Seirei Gensouki Volume 3 Bab 2: Hari-Hari yang Berlalu di Desa Bahasa Indonesia – Litenovel

Seirei Gensouki Volume 3 Bab 2: Hari-Hari yang Berlalu di Desa Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 2: Hari-Hari yang Berlalu di Desa

Dua bulan telah berlalu sejak Rio mulai tinggal di desa itu, dan dalam kurun waktu tersebut, kini tidak ada lagi satu pun orang di sana yang tidak mengetahui namanya, dan para penduduk desa secara umum memandangnya dengan sangat baik.

Ini sebagian berkat kepala desa, Yuba, yang telah menampungnya, dan sebagian lagi berkat dirinya yang membawa pulang hasil buruan dalam jumlah besar hampir setiap hari. Pasokan daging di desa tidak pernah sebanyak ini, dan Rio juga aktif bekerja di bidang selain berburu. Menggunakan pengetahuan yang dia peroleh di Akademi Kerajaan dan desa kaum roh, Rio telah berkontribusi dalam meningkatkan taraf hidup di desa dengan jumlah yang luar biasa.

Sebagai contoh, dia membangun sebuah pemandian di sebelah rumah kepala desa untuk digunakan oleh para penduduk, dan membagikan sabun buatan sendiri kepada setiap keluarga di desa, yang mendapat sambutan sangat antusias dari para wanita. Selain itu, dengan memberikan saran tentang teknik dan alat pertanian, dia sangat meningkatkan efisiensi pekerjaan bertani, yang mendatangkan persetujuan kuat dari para penduduk desa yang sudah tua.

Kecepatan desa itu berkembang terbilang agak cepat, namun Rio merasa tidak perlu menahan diri untuk membagikan pengetahuan dan teknologinya.

Desa itu juga menderita masalah sanitasi, yang sebelumnya telah menyebabkan orang-orang jatuh sakit, sementara korban jiwa akibat kelaparan dapat disalahkan pada gagal panen. Ibu Ruri telah meninggal di usia muda karena masalah seperti itu, dan adik laki-lakinya baru berusia empat tahun ketika dia meninggal karena kelaparan.

Untungnya, Rio memiliki pengetahuan dan teknologi untuk mencegah kematian semacam itu.

Dia baru menghabiskan waktu singkat di sana, tetapi baik Yuba maupun Ruri menganggapnya sebagai anggota keluarga yang sangat mereka sayangi. Yuba, tentu saja, sudah mengetahui situasinya, tetapi bahkan Ruri memperlakukannya seperti saudara kandung yang berharga.

Kendati demikian, ada sebuah kenyataan yang harus Rio hadapi: waktunya di sini terbatas, karena suatu hari nanti dia akan meninggalkan desa tersebut. Itulah sebabnya, demi kebaikan mereka, dia ingin membuat desa tempat mereka tinggal menjadi seknyaman mungkin.

Perasaan dan tindakan Rio juga diakui oleh para penduduk desa, yang membantunya mendapatkan kepercayaan mereka. Belakangan ini, para wanita di desa semakin sering meminta bantuannya untuk memperbaiki perabotan dan rumah mereka, setelah menganggap keterampilan pertukangan kayu miliknya layak dipuji. Meskipun ada perajin lain di desa tersebut, mereka biasanya sudah sangat sibuk.

Hari ini, Rio sedang membantu seorang wanita memperbaiki retakan di dinding rumahnya, yang membiarkan angin dingin masuk. Sayo dan Ruri menuntunnya ke rumah yang dimaksud. Setelah Rio menyelesaikan perbaikan tersebut, wanita bertubuh agak gemuk yang meminta bantuannya itu berbicara kepadanya dengan ceria.

“Oh, terima kasih — kamu telah menyelamatkanku. Anginnya terasa sangat dingin belakangan ini… Aku sudah mencoba menyerahkannya kepada suamiku, tetapi dia malah memperburuknya, jadi aku benar-benar bingung. Para perajin desa juga terus menunda permintaanku.”

“Malam-malam memang mulai terasa dingin, lagipula. Aku senang bisa membantumu, Nyonya Ume. Tolong panggil aku lagi jika kamu butuh bantuan apa pun.” Rio menggelengkan kepala ke arah Ume, menunjukkan bahwa itu tidak merepotkan sama sekali baginya.

“Tentu saja. Omong-omong, kalian bertiga selalu menempel terus ya? Para pemuda di sini semuanya merasa iri setengah mati melihatmu berjalan-jalan dengan dua gadis tercantik di desa kita, Rio.” Wanita itu menyeringai senang, memandangi Ruri dan Sayo yang berdiri di setiap sisinya sementara Rio tertawa canggung, dengan senyum yang dipaksakan.

“Oh, hentikan itu, Nyonya Ume. Rio dan aku tidak seperti itu,” jawab Ruri dengan lancar karena sudah biasa mengatakannya.

“Karena kamu menggunakan kata ganti tunggal, apakah itu berarti situasinya berbeda untuk Sayo?” tanya Ume, mengalihkan sasaran perhatiannya.

…Eh? Ah, tidak, umm, itu…” Sayo langsung merona merah seketika.

“Ahahaha, Sayo memang manis ya,” Ume tertawa terbahak-bahak dengan suara yang menggelegar.

Percakapan serupa sering kali terjadi akhir-akhir ini, dan Sayo akan bereaksi seperti itu hampir setiap saat. Mereka yang memulai percakapan tersebut mengungkitnya di hadapannya demi menantikan reaksinya, jelas-jelas sedang mempermainkan kepolosan Sayo.

“Duh, biasakanlah dirimu, Sayo. Setidaknya kamu harus menertawakannya seperti Rio,” kata Ruri, lalu terkikik senang.

“Uhh… I-Itu hanya…” Sayo melirik Rio, tetapi begitu mata mereka saling memandang, dia menunduk dengan gugup.

“Sayo sepertinya merasa kurang nyaman di dekat laki-laki, jadi usahakan untuk tidak terlalu sering mengggodanya. Aku akan berterima kasih jika kalian juga sedikit melonggarkan sikap pada diriku. Aku tidak begitu menyukai percakapan semacam ini,” bela Rio untuk mendukung Sayo.

“Hmm… Dalam kasus Sayo, sebenarnya bukan karena dia tidak nyaman di dekat laki-laki, sih…”

“Benar juga…”

Ruri dan Ume saling berpandangan sambil menghela napas kecil. Keduanya menatap balik ke arah Rio, yang memiringkan kepalanya dengan bingung.

“Yah, bagaimanapun juga, kami sangat senang ada anak laki-laki sepertimu di desa kami. Awalnya aku sedikit khawatir saat mendengar ada orang luar di rumah Lady Yuba, tapi aku akan lebih banyak mengandalkanmu mulai sekarang!” ucap Ume dengan ceria, mengalihkan topik pembicaraan. Dia menepuk bahu Rio.

“Dengan senang hati aku akan membantu di mana pun aku bisa.” Rio mengangguk malu-malu.

Setelah itu, Ruri dan Sayo terus membimbingnya ke rumah-rumah lain yang memiliki perabotan yang perlu diperbaiki. Percakapan serupa terjadi kemanapun mereka pergi, namun rona merah di pipi Sayo adalah cerita untuk lain hari.

Rio dan kedua gadis itu berjalan bersama dalam perjalanan pulang.

“Sungguh, sungguh—Rio benar-benar punya banyak keahlian. Kamu pintar, bisa memasak, bisa berburu, dan terampil dengan tanganmu. Belum lagi seni roh! Setiap desa pasti menginginkan seseorang sepertimu,” kata Ruri, mengangguk sambil berbicara.

“Aku ini hanya bisa melakukan banyak hal tapi tidak ada yang benar-benar dikuasai. Tak ada satupun keahlianku yang bisa menyaingi seorang master sejati.” Rio menggelengkan kepala dengan senyum pahit.

“Itu tidak benar! Sir Rio itu luar biasa! Para penduduk desa langsung terbuka padamu karena kamu sangat ramah!” Sayo menyela dari sebelah mereka.

“Benar kata Sayo, kan. Keberadaanmu di sini benar-benar sangat membantu kami. Kami sangat bersyukur memiliki seseorang yang bisa melakukan hampir segalanya di desa ini.”

“Terima kasih banyak. Aku senang bisa membantu di desa ini,” jawab Rio dengan canggung, senyuman yang agak bahagia tersungging di bibirnya.

Lalu, pada saat itu, Rio dan gadis-gadis tersebut berpapasan dengan beberapa pemuda dari desa yang juga sedang berjalan di jalan. Kakak laki-laki Sayo, Shin, ada di antara mereka. Ketika Shin dan anak-anak lelaki lainnya melihat Rio, wajah mereka mengernyit tidak suka.

“Kalian berkumpul lagi? Mengesampingkan Rio… Ruri, Sayo. Ada apa dengan pekerjaan?” tanya Shin dengan cemberut.

“Kami sedang membantu Rio dengan pekerjaannya. Apakah kamu punya masalah dengan itu?” jawab Ruri.

…Pekerjaannya? Apa yang sebenarnya kalian lakukan, Sayo?” Shin menatap adiknya meminta jawaban.

“Um… Memperbaiki perabotan dan rumah. Para perajin desa semuanya sibuk membangun tempat tinggal baru, jadi Sir Rio membantu memperbaiki hal-hal kecil.”

“Tch, kamu bahkan melakukan hal itu sekarang?” Shin mendecakkan lidahnya. Sayo menatapnya dengan ekspresi cemberut.

“Jika kamu tidak punya hal lain untuk dikatakan, kalau begitu kami akan pergi sekarang. Aku lelah dan ingin beristirahat. Ayo pergi, kalian berdua.” Ruri mendesak Rio dan Sayo untuk segera meninggalkan yang lainnya.

Shin memanggil mereka agar berhenti. “Tunggu. Kalian boleh berusaha mengambil hati semua orang sebisa kalian, tetapi kami tidak akan menerima kalian!” katanya, memancing anak-anak laki-laki lain di sekitarnya untuk menyetujui.

“Benar sekali!”

“Ya!”

“…” Rio ragu-ragu sejenak. Dia sadar akan fakta bahwa keberadaannya berdampak pada kehidupan Shin dan anak-anak laki-laki lainnya, membuatnya bertanya-tanya bagaimana seharusnya dia bereaksi. Haruskah dia mengatakan sesuatu secara langsung kepada mereka, mengabaikannya, atau sama sekali tidak memedulikan mereka?

Ada orang-orang di dalam komunitas desa tertutup yang percaya pada pengucilan orang luar dari masyarakat mereka, dan Rio tidak menganggap sentimen semacam itu salah. Dia tahu bahwa hal itu terkadang dapat mengarah pada stabilitas dan kedamaian.

Dengan kata lain, dia merasakan sedikit rasa bersalah dalam hal yang berkaitan dengan Shin. Namun…

“Ya ampun — kalian benar-benar anak-anak yang tidak sopan. Rio, jangan pedulikan mereka. Kamu sudah menjadi anggota yang luar biasa di desa kita, ya?” Ruri menegaskan pendiriannya secara terus terang dan maju selangkah untuk membela Rio.

“Ruri benar! Kalian keterlaluan, Shin. Lady Yuba menyetujui tinggalnya Sir Rio di desa ini, dan dia telah membantu bekerja selama ini!” Sayo menyetujui Ruri.

Namun, melihat dua gadis manis desa itu membela Rio justru membuat para pemuda semakin tidak senang, dan penolakan mereka terhadap Rio meningkat melampaui batas akal sehat. Shin sangat akrab dengan kepribadian Sayo, jadi dia tahu bahwa Sayo bukan tipe orang yang akan membela seseorang dengan begitu marah dan menempatkan dirinya di garis depan. Hal itu membuatnya merasa sangat terguncang.

“K-Kau tidak seharusnya bersikap berlebihan pada orang lemah sepertinya, Sayo!”

“A-Aku tidak bersikap berlebihan kepadanya!” Sayo ragu-ragu sejenak, lalu dengan cepat menyangkalnya.

Keduanya saling memelototi dengan tajam, udara tegang mengalir di antara mereka. Tepat saat Rio berpikir situasinya berubah ke arah yang buruk…

“Shin, apa kamu salah paham akan sesuatu? Rio sama sekali bukan orang lemah. Terlepas dari penampilannya, dia sebenarnya cukup berotot. Benarkan?” kata Ruri, tiba-tiba merangkul lengan atas Rio. Para pemuda membelalakkan mata karena terkejut.

“Hah? A-Apa— Kau, dan dia… Sungguh tidak senonoh!” Sesaat kemudian, Shin sepertinya menyadari sesuatu. Wajahnya berubah menjadi merah padam.

Sayo juga tersipu. “K-Kenapa kamu tahu tentang itu, Ruri?”

“Hm? Aku tidak tahu kesimpulan apa yang kalian ambil, tapi tenangkan kepala kalian. Belum lagi betapa jauh lebih baiknya Rio daripada Shin dalam hal berburu. Sekarang, ayo pergi, kalian berdua.” Ruri menjulurkan lidahnya ke arah para pemuda sebelum menyeret Rio pergi dengan menggandeng lengannya. Di sisi lain Rio, Sayo buru-buru mengikuti mereka.

Shin tertegun di tempatnya karena malu, sedikit meringis saat Sayo menatap tajam ke arahnya untuk terakhir kalinya ketika dia lewat.

◇◇◇

Malam itu, di halaman rumah kepala desa yang disinari cahaya bulan, Rio bekerja keras mengayunkan pedangnya hingga mengucurkan keringat yang mengalir di punggungnya yang telanjang.

Dia mengayunkan pedangnya berulang-ulang, memastikan sensasi itu terpatri di dalam tubuhnya. Napasnya terhembus sedikit lebih berat dari biasanya, dan setiap kali dia mengayunkan pedang, keringatnya terpercik ke udara. Kadang-kadang, angin meniupkan kabut malam yang dingin melewati udara, memeluk tubuh Rio yang memerah dalam dekapan yang menyejukkan.

insert2

Suara serangga terdengar bergema di sekitarnya, dan tanaman berdesir ditiup angin membentuk sebuah simfoni bersama suara gerakan pedang Rio. Rasanya sangat menyenangkan hingga dia hampir ingin terus berlatih selamanya — tetapi dengan makan malam yang menunggunya, Rio selesai memperbaiki gerakan pedangnya dan beralih ke pembentukan tubuhnya selanjutnya.

Sekitar sepuluh menit setelah menggerakkan tubuhnya, Rio tiba-tiba berhenti.

“Ini tidak menarik untuk ditonton, kan?” panggilnya dengan senyum masam kepada Ruri dan Sayo, yang berdiri di dekat ambang pintu dan mengawasi dalam diam. Tubuh Sayo tersentak kaget.

“Ahaha, jadi kamu akhirnya menyadari keberadaan kami? Apakah itu yang disebut seni bela diri? Gerakanmu begitu anggun, aku sampai tidak bisa berhenti menonton,” kata Ruri sambil memberikan senyuman tanpa beban.

“Ini hanya latihan harian saja,” jawab Rio dengan senyuman kaku.

“Tidak, tidak, ini benar-benar luar biasa. Aku tidak percaya kamu bisa terus melakukannya tanpa merasa bosan. Kamu melakukannya setiap hari sejak kamu datang ke sini,” kata Ruri dengan kekaguman yang tulus.

“Hah? Kamu melakukan ini setiap hari?” Mata Sayo membelalak kaget.

Sebagai catatan, dia berada di sana karena merasa terlalu canggung untuk pulang dan menghadapi Shin setelah pertengkaran mereka sebelumnya, jadi Ruri secara paksa menyeretnya ikut bersama mereka. Rio sempat memikirkan apa yang akan dimakan Shin untuk makan malam, tetapi Sayo meyakinkannya bahwa ada sisa makanan dari sarapan.

“Yup, dia melakukan ini setidaknya sekali sehari sekitar waktu ini. Hebat, kan?” Ruri mengangkat bahu kecil.

“Ya, ini luar biasa…”

“Ngomong-ngomong, aku selalu ingin bertanya. Kenapa kamu mulai belajar seni bela diri, Rio?” Ruri tiba-tiba mengajukan pertanyaannya, merasa ini adalah kesempatan yang bagus untuk melakukannya.

“Kenapa, katamu?”

“Iya. Aku tidak begitu mengerti seni bela diri, tapi bahkan di mata amatorku, aku bisa melihat latihanmu sangat mengesankan. Tidak semua orang bisa mengerahkan usaha sebesar itu untuk mencapai tingkat tersebut.”

“Yah… Agak memalukan untuk mengatakannya karena sangat sederhana, tapi kurasa anak laki-laki mana pun akan memiliki alasan yang sama,” jawab Rio sambil tersenyum, setelah memikirkan jawabannya dengan hati-hati.

“Eeeh, apa-an itu?! Aku jadi sangat penasaran! Kamu juga ingin tahu, kan, Sayo?”

“I-Iya. Aku ingin mendengarnya lebih lanjut.”

Ruri dan Sayo sama-sama penuh dengan rasa penasaran.

“Ahaha… Bagaimana ya. Bolehkah aku mengenakan pakaianku dulu?” Rio tersenyum kecut sebelum mengambil handuk dan pakaian yang tadi ia letakkan di samping.

“Huh? Ah, ya. Maaf, maaf. Silakan,” jawab Ruri dengan sedikit malu-malu, meskipun dia sebenarnya tidak begitu peduli karena mereka berdua terselubung dalam kegelapan malam.

Sayo juga baru menyadarinya setelah ucapan Rio, membuat wajahnya tiba-tiba merona merah dan menunduk. Rio memanfaatkan kesempatan itu untuk segera menyeka keringatnya dan mengenakan kemeja.

“Baiklah, sekarang setelah kamu mengenakan pakaianmu, ceritakan pada kami! Kenapa kamu mulai belajar seni bela diri?” Ruri mendesak meminta jawaban. Setelah tenang, Sayo mendekati Rio untuk memastikan dia tidak ketinggalan apa pun.

Rio mengalah pada permintaan mereka, dan mulai menceritakan kisahnya. “Ini hanya dari masa kecilku, ya?” ujarnya, seolah-olah dia merasa malu.

“Dulu, ada seorang gadis yang aku suka… Aku ingin menjadi lebih kuat agar bisa melindunginya.”

“…Huh. Kamu punya gadis yang kamu suka, Rio? Itu agak di luar dugaan. Tunggu, apa itu berarti kamu sudah tidak menyukai gadis itu lagi?” tanya Ruri dengan mata terbelalak.

“…Bukan berarti aku membencinya atau bagaimana, hanya saja kami sudah terpisah. Dia mungkin sudah punya kekasih, atau bahkan mungkin tidak mengingatku lagi…” Rio berbicara sambil tersenyum dan sedikit tertawa kecil, tetapi tatapannya tampak menerawang.

“Sir Rio, Anda bekerja sangat keras demi gadis itu… Apakah Anda tidak akan memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya lagi?” tanya Sayo dengan ragu-ragu, memperhatikan raut wajah Rio lekat-lekat.

“Aku bahkan tidak tahu di mana dia berada. Terakhir kali kami bertemu sudah sangat lama sekali.” Rio menggelengkan kepalanya pelan.

“Tapi, jika dia masih hidup, kamu mungkin akan bertemu dengannya lagi suatu hari nanti, Rio. Semua usahamu mungkin akan terbayar,” ucap Ruri dengan suara ceria, ingin mengangkat suasana yang suram.

“…Kamu benar. Dan, yah… Sekarang aku berlatih demi kepentinganku sendiri.” Rio mengangguk dan tersenyum samar.

Ruri dan Sayo saling berpandangan. “Benarkah?” tanya mereka bersamaan.

“Ya. Sebagian karena aku takut kehilangan sesuatu yang telah kutanam selama bertahun-tahun, tetapi aku juga harus menjadi kuat untuk bisa bepergian sendirian. Kamu hanya bisa melawan ketidakwajaran dengan kekuatan mentah itu sendiri.” Rio mengepalkan tangannya dengan ringan, berbicara dengan suara kaku.

“Apakah itu benar-benar separah itu? Bepergian sendirian…” tanya Sayo dengan ragu-ragu, menyadari suasana di sekitar Rio yang mulai menegang.

“Ya. Ada binatang buas yang berbahaya dan orang-orang yang berbahaya.” Rio sepertinya menyadari bahwa dirinya telah menegang, dan menjawab dengan nada suara yang lebih lembut kali ini.

“Itu… benar…” Sayo mengangguk lemah.

Di dunia ini, nyawa seseorang adalah hal yang rapuh. Orang-orang mati karena penyakit dan kelaparan. Orang-orang mati karena perang. Orang-orang bahkan mati karena diserang oleh binatang buas dan bandit.

Itulah mengapa tidak aneh jika Rio diserang selama perjalanannya seorang diri, dan tidak aneh pula jika ia membela diri dengan membunuh mereka. Itulah pemikiran pertama yang terlintas di benak Sayo.

Namun, ia terlalu takut untuk mengetahui kebenarannya, jadi ia tidak bertanya lebih jauh dari itu.

“Maaf karena sudah berbicara terlalu lama. Kalian berdua pasti kedinginan. Bagaimana kalau kita masuk ke dalam?” Rio mengalihkan pembicaraan, memberikan usulan sambil tersenyum pahit.

“Ya, ayo. Aku datang memanggilmu karena makan malam sudah siap, tapi aku malah melupakannya sama sekali.” Ruri menyetujui sambil tertawa. Sayo juga tersenyum, terkikik.

“Oh, benar juga. Mau mandi bersama setelah makan malam, Sayo? Di bak mandi yang dibuat oleh Rio. Kamu masih belum pernah mencobanya, kan?” tawar Ruri.

“Bolehkah aku benar-benar mencobanya? Tempat itu kan baru saja dibangun, jadi daftar tunggunya sangat panjang…”

Rumah pemandian kecil yang dibangun oleh Rio saat itu sedang menjadi buah bibir di desa, dengan banyak penduduk desa yang ingin mencobanya. Alhasil, daftar tunggu pun terbentuk.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Kami memang meminjamkannya kepada siapa saja yang ingin menggunakannya, tapi bagaimanapun juga itu tetap bak mandi kita. Penghuni rumah dan tamu mereka bisa memasukinya kapan saja,” kata Ruri dengan bangga.

“Baiklah… Kalau begitu — ya, tolong. Terima kasih banyak juga, Tuan Rio.” Sayo sempat sedikit ragu untuk menerima perlakuan istimewa apa pun, tetapi ia kalah oleh godaan bak mandi itu dan akhirnya mengangguk. Ia menundukkan kepalanya kepada Rio dan Sayo.

“Baiklah, sudah diputuskan! Jadi, tolong buatkan kami air panas nanti ya, Rio!” Ruri mengatupkan kedua tangannya sebagai bentuk permintaan.

Ada pemanas air yang dipasang di rumah pemandian untuk menghangatkan air di bak mandi, tetapi jauh lebih cepat jika meminta Rio membuat air panas dengan seni rohnya. Dan yang lebih penting, itu tidak menghabiskan kayu bakar sama sekali.

“Tentu saja. Serahkan padaku,” kata Rio, mengangguk dengan senang hati.

“Ehehe, terima kasih! Kamu boleh mengintip Sayo saat dia sedang berganti pakaian sebagai tanda terima kasih,” kata Ruri menggoda.

“R-Ruri!” seru Sayo dengan wajah memerah terang.

“Ahaha, itu cuma candaan!” kata Ruri, mundur sambil tertawa.

Sayo melakukan kontak mata dengan Rio yang berada tepat di sampingnya. “Ya ampun! …Ah, Tuan Rio, kumohon jangan mengintipku, ya?” mohonnya karena merasa malu.

“Tentu saja aku tidak akan melakukannya,” jawab Rio seketika, bagaikan seorang pria sejati.

…Tapi kalau itu Rio, diintip sedikit pun tidak apa-apa, pikir Sayo.

Pipi Sayo langsung merona sesudahnya — hatinya tampak sedikit bergejolak.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted