Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 7 Bab 2: Makoto Takatsuki Diserang Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 7 Bab 2: Makoto Takatsuki Diserang Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 2: Makoto Takatsuki Diserang

“Ayo kita mulai,” seru si wanita cantik berdarah campuran. Tubuhnya memancarkan aura jingga yang mengepul.

Pahlawan Pijaran… Olga Sól Talisker, pahlawan pilihan Sól…

Bertemu dengan pahlawan dan pendeta Great Keith setidaknya secara teknis adalah tujuan kami datang ke negeri ini. Kamu bisa bilang kalau saat ini kami sedang bersiap untuk perkenalan… tapi petarung di hadapan kami ini sama sekali tidak terlihat berniat untuk ngobrol santai.

Aku terkesiap; kepalan tangan Olga, yang semakin mendekat, mengarah ke wajahku.

M-Menghindar!

Aku menghindar, dan itu hampir saja… yah, aku hampir berhasil menghindar sepenuhnya, maksudku. Tinju itu menghantam bahuku dan aku pun terpental.

Aduh!

“Takatsuki!” teriak Sasa.

“Oh… itu tadi kena?” tanya sang pahlawan dengan kepala miring.

Kau yang memukulku! Jangan pasang ekspresi bingung begitu!

“Apa yang kau lakukan?!” tuntut Sasa, sambil menerjang ke arahnya.

“Wah, itu mengejutkan.” Meskipun secara lisan menyebutnya mengejutkan, dia sama sekali tidak terlihat terkejut saat menghadapi serangan yang datang.

Yang benar saja, Sasa tidak bisa mengatasi pertarungan jarak dekat?!

“Guh,” erang Sasa dengan panik.

“Sihir Air: Jarum Es,” mantranya kucurahkan, berusaha membantunya. Tanpa adanya elemental di sekitar, hanya itulah yang bisa kulakukan!

“Hm?”

Olga menghindarinya seolah itu bukan apa-apa?! Aku merapalkan mantra itu tepat di depan matanya… dan dia menghindar hanya dari melihat mantranya sepersekian detik?

“Menyebalkan,” ucapnya datar. Entah kenapa, terlepas dari serangan-serangan Sasa, dia malah sepenuhnya fokus padaku.

Menghindar!

Aku terbatuk saat sebuah pukulan menghantam perutku. Aku sama sekali tidak bisa menghindari serangannya—dia langsung menyesuaikan bidikannya begitu melihat skill-ku aktif.

“Berhenti, kau anak kecil!” teriak Sasa, menggunakan Dash dari kumpulan skill Action Game Player miliknya.

“Hmm… Kau cukup kuat untuk ukuran yang begitu imut,” komentar Olga, dengan mudah melakukan serangan balik.

“Argh!” jerit Sasa. Dia… terpelanting! Tubuhnya menghantam sebuah rumah terdekat.

“Aya!” panggil Lucy.

Sial, monster macam apa dia?! Apa Sasa baik-baik saja?

“Ada apa ini?” kudengar seseorang berkata saat kerumunan mulai berkumpul.

“Lady Olga sedang mengamuk.”

“Lagi? Siapa yang dia hadapi kali ini?”

Dia adalah seorang pelanggar berulang?

“Hero Olga! Hentikan ini!” tuntut Putri Sophia dengan tajam. Gerakan sang pahlawan langsung berhenti seketika.

“Hmm? Oh, Sophie!” Dia tersenyum dan melambaikan tangan kepada sang putri.

“Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu?!” tuntut Putri Sophia. “Kenapa kamu malah menyerang hero-ku dan rekan-rekannya?!”

“Itu cuma sapaan kecil,” jawab Olga sambil menyeringai. Dengan senyuman itu, dia sama sekali tidak terlihat seperti orang jahat.

Kenapa dia langsung mengincar kami begitu kami tiba? Dia jelas-jelas mengincarku.

“Saat aku dengar dia mengalahkan Gerald dan raja iblis, aku pikir dia mungkin cukup menyenangkan. Aww, betapa mengecewakan. Sampai jumpa-aaaa.” Olga menyipitkan mata, hampir mencibir ke arah kami, lalu melompat ke atas, menghilang ke udara.

“Apa-apan ini…?” tanya Furiae dari tempat persembunyiannya.

Ah… Maafkan aku, Furiae, karena melupakanmu padahal aku menyebut diriku ksatria pelindungmu… batinku meminta maaf.

“Sasa!” teriakku sambil berlari menghampiri. Lucy sedang merawatnya. Setidaknya dia tidak terlihat terluka…

Sasa menengadah menatapku dan berbicara pelan. “Aku minta maaf… aku kalah.”

“Itu bukan salahmu,” jawabku. “Dia memang gila.” Sasa tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Aku hanya senang dia selamat.

“Hero Makoto, kita mulai menjadi tontonan banyak orang,” Putri Sophia mengingatkan. “Sebaiknya kita pindah ke tempat yang lebih tenang.”

“Benar, kita harus membiarkan Sasa beristirahat.”

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat penginapan kami dengan langkah berat. Begitu tiba, aku, Putri Sophia, dan ksatria pelindungnya berkumpul di sebuah ruangan besar. Sasa pasti masih dalam keadaan syok—dia mengurungkan diri di kamarnya. Lucy and Furiae saat ini sedang menghiburnya.

Aku harus pergi memeriksanya nanti.

“Hero Makoto… Aku harus meminta maaf. Keluarga Roses telah mengeluarkan keluhan resmi terhadap tindakan Hero Olga sebelumnya.” Bahu Putri Sophia bergetar. Aku juga marah, tapi tampaknya dia bahkan jauh lebih marah lagi.

Saat aku menjawab, aku tetap menjaga Calm Mind diatur pada 99%. “Apa sebenarnya tujuannya menyerang secara tiba-tiba begitu?” Aku hampir yakin bahwa Olga telah menyaksikan kedatangan kami. Itulah sebabnya dia bisa menyerang kami begitu kami menginjakkan kaki di Gamelan. Hanya saja… rasanya tidak masuk akal menyerang kelompok yang membawa seorang putri… bahkan jika kamu adalah seorang hero.

“Serangan itu… kemungkinan besar ulah para atasan Great Keith,” jawab Putri Sophia sambil menurunkan pandangannya.

“Apa maksudmu?” Kenapa para pemimpin negara itu mencoba mencari gara-gara dengan kami?

“Tuan Hero,” si kakek menyela dengan nada kesal. “Great Keith adalah negara terbesar kedua di benua ini… Ini hanya asumsi, tetapi negara yang lebih lemah seperti kita mengalahkan raja iblis sepertinya tidak bisa diterima oleh mereka. Mereka mungkin menganggapnya sebagai penghinaan karena negara aliansi yang paling lemah berhasil mengalahkan raja iblis terlebih dahulu.”

Sophia mengerucutkan bibirnya. “Great Keith meminta maaf atas tindakan kasar hero mereka… Namun, ada desas-desus di jalanan yang berbunyi seperti, ‘Makoto, Hero of Roses, bukan tandingan Olga. Mengalahkan raja iblis itu hanya karena keberuntungan.’ Narasi ini disebarkan oleh warga.”

“Kalau begitu, kekalahanku berdampak buruk bagi Roses…” gumamku sambil meluruskan bahu lemas. Lagipula tidak banyak yang bisa kulakukan di sini… tanpanya elemen air.

“T-Tidak!” balas Sophia buru-buru. “Pencapaianmu dalam menghentikan kebangkitan raja iblis tidak kalah pentingnya!”

“Sungguh, Tuan Hero,” setuju ksatria pengawal itu. “Selain itu, keramahan Putri Noelle terhadap bangsa kita semakin tersebar luas. Itu juga kemungkinan besar memengaruhi tindakan Great Keith.”

“Highland dan Great Keith telah memiliki hubungan militer yang penuh perselisihan selama bertahun-tahun,” jelas Sophia. “Roses yang ikut campur di tengah-tengah… mungkin memicu kemarahan Great Keith.”

“Astaga, sungguh merepotkan…” Aku tidak ingin berurusan dengan diplomasi internasional antara negara lain, tetapi sebagai State-Authorized Hero, menghindarinya sepertinya hanyalah angan-angan belaka.

“Tuan Hero, aku ingin memastikan bahwa Anda menyadarinya… Tahukah Anda bahwa sebagian besar keramahan Putri Noelle terhadap bangsa kita disebabkan oleh persahabatan Anda sendiri dengan Hero of Light?”

“Apakah menjadi temannya benar-benar masalah sebesar itu?” tanyaku. Sakurai dan aku hanyalah tetangga di Jepang dulu.

“Hero Makoto…” Putri Sophia memulai dengan desahan yang agak jengkel. “Dia diperlakukan sebagai reinkarnasi dari Hero of Light. Pada saat yang sama, dia mengeklaimmu sebagai sahabat terbaiknya. Hubungan kalian sudah diketahui di keenam negara.”

Apaaa? Yah… kami adalah teman lama, kurasa.

“Namun, aku tidak menyangka segalanya akan menjadi seperti ini. Mohon maaf… seharusnya kita tidak datang ke Great Keith… Kita bisa segera kembali ke Roses.”

“Hei, hei, hei, kamu tidak perlu meminta maaf,” kataku kepada sang putri. “Merekalah yang salah.” Melihatnya terkulai seperti itu, aku ingin segera menghiburnya. “Lagipula, jika kita pergi sekarang, itu akan tampak seperti kita sedang melarikan diri—itu akan membuat keadaan menjadi semakin buruk. Kita sudah di sini, jadi kita harus mencoba mendapatkan sesuatu darinya.”

Setidaknya… itulah yang kukatakan, tetapi alasan utama aku ingin tetap tinggal bersifat lebih pribadi—aku kesal pada Olga atas serangan mendadak itu dan karena telah membuat Sasa sedih. Aku tidak akan merasa puas jika kami membiarkan semuanya begitu saja.

Putri Sophia berhenti sejenak, merenungkan kata-kataku, lalu berkata, “Baiklah. Namun, untuk saat ini, mohon tetaplah berada di dalam tempat penginapan kita.”

Dia mungkin telah menebak alasan sebenarnya mengapa aku ingin tinggal di sini, jadi aku hanya mengangguk patuh. Aku tidak berniat bertindak gegabah demi balas dendam. Aku harus mendapatkan informasi terlebih dahulu.

Lagipula…

Aku kelelahan… Aku akan menemui Sasa lalu tidur.

Namun, ketika aku mampir ke kamar Sasa, sepertinya dia sudah tertidur, jadi aku tidak dapat berbicara dengannya.

Keesokan harinya, Fujiyan dan Nina menerobos masuk ke kamarku.

“Tackie yang terhormat!” seru Fujiyan. “Aku dengar kamu terluka parah saat melawan Lady Olga! Apakah kamu baik-baik saja?!”

“Tuan Takatsuki’h! Apa kau begitu terluka sampai tidak bisa bangun dari kasur’h?! Kami membawakan ramuan mujarab’h! Cepat minum’h!”

Ehh? Desas-desus itu mulai menjadi-jadi…

“Fujiyan, aku baik-baik saja,” kataku meyakinkannya.

Aku cukup yakin bahwa ramuan mujarab—tingkat tertinggi dari cairan obat—harganya sekitar satu juta gald. Itu adalah obat yang bisa diminum… dan aku agak penasaran seperti apa rasanya.

“Oh…” gumamnya. “Aku dengar kamu terluka parah dan tidak sadarkan diri. Ternyata itu tidak benar. Syukurlah…”

“Yaaa, mereka benar-benar keterlaluan menyebarkan rumor,” jawabku.

Jadi sekarang aku juga harus menghadapi simpang siur informasi dari para warga Great Keith… Mereka benar-benar sangat membuatku kesal.

Aku merasa bersalah karena membuat Fujiyan dan Nina khawatir, jadi aku menjelaskan semua yang telah terjadi.

“Begitu ya…” komentar Fujiyan begitu aku selesai bercerita. “Jadi hubungan antara Highland dan Roses telah memicu hal ini. Kuduga ada rumor tentangmu yang mengalahkan raja Iblis… Dan tentu saja, ada gagasan bahwa ‘reinkarnasi sang penyelamat’ terikat dengan Highland. Kombinasi hal-hal ini tampaknya cukup mengancam bagi bangsa-bangsa lain.”

“Rumor… apa?” tanyaku setelah terdiam sejenak.

“Eh? Apa kamu tidak tahu? Di dalam Springrogue, cerita berlimpah tentang penampilan gagah beranimu berdampingan dengan Crimson Witch untuk menyelamatkan negeri dari kehancuran yang pasti.”

Tunggu dulu! Sekarang sudah terlalu banyak berlebihan di kedua sisi. Aku kan akhirnya malah jadi batu di akhir pertempuran melawan raja Iblis…

“Informasi itu berasal dari Springrogue, dan mereka dikenal tidak begitu peduli dengan urusan negara lain’h. Para pedagang semuanya menganggapnya cukup kredibel’h,” tambah Nina, sambil menggerakkan telinganya.

Aku benar-benar tidak tahu…

Aku sudah lama tidak mengobrol banyak dengan Fujiyan, jadi aku kekurangan informasi. Aku harus lebih memerhatikan pengumpulan intel di masa depan. Fujiyan dan aku menghabiskan waktu bertukar informasi sementara Nina pergi memeriksa Sasa.

“Itu pasti beban yang cukup berat,” gumam Fujiyan dengan sungguh-sungguh.

“Yah, benar juga.”

Kami sedang mengobrol sambil menikmati teh yang diseduh Nina untuk kami. Kami mulai dengan saling memberi kabar terbaru, dan sekarang kami hanya mengobrol santai. Melihatnya, aku merasakan kejanggalan yang aneh. Mungkin itu karena kelelahan akibat perjalanan, dech sesuatu tampak tidak beres pada dirinya…

“Jadi, kamu bilang kamu punya urusan yang harus diselesaikan di sini, kan? Urusan seperti apa?” tanyaku.

Untuk kali ini, Fujiyan tidak menjawab.

“Kamu tidak bisa mengatakannya?” desakku.

“Yah… itu hanya urusan bisnis biasa,” jawabnya.

Dia sedang menyembunyikan sesuatu. Itu tidak seperti biasanya. “Apakah kamu sedang dalam masalah?”

Sebagai tanggapan, keheningan.

“Aku tidak akan mencoba memaksamu bicara, tapi…” Aku mungkin tidak akan berusaha mengorek apa pun lagi darinya.

“Yah… aku tidak bisa bilang kalau aku menyembunyikan sesuatu, sebenarnya.”

Lalu apa namanya? Dia ragu-ragu untuk berbicara sejenak, dan aku hanya menunggu dengan tenang.

Akhirnya, dia berbicara, dengan kata-kata yang berat. “Sebenarnya… sepertinya ada teman sekelas kita yang dijadikan budak di kota ini.”

Duh, itu lebih buruk dari yang kuduga. Dijadikan budak…

Keberadaan budak sebenarnya bukanlah hal yang langka di benua ini, meskipun aku hampir tidak pernah menjumpai satu pun. Alasannya adalah karena Roses tidak memiliki sistem perbudakan, yang rupanya merupakan kebijakan yang diturunkan dari keluarga kerajaan.

Mako, aku benci perbudakan, sahut Eir.

Jadi itu karena ketidaksukaan Eir… Roses adalah sebuah teokrasi, jadi kebijakan mereka mencerminkan perasaan dewi mereka.

A-Aku juga benci perbudakan!

Noah… kau tidak perlu ikut bersaing.

Oh? Apa kau berniat untuk mencari gadis budak kecil yang imut dan membesarkannya sesuai seleramu? tanya Noah kepadaku.

Mako mesum! tegur Eir.

Tidak! Apa yang kalian berdua pikirkan?!

Ngomong-ngomong, pembicaraan kita jadi melenceng. Perbudakan tidak ada di Roses, tetapi bagaimana dengan negara-negara lain?

Highland, Great Keith, Cameron, dan Caol Ilan semuanya memiliki sistem yang memberlakukannya. Tujuannya beragam. Ada yang untuk tenaga kerja, ada yang untuk urusan militer, dan ada pula yang untuk prostitusi. Hal itu benar-benar bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dipikirkan.

“Jadi… siapa orangnya?” tanyaku dengan ragu-ragu.

Aku sebenarnya hanya punya Fujiyan dan Sasa—serta Sakurai, kurasa—sebagai teman di dalam kelas. Namun, Fujiyan memiliki lingkaran pertemanan yang jauh lebih luas.

“Lady Keiko Kawakita,” serunya.

Siapa itu? Aku tidak bisa mengingat pernah mendengar nama itu.

“Apa, Keiko?!” Suara Sasa terdengar dari balik pintu. Dia pasti sedang lewat.

“Kamu tidak apa-apa, Sasa?” tanyaku.

“Y-Ya. Maaf, aku ketiduran semalam. Ngomong-ngomong! Fujiwara, Keiko itu budak?!” tanyanya sambil menerobos masuk ke dalam ruangan dan mengguncang bahu pria itu.

“M-Mohon tenanglah, Lady Sasaki. Awalnya dia tinggal di Highland, tetapi seorang bangsawan berhati jahat menjebaknya ke dalam hutang yang sangat besar… Alhasil, dia jatuh menjadi budak dan mendaftarkan diri untuk penjualan yang akan segera diadakan. Aku tidak sengaja melihat namanya.”

“I-Itu keterlaluan!” Sasa tampak terpukul mendengar penjelasannya, dan Fujiyan juga memasang ekspresi penuh penderitaan.

Suasana berubah menjadi suram. Pada titik ini, aku hampir tidak bisa berkata, “Aku bahkan tidak bisa membayangkan seperti apa wajahnya,” jadi sebagai gantinya, aku menoleh ke arah Sasa dan bertanya, “Kalian berteman?”

“Ya, kami kadang-kadang sering keluar bersama. Dia sedikit berlebihan tapi bukan orang yang buruk.”

“Sungguh… kalian berdua adalah teman,” gumam Fujiyan.

Yah, jika Keiko adalah salah satu teman Sasa, maka kita tidak bisa begitu saja meninggalkannya. “Kamu ingin menyelamatkannya?” tanyaku kepada Fujiyan. Hal itu tampaknya memang mengarah ke sana.

“Benar!” seru Sasa. “Kita harus menyelamatkannya! Tapi… bagaimana caranya?”

“Sasa, kamu bisa membebaskan budak dengan uang.” Aku menoleh ke Fujiyan. “Benar kan?” Itu bukanlah pemikiran yang wajar bagi kita yang berasal dari Jepang, tetapi di sini, kau bisa membeli seseorang secara sah. Jadi, dengan kekayaan Fujiyan, kita seharusnya bisa mengatasinya…

“Itu… mungkin tidak bisa dilakukan.” Wajahnya menggelap saat dia menjelaskan—rupanya, skill kuat yang dimiliki oleh para penghuni dunia lain membuat mereka terjual dengan harga selangit. Dia memiliki skill yang langka, jadi harganya pun ikut melambung.

“Budak biasanya dijual dalam format lelang, sehingga orang yang memberikan penawaran tertinggi akan menjadi pemiliknya. Namun, pemilik Lady Keiko sudah ditentukan oleh pihak para bangsawan. Penampilannya sebenarnya hanya semata-mata untuk memamerkan pengaruh mereka.”

“Apa-apaan ini…?”

Wajah Sasa semakin merengut mendengarnya. “Hobi” perbudakan ini benar-benar bukan hal yang baik.

Keiko… Kawakita… Tidak, aku sama sekali tidak mengingatnya. Pasti ada sesuatu…

Noah lalu menyela untuk menyegarkan ingatanku. Makoto, apa kau tidak ingat tiga orang bodoh yang mengejek statistikmu di kuil itu?

Tiga orang bodoh?

Satu-satunya orang yang bisa kupikirkan yang pernah mengejekku adalah Kitayama, Okada, dan…

Oh! Itu dia. Cewek berpenampilan gyaru yang bersama mereka! Dia adalah tipe orang yang sama sekali tidak bisa kuajak bicara atau kudekati. Jadi itu adalah Kawakita. Dia akhirnya menjadi budak…

Tetap saja…

“Kau berteman dengannya?” tanyaku pada Fujiyan.

Sasa orangnya mudah bergaul jadi itu wajar saja, tetapi pecandu game seperti Fujiyan dan aku hampir merupakan kebalikan persis dari Kawakita.

“Lady Keiko tinggal di lingkungan rumahku, dan aku sudah mengenalnya sejak taman kanak-kanak. Kami hampir tidak pernah bicara sejak masuk SMA, namun aku tidak bisa begitu saja pura-pura mengabaikan perbudakannya…”

“Oh iya! Kalian kan SMP di tempat yang sama. Kalian adalah teman masa kecil!” seru Sasa, sambil memukulkan kepalan tangannya ke telapak tangan yang terbuka.

Jadi begitulah cara mereka saling mengenal.

Itu seperti aku dan Sakurai… Tunggu, untuk kami malah sebaliknya—aku mungkin yang akan jadi budak. Lalu Sakurai akan datang dengan gagah menyelamatkanku. Ya, itu terdengar sangat masuk akal dan agak menakutkan…

Bagaimanapun juga, ini bukan waktunya untuk membuat-buat situasi aneh.

Yah, setidaknya kita tahu apa yang harus dilakukan. “Ayo kita buat rencana, Fujiyan!” kataku.

“Iya! Ayo kita selamatkan dia!” seru Sasa. “Oh, juga, Takatsuki—aku perlu bicara denganmu nanti…”

“Hah? Uh, baiklah.”

Apa kira-kira yang ingin dibicarakan?

“T-Tolong tunggu sebentar! Kalian berdua.” Fujiyan tampak cukup gelisah. “Lady Keiko akan dimiliki oleh salah satu bangsawan paling terkenal di negeri ini. Ada banyak rumor yang beredar tentang mereka. Aku khawatir penyelamatan ini mungkin sangat berbahaya—”

Tapi Sasa memotongnya. “Fujiwara! Kita tidak bisa takut dengan kemungkinan-kemungkinan! Kita sedang menyelamatkan teman kita!”

Sasa tetap saja sembrono seperti biasa.

“Kita teman, Fujiyan. Kita membantu,” aku setuju.

“Tuan Tackie, Lady Sasaki… Aku akan mengingat hutang budi ini.”

Kami semua saling mengangguk.

“Jadi, bagaimana cara kita melakukannya? Bisakah aku menyelinap masuk dan keluar bersamanya?” tanya Sasa. Dia langsung memikirkan skenario paling ekstrem…

“Itu tidak mungkin. Budak-budak dipasangi kalung leher dan pengekang mereka memerlukan kode dua puluh digit untuk dilepaskan. Pemilik budak adalah satu-satunya yang tahu kodenya,” jelas Fujiyan.

“Aww. Kurasa itu tidak bisa dilakukan.” Sasa merosot lemas.

“Itu terlalu berlebihan untuk ukuran keamanan.” Dunia ini mirip dengan Abad Pertengahan Bumi… jadi aku mengharapkan sesuatu yang lebih longgar!

“Perbudakan itu ketat di dunia ini. Bagaimanapun juga, ini adalah ‘nyawa’ yang diperjualbelikan, dalam tingkat tertentu.”

“Aku bahkan tidak tahu harus berkata apa.” Aku menghela napas. Kehidupan nyata tidak semudah permainan.

“Oleh karena itu,” lanjut Fujiyan, “kita hanya bisa menyelamatkannya setelah kepemilikan dipindahkan ke tangan bangsawan tersebut.”

“Tapi mereka contoh bangsawan yang cukup brengsek, kan?” tanya Sasa.

“Memang. Mereka dikabarkan haus perhatian dan memiliki kekuatan untuk itu… serta cukup rakus.”

Ekspresi Sasa dan Fujiyan menjadi suram saat mereka membahasnya.

Hmm…

Aku mencoba merangkum semuanya. Tujuan kita adalah menyelamatkan teman sekelas kita. Musuh kita adalah seorang bangsawan kejam. Cara-cara hukum tidak akan berhasil.

Jadi…

“Baiklah, Fujiyan,” tahuku mengumumkan. “Kita tahu apa yang bisa kita lakukan.”

“Oh?”

“Kamu punya ide?”

Fujiyan dan Sasa menunggu dengan napas tertahan menantikan apa yang akan kukatakan.

Dengan semua faktor yang ada, hanya ada satu metode.

“Solusi kita… adalah pembunuhan!”

Keheningan menyusul.

Hah?

“Itu sudah pasti bukan solusinya.”

“Enggak.”

Apa kamu ini bodoh? Bahkan Noah ikut-ikutan menimpali.

T-Tunggu, itu bukan ide yang bagus? Yah, kurasa juga begitu. Maaf, otak gamer. Aku harus memikirkan cara lain…

“Canda, bercanda,” kataku sambil menggaruk bagian belakang kepalaku.

Kemudian, sebuah suara lembut melayang turun dari langit. Makoooo, beri tahu aku kalau kamu ingin membunuh seseorang☆ Aku akan memberitahu Sól dan kita bisa mengurusnya duluan! Jangan khawatir☆

“Ehm…?” kataku setelah terdiam lama. Eir berbicara dengan nada yang sama seperti biasanya, seolah-olah kami sedang mengobrol biasa tentang cuaca.

Um, Eir?

Ada apa?

Jadi, bahkan jika aku membunuh seseorang… itu tidak akan menimbulkan masalah?

Tidak akan! Semuanya akan baik-baik saja.

Baik-baik saja, ya?

Meskipun itu akan ada harganya☆

Apa kamu berencana untuk bertindak tidak masuk akal lagi? Noah menyela. Asal kamu tahu saja, dia tidak mau berpindah keyakinan.

Tapi kalau begitu aku bisa membiarkannya membunuh siapa saja.

Yah, itu…

Ya, mereka ini jelas-jelas dewi penguasa, tapi mereka terdengar seperti anak-anak. Rasanya seperti mereka sedang mengejar kepentingan pribadi mereka sendiri sambil menentukan hidup dan mati.

“Sir Tackie?”

“Takatsuki?”

Wajahku berubah serius—aku sepertinya membuat dua orang lainnya khawatir. Tampaknya juga Mind Reading milik Fujiyan tidak bisa mendengar para dewi.

“Ah, maaf. Aku tadi sedang mencoba memikirkan rencana yang bagus.”

Aku akan mempertimbangkan saran itu, Eir. Meskipun… jangan minta aku untuk berpindah keyakinan.

Yups. Mengerti☆

Makoto… kau harus berhati-hati agar tidak terlalu sering tawar-menawar dengan dewi-dewi lain, peringat Noah. Kau bisa berakhir hancur.

B-Baiklah, Noah. Aku akan berhati-hati. Tawar-menawar dengan para dewi adalah kartu truf yang nyata, tapi aku benar-benar bisa menghancurkan diri sendiri karenanya.

Jadi, sebagai gantinya, aku memfokuskan perhatian pada orang-orang di depanku. Mereka berdua terdiam dalam lamunan.

“Kenapa tidak bertanya pada Sophie?” usul Sasa.

“Itu mungkin berhasil,” aku setuju. Dia mungkin bukan berasal dari negara ini, tetapi permintaan kerajaan tidak akan diabaikan begitu saja.

“Itu… mungkin layak dicoba, tetapi bangsawan yang dimaksud memiliki hubungan dekat dengan keluarga kerajaan Great Keith. Bahkan keluarga Roses mungkin tidak akan bisa mendapatkan hasil. Dan jika situasinya memburuk, hal itu bahkan bisa mendatangkan masalah bagi Roses secara keseluruhan…”

“Benar juga…” Ya, keluarga kerajaan Roses jelas memiliki pengaruh yang lebih lemah di luar negara mereka sendiri.

“Oleh karena itu, kita akan menggunakan mata-mata untuk mengumpulkan informasi,” seru Fujiyan.

“M-Mata-mata…” gumam Sasa dengan mata terbelalak.

Fujiyan sudah jauh melampaui anak SMA sekarang.

“Jadi kita mencari kelemahan lalu bernegosiasi dengan mereka?” tanyaku. Ancaman seperti itu mungkin juga ilegal, tapi kurasa tidak separah pembunuhan.

“Cara itu akan berbuah buruk. Mereka adalah bangsawan berkedudukan tinggi dan melakukannya hanya akan mengundang pembalasan. Aku berniat untuk mencari tahu apa yang mereka inginkan. Menilai dari karakter bangsawan tersebut, kecil kemungkinannya Keiko sendiri yang menjadi tujuannya. Dia hanyalah bidak dari sebuah koleksi megah. Jika aku menyarankan sesuatu yang lebih menggiurkan, negosiasi yang sebenarnya mungkin bisa dilakukan.”

“B-Begitu ya…”

“Itulah Fujiwara kita.”

Sasa dan aku hanya bisa takjub. Sudut pandangnya benar-benar berbeda dari orang sepertiku yang merupakan seorang amatir dalam hal semacam ini. Kami harus menyerahkan perencanaannya kepadanya.

“Omong-omong, siapa nama bangsawan ini?”

“Dia adalah putra ketiga dari keluarga Bunnahabhain, Martin Bunnahabhain. Keluarga tersebut telah melahirkan banyak sekali pelaut. Namun, Tuan Martin sendiri tidak berafiliasi dengan angkatan laut dan menjalani gaya hidup bebas…”

Aku belum pernah mendengar tentang keluarga itu, tetapi mengingat bagaimana Great Keith adalah sebuah negara militer, aku telah diberitahu untuk menghindari ikut campur dengan mereka yang terhubung dengan militer. Ini akan menjadi rumit…

“Aku mungkin tidak bisa berbuat banyak, tapi aku akan mencoba memikirkan sesuatu,” kataku.

“Ya, aku juga!” seru Sasa.

Fujiyan mengucapkan terima kasih sambil meminta maaf atas hal itu. Keluarga bangsawan yang terkenal… Aku tidak bisa memperlakukan segalanya sesantai menjelajahi dungeon.

Tiba-tiba, sebuah pemikiran melintas di benakku. “Apa yang ingin kamu bicarakan tadi, Sasa?” Aku harus bertanya sebelum aku lupa.

“Aku akan pamit undur diri,” kata Fujiyan.

“Eh, kamu boleh tetap di sini. Yah…” Dia menggaruk pipinya, berbicara dengan terbata-bata. “Aku… rasa aku harus menjadi lebih kuat…”

“Sasa…” kataku. Kurasa ketidakmampuan untuk melakukan apa pun terhadap Olga benar-benar membebaninya. “Dia menyerang karena aku adalah Hero of Roses—kamu adalah korban di situ. Lagipula, rumor tentang kekalahan itu semuanya membahas tentang diriku.”

“Tapi jika aku tidak kalah dengan begitu mudah, aku pasti bisa membantu. Itulah kenapa aku ingin menjadi lebih kuat,” tekadnya.

“Meskipun begitu, Lady Sasaki, Anda tidak bisa begitu saja menantang Hero Olga… bahkan jika Anda berhasil mendapatkan kekuatan,” tegas Fujiyan. “Dia adalah tokoh penting di Great Keith, dan bukanlah seseorang yang bisa dengan mudah kita temui.”

“Benar.” Aku mengangguk setuju. “Tidak ada gunanya kalau kamu tidak bisa tanding ulang.”

“Tidak apa-apa!” kata Sasa. “Aku dengar dari Sophie bahwa pemenang turnamen berhak bertarung dalam pertandingan ekshibisi melawan Hero of Incandescence. Lihat?”

“Hah… Olga tidak ikut?”

“Ah, bukan, dia tidak ikut,” konfirmasi Fujiyan. “Saya tahu hal itu karena begitu maraknya berita tersebut. Karena dia keluar sebagai pemenang dalam tiga penyelenggaraan turnamen terakhir, popularitasnya menurun dan dia dilarikan untuk ikut serta. Meskipun demikian, para penonton tetap ingin melihatnya. Oleh karena itulah diadakan pertandingan ekshibisi.”

“B-Begitu ya…” Dia benar-benar kuat secara mengerikan.

“Jadi… bagaimana menurutmu?” tanya Sasa.

Aku bisa tahu dari tatapan matanya bahwa dia benar-benar termotivasi. Dia selalu keras kepala kalau sudah seperti ini. Aku sepertinya tidak akan bisa menghentikannya.

Yah, kalau begitu hanya ada satu hal yang bisa dilakukan. Aku mengunci tatapan dengan Fujiyan dan dia membalas mengangguk. Kami mungkin memikirkan hal yang sama.

“Fujiyan, ini akhirnya waktunya.”

“Tentu saja. Aku pikir hari ini tidak akan pernah melihat terang hari.”

Sasa menatap kami dengan penuh tanya.

“Takatsuki, Fujiwara? Apa maksud kalian?”

“Sasa, ayo kita tingkatkan levelmu… Saatnya memukulnya!”

◇

Sasa, yang juga dikenal sebagai Aya Sasaki.

Reinkarnasinya telah mengubahnya menjadi seorang lamia. Dia berada di level 35, dan statistik miliknya bahkan dengan mudah melampaui Nina, yang merupakan seorang petualang peringkat emas. Sasa juga sama sekali tidak melakukan latihan sejak kedatangannya—dia sudah kuat sejak awal.

Setelah selamat dari Labyrinthos, dia mulai melakukan sedikit latihan timbal balik dengan Nina untuk mempelajari beberapa seni bela diri dasar. Dia juga menggunakan senjata dari brankas keluarga kerajaan Roses—Fierce Deity’s Hammer—tetapi dia jarang menggunakannya untuk bertarung dan lebih sering menyimpannya sebagai aksesori.

Lucy berlatih selama lima jam sehari (sampai fokusnya habis); aku berlatih selama dua puluh jam (atau kapan pun aku tidak pingsan). Waktu latihan Sasa… adalah nol.

Dia menyebut dirinya sebagai “orang di balik layar,” yang tugasnya meliputi membawakan semua perlengkapan kami, memasak, dan mengisi ulang pasokan. Intinya, dia adalah pendukung penuh.

Meski begitu, Sasa adalah, tanpa ragu, anggota party kami yang paling kuat.

Meskipun Lucy telah mempelajari sihir tingkat raja, kendalinya masih sangat buruk. Kalau aku? Satu sentilan dari Sasa akan membuatku terbang. Dengan kata lain…

Siapa yang tahu seberapa kuat Sasa jika dia berlatih dengan benar?

“Dingin sekali!” keluh Lucy, melirik ke arahku. Dia menggigil dan memeluk dirinya sendiri di balik pakaian tipis biasa yang dikenakannya.

“Yah, lihat dulu apa yang kamu pakai,” jawabku sambil melepaskan jaketku untuk dipinjamkan kepadanya.

“Jadi… ksatriaku. Kenapa kita ada di sini?” Furiae terbungkus dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan selimut, hanya menyisakan wajahnya yang terlihat. Aku bisa kena tampar kalau bilang dia tidak terlihat begitu anggun dengan pakaian seperti itu…

Saat ini, kami berada beberapa puluh kilometer dari ibu kota. Daerah itu disebut Kursi Raksasa dan menjadi rumah bagi beberapa gunung meja datar yang masif. Formasi-formasi ini menjulang sekitar seribu meter dari tanah, dengan tebing-tebing terjal yang tidak bisa dilewati dengan berjalan kaki. Tidak seperti tanah tandus yang panas menyengat yang membentuk dataran negeri ini, di sini, di pegunungan dataran tinggi, suhunya merosot drastis.

“Sungguh indah,” komentar Fujiyan.

“Pemandangan yang benar-benar luar biasa,” setujuku.

Dia dan aku mengintip ke bawah dari tebing, mengagumi bentangan luas berwarna oranye di bawah kami. Fujiyan—beserta kapal udaranya—telah menjadi kendaraan kami ke sini. Saat kami menikmati pemandangan di dekat tepi tebing, Sasa dan Nina sama-sama meneriaki kami agar berhati-hati. Mungkin kami sedikit terbawa suasana…

Aku berbalik ke arah Sasa dan mengumumkan, “Ayo kita naikkan levelmu!”

“E-Eum, tentu…” gumamnya. “Bagaimana caranya?”

Oh. Sepertinya aku baru saja menyeretnya ke sini tanpa menjelaskan apa pun.

“Izinkan aku, Lady Sasaki!” seru Fujiyan. “Petualang biasa tidak dapat menginjakkan kaki di gunung-gunung meja ini karena ketinggiannya yang luar biasa, dan banyak monster langka menghuni lingkungan ini. Ada lebih dari seratus gunung semacam ini, dan gunung yang kita pijak ini menawarkan kesempatan unik untuk menaikkan level dengan cepat: sarang kadal platina seutuhnya!”

“Kalau kamu membasmi banyak dari mereka, kamu akan mencapai batas level dalam waktu singkat! Bukankah itu hebat?!” tanyaku dengan antusias.

“B-Benar…”

Sementara Fujiyan dan aku begitu bersemangat, Sasa tampak begitu pendiam. Kenapa?

“Bagaimana kamu tahu soal itu, Makoto?” tanya Lucy heran.

“Ayolah, Lucy! Mengetahui tempat [[i]]grinding[[/i]] utama adalah strategi dasar bermain RPG.” Aku menghela napas dan menggelengkan kepala dengan kecewa.

Furiae menatapku dengan dingin. “Kamu tampak sangat bersemangat, kesatriaku. Sungguh melelahkan…”

Ampun deh, penonton yang sulit…

“Jadi, di mana mereka?” tanya Sasa sambil melihat ke sekeliling. Sekilas, dataran tinggi ini hanya berisi semak-semak jarang dan tidak ada makhluk apa pun.

“Oh, benar jugah,” kata Nina. “Kita butuh waktu hampir seharian penuh bahkan hanya untuk menemukan merekah. Ditambah lagi, kadal-kadal itu sangat pemalu sehingga mereka jarang sekali menampakkan dirih. Itulah salah satu alasan kenapa tidak ada petualang yang repot-repot berlatih di sinih…”

Dia tampak sedikit khawatir, tapi aku hanya terkekeh bersama Fujiyan. Pemahamannya tidak sepenuhnya tepat…

“Lucy. Api, tolong. Yang banyak,” pintaku.

“Hah? Maksudku, udaranya dingin, jadi baiklah… Fireball.” Dia mengayunkan tongkatnya dan sebuah bola api sebesar gubuk muncul di udara.

“Terus sekarang apa?” tanyanya.

“Pertahankan saja sebentar. Princess, bisakah kamu merapal sedikit Charm Magic?” tanyaku, beralih kepada Furiae.

“Aku? Ke siapa?”

“Kadal platina menyukai hawa panas. Tapi karena kita ada di sini, mereka jadi terlalu takut untuk keluar. Aku ingin kamu memanggil mereka dengan sihir pemikatmu.”

“Kamu benar-benar bos yang kejam… Dan semua ini setelah kamu meninggalkanku saat Olga menyerang.”

Aduh, gawat. Dia tidak senang.

“Mana mungkin, aku tidak melakukan itu,” sangkalku. “Kukira kamu akan aman karena kamu bersembunyi.”

“Hmm, benarkah? Rasanya kamu terus-menerus lupa bahwa kamu adalah ksatria pelindungku.”

“Semuanya aman kok!” kuyakinkan dia. “Aku akan melindungimu dengan benar.”

“Hih. Kamu akan menyesalinya lain kali.”

Yah, sepertinya aku kurang lebih sudah membujuknya ke pihakku. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia melempar selimut yang membalut tubuhnya.

“Ups!” seru Nina, bergegas menangkap selimut itu.

“Aku mulai ya,” umum Furiae. “Aku akan menggunakan suaraku, jadi semuanya tutup telinga kalian… Kamu tidak perlu repot-repot, kesatriaku.”

“Kamu akan baik-baik saja?” tanya Sasa.

“Kamu tidak perlu menutup telingamu?” tambah Lucy. Keduanya menatapku dengan penuh kewaspadaan.

“Lagipula mantra pesonanya tidak akan mempan padanya,” kata Furiae.

“Kamu bukannya hanya mencoba menggodanya, kan?” selidik Lucy penuh kecurigaan.

“Kamu tidak boleh begitu, Fuu!” seru Sasa. “Jangan mendahului.”

“Aku tidak!” balas Furiae berteriak sebelum mundur menjauh dari mereka. “Berhenti menatapku begitu. Kalian berdua menakutkan! Pokoknya, aku mulai.”

Dia menarik napas dalam-dalam, meletakkan tangannya di dada, dan mulai bernyanyi.

Suaranya terdengar jernih melintasi dataran tinggi, berdenting seiring hembusan angin. Mendengarnya saja hampir memberikan efek penyemangat. Suara itu jauh lebih indah daripada suara ratu harpy yang kami dengar di Labyrinthos.

Itu baru Furiae namanya…

Tanpa kami sadari, burung-burung dan serangga telah berkumpul di sekitar kami sebagai tanggapan atas suaranya. Kemudian, beberapa lusin kadal kecil berkilau merangkak keluar dari celah tegar. Mereka tak lama kemudian menghangatkan diri di bawah bola api Lucy.

“Oh, ini dia. Hasil tangkapan yang bagus.” Aku tersenyum, menoleh ke arah Furiae. Dia balas menatapku dengan tatapan datar.

“Itu adalah puncak dari lagu pesona. Dulu lagu itu pernah memungkinkanku mengendalikan seekor naga. Tapi tetap saja, itu sama sekali tidak berpengaruh padamu?”

“Yah, tidak akan bagus juga kalau itu berhasil,” balasku.

“Andai saja itu setidaknya memberikan efek apa pun,” keluhnya.

Aku benar-benar berharap dia berhenti mencoba memengaruhiku dengan Charm Magic setiap ada kesempatan. Lagipula dia bukan Noah…

Setelah percakapan itu, aku menoleh ke arah yang lain, yang masih menutup telinga mereka, lalu menepuk pundak Sasa.

“Habisi mereka, Sasa.”

“B-Baiklah. Rasanya agak tidak enak… Tapi, aku harus menjadi lebih kuat!”

Wajahnya berubah menampilkan ekspresi penuh tekad saat dia mengangkat Palu Fierce Deity miliknya. Tiba-tiba, dia menghilang—kombinasi dari skill Dash miliknya dari Action Game Player dan Stealth.

Dalam sekejap, semua kadal platina itu mati.

Dia naik level sekaligus!

Kami baru saja kembali dari pegunungan meja. Saat aku sedang berlatih di halaman penginapan, seseorang mendekatiku dari belakang.

“Pahlawan Makoto,” panggil Putri Sophia. “Aku dengar kamu pergi ke suatu tempat untuk menaikkan levelmu? Bukankah seharusnya kamu beristirahat?”

Omong-omong, karena ini adalah penginapan tempat keluarga kerajaan Roses kadang-kadang menginap, ada beberapa kolam buatan dan air mancur di halaman yang sedang dinikmati oleh beberapa elemental air. Sayangnya, kecuali jika kamu berada tepat di dekat air seperti ini, tidak ada satu pun dari mereka di sekitar sini. Aku sedang duduk di atas rumput dan berbicara dengan para elemental sambil berlatih sihirku.

Sasa, Lucy, and Furiae sedang pergi mandi—penginapan itu memiliki pemandian yang sangat besar—dan setelah itu mereka akan mengadakan malam para gadis. Fujiyan sedang pergi ke suatu tempat untuk bekerja bersama Nina.

“Bolehkah aku duduk?” tanya sang putri.

“Apa? Eh, tentu.”

Dia duduk dengan cara yang sama sepertiku, langsung di atas rumput. Selain itu, dia praktis bersandar padaku, punggungnya menempel pada punggungku.

“U-Um?” Aku bisa merasakan kulitnya yang lembut menempel di punggungku.

“Kamu meninggalkanku… tapi membawa semua orang.”

Karena cara duduk kami, kami tidak bisa melihat wajah satu sama lain. Setidaknya, itulah yang tampak dipikirkan sang putri, tapi aku menggunakan RPG Player untuk memeriksa ekspresinya berjaga-jaga.

Dia benar-benar merajuk…

Maksudku, aku memang meninggalkan pesan untuknya. Mungkin seharusnya aku memberitahunya secara langsung.

“Apakah semuanya berjalan lancar?” Selain ekspresi cemberutnya, suaranya terdengar dingin dan tenang.

“Kami naik tiga puluh level hari ini.” Kadal-kadal itu benar-benar berjalan sebagai XP. Peningkatan level yang stabil itu sungguh konyol.

“T… Tiga puluh?!”

Rupanya, dia tidak bisa tetap tenang menanggapi hal itu, dan dia berbalik dengan cepat untuk menatapku. Rambut panjangnya bergesekan dengan bagian belakang kepalaku. Aku ikut berbalik dan menatap matanya dari dekat.

Kami saling memandang dalam diam selama beberapa detik.

“J-Jadi Aya pasti menjadi jauh lebih kuat,” ucapnya. Meskipun pipinya merona merah, suaranya terdengar mantap.

“Belum, sayangnya. Kami belum bisa membuatnya mengejar Olga.”

Pertarungan dengan Olga tidak berlangsung lama, tetapi menurut Sasa, dia tahu bahwa dia bahkan tidak bisa menandingi sang pahlawan sedikit pun. Aku pikir mereka berdua terlalu kuat, dan aku bahkan tidak bisa melihat perbedaannya.

“Apakah dia akan siap untuk turnamen?” tanya Sophia dengan cemas.

Tersisa sekitar dua minggu lagi hingga turnamen dimulai. Kami telah memberi tahu sang putri bahwa Sasa akan berpartisipasi. Sophia sedikit khawatir, tetapi dia tidak menolaknya. Turnamen itu—sampai tingkat tertentu—diatur seperti kompetisi olahraga, dengan mengutamakan keselamatan, jadi nyawa Sasa tidak akan berada dalam bahaya.

Ksatria pengawal Putri Sophia sangat kecewa karena aku tidak ikut berpartisipasi. Tapi aku sama sekali tidak berniat melakukannya saat aku tidak bisa menggunakan elemental air.

“Kami akan melakukan semampu kami selama dua minggu ke depan,” batinku. “Namun, aku memang punya beberapa trik tersembunyi.”

“Baiklah. Aku akan menantikannya.” Ekspresinya melunak tetapi segera berubah kembali menjadi serius. “Beralih ke hal lain. Aku mendengar hal ini dari Lord Fujiwara… Salah satu rekan kalian akan dijual sebagai budak… kepada keluarga Bunnahabhain…”

Keiko Kawakita.

“Ya. Kami sedang menunggu Fujiyan selesai menyelidiki,” kataku.

“Aku minta maaf… Mereka adalah para bangsawan kuat dengan pengaruh besar di bidang militer Great Keith. Selain itu, mereka menawarkan dukungan kepada Roses ketika kami menderita kerugian dari serangan monster, jadi aku tidak bisa bertindak terlalu keras…”

Wajahnya menunjukkan kesedihan. Keluarga Bunnahabhain sungguh terlalu berkuasa.

“Ini bukan salahmu,” kataku meyakinkannya. “Meskipun begitu, omong-omong… Bisakah kita meminta bantuan lewat Sakurai atau Putri Noelle?”

Keduanya masing-masing adalah reinkarnasi sang penyelamat dan calon penguasa Highland berikutnya. Aku meragukan mereka akan diabaikan. Namun, wajah Putri Sophia tetap diliputi awan mendung.

“Meskipun Highland dan Great Keith memiliki kekuatan yang berbeda secara keseluruhan, mereka bersaing dalam bidang militer. Great Keith saat ini bertujuan untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan dari front utara dan menjadi pemimpin keseluruhan di benua ini. Pada titik ini, negosiasi apa pun akan penuh dengan masalah…”

“Begitu ya…” Yah, Fujiyan pasti sudah memikirkan hal itu sejak lama. Segalanya memang sedang tidak berjalan dengan baik.

Cara terakhir adalah tawar-menawar dengan Eir. Tapi…

Aku teringat akan peringatan Noah: tawar-menawar ilahi yang sembrono mengundang kehancuran. Terlalu mengandalkannya akan sangat berisiko. Kami hanya harus terus melangkah. Saat ini, tidak ada hal lain yang bisa kulakukan…

“Apakah kamu akan segera pergi?” tanyaku. “Kamu mungkin ingin tidur kecantikanmu.” Aku berniat untuk melanjutkan latihan sedikit lebih lama lagi, namun tiba-tiba, aku merasakan tangannya memegang lenganku.

“Hero Makoto, latihan yang berlebihan itu tidak baik untukmu. Tidurlah segera.”

“Ah, aku akan tetap— Hei, jangan ditarik!”

Dia menarikku dengan kekuatan yang luar biasa. Maksudku, statistikku memang sangat rendah…

Tidak mungkin aku bisa mengalahkan pendeta wanita Eir dalam adu kekuatan, jadi mau tidak mau aku mendapati diriku dikurung di kamarku.

Hari-hari setelah itu dihabiskan untuk menaikkan level Sasa. Pada malam hari, kami menyelidiki cara untuk membantu teman sekelas kita yang diperbudak, mengumpulkan informasi di bar-bar dan tempat semacam itu.

Lima hari telah berlalu sejak kami tiba di Great Keith… dan Sasa mencapai level 99.

◇

“Hai, Mako! Kerja bagus karena berhasil membuat Aya mencapai level 99,” seru Eir sambil tersenyum dan melambaikan tangan.

Aku menghela napas.

“Terima kasih, Eir.”

Apakah dia menghabiskan seluruh waktunya di Kuil Dasar Laut? Ini adalah ruang milik Noah, dan sang dewi yang bersangkutan memasang ekspresi aneh di wajahnya saat dia berdiri di sisi rekan sesama dewinya.

“Ada apa, Noah?” tanyaku.

“Para dewi lainnya juga mulai tertarik padamu.”

Aku sempat tidak mengerti apa maksudnya dan kesulitan mencari jawaban. Dewi-dewi lainnya?

“Yah, kemenanganmu atas Bifrons memastikan itu. Althena dan Sól sekarang tertarik padamu. Bagus sekali, Mako!”

“Kamu membocorkannya! Untuk apa kamu melakukan itu?” tuntut Noah dengan tatapan tajam.

“Ayolah, Noah, tenangkan dirimu. Mereka hanya mengawasinya.”

Aku tertegun. “Apakah itu… boleh-boleh saja?”

Noah diperlakukan sebagai dewa sesat di dunia ini. Menjadi rasulnya sekaligus berada di bawah pengamatan membuatku berpikir kalau inkuisisi akan segera mendatangi pintu rumahku.

“Yah, kalian kan berada di pihak yang sama sekarang, jadi sepertinya tidak apa-apa.”

“Meskipun begitu, pahlawan Sól tampak sangat bersemangat untuk menyerangku,” kataku mengingatkan.

“Hmmm, itu memang sudah kepribadiannya… dan kehendak dari para petinggi Great Keith,” jelas Eir. “Menyerangmu bukanlah sesuatu yang diperintahkan oleh Sól kepadanya.”

Jadi Putri Sophia benar.

Tapi itu juga tidak bagus. Mereka bahkan mungkin akan mencoba sesuatu di turnamen…

“Hrmm, aku meragukan itu, Makoto.”

“Ya, Mako. Sól adalah dewi perang, tapi dia sangat bersungguh-sungguh dan benci tipu muslihat.”

“Oooh.” Itu tentu saja terdengar bagus. Sasa tidak akan pernah bisa menang jika Great Keith mencampuri turnamen tersebut, tetapi sepertinya segala sesuatunya akan berjalan secara adil.

Eir terkekeh mengejek. “Tapi, apa dia benar-benar bisa menang?”

“Kau ini menyebalkan sekali,” bentak Noah. “Makoto datang kepada kami karena dia memiliki sesuatu untuk ditanyakan. Benar kan?”

“Benar.” Sepertinya para dewi telah mengetahui niatku.

Seluruh anggota party sudah berbicara hari ini ketika Sasa mencapai level 99. Meskipun dia jauh lebih kuat sekarang, dia tetap merasa tidak akan bisa menang melawan Olga. Pada titik ini, apa yang bahkan bisa kami lakukan?

Eir terkekeh. “Olga juga berada di level 99. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang maniak bertarung.”

“Bukan itu saja,” tambah Noah. “Dia bisa mengubah panas menjadi aura. Sama persis seperti Pahlawan Cahaya yang bisa mengubah sinar matahari untuk menopang dan memperkuat auranya—semakin panas suhunya, semakin kuat pula dia. Dia benar-benar memiliki keuntungan sebagai tuan rumah di Great Keith.”

Penjelasan mereka membuat situasi kami tampak semakin konyol dan menggentarkan.

“Kalau begitu kita tidak punya pilihan lain…” gumamku.

Aku teringat akan sesuatu hal lain yang telah kami temukan selama percakapan party tadi.

Fujiyan-lah yang menunjukkan hal itu—Sasa memiliki beberapa skill unik, termasuk Action Game Player, Transform, dan…

Evolution.

Itulah skill-skill yang tertera di dalam Buku Jiwa milik Sasa.

Kami hampir bisa menebak apa yang akan terjadi. Bagaimanapun juga, itu adalah evolusi—sama seperti Magikarp yang lemah berevolusi menjadi Gyarados yang perkasa, skill Sasa seharusnya membuatnya menjadi lebih kuat juga.

“Masalahnya adalah kamu tidak tahu bagaimana skill itu akan memengaruhimu,” kataku kepada Sasa.

“Yups. Bahkan Fujiyan dan Putri Sophia tidak tahu apa-apa. Lucy dan Furiae juga tidak tahu,” jawabnya.

Monster memang sudah misterius sejak awal, dan meskipun dulunya dia adalah manusia, Sasa secara teknis adalah seekor monster di dunia ini. Kami telah menyelidiki kemampuannya, tetapi sayangnya, guild petualang dan perpustakaan tidak memiliki informasi apa pun tentang Evolusi.

Aku ditarik kembali ke masa kini oleh Eir.

“Baiklah, Mako?” tanya Eir. “Jadi, Evolusi membutuhkan suatu item—”

“Ah bah bah! Diam.” Noah memotong ucapannya. “Dia datang untuk menemuiku!”

“Teman-teman, tolong jangan bertengkar.” Kami tidak akan mendapatkan kemajuan apa pun! Aku harus tahu.

“Baiklah. Makoto, dengarkan baik-baik.” Noah mengangkat jarinya dan mulai menceramahiku. “Evolusi memerlukan magicite. Jika kamu menggunakan pecahan yang mengandung mana dari monster yang sangat kuat, dia akan bisa berevolusi.”

“Magicite…”

Aku meraba-raba saku celanaku dan mengeluarkan magicite merah yang kudapatkan setelah mengalahkan Bifrons. Bisakah aku menggunakan ini?

“Tidak, tidak bisa!” seru Eir sambil memelukku dari belakang.

“Woah!” Padahal dia baru saja berada di depanku sedetik yang lalu.

“Bukan itu,” kata Noah kepadaku. “Gunakan batu dari ratu lamia yang kau dapatkan di Labyrinthos.”

“Eh, tapi…”

“‘Tentu saja, yang ini jauh lebih kuat, bukan?’” Eir pasti bisa membaca pikirannya karena dia membisikkan isi pikiranku ke telingaku.

“Jika kau menggunakan itu, kau akan mengubah Aya menjadi raja iblis,” jelas Noah dengan tenang.

“Dan kemudian kau harus menghabisinya,” tambah Eir sambil terkikik.

“Hah?”

Apa-apaan?!

“Yah, hasil seperti itu tidak sepenuhnya pasti,” kata Noah, “tetapi magicite milik raja iblis itu terlalu kuat. Kau tidak boleh membiarkannya menggunakannya.”

“Benar,” setuju Eir. “Jika situasinya memburuk, kepribadiannya bisa berubah.”

“J-Jadi itu bisa gagal?” Aku bahkan tidak memikirkan kemungkinan itu.

“Yah, jika kau memberikan magicite ratu lamia kepada seorang lamia, itu tidak akan gagal,” kata Noah kepadaku. “Bagaimanapun juga, mereka berasal dari ras yang sama.”

Aku menghela napas. “Fiuh, itu cukup melegakan.”

“Apakah kau tahu cara menggunakannya?” bisik Eir ke telingaku.

Sepertinya dia bersikap ramah sekarang. “Tidak. Bagaimana cara kerjanya?”

“Waktu adalah hal pertama yang harus dipertimbangkan. Tengah malam adalah yang terbaik. Evolusi adalah keterampilan yang memungkinkanmu membuang dirimu yang lama dan terlahir kembali. Upacara tersebut harus dilangsungkan ketika dunia penuh dengan kematian—di kedalaman malam.”

“Selain itu,” selak Noah, “dia harus menyucikan tubuhnya semaksimal mungkin. Dan mengenakan pakaian sesedikit mungkin. Hal utama adalah menjadi ‘seperti saat kau dilahirkan.’”

Aku mendengarkan dengan penuh perhatian agar tidak ada yang terlewat. “Begitu ya. Terima kasih informasinya.”

insert3

“Lalu,” lanjut Noah, “begitu semuanya siap, dia harus memakan magicite itu.”

“M-Memakannya?!”

“Yups. Jika dia tidak berada dalam kondisi untuk berevolusi, maka mana akan melahapnya,” peringatan Eir. “Tapi, Aya sudah pasti siap untuk menerimanya.”

Noah mengangguk. “Level miliknya sudah maksimal, jadi dia akan menjadi ratu lamia yang hebat.”

Aku merenungkan perkataan mereka—metodenya, persyaratannya, dan item tersebut.

Baiklah, aku mengerti. Sekarang aku bisa memberi tahu Sasa cara kerja skill miliknya.

“Terima kasih, Noah, Eir,” kataku sambil membungkuk dalam-dalam. Sambil menundukkan kepala, aku menyadari sesuatu.

Jika aku memakan magicite demon lord yang ada di tanganku ini…

“Sama-sama… Tapi, Makoto, kamu tidak akan berevolusi bahkan jika kamu mencapai level 99 dan memakannya.” Noah mendengus.

“Kamu mau jadi demon lord?” tanya Eir di saat yang bersamaan.

Ya, mereka membaca pikiranku lagi.

“Sepertinya tidak.” Candaan! Cuma candaan. Aku bahkan tidak punya skill Evolution…sayangnya.

“ Noooaaah, Mako memang secara alami langsung memikirkan hal-hal yang paling berisiko.”

“Dia memang begitu,” jawab Noah. “Makoto, kalau kamu makan itu, tubuhmu tidak akan sanggup menahan jumlah mana yang sangat besar. Kamu akan mati. Jangan berani-berani mencobanya.”

“B-Benar juga…” Aku bakal mati? Sial, aku punya item langka ini tapi sama sekali tidak ada cara untuk menggunakannya…

Eir menghela napas. “Aku benar-benar bersyukur bisa mengawasinya. Dia selalu saja menimbulkan masalah.”

“Hm?”

“Ha?”

Noah dan aku menatapnya secara bersamaan.

“Ups.”

“Apa maksudnya itu, Eir?” tanya Noah.

“Apa kamu barusan bilang pengawasan?”

Eir terkikik dan menepuk kepalanya sendiri. Dia memasang ekspresi imut dan canggung, tapi sekarang benar-benar bukan waktunya untuk hal itu!

“Kamu belum menyadarinya, Noah? Makanya aku ada di sini.”

Bibir Noah berkerut karena tidak senang.

“Yah, semacam itulah. Awalnya, itu mungkin usulan Althena,” kata Eir, sambil dengan santai menyebut nama sang dewi utama. “Tapi, sebenarnya Ira-lah yang menyuruh kami untuk berhati-hati terhadap kelompok Makoto. Dia telah mengurung diri, tapi dia dengan tegas bilang kalau kita harus mengawasi muridmu dan sang Pendeta Wanita Bulan…”

“Dan itu pada dasarnya… kelompoknya,” kata Noah datar.

Aku terdiam. Hatiku bergolak dengan perasaan cemas.

Ira, dewi yang memiliki kemampuan untuk melihat masa depan dunia ini, telah memicu para Dewa Suci untuk mengawasi kami. Kenapa dia mengkhawatirkan kelompok kami?

“Tapi Mako dan Furiae adalah anak-anak yang baik. Meskipun Mako terkadang bisa sedikit berbahaya.” Eir tersenyum dengan ekspresi yang sangat polos. Terkadang dia bisa sedikit usil, tapi dia sangat baik.

“Kamu tertipu,” sela Noah, menyadarkanku dari lamunanku. “Tidak ada dewi yang baik seperti itu.”

“Kamu jahat sekali. Lihat betapa baiknya akuuu.”

Aku menghela napas. Yah, Eir memang baik. Dia selalu membantuku.

Oh, benar, aku perlu menanyakan hal lain.

“Noah, Eir. Apakah benar-benar tidak ada elemental air di Great Keith?”

“Benar sekali, jadi jangan memaksakan diri,” tegas Noah.

“Ya, Mako, kamu itu sangat lemah di sana.”

Kejam sekali! Maksudku, itu memang benar… Tapi tetap saja!

“Itulah kenapa aku punya pemikiran…” kataku, sebelum membeberkan ide yang kupikirkan tentang cara bertarung.

Saat aku selesai, ekspresi mereka benar-benar pemandangan yang langka—mereka tampak seperti sedang melihat orang gila.

“Mako! Kalau kamu mau melakukan itu, sebaiknya kamu pindah agama saja kepadaku! Aku akan memberimu Sihir Air (Tingkat Saint)!”

“Tidak, Eir. Dia memang selalu seperti itu,” kata Noah sambil menghela napas.

“Tidak mungkin! Itu sama saja bunuh diri! Roses tidak mendukung bunuh diri!”

“Dia sudah sering melakukan hal seperti ini berkali-kali. Ingat waktu dia sinkronisasi dengan seseorang yang sihirnya tidak kompatibel? Sihir api tingkat King! Hampir membakarnya hidup-hidup! Dan lalu ada saat dia mencoba mengendalikan Undyne hanya dengan penguasaan sihir sekitar 200. Indikator kewarasan Makoto sudah rusak.”

“Noah, kamu tidak perlu mengatakannya seperti itu!” protesku. Apakah idenya seburuk itu?

“Ya. Itu sama sekali tidak boleh,” tegas Eir. “Kamu akan membuat Sophie menangis.”

“Dia tetap akan melakukannya,” kata Noah.

Dia benar-benar memahamiku…

“Aku tetap melarangmu!” teriak Noah, memberiku pukulan telak di kepala.

Pada akhirnya, mereka memang memberiku beberapa petunjuk tentang ideku… tapi mereka tetap benar-benar menentangnya.

Padahal aku pikir itu adalah rencana yang bagus…

◇

Keesokan paginya, kami semua berkumpul untuk sarapan. Aku terlalu lama berbicara dengan para dewi, jadi aku tidak mendapatkan banyak waktu tidur.

Aku masih agak ngantuk…

Tapi kami memiliki hal-hal yang harus dikerjakan, dan kami menghabiskan waktu sarapan dengan membahas rencana kami selanjutnya. Fujiyan sedang mengumpulkan informasi tentang “pembeli” Kawakita, tetapi belum menemukan sesuatu yang terlalu berguna. Kami memang tahu bahwa dia ditahan di pasar budak kota—tempat yang dijaga dengan ketat.

Kawakita memiliki skill yang langka, jadi dia diperlakukan dengan cukup baik. Masalah utamanya adalah hanya tersisa beberapa hari lagi hingga lelang berikutnya.

“Fujiyan, ada yang bisa kubantu?” tanyaku.

“Biar kulihat… Jika aku memikirkan sesuatu, maka aku akan segera memberitahumu.” Jawaban itu adalah jawaban yang sama yang dia berikan padaku beberapa hari yang lalu. Wajahnya tampak serius. Dia benar-benar kesulitan, dan aku benci karena tidak bisa membantu.

Kami menghabiskan sisa waktu sarapan hanya dengan mengobrol lalu duduk-duduk sambil meminum teh.

Oh, benar. Aku harus memberitahu Sasa tentang skill Evolution. Aku mengambil kue kering yang disajikan bersama teh, menyeruput cangkirku, lalu menoleh ke arah Sasa.

“Bisa datang ke kamarku malam ini, Sasa? Sekitar pukul sebelas?”

“Eh? B-Boleh, aku tidak keberatan.”

Tengah malam adalah waktu terbaik untuk itu, jadi kupikir kami harus mulai bersiap-siap sedikit lebih awal dari waktu tersebut.

Keheningan melingkupi ruangan saat tatapan Lucy dan Putri Sophia tertuju padaku. Mereka tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi mereka tidak berbicara. Aku agak penasaran, tetapi Evolution jauh lebih penting saat ini.

“Pastikan kamu mandi dengan bersih dan kenakan pakaian yang paling tipis yang kamu miliki,” lanjutku.

“Ha?!” seru Sasa kaget.

Yah, Noah telah mengatakan bahwa agar Evolution dapat bekerja, seseorang harus “seperti saat pertama kali dilahirkan.”

Tatapan dari kedua orang lainnya terasa semakin tajam. Furiae tampak tidak tertarik dan sedang bermain dengan Twi. Otakku masih belum berfungsi dengan baik akibat kurang tidur, tapi aku harus memastikan untuk menyampaikan semua informasi yang kuingat.

“U-Umm, Takatsuki? Kamu ingin aku mandi dan datang ke kamarmu tanpa memakai banyak pakaian? Memangnya apa yang akan kamu lakukan nanti?” Sasa bergeser, mengadah menatapku.

Huh… Jangan-jangan dia sudah lupa tentang skill itu?

“Yah, upacaranya, tentu saja.”

“U-Upacara?!”

Kenapa dia begitu terkejut mendengarnya? Kami sudah membicarakannya sejak tadi.

“O-Oke. Ini pertama kalinya bagiku, tapi aku akan melakukan yang terbaik.”

“Ya, aku menantikannya.” Seberapa kuatkah dia pada akhirnya nanti?

“Aku mungkin sedikit gugup…” kata Furiae, pipinya merona merah.

“Jangan khawatir. Serahkan saja padaku.” Bagaimanapun juga, para dewi telah meyakinkanku bahwa kita tidak mungkin gagal.

“Pelan-pelan ya… boleh?”

“T-Tentu saja?” Aku tadinya hanya ingin memberitahunya apa yang perlu dilakukan. Apa hubungannya dengan hal itu yang harus dilakukan dengan pelan-pelan?

“T-Tuan Takatsuki’h,” gagap Nina. “Anda seharusnya berdua saja untuk percakapan semacam ini’h…”

Furiae menatapku tajam dengan sorot mata sedingin es. “Apa yang sebenarnya kaupikirkan? Berbicara seperti ini pagi-pagi begini?!” Di sebelah Furiae, mulut Lucy dan Sasa terbuka dan tertutup tanpa mengeluarkan suara.

Hm? Ehm… Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?

“Tackie-ku yang terhormat… Semua yang kaukatakan belakangan ini terasa aneh. Kenapa kau tidak cuci muka dan sadar saja dulu?”

Kurasa Pembaruan Pikiran miliknya telah memungkinkannya untuk memahami semuanya, jadi dia hanya memberiku dukungan yang tenang. Dan pada akhirnya, kesalahpahaman itu pun terselesaikan.

◇ Keesokan Harinya ◇

“Bagaimana perasaanmu, Sasa?”

Dia telah menyelesaikan upacara tersebut dan berhasil berevolusi menjadi ratu lamia. Omong-omong, aku tidak bisa menyaksikannya—Lucy dan Nina lah yang mendampinginya.

Sialan! Aku ingin melihatnya!

Hahhhh, Makoto… kata Noah dengan nada jengkel. Kau sama sekali tidak mengerti wanita.

Kasihan Sophie, ratap Eir.

Ada apa dengan itu, para dewi?

“Perasaanku agak lamban…” kata Sasa kepadaku. “Sepertinya aku akan tidur saja hari ini…”

“Bagaimana kalau kita panggil tabib untuk memeriksanya?” usulku.

Sasa saat ini berada dalam wujud lamianya. Dia sudah cukup lama tidak berwujud seperti ini, tetapi dia sekarang adalah sesosok monster, yang terbaring lemas di atas ranjang. Ekor ular menjuntai di tepi ranjang.

“Aya, kamu baik-baik saja?” tanya Lucy dengan cemas.

“Sihir penyembuhanku sama sekali tidak mempan…” Putri Sophia memberi tahu kami.

“Dia tidak terlihat pucat dan mana-nya mengalir dengan baik,” Furiae mengamati. “Dari sudut pandangku, tidak ada masalah. Kalaupun ada, dia tampak sekuat naga biasa.”

Jadi, Furiae mengira dia sekuat itu…

“Evolusi telah memengaruhi levelnya—levelnya telah disetel ulang dari 99 menjadi 1,” jelas Fujiyan. “Tubuhnya mungkin merasa kebingungan akibat perubahan mendadak itu. Aku yakin cara terbaik baginya adalah dengan beristirahat.”

“Baiklah, mengerti. Soal dokter, aku lebih suka mencari seseorang yang bisa kita percaya untuk bersikap bijaksana dan menjaga mulutnya…”

“Jangan khawatir’h! Kami sudah membuat persiapannya’h!”

Itulah Nina dan Fujiyan—selalu sangat bisa diandalkan.

“Kamu ingin sesuatu?” tanya Lucy kepada Sasa.

“Hmmmm, sesuatu yang manis…”

“Akan kuambilkan buah dan kupas untukmu.”

“Yeeeay.”

Lucy sedang merawatnya. Aku tidak akan bisa berguna.

Tiba-tiba, ksatria penjaga tua itu berlari menghampiri kami. “Lady Sophia, Anda kedatangan tamu!” serunya.

“Usir saja mereka,” jawabnya blak-blakan.

“T-Tapi itu tidak—”

“Aku masuk, Sophia.”

Perkataan pria itu terpotong. Seorang gadis berkulit sawo matang berjalan masuk mengenakan pakaian yang mirip seperti pakaian penari. Aksesori dan sepatunya jelas-jelas mahal. Dua petarung berbadan kekar berdiri di belakangnya.

Pengawal pribadi? Apakah dia seorang bangsawan? batinku. Kata-katanya sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat atau segan kepada Putri Sophia, jadi dia pastilah bukan orang sembarangan.

“Dahlia. Tiba-tiba muncul tanpa basa-basi…” Sophia tampak sedikit bingung, tetapi dia melangkah untuk berbicara dengan wanita itu.

Dahlia… Aku mengingat nama itu.

Ini adalah Pendeta Wanita Api: Dahlia Sól Great Keith.

Jadi inilah pendeta wanita mereka. Dia memang memiliki aura berkelas yang sama seperti Putri Sophia.

Tepat saat itu, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Aduh! Sasa masih dalam wujud lamia-nya!

Aku “melihat” ke belakang dengan RPG Player dan melihat Lucy telah menutupi separuh bagian bawah tubuh Sasa dengan selimut.

Bagus sekali!

“Ya ampun, apakah itu prajurit yang akan berpartisipasi dalam turnamen?” kata Dahlia, matanya tertuju pada Sasa. Dia kemudian menoleh kepadaku. “Kamu pasti tunangan Sophia, Makoto, Pahlawan Mawar. Aku meminta maaf atas ketidaksopanan ksatria pengawalku kepadamu. Maukah kamu memaafkannya?”

Meskipun kata-katanya sopan, permintaan maaf itu sama sekali tidak terasa tulus. Ksatria pengawalnya adalah Olga Sól Talisker—alias Pahlawan Pijar. Dengan kata lain, Dahlia dilindungi oleh pahlawan gila bertarung yang telah menyerang kami. Rupanya, Olga dan Dahlia adalah teman masa kecil, dan penampilan mereka mendongkrak popularitas mereka di Great Keith. Mereka hampir seperti idol di sini.

Mungkinkah Dahlia adalah orang yang menghasut Olga…? Hanya karena mereka tampak berpenampilan baik, bukan berarti mereka orang yang baik. Rasanya “berhati hitam” jauh lebih pantas untuk mendeskripsikan pasangan itu.

“Senang berkenalan denganmu,” kataku menanggapi. “Aku Makoto Takatsuki.”

“Aku sungguh senang bisa berkenalan denganmu. Suhu di sini mungkin sedikit lebih sulit untuk diatasi daripada di Roses, tapi kuharap kamu bisa bersantai di Great Keith.”

Saat dia berbicara, dia menggenggam tanganku dengan erat.

Dia sangat dekat…

Namun, apa yang kurasakan justru tidak seperti jantungku yang berdegup kencang, melainkan seperti hawa dingin yang merayap di sepanjang tulang belakangku. Dahlia tampak sedang menilai diriku, seperti seorang pedagang yang melihat calon barang dagangan.

Apakah aku akan berakhir menjadi sampah atau harta karun di matanya?

“Dahlia, menjauhlah darinya,” bentak Putri Sophia. “Jika kamu memiliki urusan, aku yang akan menghadapimu.”

“Oh, tapi aku ingin berbicara dengan Pahlawan Makoto lebih lama lagi,” jawab Dahlia.

“Tidak.”

“Kejam sekali. Lagipula, sudah lama—aku juga ingin berbicara denganmu.”

Mendengar itu, mereka berdua menghilang ke ruangan lain.

Pendeta wanita yang baru itu tampak bertindak mirip bangsawan. Oleh karena itu, seorang bangsawan yang seharusnya menghadapinya. Sesuai dengan porsinya, kurasa.

Serahkan saja Putri Sophia yang mengurusnya.

Lucy sedang merawat Sasa, dan Sophia telah membawa tamu tak diundang kami pergi. Aku baru saja memikirkan apa yang harus kulakukan dengan waktuku ketika aku melihat seseorang berjalan santai menuju pintu keluar.

“Putri? Mau ke mana?”

“Jalan-jalan,” jawab Furiae. Dia menggendong Twi di bahunya saat melangkah menuju pintu.

Aku teringat peringatan Eir—Para Dewa Suci sedang mengawasinya. Ira telah secara khusus memperingatkan agar mewaspadai pendeta wanita bulan itu, jadi rasanya berbahaya membiarkannya berkeliaran sendirian.

“Aku ikut,” tawarku.

“Hm, itu jarang sekali. Kurasa kamu memang kesatria pelindungku. Bukan begitu?”

“Berbahaya pergi sendirian.”

“Hah.” Ia mendengus kecil. “Aku tinggal memikat musuh lalu kabur.”

Meski begitu, ia tidak menolak ketika aku berjalan bersamanya.

“Panas,” keluhnya begitu kami berjalan agak jauh.

“Yah, ini iklim yang hangat,” jawabku.

“Gunakan elemental air untuk mendinginkanku.”

“Tidak ada.” Sungguh, tidak ada satupun, ke mana pun aku melihat. Great Keith benar-benar tandus.

Terlepas dari gerutuannya, ia tampak menikmati dirinya sendiri. Ia bersenandung riang sambil dengan penasaran melihat-lihat barang di toko-toko.

“Mau beli sesuatu?” tanyaku. Ia sedang menatap penuh minat pada beberapa pakaian di sebuah gerai.

“Apa?!” serunya dengan ekspresi ngeri. “Kamu mau aku memakai pakaian yang seterbuka itu di depanmu? Mesum!”

Kurasa pakaian di negeri ini agak berbeda dari pakaian yang biasa ia kenakan. Tetap saja, ia pasti merasa jauh lebih kepanasan dengan mengenakan gaun hitam panjang. Sebagian besar mode di Great Keith memang memperlihatkan banyak kulit—itu memang jenis pakaian yang disukai Lucy.

“Lagi pula,” lanjutnya, “kalau aku berjalan-jalan memakai ini, aku akhirnya akan memikat setiap pria yang melihatku. Itu tidak adil bagi para gadis, kan? Kamu mengerti, kan?” Dia terkekeh, mengibaskan rambutnya dengan ekspresi bangga. Gesturnya angkuh, tetapi itu terlihat sangat bagus saat dilakukannya.

Beberapa waktu kemudian, dia tiba-tiba mengumumkan bahwa dia lapar.

Yah, ini sudah sekitar tengah hari—waktunya untuk makan lagi. Berbagai restoran tampak bersiap-siap menghadapi keramaian jam makan siang.

“Ayo kita ke sana,” usulnya sambil menunjuk.

“Boleh.”

Kami menuju ke sebuah tempat secara acak. Pesanan kami terdiri dari sup pedas dan roti renyah. Hidangan itu disajikan dengan minuman manis yang mirip dengan santan. Aku juga memesan ikan bakar untuk Twi.

“Ini rasanya benar-benar aneh,” komentar Furiae, tetapi dia tampaknya tetap menikmati makanannya.

Namun, bagiku, rasa ini sangat familiar.

“Rasanya mirip kari,” kataku.

“Apa itu?”

“Makanan dari dunia lamaku. Di negaraku, kami semua tumbuh dengan makan kari.”

“Kalau begitu, ini pasti sangat membuat bernostalgia.”

Tentu saja memang begitu. Terlempar ke dunia baru datang bersama segudang masalah, tetapi aku senang makanannya enak.

Aku harus mengajak Fujiyan dan Sasa ke tempat ini, tekadku sambil kami makan.

Furiae mendesah. “Aku merasa sedikit mengantuk,” ujarnya, menopang dagunya dengan tangan dan mulai tertidur. Tak lama kemudian, aku bisa mendengar napasnya melambat. Twi telah meringkuk di sebelah dan tertidur pulas juga.

Apa kita membuatnya kelelahan? Kurasa kita telah menyeretnya ikut dalam menaikkan level Sasa. Terima kasih, Furiae.

Aku memutuskan untuk membiarkannya beristirahat dan menunggu saja sampai dia terbangun.

Dia telah tidur selama sekitar setengah jam sebelum tiba-tiba terbangun dengan terkejut.

Matanya terbuka lebar dan sebutir keringat menetes di pipinya. Ini adalah pertama kalinya aku melihatnya kehilangan ketenangan biasanya—dia tampak ketakutan.

“Putri? Ada apa?”

Dia tidak langsung menjawab melainkan mengamati sekeliling area tersebut dengan penuh kecurigaan.

“Dengarkan aku,” desaknya, mencengkeram rambutku dan menarik telingaku mendekat ke bibirnya. “Kesatriaku…” bisiknya. “Ibu kota akan dihancurkan…”

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted