Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 6 Prologue: Sarapan Makoto Takatsuki Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 6 Prologue: Sarapan Makoto Takatsuki Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi
Cover
TOC
Back Image1
Back Image2
Back Image3

Prolog: Sarapan Makoto Takatsuki

Aku membuka mataku dan melihat pendar oranye redup dari lampu langit-langit.

Sambil mengantuk, aku melihat sekeliling kamarku. Seberkas cahaya suram menerobos masuk melalui tirai. Lantainya dipenuhi kotak-kotak game dan jilid manga yang berserakan, dan ada tumpukan buku pelajaran serta buku referensi yang rapi di atas meja.

Jam di atas meja menunjukkan pukul 6.35.

Sejujurnya, aku sudah muak dengan pemandangan kamarku yang suram ini.

Sebaiknya aku bersiap-siap ke sekolah.

Aku berjalan gontai ke ruang keluarga. Tidak ada orang lain di sana. Apakah orang tuaku bahkan pulang tadi malam? Mereka berdua berangkat pagi-pagi sekali dan selalu pulang setelah kereta terakhir.

Sebenarnya… lebih sering lagi mereka sama sekali tidak pulang. Ada sebuah amplop di atas meja berisi beberapa lembar uang—itu uang saku mingguanku… yang berarti hari ini pasti hari Senin.

Sial, aku lelah sekali. Apakah aku begadang semalaman untuk main game? tanyaku dalam hati. Itulah pasti alasan kenapa aku begitu kelelahan. Aku juga tidak ingat berhasil menamatkan gamenya. Bos raja iblis itu terlalu susah. Dia adalah undead, dan setiap kali aku membunuhnya, makhluk itu hidup kembali. Bagaimana cara aku menghadapinya?

Menyiapkan sarapan terlalu melelahkan…

Aku tidak begitu lapar, tapi aku tidak akan bisa berkonsentrasi di kelas jika tidak makan. Sasa juga akan memanggilku si mata mati.

Dengan pemikiran itu, aku mengambil remot dan menyalakan TV.

Ada segmen berita tentang hiburan, tapi aku sama sekali tidak tertarik. Aku mengganti saluran dan menemukan ramalan cuaca. Hari ini akan hujan.

Ah, sial. Aku butuh payung… tunggu, payung? Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku menggunakannya…

Benar. Aku tidak butuh payung. Aku dulu tidak pernah suka hujan, tapi sekarang aku tidak begitu memikirkannya lagi. Lagipula—

“Makoto! Berapa lama lagi kamu mau tidur?!”

Pintu terbuka dengan dibanting, membuat Lucy—yang mengenakan seragam SMA Negeri Eastern Shinagawa—menerobos masuk, dengan sepatu masih melekat di kakinya.

Setidaknya lepas dulu sepatu itu!

insert1

“Ayolah! Waktunya sarapan. Kalau kamu tidak bangun…” Suaranya menghilang. “Hei, ada apa? Wajahmu terlihat aneh.”

Aku merasakan gelak tawa bergejolak di dalam diriku melihat pemandangan aneh Lucy—dengan rambut merah menyala dan telinga elf yang panjang—mengenakan seragam sekolah.

Butuh waktu agak lama bagiku untuk menyadarinya… tapi aku pasti sedang bermimpi.

“Serius deh… apa-apaan— Kya!” teriaknya.

Aku meraih dan memeluknya. Lagipula ini adalah mimpi, jadi tidak apa-apa.

Baguslah… Benar juga. Aku sudah tidak berada di duniaku yang lama lagi.

Aku mempererat pelukannya.

“Berapa lama lagi kamu mau memeluknya?!” suara Lucy tiba-tiba menuntut. Ini diikuti oleh hantaman telak di kepalaku.

“Mhmm?”

Rasa sakit itu membawaku kembali ke kenyataan. Aku mendongak dan melihat Lucy sekarang berdiri di samping, menatapku tajam sementara aku terhuyung-huyung akibat tamparan di kepalaku. Dan… Putri Sophia sebenarnya adalah orang yang berada di dalam pelukanku. Ia memasang raut wajah canggung.

“U-Umm…” gadis itu terbata-bata. “Kamu harus segera bangun, Pahlawan Makoto.” Wajahnya memerah saat napasnya berhembus di dekat telingaku.

Kenapa dia ada di sini? tanyaku dalam hati, memeras otak untuk mengingat detailnya. Tapi kemudian, aku teringat.

Kami baru kembali dari Cameron tadi malam. Ini adalah rumahku di Macallan. Aku tadi sedang bermimpi, dan sekarang aku sudah benar-benar terjaga.

“Pagi, Sophia,” gumamku.

“Selamat pagi, Pahlawan Makoto. Aku mengapresiasi antusiasmemu pagi-pagi begini, tapi tolong lakukan hal seperti ini di tempat yang lebih sepi.” Ucapannya mendorongku untuk segera melepaskan pelukannya. “Sarapan sudah siap. Aku akan menunggu di ruang makan.”

Meskipun merasa malu, sang putri meninggalkan kamar dengan senyuman anggun… meninggalkan Lucy di belakang, menatapku tajam.

“Jadi… sebaiknya kamu cuci muka yang menyedihkan itu,” omelnya.

“Ah, benar juga.”

Dia tidak bisa menyembunyikan ketidaksenangannya… Kedua tangannya bersidekap. Dan, tentu saja, dia mengenakan pakaian biasa seperti sedia kala, bukan seragam sekolah.

Meskipun begitu, dia terlihat manis dengan seragam itu… pikirku, bayangannya masih segar di dalam benakku.

“Ada apa dengan tatapan itu?” sergahnya dengan suara tajam. “Apakah memeluk Putri Sophia benar-benar senyaman itu?”

“Sebenarnya, kupikir itu adalah kamu.”

Aku baru sadar apa yang baru saja kukatakan setelah kata-kata itu meluncur dari bibirku. Alasan macam apa itu? Apakah aku sedang mencoba menjadi seorang playboy? Akan tetapi, ekspresi Lucy berubah menjadi sangat gembira.

“Apa?! B-Benarkah? Hm, kamu ini benar-benar tidak tertolong.” Dia naik ke atas ranjang, menyisir rambutnya ke belakang dengan jemarinya untuk menyembunyikan rasa gugupnya.

“Ehm, L-Lucy?”

“Nah, kali ini kamu bisa menebaknya dengan benar. Peluklah aku sepuasmu.” Sambil berbicara, dia menyelipkan kedua tangannya di belakang leherku, mendekatkan wajah kami…

Tiba-tiba, aku mendengar suara lain. “Luuuu? Apa yang sedang kamu dan Takatsuki lakukan?” Sense Danger berdering di dalam kepalaku. Aku melirik ke arah pintu dan melihat Sasa berdiri di sana, pisau di tangan, menatap ke arah kami.

Menakutkan!

“Sarapannya sudah siap!” ucap Sasa dengan suara nyaring.

“B-Baiklah. Jangan marah, Ayaaa.”

“Ya ampun, Lu, jangan coba-coba mendahului.”

“Maaf!” balas Lucy buru-buru.

Mendengar itu, kedua gadis tersebut beranjak menuju ruang keluarga.

Kurasa aku sebaiknya bangun juga.

Aku menggunakan sihir air untuk membasuh mukaku sebelum mengenakan pakaian kemarin yang sekarang sudah kering. Setelah itu, aku mengelap belati ku dengan kain dan memanjatkan doa kepada Noah. Tepat dalam waktu empat puluh detik, semuanya selesai.

Aku melangkah masuk ke ruangan sebelah, yang berfungsi ganda sebagai ruang keluarga sekaligus ruang makan.

“Pagi, Sasa.”

“Pagi, Takatsuki!”

Dia berbalik mengenakan sebuah apron merah muda, sambil tersenyum. Rambutnya disisir ke belakang dan diikat ke atas. Apron itu sebenarnya adalah buatan tangannya sendiri, dan diikat dengan pita besar di pinggangnya. Dia benar-benar mengagumkan.

“Kamu terlambat, ksatriaku!” protes Furiae, mengetuk-ngetukkan sumpitnya ke mangkuknya.

Dari mana kamu belajar itu? Itu tidak sopan, hentikan.

Sebaliknya, Putri Sophia dengan tenang sedang meminum teh. Ketimpangan yang begitu nyata pada pemandangan itu sejujurnya cukup menghibur.

“Baiklah, semuanya, silakan makan!” seru Sasa.

Kami mengucapkan terima kasih secara bersamaan dan mulai menikmati hidangan. Tidak seperti mimpiku, ini bukanlah ruang tamu suram tempat aku sendirian—tidak, aku sedang duduk di meja makan yang ceria bersama banyak orang.

Aku senang aku tadi tertidur. Dunia ini lebih baik daripada duniamu yang dulu.

Yah, kau boleh bilang begitu, sela Noah, tapi gadis-gadis di meja itu semuanya sedang memperebutkanmu. Kau bisa-bisa berakhir dengan ditusuk.

Dewi… kumohon jangan memancing nasib buruk pagi-pagi begini.

Yah, siapa peduli? Lagipula, kau kan populeeeh sekali.

Suaranya terdengar cemberut. Aku harus menenangkannya sebelum mulai sarapan.

Kamu sepertinya tidak senang. Apa kamu marah?

Tidak juga.

Yah, Noah, kamu tetap spesial bagiku.

Heh, begitu ya. Kurasa itu tidak masalah kalau begitu.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted