilang? Ai-chan?” Mata Miharu melebar karena terkejut saat dia dengan ragu-ragu memanggil nama Aishia.

“Aku di sini,” jawab Aishia; partikel-partikel cahaya itu berkumpul kembali untuk mengambil wujudnya sekali lagi.

Miharu mengeluarkan suara kagum dan beralih ke Rio untuk meminta konfirmasi. “Wah… I-Itu tadi wujud astral?”

“Ya. Kamu tidak akan bisa melihatnya atau berinteraksi secara fisik dengannya, tapi dia tetap ada di sana dalam wujud astral. Roh menghabiskan esensi hanya dengan eksis, jadi mereka menggunakan jauh lebih sedikit energi saat berada dalam wujud astral.”

Miharu menatap Aishia. “Aku mengerti… Ah, kalau begitu jika kamu tetap berada dalam wujud astral secara teratur, kamu tidak perlu tidur bersama dengan Haruto lagi… begitu ya?”

“Pemulihan esensi bukanlah masalah besar. Aku akan mengisi ulang esensi dengan lebih efisien semakin dekat aku dengan Haruto, tapi jika aku tidak menggunakan seni roh apa pun, maka tidak begitu sulit bagiku untuk tetap berada dalam wujud fisik bahkan tanpa Haruto di dekatku,” jelas Aishia secara logis sambil menggelengkan kepalanya.

“Umm, kalau begitu, apakah kamu tetap harus tidur bersama dengan Haruto…?”

“Ya. Aku ingin bersama Haruto.”

“A-Ahaha. Begitu ya… Ah, kalau begitu, bagaimana kalau… kamu tidur dengan Haruto dalam wujud astralmu? Bagaimana kalau begitu saja?” usul Miharu, menatap Rio dengan senyum kaku.

“Umm… Kurasa, ya. Itu seharusnya, yah… baik-baik saja, kurasa?” Rio mengangguk dengan ragu, meskipun dia tidak begitu yakin apakah melakukan hal itu benar-benar menyelesaikan masalah moral tentang seorang pria dan wanita yang tidur bersama di kamar yang sama. Setidaknya tidak akan terjadi kecelakaan fisik saat dia tak kasat mata dalam wujud astral.

Aishia tampak cukup keras kepala mengenai masalah itu, membuat hampir tidak mungkin untuk meyakinkannya sebaliknya. Itu paling-paling hanyalah solusi darurat, tetapi itu adalah garis aman yang bisa ditarik sebagai kompromi.

“Kamu tidak keberatan dengan itu, Ai-chan?” tanya Miharu.

“Tentu saja.” Aishia mengangguk pelan.

Dengan demikian, diputuskan bahwa Aishia akan tidur di kamar Rio dalam wujud astral. Dan jika Rio terbangun mendapatinya tidur dalam wujud fisik keesokan paginya — yah, itu adalah cerita untuk lain hari.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted