Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 8 Bab 3: Makoto Takatsuki Menuju Laphroaig Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 8 Bab 3: Makoto Takatsuki Menuju Laphroaig Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 3: Makoto Takatsuki Menuju Laphroaig

“Apa?! Para iblis menyerang lebih dulu?!” Pangeran Highland menjerit menuntut sambil menghentakkan kakinya ke lantai ruang rapat. Apakah sikap dibuat-buat ini hanya untuk menyembunyikan kecemasannya?

Semua orang memiliki ekspresi tegang di wajah mereka. Atas pemberitahuan bahwa pasukan iblis telah berkumpul dan menginvasi, semua pahlawan, pendeta wanita, kaum bangsawan, dan para raja berkumpul sekali lagi. Furiae tidak bisa terlibat lagi, jadi dia tetap tinggal di penginapan. Sasa dan Lucy tinggal di sana untuk melindunginya, jadi dia mungkin aman.

Putri Noelle kemudian berbicara, dan ketegangan dalam suaranya begitu jelas. “Estelle, aku perlu mengonfirmasi sesuatu.”

“Ada apa?”

“Iblis belum bangkit kembali, kan? Kamu yakin tentang ini?”

“Aku yakin,” jawab Estelle dengan tenang. “Para iblis tampaknya sedikit terburu-buru.”

“Aku tidak bisa memahaminya,” komentar Grandsage setelah beberapa saat. Dia menopang dagunya dengan tangan dan memasang ekspresi bosan. “Untuk apa mereka terburu-buru?”

“Siapa yang tahu apa yang ada di dalam pikiran iblis yang menjijikkan? Namun, ini adalah sebuah kesempatan. Ini memecah kekuatan bertarung mereka. Astaroth tidak ikut serta.” Wajah Estelle tampak tak terusik seperti suaranya, hampir seolah-olah invasi itu bukan masalah besar.

“Astaroth… Yah, itu suatu keberuntungan,” balas Grandsage. “Kota ini akan runtuh dalam semalam jika dia benar-benar bersungguh-sungguh.”

Mendengar kata-kata itu, suasana di ruangan menjadi semakin berat.

“Raja iblis terkuat…” Jenderal Talisker bergumam dengan khidmat. “Dia dikatakan melampaui kekuatan Abel the Savior sekalipun…”

“Orang-orang menyamakannya dengan Iblis… tapi itu pasti berlebihan dalam sejarah,” usul salah seorang Sacred Noble dengan nada bercanda.

“Astaroth tidak terlibat!” bentak yang lain. “Kembali ke pokok permasalahan—apakah kita benar-benar tidak punya strategi untuk menghadapi Zagan dan Forneus?!”

Estelle berbalik untuk menarik perhatian seisi ruangan. “Mengenai hal itu—”

Sebelum dia sempat menyelesaikannya, pangeran pertama menyela, suaranya dipenuhi kebencian. “Apakah Anda tidak bisa meramalkan ini, Lady Estelle?”

“Pangeran Gaius,” ucapnya dengan tenang. “Aku memang meramalkan ini. Namun, aku membocorkan informasi tersebut kepada jumlah orang seminimal mungkin demi menghindari kekacauan yang tidak perlu. Yang Mulia Raja, Yang Mulia Paus, Grandsage, Putri Noelle, dan panglima tertinggi Ksatria Soleil semuanya tahu.”

Ketenangannya kini masuk akal.

“Jadi aku tidak layak untuk diberi tahu?” cibirnya, bibirnya berkedut.

Estelle menyeringai kurang ajar sebagai balasan.

“Invasi ini telah diramalkan. Iblis tidak ada di antara musuh-musuh kita—pada titik ini, dia belum kembali, jadi itu memang sudah wajar. Sekarang adalah kesempatan kita untuk menyingkirkan setidaknya satu dari tiga Raja Iblis. Penglihatan masadepaniku telah melihat bagaimana pasukan itu akan bergerak. Komandan Owain, Jenderal Talisker, aku meminta kalian berdua untuk bekerja sama menyusun strategi.”

Gumam kagum terdengar berdengung di antara kelompok itu. Strategi yang didasarkan pada ramalan tentu saja merupakan gagasan yang sangat menggembirakan.

“Aku ingin menyerahkan rapat ini kepada Komandan Owain untuk membahas strategi tersebut. Namun, sebelum itu…” Estelle menoleh ke arah Putri Noelle. “Lady Noelle, aku menawarkan sebuah saran kepadamu—ambilah Ujian Saint segera. Kamu akan lulus apa adanya.”

“Tapi… aku tidak bisa meninggalkan ibu kota dalam situasi saat ini… Lagi pula, aku sudah mengambilnya setengah tahun lalu tetapi tidak dapat menerima petunjuk dari Althena.”

Dalam percakapan singkat mereka, aku menangkap sebuah frasa yang belum pernah kudengar sebelumnya. Aku menoleh ke arah Putri Sophia di sisiku. “Apa itu Ujian Saint?” bisikku.

“Kamu tahu bahwa salah satu rekan Abel the Savior adalah Saint Anna, benar? Dia awalnya adalah Pendeta Wanita Matahari, tetapi setelah mengatasi ujian dari Althena, dia menjadi seorang saint yang menyelamatkan Abel. Putri Noelle telah mengikuti ujian-ujian itu beberapa kali—”

“Tapi belum lulus?”

Putri Sophia mengangguk kecil.

Putri Noelle berada di urutan berikutnya untuk naik takhta dan juga memiliki kedudukan tinggi di gereja. Dia pasti memiliki pekerjaan yang sama banyaknya (jika tidak lebih) dengan Putri Sophia, tetapi dia masih menjalani ujian-ujian itu…

“Bukankah pendeta wanita lain bisa melakukannya?” tanyaku. Tentu saja seseorang seperti Estelle bisa menyelesaikan ujian-ujian itu alih-alih menumpuk lebih banyak beban ke pundak Putri Noelle.

“Saint itu harus terikat dengan Pahlawan Cahaya,” jawab Putri Sophia sambil menggelengkan kepalanya.

Ah… benar. Kalau begitu Estelle tidak akan bisa. Pilihannya harus Putri Noelle, yang memiliki ikatan dengan Sakurai.

Sementara aku dan dia berbicara, rapat telah berlanjut ke topik berikutnya. Pembicaraan tentang ujian-ujian itu pasti telah ditunda.

“Aku sekarang akan membahas pasukan aliansi kita yang akan menghadapi tentara raja iblis,” ucap sebuah suara yang dalam dan menggema. Suara ini milik Owain Bladnoch, panglima tertinggi pasukan Highland.

“Pertama, Sir Sakurai, Grandsage, silakan menuju ke sebelah utara Cameron, ke Pantai Begg. Pasukan utama Zagan seharusnya berada di sana.”

Dia menjatuhkan informasi penting itu begitu saja entah dari mana. Aku baru saja memikirkan bagaimana aku tidak bisa mengabaikannya ketika tiba-tiba aku merasakan tepukan di bahuku.

“Highland dan Great Keith mempresentasikan strategi mereka secara berurutan. Roses kemungkinan besar akan mendapat giliran terakhir,” bisik Putri Sophia ke telingaku.

Dari segi militer, Roses adalah yang paling lemah, jadi kami akan presentasi setelah yang lain. Itu berarti aku mungkin akan dipanggil paling akhir juga.

“Tunggu! Mengapa Pahlawan Cahaya harus diterjunkan di langkah awal?! Dia seharusnya berada di ibu kota sementara pasukan maju menguras jumlah para iblis!” seru Pangeran Gaius.

Yah, kurasa itu pertanyaan yang masuk akal, pikirku sambil mengamamatinya. Sejujurnya, aku setuju—bukankah terlalu berisiko menggunakan kartu truf kita langsung di awal?

“Musuh kita akan memikirkan hal yang sama,” jawab Estelle. “Mereka tidak akan membayangkan bahwa kita akan menempatkan reinkarnasi sang penyelamat di gelombang pasukan pertama. Zagan biasanya akan berada di belakang seluruh pasukannya… tapi tidak sekarang. Kita tidak boleh membiarkan kesempatan ini lewat begitu saja.”

Ada keheningan sejenak.

“Lalu bagaimana jika Zagan tidak ada di sana?” tanya pangeran.

“Dia akan berada di sana. Penglihatan masa depanku menunjukkan hal itu dengan jelas.”

“Jadi kita tidak harus—”

“Prajurit yang ceroboh hanya akan memperkuat musuh kita. Selain itu, jika Raja Iblis terluka, dia akan mundur dan bersembunyi. Dari apa yang kulihat, ini adalah satu-satunya kesempatan kita untuk memberikan pukulan telak kepada Zagan.”

Keheningan yang jauh lebih panjang menyusul.

“Baiklah,” Pangeran Gaius mengalah, tampak diyakinkan. Begitu sihir takdir dan penglihatan masa depan dimunculkan, berdebat menjadi tidak ada gunanya.

Owain memandangi kelompok itu sekali lagi. “Sudah selesai? Baiklah. Berikutnya…”

Komandan terus menyampaikan instruksinya beberapa saat sebelum seseorang angkat bicara. “Aku punya pertanyaan. Kita tahu Zagan sedang mendekat dari arah Cameron… jadi, siapa yang akan menghadapi Forneus?”

Suara itu milik Pahlawan Petir, Gerald Ballantine. Nada bicaranya serius, jauh berbeda dari gayanya yang biasa. Andai saja dia bersikap seperti itu di sepanjang waktu…

“Aku akan memukulnya mundur ke mana pun dia muncul! Dia memiliki elemen air, jadi Pedang Petir-ku akan bekerja dengan baik. Akan kupermalukan dia!”

Lupakan saja… Ada si Gerry ini.

“Apa kau sudah lupa kekalahanmu melawan sang elementalist, nak?” ejek Grandsage. “Sihir air bisa membunuhmu sama seperti sihir lainnya.”

“Tutup mulutmu, nenek sihir! Aku sudah berkembang sejak saat itu!”

Sebagai tanggapan, Grandsage menarik tubuhnya ke belakang dan menendangnya hingga jatuh ke lantai. Padahal baru saja memanggilnya “nak”… Kita sedang berada di tengah rapat—apa yang sebenarnya mereka lakukan? Selain itu, karena dia tadi menyebutkan seorang elementalist, beberapa orang mulai melirik ke arahku.

“Sir Gerald,” kata Estelle, menyela pertengkaran itu. “Kita tidak bisa mengalahkan Forneus di sini.”

“Apa? Kenapa?!” teriaknya histeris, masih tersungkur di lantai tempat dia ditendang tadi.

Gerry, sebaiknya kau bangun dulu?

“Forneus tidak akan benar-benar menginvasi benua ini,” jelas Estelle. “Monster di bawah komandonya akan menyerang kota-kota pesisir lalu kembali ke laut. Aku belum meramalkan apa pun di daratan.”

“Dia adalah pengalih perhatian,” lanjut sang komandan, mengambil alih pembicaraan. “Kemungkinan tujuannya adalah mencegah aliansi sejati dari pasukan kita. Lady Estelle hanya melihat pasukannya menyerang kota-kota pesisir.”

“Sir Gerald,” kata Estelle, “kamu akan pergi ke lokasi bersama sekutu terdekat Forneus. Apakah itu bisa diterima?”

Gerald terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya mendengus tajam, “Baiklah.”

Mendengar persetujuannya, sang komandan kembali membahas pembagian pasukan. “Pangeran Leonardo, Pahlawan Es dan Salju, akan mendampingi pasukan Springrogue…”

Itu sangat melegakan—kami bisa bersantai karena dia akan bersama Maximilian dan pasukan Springrogue.

“Dan penugasan pun selesai,” kata Owain, melipat kertas yang tadi dibacanya. “Ada pertanyaan?”

Hah?

“T-Tunggu sebentar!” seru Putri Sophia. “Roses punya satu pahlawan lagi!”

“Bodoh!” gerutu sang paus sambil melotot ke arahku. “Kita tidak akan mengandalkan murid dewa jahat. Dia akan menyembelih leher kita saat kita tidur.”

Komandan menoleh kepadanya. “Secara pribadi, saya rasa ini bukanlah situasi di mana kita harus menyia-nyiakan kekuatan yang ada.”

Setidaknya itu dukungan yang lumayan…

“Komandan, apakah Anda sedang mencoba menyampaikan maksud tertentu?!” tuntut sang paus.

Terjadi keheningan yang panjang, dan akhirnya, sang komandan bergumam, “Saya menarik perkataan saya.” Paus adalah atasan sang komandan, jadi dia tidak punya banyak pilihan. Satu-satunya orang yang bisa bersuara adalah…

“Sophia, apakah raja tidak ada di sini?” tanyaku. Hal ini sudah menggangguku sejak tadi. Dia berada di atas segalanya di Highland, tetapi aku hampir tidak pernah melihatnya.

“Yang Mulia sedang… kurang sehat,” jawabnya. “Beliau kemungkinan besar tidak akan hadir…”

Apakah ada sesuatu yang sedang terjadi? Bagaimanapun juga, suara raja jelas bukan sesuatu yang bisa diandalkan. Sejauh keadaan sekarang, aku praktis dikeluarkan dari perang.

Kukira pada titik ini, itu mungkin bisa dianggap sebagai keberuntungan…? Aku bisa melarikan diri dari bahaya medan perang.

Estelle kemudian berbicara kepada ruang rapat. “Yang Mulia, dia memang pahlawan dari Roses. Mempermainkan para petarung kita adalah pemborosan—berikan dia wilayah perbatasan. Bagaimanapun juga akan ada banyak monster, jadi dia sangat cocok untuk garis depan.”

Tidak mungkin Estelle bisa membuatnya paham. Bagaimanapun juga, dia hanyalah seorang pendeta wanita asing.

“Baiklah.” Yang mengejutkan, sang paus langsung mengalah begitu saja.

Jadi… aku juga akan pergi berperang…

“Kalau begitu, Pahlawan Roses akan pergi ke…”

Nama yang disebutkan Owain bukanlah nama yang pernah kudengar sebelumnya. Nanti aku harus menanyakannya kepada Putri Sophia atau Lucy. Namun, akhirnya rapat itu pun selesai.

Putri Sophia memiliki hal-hal yang harus didiskusikan dengan Putri Noelle dan yang lainnya, jadi dia tetap tinggal di kastil. Aku kembali ke penginapan dan memberi tahu para gadis mengenai apa yang akan kami lakukan.

“Cornet? Itulah kota yang akan kita tuju? Tentu!” jawab Sasa dengan ceria. Tidak ada hal yang terjadi selama dia tinggal di sini, jadi dia merasa agak bosan.

“Cornet? Bukankah itu…?” gumam Lucy. Sesuatu tampak mengganggunya tentang tempat itu—dia menoleh untuk menatap Furiae dengan penuh tanya.

Ketika aku menceritakan segalanya kepada Furiae, dia melipat kedua tangannya dengan ekspresi aneh.

“Putri? Ada apa?”

Furiae tidak menjawab pertanyaanku, dan Lucy yang malah menjawabnya.

“Makoto, Cornet bukanlah sebuah kota… Kota paling makmur di Laphroaig dulunya bernama Cornet, tapi sekarang…”

Dia menghentikan ucapannya, tidak menyelesaikan kalimatnya. Furiae menghela napas dalam-dalam lalu melanjutkan perkataan Lucy yang terpotong.

“Dia benar. Cornet bukan kota—itu adalah reruntuhan. Tempat itu… adalah tempat aku dibesarkan.”

◇

“Noah?” tanyaku.

Dia telah membawaku ke ruangannya pada malam sebelum kami siap berangkat untuk pertempuran. Seperti biasa, dia memancarkan cahaya ilahi. Di sebelah kanannya ada Eir, yang bersinar sama terangnya dan mengenakan gaun biru.

Aku berjalan menghampiri mereka.

“Ini adalah bencana, Makoto.” Noah berkacak pinggang dan mengenakan senyum penuh penyesalan.

Di sisi lain, Eir melambaikan kedua tangannya di udara. “Ini mengerikan, Mako. Mengerikan!”

Jadi… kepada siapa aku harus merespons terlebih dahulu? Yah, tentu saja kepada dewiku.

“Noah, identitasku terbongkar.”

Dia dan aku sama-sama menunjukkan senyuman enggan di wajah kami.

“Tapi orang-orang yang telah kau bantu berada di pihakmu,” jawabnya. “Ini semua berkat dirimu.”

Noah benar… Ksatria Soleil, orang-orang dari Springrogue dan Great Keith… Mereka tidak berbalik memusuhiku, bahkan ketika mereka mengetahui tentang dewiku. Semua itu sangat sepadan.

“Yah, kalau begitu itu berkat bimbinganmu,” kataku kepadanya.

Dia terkikik. “Benar sekali—puji aku lagi.”

Noah benar-benar imut saat dia meminta hal seperti itu.

“Ini bahkan tidak akan menjadi masalah jika kau menjadi pengikutku,” bujuk Eir dengan nada tidak senang.

Wah… Sepertinya kami mengabaikannya.

“Hmp. Rasakan itu,” balas Noah.

Duh, dia bisa-bisa mulai merajuk kalau begini terus.

“Eir, apa yang ‘buruk’ dari rencana itu?” tanyaku.

“Perangnya! Pasukan itu seharusnya tidak menyerang sekarang!”

“Hah?”

“Seharusnya tidak?”

Noah dan aku sama-sama terkejut.

“Irrie pergi entah ke mana,” keluh Eir.

Oh? “Ira tidak ada?” tanyaku.

“Enggak. Dia dan Naya sama-sama tidak hadir saat pertemuan terakhir kita… Naya kan memang tidak pernah ada, jadi tidak masalah… Tapi Althena sangat marah!”

“Apa yang para dewi bahas dalam rapat?” tanya Noah.

Aku juga penasaran.

“Tentu saja cara memenangkan perang,” jawab Eir. “Kita akan mendapat lebih sedikit poin pemujaan jika para iblis menang! Itu akan jadi hal terburuk!”

Eir mengucapkan itu dengan serius… tapi sepertinya tidak bagi mereka.

“Mereka itu abadi, Makoto,” jelas Noah. “Mereka tidak terlalu peduli pada umat manusia atau iblis yang bahkan usianya belum mencapai satu milenium. Bagi mereka, semuanya hanyalah sebuah permainan.”

“Tidak benar.” Eir merengut.

Itu jelas-jelas ekspresi seseorang yang ketahuan. Jadi, ini semua hanyalah permainan bagi para dewa?

Aku juga ingin mengomentari hal lain.

“Eir, aku bertemu dengan Ira.”

“Hah?” Kali ini, giliran Eir yang tampak bingung. “Mana mungkin… Apa yang kamu bicarakan? Itu tidak mungkin.”

“Yah, aku tidak yakin seratus persen, tapi sepertinya dia sedang merasuki Estelle.”

“Kenapa kamu berpikir begitu?”

“Saat aku dan Estelle berbicara, dia berbicara seolah-olah dialah sang dewi.”

“Hah… Lumayan juga, Makoto. Tetap saja, apa yang dia rencanakan?” tanya Noah.

Eir tertawa. “Tidak mungkin. Aku pasti akan menyadarinya…”

Tiba-tiba, Eir menangkupkan kedua tangannya dan… menatap ke dalam telapak tangannya?

“Itu adalah Mata Mahatahu miliknya,” jelas Noah. “Itu sekitar seratus juta kali lebih baik daripada skill Clairvoyance-mu.”

“Angka itu terlalu besar untuk bisa dipahami dengan benar…” gumamku. Manusia tidak akan bisa memahami kekuatan sejati para dewi.

“Ah!” seru Eir. “Mana mungkin! Dia benar-benar melakukannya?! Dan itu terus-menerus?! Althena melarang hal semacam itu!”

“Apakah ada yang salah jika seorang dewi sering merasuki pendetanya?” tanyaku. Bukankah hal yang bagus memiliki seorang dewi yang selalu dekat untuk menghadapi keadaan darurat.

“Hukum ilahi melarang campur tangan secara langsung, dan kerasukan yang terus-menerus tidak bisa dianggap sebagai sekadar bimbingan. Jika para dewa jahat dan Titanea melakukan hal yang sama, maka semua kemajuan yang kita capai setelah Titanomachia akan lenyap.”

“Oh…” Masalahnya lebih serius dari yang kuduga. Apakah Ira akan menimbulkan masalah?

“Yah, sepertinya akan baik-baik saja,” kata Noah dengan nada meremehkan. “Dia berhasil melewati tatapan penasaranmu, jadi dia menyamar dengan baik.”

“Apa maksudmu dengan menyamar?” tanyaku.

“Seorang dewi biasanya memancarkan anima saat turun melalui pendetanya. Kamu sama sekali tidak merasakan hal itu, jadi dia berhasil menyembunyikannya.”

“Bukannya itu hal yang mudah dilakukan…” gerutu Eir. “Ugh! Aku harus pergi dan bicara dengannya!”

Tiba-tiba, dia menghilang. Hanya Noah dan aku yang tersisa.

Noah menatapku lekat-lekat. Itu bukan ekspresi bercandanya yang biasa—dia tampak sedih dan serius.

“Hei, Makoto?” Bahkan suaranya terdengar cemas.

“A-Ada apa?” Apakah aku berbuat sesuatu?

“Kamu sedang menggunakan Calm Mind sekarang. Jangan menaikkannya sampai 100%.”

“Hah…? Sebegitu tingginya sekarang?” Itu aneh. Aku sudah berusaha berhati-hati dan tidak menggunakannya terlalu sering.

“Kamu melakukannya secara tidak sadar. Ini mungkin karena ini,” kata Noah sambil menjentikkan jarinya dan membuka penutup lengan elemental milikku yang memancarkan cahaya biru. “Kamu mungkin masih takut gagal dalam konversi elemental itu dan dikendalikan. Itulah yang membuat skill-mu bertingkah.”

“Aku… mengira aku sudah jauh lebih mahir dengannya.” Rasanya lebih mudah menggunakan lenganku setelah berlatih dengannya setiap hari. Mungkin aku telah melebih-lebihkan kemampuanku.

“Benar, tapi itulah sebabnya emosimu perlahan memudar,” ujarnya dengan nada sedih. “Pengakuan Janet tidak berdampak apa-apa pada dirimu, bukan?”

“Bukan begitu—”

Aku menghentikan ucapanku. Pada akhirnya, aku tidak bisa menyangkalnya. Lamaran mendadak dari Janet telah menjadi sebuah kejutan. Perdebatan Janet dengan Putri Sophia juga mengkhawatirkan.

Meski begitu, aku merasa ngeri saat menyadari betapa sedikitnya hal itu memengaruhiku.

“Um… Apakah ini buruk?”

“Itu karena kamu menggunakan skill tersebut di angka 100%. Kamu tidak merasakan apa-apa. Hal itu bisa berguna, dan itu bisa membuatmu lebih kuat, tetapi jika kamu tidak merasakan apa-apa lagi, kamu bukan manusia lagi.”

Ekspresi seriusnya sudah cukup untuk membuatku bergidik.

Apa yang harus kulakukan…?

“Yah, aku sudah mengambil tindakan pencegahan,” kata dia.

“Apa?”

Dia meletakkan tangannya di atas tanda merah kecil di lenganku. “Anima-ku menghentikan transformasi agar tidak semakin parah. Kamu bisa santai—jangan gunakan Calm Mind kebanyakan, ya?”

Aku mengamati tanda itu lagi.

“Itu kegunaannya?”

“Benar. Lenganmu tidak akan kembali normal, tapi juga tidak akan memburuk. Anima-ku mempertahankan status quo.”

“Begitu… ya.” Aku menyentuh tanda itu sendiri. Sedikit hawa panas darinya terasa seperti kehangatan kasih sayangnya.

“Yah, aku juga bisa mengendalikanmu melalui hal itu sebagai upaya terakhir… tetapi dewa-dewa Suci maupun jahat akan mengejarku jika aku melakukan itu, jadi aku tidak akan melakukannya.”

“Terima kasih, Noah,” kataku sambil membungkuk dalam-dalam. Sepertinya aku selalu berakhir bergantung padanya.

Dia terkikik. “Tidak apa-apa. Bergantunglah lebih banyak padaku. Lagipula, kau kurang banyak meminta kepada dewi-mu.”

“Itu tidak benar,” protesku. “Aku memang dikirim ke beberapa reruntuhan, jadi aku mungkin tidak akan bisa berbuat banyak untuk upaya perang.” Aku merasa agak sedih tentang itu—aku benar-benar ingin membantu.”

Noah mengerutkan kening dengan marah ke arahku. “Kau seharusnya berterima kasih kepada Ira untuk itu. Jika dia mengirimmu ke garis depan, kau akan dengan senang hati melenggang ke sana, bukan?”

“Tidak, aku tidak akan melakukannya. Tapi aku memang ingin melihat Raja Iblis yang sesungguhnya.”

Beruntungnya Sakurai… mendapatkan medan perang dengan seorang Raja Iblis…

Noah pasti mendengar isi pikiranku karena ekspresinya berubah kaku. “A. ku. Bilang. Tidak! ‘Aku ingin melihat Raja Iblis,’ katamu! Mereka bukan objek wisata!”

“Aku hanya ingin mengintip dari kejauhan. Maksudku, ini adalah dunia lain… Itu wajar saja, kan?”

“Wah… Kau benar-benar sudah tidak bisa ditolong.”

Dia tidak terlihat sepenuhnya setuju dengan pendirianku.

“Noah—aku tidak akan mencobanya. Aku akan fokus pada keselamatan dalam petualanganku mulai hari ini dan seterusnya.”

“Pembohong,” godanya sambil menempeleng keningku pelan.

“Aku harus segera bangun,” kataku. “Aku harus pergi ke Laphroaig.”

“Kau benar. Manfaatkan kesempatan ini untuk bersantai selagi bisa.”

Aku membungkuk kepadanya lalu terbangun dari tidur.

◇

Kami saat ini sedang dalam perjalanan menuju kota runtuh Cornet. Kali ini, kami bepergian dengan kereta kuda—setelah semua perjalanan dengan kapal udara Fujiyan, cara bepergian ini terasa sangat lambat.

Aku mengintip keluar jendela. Yang mendampingi kami adalah ksatria berkuda, infanteri, penyihir, dan staf pendukung. Semua personel adalah anggota Ksatria Soleil. Dan orang yang memimpin mereka adalah…

“Sir Makoto, kudengar ini adalah ekspedisi pertamamu bersama militer. Bagaimana keadaanmu?”

Pertanyaan ini (serta senyuman yang menyertainya) datang dari Ortho, komandan divisi pertama Ksatria Soleil. Aku pernah bertarung bersamanya melawan amukan monster di Highland. Owain atau Sakurai mungkin menugaskannya kepadaku karena kami pernah bekerja sama sebelumnya, dan aku sangat berterima kasih atas kehadirannya. Berbicara dengan orang baru sungguh sulit bagiku!

“Perjalanannya menyenangkan, tapi… apakah benar-benar tidak apa-apa bagi kita untuk memiliki kereta kuda yang begitu besar?”

“Bagaimana kamu bisa bertanya begitu? Kereta ini telah disita untuk dua pahlawan dan putri Rosalie. Tentu saja megah—itu sudah wajar.”

Kurasa begitulah kenyataannya. Ortho memegang komando pasukan, jadi setelah kami selesai berbicara, dia kembali ke tengah formasi. Di dalam kereta kami yang besar, aku duduk berhadapan dengan Lucy, Sasa, dan Furiae (yang memangku Twi).

“Asyik, aku belum pernah naik kereta kuda sebelumnya!” seru Sasa, mengobrol riang seperti anak kecil.

Hadirin sekalian, Pahlawan Resmi Negara Great Keith… Aku punya firasat bahwa tidak akan ada yang mempercayainya saat pertama kali bertemu dengannya.

“Tunggu, ini satu-satunya kesempatanmu naik kereta kuda?” tanya Lucy kepadanya.

“Ya! Sebelumnya aku hanya pernah bepergian dengan kapal udara dan pegasus.”

“Tak satu pun dari itu yang tergolong normal!”

“Bukannya ya?”

Mereka berdua membuat cukup banyak keributan. Rasanya seperti mereka sedang pergi darmawisata sekolah. Sementara itu, Furiae tetap terdiam seribu bahasa. Dia bahkan tidak membuka mulutnya dan hanya menatap ke luar jendela.

Dia agak aneh sejak kami ditugaskan ke Cornet.

“Kamu tampak murung, Putri,” kataku, dengan nada yang jelas menunjukkan kekhawatiran. Sebenarnya aku sempat menawarkan agar dia tetap tinggal di Highland bersama Putri Sophia, tapi dia bahkan semakin tidak mau tinggal di negara itu. Itu masuk akal—paus suci itu jelas merupakan sosok yang patut diwaspadai.

Terjadi keheningan yang cukup lama, dan kemudian Furiae berbicara dengan suara bergumam. “Sebagai seorang pendeta wanita, aku selalu dikelilingi oleh begitu banyak orang beriman. Hampir semuanya adalah cambion yang tidak punya tempat lain untuk dituju.”

Kata “cambion” langsung mengingatkanku pada Sekte Ular…tetapi bukan itu maksudnya di sini. Para cambion yang dia maksud bukanlah penjahat, melainkan warga yang tertindas, sama seperti orang-orang yang tinggal di daerah kumuh Highland.

“Saat aku bilang ‘orang beriman,’ yang kumaksud adalah mereka yang mengikuti Naya, bukan para pemuja Typhon dari Sekte Ular. Aku menyuruh rakyatku untuk lari ketika para ksatria dari Highland menangkapku. Dan aku menyuruh mereka untuk tidak mencariku.”

Lucy, Sasa, and aku mendengarkan dengan tenang.

“Meskipun begitu, aku yakin mereka tetap mencariku. Sebagai Pendeta Wanita Bulan, aku praktis sudah menjadi panutan mereka. Sebagian dari mereka mungkin mengira aku sudah mati dan meratapinya…tetapi yang kulakukan selama ini hanyalah bersenang-senang di luar negeri.”

“Fuu…” gumam Sasa. Lucy dan aku bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

“Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara menghadapi mereka,” aku Furiae sambil mendengus mencela diri sendiri.

“Kamu hanya perlu menunjukkan kepada mereka betapa baiknya keadaanmu sekarang!” seru Sasa.

“Betul sekali,” setuju Lucy. “Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun!”

Aku mengangguk. “Dan kami akan membantumu mencari orang-orang yang kamu kenal.”

Kami bertiga sepemikiran. Ortho pasti bersedia memberi kami sedikit kelonggaran—dia adalah pria yang pengertian, jadi dia akan pura-pura tidak tahu. Secara kiasan, setidaknya, dia akan sangat memerhatikan.

“Kita tidak bisa bertindak sesuka hati di tengah-tengah barisan,” protes Furiae. “Tapi…” Dia berhenti sejenak untuk berpikir. “Kurasa… baiklah, aku akan memikirkannya.” Dia tersenyum, dan ada sedikit lebih banyak kehidupannya dalam ekspresinya sekarang.

Suasana di dalam kereta kuda menjadi jauh lebih cerah setelah itu, dengan ketiga gadis itu yang mendominasi percakapan.

Malam itu, begitu kami mencapai jarak yang kami rencanakan, barisan tersebut berhenti untuk mendirikan perkemahan. Perjalanan kami berjalan dengan lancar.

“Aku tidak bisa tidur…” gumamku. Aku tidak terbiasa bepergian dengan kereta kuda, terutama saat dikelilingi oleh begitu banyak orang yang tidak kukenal. Namun, semua orang terlelap dengan cepat…

Kupikir aku biasanya begadang untuk berlatih.

Lucy dan Sasa saling berpelukan di salah satu tempat tidur kereta kuda yang sempit, mendengkur dengan lembut. Sebenarnya, kenapa mereka malah menggunakan tempat tidur yang sama? Padahal ada satu untuk masing-masing dari kami… Mereka benar-benar sudah menjadi sangat akrab.

Yah, kurasa aku akan tetap berlatih sedikit kalau begitu.

Aku mengaktifkan Stealth untuk memastikan aku tidak membangunkan mereka berdua saat aku pergi, lalu keluar dari kereta kuda. Aku mengangguk kepada Ksatria Soleil yang sedang berjaga saat aku berjalan pergi untuk mencari air guna latihan. Tidak ada satu pun awan yang melayang di langit. Bulan purnama sepertinya akan tiba dalam beberapa hari lagi, jadi jalanan diterangi dengan cukup terang.

Di bawah kilau cahaya bulan, aku melihat sebuah siluet gelap.

Huh? Apa itu seseorang?

Aku mengamat-amati sosok itu dan tak lama kemudian mengenali Furiae—rambut panjang dan gaun gelapnya seolah membaur dengan malam.

Rasa khawatir memenuhi diriku karena aku tidak ingin dia berkeliaran sendirian. Namun, sebelum aku sempat memanggilnya, dia berbalik. Dia juga telah menyadari keberadaanku.

“Halo, Ksatria-ku.” Dia menatapku, dengan tangan bertaut di belakang punggungnya. Tatapannya lembut, berbeda dari tatapan setengah sinis yang biasa dia tunjukkan. Cahaya bulan memberinya aura yang bagaikan makhluk surgawi, seperti bunga yang akan rapuh dan hancur pada sentuhan pertama.

“Ada apa, Princess?” tanyaku. Aku bertanya-tanya apakah dia masih terjebak dalam penyesalan karena meninggalkan para umat lainnya di Laphroaig.

Dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya membiarkan tatapannya mengarah ke mana-mana. Apakah dia merasa kesulitan untuk mengungkapkan isi pikirannya? Aku hanya menunggu dalam diam.

“Jika…” gumamnya. “Jika aku benar-benar Penyihir Bencana… seseorang yang ditakdirkan untuk membawa kehancuran bagi dunia… apa yang akan kamu lakukan?”

Cara dia merangkai kalimat itu menggangguku. “Apakah Paus itu masih membuatmu khawatir?” tanyaku.

Bagaimanapun juga, dia praktis adalah pemimpin dari keyakinan terorganisir Dewa Suci, dan dia telah mengecam Furiae sebagai musuh dunia. Bahkan Ira—meskipun memiliki pandangan masa depan yang biasa dia miliki—tidak dapat melihat masa depan Furiae.

Hal itu pasti sedang mengganggunya. Menyadari hal ini, aku menjawab pertanyaannya dengan seceria mungkin. “Masa depan kan tidak tertulis di atas batu, tahu?”

“Begitu juga dengan takdir yang tidak mudah diubah,” sanggahnya.

“Lagi pula,” lanjutku, “Ira tidak bisa melihat masa depanmu, jadi tidak ada seorang pun yang tahu seperti apa akhirnya nanti.”

“Itu… benar juga…”

Aku bisa tahu bahwa kondisinya benar-benar sedang tidak baik. Bukan hanya karena kembali ke Laphroaig—tetapi juga perundungan yang telah dia derita di Highland.

Sungguh… aku ini kesatria pelindung yang tidak berguna…

Aku mencoba memikirkan hal lain untuk dikatakan yang mungkin bisa menghiburnya, tetapi dia lebih dulu membuka suara.

“Jika… seandainya aku menjadi musuh dunia… apakah kamu akan tetap menjadi kesatria pelindungku?”

Biasanya dia begitu angkuh, tetapi pertanyaan ini sarat akan rasa gentar. Matanya yang berkaca-kaca memancarkan tatapan gelisah yang sama seperti saat pertama kali dia menyuruhku untuk menjadi kesatria pelindungnya.

insert4

Hanya ada satu jawaban yang akan kuberikan untuk pertanyaan itu.

“Kalau begitu, kita cocok.”

Ada keheningan yang panjang.

“Apa?” tanyanya datar.

“Kamu akan menjadi musuh dunia. Aku sudah menjadi salah satunya karena aku mengikuti dewa jahat,” jelasku. “Kita akan menjadi musuh dunia bersama-sama!”

“Kamu benar-benar…”

Kupikir itu adalah jawaban yang cukup cerdas, tetapi Furiae tampak seperti baru saja meminta minuman dingin dan aku malah membawakannya secangkir teh panas mengepul.

Eh? Apa itu jawaban yang salah? Sialan! Apakah ini efek samping dari Calm Mind lagi?

Kamu tahu Calm Mind sama sekali tidak ada hubungannya dengan kemampuan membaca suasana, kan? Noah bersuara di dalam benak.

Ayolah, Dewi. Itu membuatku terdengar seperti seseorang yang tidak bisa menangkap sinyal.

Itulah persisnya yang kumaksud…

Entah apa yang sedang diracaukan oleh Noah?

Hei!

“Tidak masalah,” kata Furiae. “Maaf atas pertanyaan yang aneh tadi.” Tampaknya sikap sinisnya yang biasa telah kembali. Dia melipat kedua tangannya dan memberiku senyuman tajam. “Jadi, ksatria-ku. Bahkan jika aku menjadi musuh dunia, teruslah melindungiku,” pintanya.

“Tentu saja, Putri.”

Itu adalah sebuah janji yang diucapkan lebih mirip obrolan santai di bawah langit yang disinari bulan.

“Ngeong.”

Twi tak lama kemudian datang melingkar di sekitar kakinya.

“Oh, kamu ingin berada di pihakku juga?” tanya Furiae, mengelus dagu kucing itu dan mendapatkan dengkuran puas sebagai balasan. Twi pada titik ini sudah menjadi kucingnya dalam segala hal kecuali status.

“Sebenarnya kamu ini familiar siapa?” gerutuku.

“Milik ksatria-ku, tentu saja. Buat apa lagi dia bermanja-manja dengan nyonyamu?”

Aku terdiam sejenak. Jadi begitu cara kerja hierarkinya. Twi dan Furiae berada di atasku dalam hierarki itu. Mengerti.

“Aku akan segera tidur. Bagaimana denganmu?” tanya Furiae.

“Aku akan berlatih beberapa jam dulu.”

“Jangan berlebihan.”

Setelah meninggalkanku dengan peringatan itu (yang agak mirip dengan ucapan Noah), dia kembali ke kereta.

Beberapa hari berlalu dengan cara yang sama, kereta melaju di siang hari dan kami bersantai di malam hari. Dan setelah beberapa hari itu, kami akhirnya tiba di reruntuhan Cornet.

Laphroaig dulunya—setidaknya seribu tahun yang lalu—adalah negara yang makmur. Istana Bulan yang terletak di ibu kota konon merupakan yang terindah di dunia.

Mengapa negara ini makmur di zaman kegelapan pemerintahan iblis?

Semua itu berkat putri negara tersebut, Penyihir Bencana. Dia telah bersekutu dengan Iblis. Pada saat itu, hal ini merupakan sebuah rahasia—Laphroaig dikenal sebagai negara keajaiban, tempat yang terhindar dari invasi karena alasan yang tidak diketahui.

Sang penyihir telah mendorong kebijakan keharmonisan antara manusia dan iblis… melalui pernikahan silang. Dia mendesak kelahiran lebih banyak cambion—anak-anak yang lahir dari percampuran manusia dan iblis—untuk meningkatkan hubungan antar ras. Anak-anak ini dimaksudkan untuk bertindak sebagai penghubung yang menyatukan kedua ras tersebut.

Namun, metode ini ternyata merupakan pilihan yang buruk.

Dia telah menggunakan Sihir Pengaruh miliknya untuk memaksakan keadaan tersebut tanpa persetujuan dari kedua belah ras, dan banyak penyatuan yang terjadi tanpa diinginkan oleh salah satu pihak pun. Perbuatan keji sang penyihir kemudian terbongkar oleh Abel sang Penyelamat, dan setelah kekalahan Iblis, Laphroaig dihancurkan habis-habisan. Pada saat itu, jumlah cambion terlantar yang sangat besar telah berubah menjadi para pengungsi.

Keburukan Penyihir Bencana hampir tidak mereda, bahkan setelah seribu tahun lamanya. Dan hari ini, negeri ini menjadi tempat tinggal bagi banyak cambion.

Tempat itu adalah ibu kota negara yang telah runtuh—Cornet.

“Jadi di sinilah tempatmu dibesarkan, Fuu?” tanya Sasa. “Hmmm…”

“Tempat ini agak… biasa saja,” kata Lucy.

Keduanya memilih kata-kata mereka dengan hati-hati.

Aku mengamat-ngamati sekitar. “Tidak ada apa-apa di sini.” Itulah kesan pertamaku terhadap tempat tersebut. Gundukan puing sesekali yang mungkin dulunya adalah bangunan tampak berserakan di mana-mana. Selain itu, tempat ini hanyalah tanah terbuka.

“Semua orang di sini tinggal di bawah tanah,” jelas Furiae. “Para pedagang dari Highland and Cameron datang melalui permukaan.”

“Eh? Kenapa hal itu penting?” tanya Sasa.

“Karena mereka sedang mencari para wanita dan anak-anak cambion untuk dijadikan budak,” gerutu Furiae. “Lagi pula, kita tidak punya hak.”

“I-Itu keterlaluan…!” seru Sasa.

Perkataan Furiae terasa begitu berat bagi kami. Sejujurnya, aku tidak tahu harus berkata apa.

“H-Hei!” seru Lucy, memecah keheningan. “Dulu waktu aku masih kecil, aku diberitahu kalau aku tidak boleh keluar dari hutan. Mereka juga mengincar para elf untuk dijadikan budak. Terutama setengah elf yang imut sepertiku, sepertinya.”

“L-Lucy?! Kamu tidak pernah bilang begitu sebelumnya!” teriakku.

“Oh, apa aku belum pernah bilang?” tanyanya.

Aku tahu dia ikut bicara untuk mencoba mencairkan suasana, tetapi pengakuannya itu sungguh mencemaskan. Apakah Hutan Besar itu benar-benar sangat berbahaya? Terlepas dari semua itu… ya ampun, dunia ini benar-benar menakutkan!

Keheningan yang kelam menyelimuti udara, hanya dipecahkan oleh suara Twi yang mengeong. Saat itulah Ortho datang.

“Tuan Makoto, apa Anda punya waktu sebentar?” tanyanya.

“T-Tentu. Ada apa?” Fiuh, pergantian topik yang bagus.

“Kami akan mendirikan perkemahan sekarang. Malam ini, kita akan mengadakan konferensi jarak jauh dengan ibu kota melalui sihir komunikasi. Silakan bergabung dengan rapat tersebut. Silakan lakukan apa pun yang Anda inginkan hingga perkemahan selesai, tetapi jika Anda pergi lebih jauh, beri tahu seseorang terlebih dahulu. Selain itu, ada pantai di balik Istana Bulan, tetapi ada kemungkinan besar pasukan Forneus akan menyerang, jadi tetaplah waspada terhadap monster dan iblis. Tambahan lagi… kemungkinannya relatif kecil, tetapi Sekte Ular mungkin memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang, jadi waspadalah terhadap hal itu juga.”

Itu… banyak sekali peringatan. Benar-benar berada di medan perang sungguh meningkatkan ketegangan.

“Dimengerti, Ortho,” jawabku.

“Sampai jumpa nanti,” ujarnya, lalu bergerak pergi dengan cepat. Sebuah tenda besar sedang didirikan di kejauhan. Ortho memberikan instruksi kepada anak buahnya, dan aku sempat berpikir untuk pergi membantu, tetapi para ksatria ini adalah para profesional. Aku mungkin hanya akan menjadi penghalang.

Yang berarti… kelompok kami punya waktu luang.

Dan sekarang aku malah mengharapkan semacam pengawasan… Sebuah pikiran terlintas di benakku selama perjalanan: sebagian besar gereja dan para bangsawanlah yang begitu menentang dewa-dewi jahat dan Pendeta Wanita Bulan. Sebaliknya, para ksatria tampaknya tidak terlalu peduli tentang hal itu.

Jadi, apa yang harus kulakukan dengan waktu luang yang tak terduga ini?

Aku menoleh ke arah Furiae secara tiba-tiba. Sebagai balasannya, dia menatapku dengan tatapan penuh tanya.

“Apa?”

“Kamu tahu daerah sini, kan? Mau tunjukkan kami keliling?” pintaku. Saat berada di tempat baru, selalu yang terbaik adalah bertanya kepada penduduk lokal.

“Baiklah. Kurasa itu tidak masalah,” jawabnya, sambil berbalik dan memimpin kelompok kami pergi.

“Fuu, kamu berjalan terlalu cepat!” protes Sasa.

“Kami ikut denganmu, Fuuri,” kata Lucy. “Pergi sendirian itu berbahaya.”

Sasa dan Lucy langsung bergegas menyusulnya, dan aku mengikuti di belakang mereka sambil tetap mengaktifkan Scout. Hanya sedikit bangunan yang masih berdiri, tetapi sisa-sisa jalan yang diaspal tampak jelas di sepanjang tanah.

Furiae melangkah di sepanjang jalan yang hancur itu tanpa ragu-ragu.

“Tidak ada yang berubah sama sekali,” gumamnya. “Bukannya itu terlalu mengejutkan.”

“Benarkah?” tanya Sasa.

“Sungguh. Aku tumbuh besar di reruntuhan ini selama lebih dari belasan tahun…” Furiae kemudian terkikik. “Aku tidak akan pernah bosan dengan pemandangan ini.”

Ada rasa senang yang tersembunyi di balik kata-katanya, jadi mungkin dia sedikit merasa lebih baik.

“Aku selalu merasa itu tidak adil, melihat Highland dan Roses… Semua orang hidup di alam terbuka, tapi kaumku disembunyikan seperti tikus tanah.” Dia terkikik lagi. “Setiap kali aku menyaksikan kebahagiaan dari mereka yang tidak pernah harus meminum air lumpur… Aku dengan senang hati bisa membunuh mereka.”

Tidak, tidak ceria! Terlalu banyak kegelapan di dalam hatinya…

“T-Tunggu…” kataku terbata-bata. “Putri Noelle juga menentang sistem kelas, jadi mungkin akan ada lebih sedikit diskriminasi begitu dia naik takhta.” Aku pernah mendengar seseorang menyebutkan fakta itu di suatu waktu.

“Aku meragukannya,” jawab Furiae. “Dia berbicara tentang menghapus diskriminasi terhadap elf dan para manusia buas, tapi bukan berarti dia berpikiran sama tentang para cambion. Lagipula, gereja bahkan tidak menganggap cambion sebagai manusia.”

“Aku… pernah mendengarnya,” kata Lucy dengan muram.

Highland tentu saja dipenuhi dengan pandangan diskriminatif yang parah. Mengingat bagaimana sikap sang paus, aku benar-benar bisa membayangkan seberapa mendalam pandangan itu.

“Lagipula, bagaimana bisa kamu mengandalkan wanita itu?!” bentak Furiae dengan marah. “Ksatria-ku, sejak saat dia lahir, semuanya sudah diberikan kepadanya. Aku tidak mau mendengar apa pun lagi tentang Pendeta Wanita Matahari!”

Kurasa dia tidak mendapatkan segalanya sejak lahir… pikirku. Bagaimanapun, dia tadinya berada di urutan ketiga pewaris takhta. Dan kenyataannya, dia hanya naik dalam garis suksesi setelah bertunangan dengan Pahlawan Cahaya—Sakurai. Dia hanyalah separuh dari pasangan tersebut. Sampai saat itu, dia pasti mengincar posisi paus dan melatih dirinya sebagai seorang pendeta wanita.

Putri Sophia menyebut Putri Noelle sebagai orang yang jauh lebih baik dan pekerja keras, jadi aku pun telah membentuk citra seperti itu tentangnya… Tetap saja, ini bukan waktu atau tempat yang tepat untuk membahasnya.

“Aku tidak akan membahasnya lagi,” aku meyakinkan Furiae. Kemudian, mengalihkan pembicaraan, aku bertanya, “Ngomong-ngomong, kita mau pergi ke mana?”

“Ke sana,” jawabnya sambil menunjuk. Sebuah bukit agak kecil menjulang dari bentang alam di arah itu—tumpukan besar batuan bata terletak di atasnya. Meskipun sekarang tempat itu jelas terhitung sebagai reruntuhan, sisa-sisa arsitektur yang tertinggal benar-benar tampak seperti sebuah bangunan yang dulunya megah.

“Di situlah Istana Bulan berada. Aku tinggal di bawahnya,” jelasnya.

Mendengar itu, kami pun turun.

“Wah, ada banyak sekali ruang di bawah sini,” komentar Sasa.

“Apakah dulunya ini lorong-lorong rahasia?” tanya Lucy.

Mereka berdua mengamati sekeliling dengan penuh minat. Saat ini kami berada di area melingkar yang luas, dengan banyak terowongan yang bercabang dari titik pusat tersebut.

“Memang benar,” jawab Furiae. “Istana yang dulu hampir memiliki labirin lorong rahasia di bawahnya. Tempat itu dirancang sebagai jalur pelarian untuk masa perang.”

“Tempat ini mirip seperti ibu kota Great Keith,” kataku sambil mengenang saat-saat mencari Sekte Ular di lorong-lorong bawah tanah bersama Ksatria Pembawa Pesan.

Mereka telah menggunakan ritual pengorbanan di terowongan-terowongan itu untuk mencoba menghancurkan kota… Aku akan menyiapkan Scout…untuk berjaga-jaga, pikirku, memastikan skill-ku siap digunakan.

Skill itu langsung menemukan sesuatu.

“Sasa, Lucy! Ada orang-orang yang bersembunyi di sebelah sana. Putri, kemarilah!” seruku.

“B-Baiklah,” gerutu Furiae sambil berlari cepat menghampiriku.

Namun, orang-orang yang bersembunyi itu bergerak lebih cepat.

“Jangan melawan.”

“Bunuh para ksatria itu!”

“Selamatkan Lady Furiae!”

“Demi kemuliaan para cambion!”

Tiba-tiba, sosok-sosok yang bersembunyi di dalam bayangan berhamburan menyerang kami. Orang yang berada paling dekat dengan orang-orang bertopeng itu… adalah Sasa.

“Jika kau ingin dia selamat— Gauh!”

Sang pemimpin sepertinya memutuskan bahwa Sasa tampak cukup lemah dibandingkan kami yang lain, jadi dia mencoba untuk menangkapnya… dan malah terpental jauh.

Sasa memasang ekspresi kosong di wajahnya dan mengulurkan tangan kanannya ke depan. Aku bahkan tidak melihatnya melayangkan pukulan.

Para penyerang lainnya langsung berhenti seketika.

Yups, dialah yang terkuat di antara kita, batinku kepada sang pemimpin.

“Apakah mereka dari Sekte Ular?” tanya Lucy heran. Dia mengangkat tongkatnya di atas kepala, bersamaan dengan bola api bergemuruh berdiameter lima meter. Selalu terasa mengintimidasi saat melihat bola api milik Lucy. Terkena salah satu darinya bahkan tidak akan menyisakan tulang—aku yakin itu.

“Makoto, akan kupecahkan semuanya,” gerutunya.

“Tentu. Tapi sisakan pemimpinnya. Kita akan membawanya kembali ke Ortho.”

“Baiklah!” serunya dengan kedipan nakal. Seluruh percakapan kami itu jelas-jelas hanyalah sebuah lelucon.

Bola api raksasa itu mulai membesar saat Lucy menuangkan lebih banyak cadangan mana-nya yang tidak masuk akal ke dalamnya. Itu mungkin akan menghancurkan seluruh istana jika dia melepaskannya… dan kita juga akan terkubur hidup-hidup jika dia melakukannya.

Terus, dan terus. Dia terus memompa mana ke dalam bola api yang tidak akan pernah dia luncurkan itu. Udara menjadi semakin kering, pecahan mana terbakar di udara, dan bernapas pun menjadi lebih sulit.

Orang-orang yang menyerang kami pasti merasa sangat ketakutan.

Tiba-tiba, pria yang tadi diterbangkan oleh Sasa mengeluarkan teriakan. “T-Tunggu! Jika kalian ingin membunuh kami, bunuh saja aku! Tolong, biarkan yang lain pergi!” mohonnya.

“Oh, kau tampak familier…” gumam Furiae, melangkah keluar dari belakang kami. “Havel, itukah kau? Apa yang sedang kau lakukan?”

“Nona Furiae! Ahhh… tidak disangka hari ini akan tiba di mana aku bisa melihat wajah Anda lagi! Rekan-rekan kami akan menyelamatkan Anda! Anda hanya perlu menunggu!”

Orang-orang ini…

“Temanmu?” tanyaku padanya.

“Mereka… Ksatriaku, penyihir, bisakah kalian menunggu sebentar?”

Sebagai tanggapan atas permintaan Furiae, Lucy membiarkan mantranya padam. Dia benar-benar sudah jauh lebih mahir dalam hal sihir. “Aku tidak pernah menyangka akan melihat hari di mana mantranya begitu bisa diandalkan…” gumamku.

“Apa? Makoto! Melihatmu begitu terharu karena bola api sama sekali tidak menenangkan!” tegur Lucy.

“Apa yang harus kita lakukan dengan mereka, Takatsuki?” tanya Sasa, sambil menunjuk ke arah kelompok yang memakai topeng itu.

“Nona Furiae!”

“Pendeta Wanita!”

“B-Bertemu denganmu lagi—”

“Adalah sebuah berkah.”

Kelompok itu telah melepas topeng mereka dan berlutut di lantai mengelilingi sang putri. Beberapa dari mereka meneteskan air mata, dan suara mereka bergetar seolah-olah mereka sedang berdoa kepadanya… Apa-apaan ini?

“Putri, bisakah kau memperkenalkan kami sekarang?” tanyaku sambil melambaikan tangan padanya.

“Lancang sekali kau berbicara kepadanya dengan cara seperti itu!” bentak sang pemimpin—Havel.

“Apa yang kau bilang?” tuntut Sasa, sambil mengaktifkan Menace.

Mereka semua menjerit kaget, dan Havel jatuh berlutut kembali. Yang lainnya juga ikut menciut ketakutan.

Itulah Menace Ratu Lamia… Benar-benar mengerikan!

“Tunggulah sebentar, kesatriaku!” perintah Furiae.

“Tentu saja,” jawabku sebelum duduk santai untuk melakukan hal itu. Sejauh yang kulihat, kami sepertinya tidak perlu khawatir mereka akan menyakitinya.

Lucy, Sasa, dan aku menunggu yang lainnya selesai berbicara. Aku hanya mengamati mereka dengan pandangan kosong.

“Hei, Makoto… Apa kau menyadarinya?” bisik Lucy penuh arti ke telingaku. “Mereka semua tampak…”

“Ya, mereka semua adalah cambion.”

Orang-orang di sekitar Furiae semuanya memiliki tanduk, mata merah, atau sejenisnya—ciri-ciri iblis. Mereka persis seperti anak-anak cambion yang kami temui di panti asuhan di Highland. Orang-orang ini semuanya secara jelas memiliki hubungan darah dengan iblis. Selain itu, tadinya aku mengira mereka semua laki-laki, tetapi setidaknya ada satu wanita muda di antara mereka. Hubungan seperti apa yang dimiliki orang-orang ini satu sama lain?

Furiae berbicara dengan mereka sejenak sebelum meninggalkan mereka dan menghampiriku.

“Aku minta maaf, kesatriaku. Mereka mengikuti Naya seperti aku, dan mereka ingin balas dendam kepada para kesatria Highland karena telah membawaku pergi. Bisakah kau memaafkan perilaku mereka…?”

“Hmm…”

Yah, secara teknis, mereka memang menyerang kami. Karena Sasa begitu kuat, itu tidak benar-benar menjadi masalah, tapi seandainya mereka mengincar Lucy… Sebenarnya, tidak, dia pasti bisa mengatasi sesuatu—dia sudah menjadi cukup kuat akhir-akhir ini.

Aku adalah yang paling lemah dalam pertarungan jarak dekat. Sekarang, bagaimana cara menjawabnya?

“Hukuman bagi seorang cambion yang menyerang seseorang adalah kematian… tanpa terkecuali…” tambah Furiae.

“Apa?!” seru Sasa kaget. Aku sependapat dengannya—itu hukuman yang sangat ekstrem.

“Itulah sebabnya kamu ingin aku melepaskannya?” tanyaku.

“M-Maukah kamu?” tanyanya, dengan ekspresi ketakutan yang jelas di wajahnya. Dia pasti dekat dengan mereka. “Aku… tinggal bersama mereka saat masih muda. Aku tentu saja tidak ingin melihat mereka dibunuh.”

“Jadi kalian teman masa kecil…?” Jika iya, wajar saja jika dia ingin menyelamatkan mereka.

Aku melirik Lucy dan Sasa.

“Terserah kamu saja yang memutuskan,” kata Lucy.

“Aku tidak melihat ada masalah dengan itu,” ujar Sasa. “Tidak ada yang terluka.”

“Jika kalian berdua berkata begitu,” jawabku sebelum menoleh ke Furiae. “Aku tidak melihat apa pun yang terjadi.”

“K-Kau yakin…?” tanyanya.

“Ya. Meskipun begitu, pastikan mereka tidak menyerang Ksatria Soleil lagi.”

“Terima kasih, kesatriaku.”

Jika salah satu teman masa kecilku—misalnya, Sakurai atau Sasa—berada dalam bahaya kematian, aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan mereka. Aku tidak akan pernah sanggup hanya menonton mereka dieksekusi. Tentu saja, aku tidak dapat membayangkan salah satu dari mereka berada dalam bahaya… Jika ada, aku-lah yang paling berada dalam risiko.

“Terima kasih, Lady Furiae… Dan mohon maaf dari kami sekalian.”

Kenalannya semuanya menundukkan kepala. Meskipun, aku harus akui, tidak ada satupun dari mereka yang terdengar seperti teman masa kecilnya. Kurasa itu pasti karena betapa pentingnya posisi Furiae bagi mereka.

“T-Tapi!” Salah satu dari mereka bersuara. “Kau memanggilnya kesatramu… apakah dia kesatria pelindungmu, Lady Furiae?”

“Ya, benar.”

“Kenapa?! Kami rela menyerahkan nyawa kami demi Anda!”

“Betul sekali! Dia hampir tidak memiliki aura atau mana sama sekali! Aku meragukan kemampuannya untuk melindungimu!”

“Kumohon! Kembalilah kepada kami!”

Mereka praktis membenamkan kepala ke lantai saat memohon kepadanya.

Teman-teman, bisakah kalian tidak begitu saja mengabaikan diriku?

“Ksatriaku adalah Pahlawan Mawar. Dia juga mengalahkan Bifrons di Springrogue.”

Terdengar suara kebingungan dan keterkejutan secara bersamaan.

Apakah aku benar-benar terlihat begitu lemah?

“Prajurit yang melenyapkan Havel itu adalah pahlawan Great Keith.”

Kali ini, kelompok itu mengucapkan kata-kata tanda mengerti.

Oh, jadi kalian bisa menerima hal itu!?

“Kalian melihat mana penyihir itu tadi. Seratus orang dari kalian pun tidak akan cukup untuk mengalahkan mereka. Dan lagi… jika aku memilih seorang cambion sebagai ksatria pelindungku, Ksatria Kuil Highland akan langsung membunuh mereka di tempat.”

Semua orang terdiam.

“Ugh. Kau, siapa namamu?” tanya sang pemimpin—Havel—kepadaku.

“Makoto Takatsuki…”

“Makoto Takatsuki… kalau begitu, orang dari dunia lain?”

Dia mendekatiku hingga wajah kami nyaris bersentuhan. Pria itu memiliki rambut perak dan kulit gelap. Fitur wajahnya cukup tampan, tetapi mata merah dan tanduk di dahinya mengungkap identitasnya sebagai seorang cambion.

“Tolong… jaga Lady Furiae,” gumamnya, hampir dengan tatapan tajam saat dia menundukkan kepala dengan enggan.

“Akan kulakukan.” Bukan berarti aku butuh dia untuk memberitahuku hal itu.

“Lady Furiae, aku tidak yakin seberapa besar bantuan yang bisa kami berikan, tetapi jika Anda membutuhkannya, seluruh Laphroaig akan berdiri bersama Anda.”

Setelah mengucapkan kata-kata perpisahan itu, pria tersebut memberi isyarat kepada yang lain dengan sebuah pandangan, dan mereka bersiap pergi.

“Tunggu,” panggil Furiae kepada mereka. “Pasukan raja iblis sedang menuju ke benua ini. Apakah kalian semua tahu itu?”

“Ya, kami tahu… tapi ini tetaplah satu-satunya tempat yang tersisa bagi kami,” jawab Havel dengan senyuman penuh kesedihan.

“A… aku mengerti. Hati-hatilah di jalan.”

Para cambion membungkuk sekali lagi sebelum menghilang ke salah satu lorong.

Setidaknya kita berhasil menghindari pertarungan yang tidak ada gunanya. Meskipun begitu, masih ada sesuatu yang menggangguku…

Aku mungkin akan dituduh tidak bisa membaca situasi karena hal ini… tapi yah, kita sedang berada dalam perang.

“Um… Yang Mulia Putri?”

“Ada apa, ksatriaku?”

“Ah, yah, rasanya agak canggung untuk menanyakannya, tapi…”

Aku sedang berusaha memutuskan bagaimana cara merangkai kata-katanya ketika dia memotong ucapanku.

“Kamu khawatir mereka terhubung dengan Sekte Ular?”

“Yah… ya.”

“Aku menduga kamu mungkin mengkhawatirkan hal itu, jadi aku menggunakan sihir Charm-ku untuk mendengarkan niat mereka. Mereka tidak berbohong—mereka sama sekali tidak punya hubungan dengan pasukan tersebut.”

“Oh, baiklah.” Dia memang selalu memerhatikan keadaan, dan aku merasa lega dengan jaminannya.

Sekarang saatnya kembali ke Pasukan Ksatria Soleil karena aku harus menghadiri pertemuan malam ini. Saat kami berjalan kembali ke tempat perkemahan, aku merasakan sesuatu mencolek bahuku.

“Katakan padaku… ksatria-ku?” tanya Furiae, mendongak menatapku dari balik bulu matanya.

“Ya?”

“Bagaimana kalau aku tadi berbohong? Bagaimana kalau mereka benar-benar bekerja untuk para iblis?”

“Apakah kamu berbohong?”

“Yah, tidak sih, tapi…”

“Kalau begitu aku percaya padamu.”

Matanya membelalak.

“Ada apa?” tanyaku.

“Pasti ada wanita yang akan memanfaatkanmu seperti itu!” serunya sambil menghindari tatapanku.

Aku tidak mengerti bagaimana aku telah membuatnya kesal.

“Lihat betapa merahnya wajah Fuu. Apa yang kau katakan padanya?” goda Sasa, menggantikan posisinya.

“Tidak ada apa-apa sebenarnya,” kataku.

“Hmm.”

“Apa kau sengaja melakukannya?” tanya Lucy. “Atau itu memang sudah sifat alamimu?”

Dia pasti menguping percakapan kami.

“Apa yang dia katakan?” tanya Sasa kepadanya.

“Bahwa dia mempercayai Fuuri.”

“Yah, kalian berdua juga tidak mengira dia berbohong, kan?” kilahku. “Makanya.”

Mereka berdua hanya menatapku dengan aneh sejenak.

“Penjilat.”

“Perusak wanita.”

Pemain wanita.

Sekarang bahkan Noah ikut menyalahkanku!

“Bukankah seharusnya kita fokus untuk kembali?” seru Furiae kepada kami. “Kau punya pertemuan malam ini!”

Wah. Sialnya aku tidak boleh terlambat ke acara itu.

Maka, kami pun melanjutkan perjalanan ke tempat perkemahan. Begitu tiba, kami langsung digiring ke dalam tenda besar di tengah-tengah.

“Wah…”

“Ini sama seperti di Springrogue.”

Di dalam, segudang bayangan melayang di udara. Ini pasti sihir komunikasi yang mereka bicarakan tadi. Aku ingat waktu di Springrogue, kepala-kepala desa biasa menggunakannya untuk berunding satu sama lain.

Menurut Ortho, itu adalah mantra standar yang sekarang digunakan oleh militer semua negara.

Bayangan terbesar adalah komandan keseluruhan Ksatria Soleil, Owain. Aku bisa melihat Sakurai di sisinya, dan Grandsage juga ada di sana… sedang tidur?

“Sekarang, mari kita mulai,” kata Owain pelan. “Untuk memulai rapat strategi ini, mari kita bahas situasi di benua iblis.”

“Siap! Aku bisa mulai,” jawab salah satu bawahannya, membuat semua orang memusatkan perhatian padanya. “Pertama-tama, pasukan yang dipimpin oleh Zagan adalah…”

Dia membacakan apa yang kami ketahui tentang posisi, kekuatan, dan organisasi pasukan tersebut. Semua orang mendengarkan dengan ekspresi serius, mengangguk-angguk. Namun, karena aku datang dari dunia lain, semua itu sama sekali tidak masuk ke otakku. Mendengar nama-nama tempat yang berbeda dan nama-nama ras iblis yang lebih kecil tidak ada artinya bagiku.

Aku menoleh ke belakang—Sasa rupanya juga sudah bosan dan hanya sedang mengelus Twi.

Kau juga seorang pahlawan, tahu?

“Lucy, Putri, ada petunjuk?” tanyaku pelan kepada mereka.

Mereka berdua menggelengkan kepala.

“Yah… Aku sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang geografi benua itu…” jawab Lucy.

“Aku belum pernah meninggalkan Laphroaig sampai baru-baru ini, jadi aku tidak tahu.”

Sepertinya mereka tidak bisa memberikan wawasan apa pun. Jika Putri Sophia atau Fujiyan ada di sini, maka mereka mungkin bisa menjelaskannya…

Aku tinggal bertanya kepada Ortho nanti.

Para ksatria menyampaikan banyak informasi tentang tentara iblis, dan arus informasi intelijen itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat.

Tiba-tiba, aku melihat Putri Sophia di salah satu bayangan gambar. Dia berada di sebelah Putri Noelle, jadi mereka mungkin berada di kastil Highland. Aku juga melihat Estelle—Pendeta Wanita Keberuntungan—jadi mungkin mereka juga sedang mengumpulkan semua pendeta wanita.

Bayangan Putri Sophia membalas tatapanku. Dia tersenyum tipis, membentuk kata-kata tanpa suara. “Semoga berhasil,” sepertinya itulah yang dia ucapkan—sekadar dorongan semangat tanpa suara.

Haruskah aku membalasnya entah bagaimana? Aku sempat ragu tetapi pada akhirnya melambaikan tangan sebagai balasan.

“Pahlawan Mawar! Berhentilah merayu!”

Ugh!

Teriakan itu berasal dari Gerry—Pahlawan Petir.

Semua orang langsung menatapku.

“Santai sekali ya, sang elementalist? Kalau kamu bosan, kenapa tidak turun ke sini?” tanya Grandsage sambil tersenyum miring.

Semua tatapan yang kurasakan padaku terasa dingin… dan wajah Putri Sophia memerah.

Maaf, Sophia!

insert5

Putri yang lain di sisinya memberikan sedikit dukungan. Aku harus meminta maaf dengan benar nanti.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Lucy.

“Kesatriaku, apakah kau ini bodoh?”

“Ayolah, Takatsuki, kamu harus mendengarkan.”

Dimarahi oleh Lucy dan Furiae adalah satu hal… tetapi aku sama sekali tidak ingin mendengarnya dari Sasa!

“Yah, karena kita tampaknya membuat orang-orang bosan, mari kita tinggalkan laporan-laporan itu di sana untuk saat ini.”

Bahkan Komandan Owain pun ikut-ikutan… Nanti aku akan meminta maaf kepada semua orang karena telah menginterupsi konferensi ini.

“Lady Estelle,” kata Owain. “Tolong jelaskan langkah kita selanjutnya.”

“Baiklah,” jawabnya sambil melangkah maju. “Selama enam hari ke depan, pasukan Forneus akan mendarat.” Dia melanjutkan bicaranya dengan lancar. “Pantai-pantai Caol Ilan, Highland, Great Keith, Springrogue, dan Roses semuanya akan menghadapi penyerangan. Namun, kita tidak boleh memedulikan mereka—itu semua hanyalah pengalihan, jebakan untuk mengalihkan Pahlawan Cahaya dari pasukan utama kita.”

Semua orang dalam bayangan itu mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Pada malam ketujuh, Zagan akan menyerang Cameron. Dia bertujuan untuk membunuh Pahlawan Cahaya dan melemahkan negara tersebut secara keseluruhan. Seandainya dia gagal dalam tujuan utamanya, menggunakan Cameron sebagai medan pertempuran tetap akan melemahkan aliansi kita secara keseluruhan.”

Cameron adalah pusat logistik kita—menghancurkannya akan sangat menghambat kita.

“Masuk akal,” kata Jenderal Talisker setelah beberapa saat. “Namun, tindakan ini tampak jauh lebih bijaksana daripada yang biasanya kita harapkan dari para iblis.”

“Tepat sekali, Jenderal. Rencana itu bukan berasal dari para iblis, melainkan para cambion. Lebih tepatnya dari Uskup Agung Isaac, dari Sekte Ular terkutuk itu.”

“Para benalu itu… kita seharusnya membasmi mereka semua, entah itu Sekte Ular atau bukan!” Komentar berlebihan itu datang dari sang uskup.

Aku mendengar “tch” dari Furiae. Dia pasti tidak senang mendengar ucapan sang uskup. Aku menyampaikan permintaan maaf tanpa suara kepadanya, berharap dia tidak membuat keributan.

Aneh juga…

Jika apa yang dikatakan Estelle itu benar, bukankah Laphroaig tidak akan diserang?

Perempuan yang dibicarakan itu menoleh ke arahku, dan seolah membaca pikiranku, dia bersuara. “Ah, benar. Pasukan itu juga akan pergi ke reruntuhan Cornet. Di sana hanya ada para cambion saja, tetapi akan cukup merepotkan jika mereka mendirikan pangkalan di benua ini, jadi usir mereka jika bisa, rasul Noah.” Estelle—atau lebih tepatnya Ira—terdengar bosan saat menyampaikan instruksi tersebut.

“Aku mengerti.” Apakah dia benar-benar harus mengucapkan kata “rasul” seperti itu…?

“Apa kamu benar-benar mengerti?” balasnya. “Tujuan pertempuran kita adalah menghancurkan pasukan Zagan. Kemudian, untuk bersiap menghadapi kembalinya Iblis, kita harus mempertahankan kekuatan sebanyak mungkin. Pertempuran yang tidak ada gunanya sama sekali tidak boleh dilakukan. Rasul jahat, kamu dikenal suka berlari menuju bahaya, jadi apakah aku sudah cukup jelas?”

Dia berbicara seolah-olah dia telah mengawasiku, dan kurasa memang begitu… “Dia” yang dimaksud tentu saja adalah Ira.

“Besok, sekitar sepuluh ribu monster laut akan tiba di Laphroaig. Mereka kemungkinan besar akan tetap berada di luar jangkauan, memprovokasi kalian.”

“Besok?!” seruku. Itu cepat sekali!

“Namun, kalian tidak boleh keluar untuk melawan mereka. Monster-monster ini mahir dalam penyergapan, jadi mereka bahkan mungkin menyerang beberapa warga negara… Kita tidak boleh kehilangan para petarung. Biarkan saja mereka.”

Aku mendengar suara protes singkat yang bernada kesal dari Furiae atas instruksi yang dingin itu.

“Tentu saja. Cambion tidak lebih berharga daripada serangga. Tidak ada kebutuhan untuk menyia-nyiakan sumber daya kita demi mereka.” Pernyataan itu keluar dari mulut sang uskup, tetapi sebagian besar orang yang hadir menyetujuinya.

Keparat…

Aku tahu aku harus mengatakan sesuatu. Namun, tepat sebelum aku bisa melakukannya, Furiae menoleh kepadaku.

“Tahan, kesatriaku,” bisiknya.

“Putri?”

“Posisi daruratmu sedang buruk sekarang setelah mereka tahu di mana kesetiaanmu berada. Jangan buat lebih banyak masalah!”

“Tapi—”

“Jangan!”

Yah, jika Furiae bersikeras…

“Akan kuingat itu,” kataku kepada Estelle di layar.

Pendeta wanita itu mengangguk puas. “Bagus.”

“Pertemuan kita selesai sampai di sini. Jika ada perubahan apa pun, laporkan segera,” umum Owain, berbicara kepada seluruh kelompok.

Demikianlah pertemuan strategi antara keenam negara berakhir. Bayangan-bayangan itu berkedip padam satu demi satu. Namun, aku benar-benar merasa tidak tenang—aku harus bersantai.

Aku akan berlatih sedikit begitu kita dibebaskan.

Begitu semua bayangan menghilang, Ortho memanggil, “Pahlawan Makoto,” menghentikan langkahku.

“Ada apa?” tanyaku.

“Kamu tidak perlu khawatir tentang para cambion.”

Furiae dan aku menatapnya dengan penuh tanya.

“Putri Noelle memerintahkan kami untuk melindungi warga Laphroaig tanpa diskriminasi. Komandan Owain juga berpikiran sama.”

“Begitu ya?” Tak satu pun dari mereka yang mengatakan hal buruk tentang pendeta wanita atau paus sebelumnya…

“Posisi kami membuat kami tidak bisa berkata apa-apa untuk menentang Yang Suci, tetapi keputusan akhir dalam masalah militer berada di tangan komandan. Putri Noelle ingin menghapus rasisme, dan dia sependapat dengannya. Kami akan melindungi penduduk Laphroaig,” tegas pria itu dengan penuh keyakinan.

Jadi begitulah keadaan di balik layar.

Divisi pertama yang dipimpin oleh Ortho memiliki banyak veteran dan ksatria senior di jajarannya. Awalnya terasa agak aneh bagi mereka untuk mempertahankan Laphroaig, tetapi sekarang perintah itu menjadi masuk akal.

“Baguslah kalau begitu. Benar kan, Putri?”

Pertanyaan itu menggantung sejenak sebelum Furiae menjawab. “Memang. Dia berniat memperlakukan para cambion dengan adil.”

Meskipun menyetujuinya, ada raut wajah bimbang di wajahnya. Apakah karena Putri Noelle yang terlibat? Apa pun keraguannya terhadap sang pendeta wanita matahari, Furiae tetap harus bersyukur atas apa yang dilakukannya di sini. Terlepas dari alasannya, itu adalah satu hal yang tidak perlu dikhawatirkan lagi.

Aku mencoba untuk beranjak pergi lagi, tetapi Ortho meraih tanganku.

“Ortho?” tanyaku.

“Kita belum selesai, Tuan Makoto,” ujarnya, genggamannya semakin mengerat. “Pertemuan-pertemuan ini akan menentukan masa depan benua. Aku harus meminta agar kamu fokus pada hal tersebut.”

“B-Benar…” Dia sama sekali tidak salah.

“Kamu tampaknya tidak akrab dengan geografi benua iblis dan ras-ras yang membentuk tentara mereka. Aku akan menjelaskannya untuk referensi di masa mendatang. Apakah kamu punya waktu sekarang?”

Setelah beberapa saat, aku berkata, “Ya, tentu saja.” Melambaikan tangan kepada Putri Sophia selama pertemuan tadi jelas tidak diterima dengan baik oleh pria militer ini.

“Kalau begitu—Lucy, Sasa, Putri, kalian juga!” umumku.

“Apa?!” protes mereka bertiga.

Hei, aku tidak mau melakukan semua ini sendirian!

Pada akhirnya, kami harus duduk mendengarkan ceramah itu selama beberapa jam sebelum kami bisa pergi.

◇ Keesokan Harinya ◇

“Musuh terlihat! Kekuatan sepuluh ribu orang!” teriak dari para Kesatria Soleil yang berjaga.

“Estelle benar,” batinku merenung.

“Seperti yang diprediksi,” jawab Ortho dengan serius.

Kami berdiri di pantai di belakang Istana Bulan. Para musuh akhirnya sudah cukup dekat sehingga kami dapat melihat mereka dengan Clairvoyance. Monster-monster laut tampak keluar masuk dari pandangan di kejauhan. Masing-masing dari mereka memiliki panjang hampir sama dengan kapal nelayan.

“Tuan Ortho! Pengerahan pasukan di pantai telah selesai!”

“Tentu saja. Kita akan mengikuti arahan Lady Estelle dan tidak bertarung sesuai keinginan mereka. Mereka sedang mencoba memancing emosi kita.”

“Lalu bagaimana jika mereka menyerang?”

“Biarkan mereka mendekat semaksimal mungkin. Jangan biarkan mereka mendarat di daratan,” perintah Ortho.

“Dimengerti!”

“Apa yang kita lakukan untuk penjagaan malam?”

“Rotasi delapan jam, dua puluh empat jam sehari. Pergantian shift sudah dibagikan kepada regu-regu.”

“Bagus. Sekarang, hal berikutnya…”

Percakapan tegang antara Ortho dan bawahannya berlanjut untuk beberapa saat.

Aku teringat kembali pada ceramah kemarin. Kesalahpahamanku bahwa monster laut tidak akan menimbulkan masalah di darat telah diluruskan—hanya karena mereka hidup di lautan bukan berarti mereka tidak bisa naik ke pantai juga. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam air tetapi bisa tetap aktif di darat selama beberapa hari.

Dengan kata lain, tempat yang sedang kami pijak saat ini bisa berubah menjadi medan perang.

Sekali lagi, aku menatap hamparan air terbuka di hadapan kami. Sudah lama sekali… pikirku. Terakhir kali aku berada dekat laut adalah ketika aku mencoba mencapai Kuil Dasar Laut.

Hal yang penting adalah… bahwa lautan dipenuhi oleh elemental air.

“Hmm…” Aku melipat tangan sambil berpikir.

“Ada apa, Makoto?” tanya Lucy, menyandarkan kepalanya di bahuku dan menempelkan pipinya ke pipiku. Aku bisa merasakan kehangatannya di kulitku.

“Ada banyak sekali elemental air di sini,” jawabku. Aku belum pernah melihat sebanyak ini di satu tempat sebelumnya.

“Eh, benarkah? Kamu juga bisa melihatnya, Lu?” Sasa melompat ke punggungku, melingkarkan lengannya di atas bahuku dari belakang. Aku bisa merasakan tubuh lembutnya menempel padaku.

“Aku tidak bisa,” jawab Lucy. “Level sihir airku tidak cukup tinggi.”

“Hmph. Padahal kamu seorang penyihir, jadi kamu seharusnya bisa melihat mereka kalau kamu berlatih. Kalian berdua beruntung sekali,” keluh Sasa.

Dia dan Lucy terus mengobrol, semakin lama semakin mendekat ke arahku saat melakukannya.

“Teman-teman, kalian agak—”

Sebelum aku sempat menyelesaikannya, Furiae menyela.

“Jangan menempel terus pada ksatriaku!”

Kedua gadis itu memekik saat Furiae mencengkeram tengkuk leher mereka dan mengangkat mereka seperti anak kucing.

Furiae memang benar-benar kuat…

“Ngomong-ngomong, ksatriaku, bagaimana kalau kita kembali ke tenda saja?”

Sebenarnya kami telah diperintahkan oleh Ortho untuk menunggu—kami seharusnya bersiaga jika para monster menyerang. Aku ingin melihat para monster itu dengan mataku sendiri, jadi kami ikut menemani para ksatria.

Furiae mencuri-curi pandang ke arah para monster saat ia menyarankan agar kami pergi. Masuk akal jika ia merasa terganggu oleh pasukan di perbatasan tanah airnya.

“Turunkan aku sekarang juga!” protes Lucy.

“Fuu! Biarkan kami turuniii!”

Keduanya menendang-nendangkan kaki mereka ke udara. Sekali lagi, mirip seperti kucing.

“Turunkan mereka, Princess. Lagi pula, beri aku waktu sebentar.” Aku ingin memeriksa sesuatu, jadi aku mengangkat tangan kananku ke arah langit.

“×××××××××××××× (Elemental, elemental,)” panggilku… memicu awan untuk berputar dan mulai memuntahkan air. Bahkan semakin banyak elemental air yang berkumpul di sekitar kami, dan sejumlah besar mana mulai menyatu di tanganku. Rasanya cukup untuk merapalkan beberapa mantra tingkat raja.

“Ksatriaku… apa kau baru saja mengubah cuaca?” tanya Furiae, agak terkejut.

Lucy menatap lenganku dengan cemas. “M-Makoto, mana itu…”

“Wah! Dingin! Hi-yah! Hi-yah!” Sasa menepis setiap tetes air yang mendekatinya.

Wah…

Udara bergetar, dan permukaan laut tampak naik sedikit lebih tinggi sebagai tanggapan.

Semuanya berjalan lancar. Aku punya banyak mana…

Makoto, Laphroaig tidak terlalu terpengaruh oleh Dewa Suci, jadi ada lebih banyak elemental di sana daripada di tempat lain.

Masuk akal juga, Noah. Itu berita bagus—aku bisa mendapatkan pasokan mana yang stabil bahkan tanpa menggunakan lenganku.

“A-Ah… Tuan Makoto? Apa-apaan…?”

Aku menyadari bahwa Ortho telah datang mendekat. Aku memandangnya secara bergantian, lalu ke tanganku, dan ke arah para monster di kejauhan. Kemudian, aku teringat ekspresi khawatir di wajah Furiae.

Sebelum aku sempat memikirkannya dua kali, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

“Ortho, apa kau keberatan kalau aku menyingkirkan pasukan itu?”

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted