Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu V3Ch5_ Yuri Kokonoe Part 3 Bahasa Indonesia – Litenovel

Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu V3Ch5_ Yuri Kokonoe Part 3 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

V3Ch5: Yuri Kokonoe Bagian 3

Penerjemah: Soafp

[Sudut Pandang Yuri]

Adik laki-lakiku membuatku menangis. Aku telah bersumpah bahwa aku tidak akan menangis lagi, tapi dia dengan mudahnya melanggar sumpah itu. Menyedihkan. Namun, anehnya, hatiku terasa lapang.

Mungkin air mata yang kutumpahkan bukanlah air mata kesedihan, melainkan kebahagiaan.

Sesampainya di rumah, aku memutuskan untuk berlatih tersenyum di depan cermin. Aku merilekskan otot-otot pipiku yang kaku dan tegang. Aku harus pantas mengenakan gaun yang dibuatnya untukku.

Perasaan kagum itu masih tersisa di dalam diriku. Dia memberiku kenangan yang begitu berharga.

Dengan begini, aku tidak akan merasa kesepian meskipun kami terpisah… Aku kembali membohongi diriku sendiri.

Agar bisa menyerah, haruskah aku menerima pernyataan cinta dari seorang teman sekelas bernama Mizuguchi yang telah menyatakan perasaannya padaku?

…Tapi aku tidak punya niat untuk melakukan itu, meskipun aku mengatakannya. Aku tidak bisa melibatkan orang lain dalam hal ini.

Satu-satunya yang akan terluka adalah adikku jika aku melakukan tiruan yang sama seperti diriku yang bodoh di masa lalu.

Mencintai seseorang sebagai gadis biasa. Aku ingin tahu apakah itu adalah sesuatu yang bisa kulakukan.

Kapan aku menyimpang dari jalan yang benar? Kapan aku jatuh cinta begitu dalam?

Adik laki-lakiku tidak pernah menyalahkanku. Sebaliknya, dia meminta maaf karena mengira dia telah menimbulkan masalah.

Dia tidak pernah menceritakan kesalahan dan rasa bersalahku kepada siapa pun. Dia tidak meminta apa pun sebagai balasan dan menjaga jarak agar aku bisa hidup secara normal.

Aku gagal menyadari kebaikannya yang lembut dan terus mempersempit jarak, tidak pernah merasa puas.

Meskipun aku tahu aku tidak boleh jatuh cinta lebih jauh lagi, meskipun aku tahu aku tidak boleh melewati batas itu, menyangkal semuanya adalah hal yang sia-sia.

Aku mencintainya. Aku jatuh cinta kepadanya. Aku tidak bisa berpura-pura bahwa perasaan ini tidak pernah ada.

Setelah apa yang terjadi, bagaimana mungkin aku tidak mencintainya? Sangat wajar jika aku jatuh cinta.

Berapa banyak persiapan yang telah dia buat untuk hari ini?

Berapa banyak usaha yang telah dia curahkan? Aku tidak layak mendapatkan perhatian sebesar itu.

Bagaimana seharusnya aku membalasnya, dengan mengetahui bahwa dia melakukan semua ini untukku, dan hanya memikirkan diriku?

“Di mana tempat ini…?”

Dalam perjalanan pulang, Yukito menyarankan untuk sedikit memutar jalan.

Sebuah taman yang familier. Tempat di mana aku telah melukai Yukito begitu parah.

Sejak saat itu, aku tidak pernah mendekatinya lagi. Kenapa sekarang…?

“Hilang?”

“Mereka menyingkirkan peralatan bermainnya.”

Jawaban atas monolog yang bergumam itu diberikan oleh Yukito. Itu adalah pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan.

Jika kecelakaan besar seperti itu telah terjadi, peralatan bermain itu pasti sudah disingkirkan seketika.

Tempat di mana taman bermain itu dulunya berada kini telah kosong. Sebuah kekosongan yang aneh tertinggal di sana.

Mengingat kembali bayangan Yukito, yang berjongkok dan berlumuran darah, tubuhku menjadi kaku, dan napasku menjadi tidak teratur. Aku menyembunyikan tangan gemetarku di balik punggungku.

“Maafkan aku…”

“Untuk apa kamu meminta maaf?”

Kecemasan bergolak di dalam diriku. Baru beberapa saat yang lalu, aku begitu bahagia, tetapi sekarang ketakutan yang tidak dapat dijelaskan meliputiku. Bahkan di musim panas, rasanya seolah-olah suhu udara tiba-tiba turun.

Tirai malam turun. Di dalam kegelapan, hanya lampu jalan yang menerangi kami.

Mungkin di bawah sorotan lampu ini, pengadilan akan dimulai.

Mimpi yang sangat aku dambakan itu kini justru menakutiku.

“Hari itu, aku menghancurkan duniamu, Nee-san. Kau tahu, perasaan mencoba bergabung dengan kelompok yang erat tetapi merasa terasingkan. Itu adalah pengalaman yang umum bagi orang sepertiku yang menyendiri, seperti menjadi penyusup di antara seratus bunga lili. Aku menyusup ke dalam hubungan yang telah kau dan teman-temanmu bangun. Seperti orang luar, melakukan dosa yang seharusnya dibayar dengan kematian. Aku menginjak-injak duniamu. Itu adalah salahku, dan penolakanmu adalah hal yang wajar. Akulah yang bersalah dan kaulah yang menanggung rasa bersalah itu.”

Tidak, kamu salah! Kamu tidak bersalah! Akulah orang yang hampir membunuhmu!

Aku ingin berteriak, tetapi suaraku tidak mau keluar. Seorang korban yang membela pelaku adalah hal yang tidak dimaafkan. Itu bertentangan dengan keadilan. Namun, tidak ada kemarahan atau celaan dalam suara adikku.

Kata-katanya mengalir dengan tenang, tanpa secercah kebencian pun… Apakah seperti inilah dunia jika dilihat melalui mata Yukito?

Dunia yang dilihat oleh adik laki-lakiku. Sebuah dunia yang diwarnai dengan sepia pudar, selalu mendongak ke langit dari dasar.

Yukito selalu menahan diri untuk tidak mengatakan hal buruk tentang orang lain. Dulu aku menganggap hal itu menggemaskan.

Tetapi sekarang setelah aku tahu dan mengerti, aku tidak bisa memaksa diriku untuk mengatakannya.

Sungguh dunia yang menyedihkan ini. Merindukan langit dari kedalaman, dari dasar yang paling bawah.

Terus-menerus berusaha mencapai ketinggian yang tidak akan pernah bisa diraih. Di dalam kegelapan, tanpa ada seorang pun di sekitar.

“Tetapi, Nee-san, kamu memksa dirimu untuk membenarkan dunia yang rusak itu. Kamu menerimaku sebagai orang luar dan menetapkan bahwa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Kamu membunuh emosimu dan menghancurkan hatimu.”

Aku tidak dapat mengingat emosi dari hari itu. Sekarang, aku bahkan tidak dapat memahami mengapa aku melakukan tindakan bodoh seperti itu.

Tetapi jika aku mengikuti ingatanku, memang benar bahwa pada saat itu, aku membenci dan menolak saudaraku. Itulah kebenarannya.

“Nee-san, sekarang tidak apa-apa. Kamu tidak perlu memksa dirimu. Jika kamu membenciku, maka itu tidak apa-apa. Kamu tidak perlu berpura-pura, memutarbalikkan dirimu, atau mencoba menyukaiku. Tidak apa-apa.”

Dengan lembut, Yukito mengambil tanganku yang gemetar dan menempelkannya di lehernya.

“—-! Apa maksudmu kamu menyadarinya!?”

“Aku hanya punya firasat terkadang.”

Darahku terasa membeku. Bukan, bukan begitu! Aku sama sekali tidak merasa seperti itu!

Aku ingin berteriak, tetapi siapa yang akan percaya alasan seperti itu?

Aku tidak dapat mengucapkan kata-kata yang memohon hukuman, yang didorong oleh godaan dosa-dosa selanjutnya.

Aku meletakkan tanganku di leher saudaraku yang sedang tidur berkali-kali. Tetapi itu seperti sebuah ritual.

Itu untuk mengakui dosaku yang tak terampuni. Aku sama sekali tidak berniat untuk mencekiknya.

Tetapi jika Yukito menyadari, jika dia terbangun dan merasakan keberadaanku, bagaimana tindakan bodohku terlihat di matanya? Mungkin dia merasakan ketakutan di hadapan niat membunuh yang tidak ada.

Jika itu masalahnya, maka bagi Yukito, aku tetaplah seorang pembunuh…

“Aku tidak tahan melihatmu menderita seperti ini. Jika kamu membenciku, tidak apa-apa. Jadi, maafkanlah dirimu sendiri dan bebaskan dirimu.”

“Apa yang kamu bicarakan? Mana mungkin aku bisa membencimu—”

Yukito mempererat genggamannya di atas tanganku. Sebuah hawa dingin merayap di tulang belakangku.

Tidak, hentikan… Hentikan, hentikan, hentikan! Jangan membuatku melakukan hal sebesar itu!

Sebuah getaran pertanda buruk menjalar di tulang belakangku. Sebuah invasi kehidupan. Sebuah pelanggaran martabat.

“Saat mencekik, kamu tidak mengerahkan tenaga di seluruh bagian; melainkan, kamu menekan arteri karotis dengan menggenggam bagian ini secara perlahan. Itu adalah cara yang efektif untuk memutus kesadaran.”

Seolah-olah sedang membagikan pengetahuan sepele secara santai, Yukito memperagakannya tanpa ragu-ragu.

Tiba-tiba, kekuatan terkuras dari tubuh Yukito, dan dia jatuh berlutut.

“…Itu bohong. Bohong, kan? Katakan sesuatu! Kenapa kamu melakukan ini! Yukito, Yukito!”

Kenapa, kenapa bisa jadi begini? Kamu sendiri yang mengatakannya!

Dia ingin aku tersenyum seperti dulu. Dia ingin aku tersenyum. Namun, kenapa?!

Jika tidak ada seorang pun yang ditujukan untuk memperlihatkan senyuman itu, maka semuanya menjadi tidak ada artinya.

Aku tidak pernah ingin melihatmu seperti ini lagi. Aku bersumpah untuk melindungimu, tetapi akulah yang menyakitimu!

Aku mengguncang tubuh adik laki-lakiku. Kesadarannya hampir hilang. Aku tidak akan membiarkannya mati, tidak boleh!

Berjuang untuk mengendalikan kebingunganku yang semakin menjadi-jadi, aku meraih ponselku.

“Benar, ambulans!”

Tangan Yukito mencengkeram lenganku.

“Uhuk, uhuk! Uuuuuuuuuuugh!”

Dia tampaknya sadar kembali, terbatuk-batuk dan berjuang untuk bernapas.

“Kamu tidak apa-apa!? Kenapa kamu melakukan hal seperti ini! Di dunia tanpa kamu, tidak ada alasan bagiku untuk—”

Di dunia seperti itu, tidak ada alasan untuk hidup.

Di dunia seperti itu, aku tidak membutuhkannya.

“…Yuri-san, maaf aku tidak bisa menghilang.”

Kata-kata yang sama seperti sebelumnya. Rasanya seperti pisau tajam yang mengorek-ngorek hatiku.

Aku membunuh Yukito. Aku dihadapkan pada dosa-dosaku, agar tidak pernah lupa.

“Hentikan! Orang yang seharusnya menghilang, orang yang harus menghilang, bukanlah kamu melainkan aku!”

“Tidak, kamu salah, Nee-san. Aku menyadari bahwa ada orang-orang yang bilang mereka mencintaiku, yang menganggapku berharga, dan yang akan bersedih jika aku tidak ada. Jadi, aku tidak bisa bertindak seperti yang kulakukan dulu lagi. Maafkan aku. Aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu lagi.”

Ekspresi sedih di wajah Yukito. Tapi kata-kata itu bertolak belakang dengan apa yang dia katakan saat itu.

Dulu, dia ingin menghilang tetapi gagal, tapi sekarang, dia bilang dia tidak bisa.

Itulah pertumbuhan. Dia tahu dia dicintai, dan dia ingin hidup demi orang lain.

“Keinginanku? Agar kamu menghilang? Mana mungkin itu benar!”

“Kamu tidak perlu memaksakan diri, Nee-san. Akuilah. Jika kamu terus begini, kamu pada akhirnya akan hancur. Berpura-pura menjadi seseorang yang bukan dirimu selamanya adalah…”

“Jangan berani-aninya kamu memutuskan perasaanku untukku!”

Adikku yang tidak tahu apa-apa. Aku mengangkat tanganku seolah ingin menamparnya, tapi aku tidak tega melakukannya, dan sebagai gantinya, aku mengelus pipinya dengan lembut. Itu tidak mungkin… karena aku mencintainya.

“Aku mencintaimu! Aku tahu ini adalah cintaku yang terlarang dan tak terampuni. Aku tidak pernah berniat untuk mengungkapkannya dengan kata-kata. Aku ingin melawannya. Tapi kamu begitu baik…”

Air mata meluap. Air mata yang telah kutahan selama bertahun-tahun, air mata selama puluhan tahun, memutuskan untuk tidak menangis, kini mengalir deras di pipiku. Air mata itu menetes ke tanah. Aku sangat menyedihkan. Aku sangat malang.

“Kubilang, itu salah pahammu, Nee-s—”

“Bahkan jika kamu membenciku, aku akan terus mencintaimu sampai aku mati.”

Meskipun ini adalah cinta bertepuk sebelah tangan, itu tidak masalah. Aku sudah terbiasa mencintai seseorang tanpa dicintai kembali.

Jika apa yang dikatakan oleh Yukito itu benar dan perasaan ini hanyalah sebuah ilusi, aku tetap telah mengubahnya menjadi sesuatu yang tulus. Sesuatu yang tak tergantikan, sesuatu yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun, bahkan jika itu demi Yukito.

“…Nee-san, bagimu, aku hanya musuh yang dibenci, kan?”

“Kamu adalah satu-satunya adik laki-laki tersayang di dunia ini bagiku.”

“…Nee-san, bagimu, aku adalah iblis yang sangat kamu benci hingga ingin kamu bunuh.”

“Kamu adalah harta yang indah, tak ternoda, dan satu-satunya.”

Yukito tampak bingung. Itu bisa dimaklumi. Aku tiba-tiba mengatakan hal seperti itu.

Aku tidak pernah berniat mengatakan ini, dan seharusnya aku menguburnya selamanya.

Untuk beberapa alasan, anak ini yang seharusnya membenciku malah mulai bersandar kepadaku akhir-akhir ini. Rasanya seperti sebuah mimpi bagiku, yang iri pada kasih sayang Ibu yang bebas. Aku mencoba menjaga jarak, tetapi Yukito justru semakin mendekat sebagai tanggapan, membuatku merasa kehilangan akal.

Namun, aku tidak membencinya; aku sangat bahagia.

—Sampai-sampai berpikir aku telah dimaafkan. Terbuai dalam khayalan yang begitu konyol.

“Itu tidak mungkin, kan…”

Aku merasa lemas. Aku kelelahan. Pada akhirnya aku diberi mimpi yang indah. Itu saja sudah cukup bagiku.

Dia memberiku gambar yang begitu indah, membuatkan gaun untukku, dan membuatku tersenyum.

Kebahagiaan apa lagi yang bisa kuinginkan?

“Terima kasih, Yukito. Dan maafkan aku atas segalanya selama ini.”

Aku samar-samar mengerti bahwa ini adalah sebuah perpisahan.

Bahkan jika aku pergi belajar ke luar negeri, aku akan terus mencintainya. Itu saja sudah cukup. Aku tidak butuh apa-apa lagi.

Jika dia menjadi bahagia, itulah kebahagiaanku.

“Nee-san?”

“Ada apa?”

Dia tampak seperti menyadari suatu kesalahan krusial, dengan ekspresi kekhawatiran yang halus. Rasanya aneh.

Yukito tampak kesulitan saat dia membuka mulutnya.

“…Ada yang tidak sinkron?”

“Hah?”

[Sudut Pandang Yukito]

Sambil membawa sepeda lipat, kami berjalan pulang. Di sepanjang jalan, kami mencoba menyamakan pemahaman kami.

“Yuri-san, kamu akan kuliah ke luar negeri!?”

Aku terkejut dengan pengungkapan yang tiba-tiba ini.

Rasanya pemahaman kami benar-benar tidak sejalan, dan aku tidak bisa menahan perasaan tidak nyaman. Kami berdua begitu linglung. Kami tadi hanya mengatakan apa yang ingin kami katakan tanpa benar-benar berkomunikasi satu sama lain.

Hubungan saudara kami benar-benar mencerminkan masalah komunikasi kami. Kurasa ini tidak bisa dihindari setelah sekian tahun hubungannya merenggang.

Setelah membicarakannya lagi, ternyata Nee-san ingin berkuliah di universitas luar negeri.

“Negara mana yang kamu rencanakan untuk dituju? Inggris, mungkin?”

Nee-san sangat mahir dalam bahasa. Tapi bahasa terbaiknya kemungkinan besar adalah “bahasa Yukito.” Apa-apaan itu!?

“Um… bukan itu masalahnya…”

“?”

Untuk beberapa alasan, Yuri-san tampak ragu-ragu, sesuatu yang tidak biasa baginya.

“Yah, bukan itu masalahnya… Lebih kepada apakah kamu membutuhkanku atau tidak. Aku tadinya berpikir mungkin lebih baik jika aku menjauh.”

“Kenapa?”

“Tapi, kamu bisa melakukan apa saja, kan? Aku tidak bisa bilang aku akan melindungimu, dan mungkin Yukito membenciku, bukan? Aku kakak yang sangat buruk. Kamu tidak harus memaksakan diri, Yukito.”

Dia tidak menderita karena rasa benci terhadapku, melainkan karena dia telah kehilangan arti dari eksistensi dan perannya sendiri, serta khawatir bahwa dia hanya bisa memenuhi tujuannya dengan meninggalkanku. Dengan kata lain, apa yang kupikirkan meleset sepenuhnya. Hanya sebuah kesimpulan yang terburu-buru.

Sialan sekali!

Sebenarnya apa maksud dari semua itu? Aku begitu serius mengkhawatirkannya. Terlebih lagi, aku mungkin telah menyebabkan trauma lain yang tidak perlu bagi Yuri.

Aku sangat malu hingga mati karena geram. Wajahku hampir terbakar karena marah. Wajah terbuka.

Haa? Mana mungkin aku tidak menyukai Yuri-san. Kita adalah teman dekat sehingga tidak ada bagian tubuh satu sama lain yang tidak kuketahui. Kenapa hal itu bisa terjadi? …… (kekuatan tak tertahankan)

“Jangan membuat asumsi tentang perasaanku, Nee-san!”

“Itu kalimat yang sama yang kukatakan tadi.”

“Memang benar, tapi… Aku tidak bisa mendukung keputusanmu untuk belajar ke luar negeri karena alasan seperti itu.”

“—-! Maaf, aku tidak peka.”

“Aku akan merasa kesepian tanpa kakak perempuanku.”

“Baiklah, aku akan menghentikannya sekarang juga. Sejujurnya, dari awal aku tidak begitu ingin belajar ke luar negeri. Repot sekali rasanya pergi ke luar negeri dan semacamnya.”

Perubahan pendirian yang luar biasa. Seperti biasa, kemampuan kakakku dalam membuat keputusan dengan cepat sangatlah luar biasa. Apakah ini benar-benar tidak apa-apa?

Aku mengembuskan napas panjang, merasa seolah beban telah terangkat dari pundakku, atau mungkin semua itu sia-sia belaka.

Namun, jika kekhawatiran kakakku sudah teratasi, maka ini seharusnya menjadi akhir yang bahagia, kan? Mari kita syukuri saja hal itu untuk saat ini.

“Sepertinya ada kesalahpahaman dari kedua belah pihak…”

“Ya… Entah apa yang kupikirkan selama ini. Haa… Butuh waktu cukup lama untuk membereskan semuanya, tapi kita akan mengisi celah-celah itu satu per satu. Kita punya banyak waktu mulai sekarang.”

“Benar juga.”

“Baiklah, mari kita mulai dengan semboyanku. Segala milikku adalah milikmu. Milikmu tetap milikmu. Dan aku sendiri adalah milikmu.”

“Kamu dipenuhi dengan jiwa melayani!?”

Apakah seperti inilah wujud makhluk surgawi? Kuharap dia tidak menarik perhatian orang-orang aneh dengan sikap seperti itu…

“Aku benar-benar minta maaf karena telah merepotkanmu kali ini. Aku sama sekali tidak berniat membuatmu bingung. Tapi tolong percayalah pada satu hal: Perasaanku pada Yukito adalah tulus, bukan kebohongan.”

“…Merupakan suatu kehormatan bisa menerima kata-kata yang begitu luar biasa.”

“Kata-kata saja mungkin tidak cukup untuk mendapatkan kepercayaanmu, kan? Kalau begitu, bagaimana dengan tato ‘Khusus Kakak’ di perut bagian bawahku?”

“Kumohon, jangan lakukan itu sama sekali!? Ide-andalanmu terlalu bernuansa horor hanya karena ini musim panas!”

“Kurang lebih kamu benar. Daripada ‘kakak’, mungkin ‘Khusus Yukito’ akan lebih baik.”

“Itu sama sekali tidak lebih baik.”

“Kamu adalah satu-satunya orang yang diizinkan menulis karakter ‘正’ (benar) di pahaku.”

Dari mana sebenarnya dia mendapatkan pengetahuan ini…?

Yah, intinya,

“Tepat sekali, inilah Yuri yang sebenarnya.”

Ya, sifat gila inilah diri aslinya Onee-chan. Dia tidak cocok jika bersikap murung.

Rasanya sudah pas dipermainkan dengan penuh canda seperti ini. Bagaimanapun juga, aku tidak membenci Onee-chan.

“Mari kita mulai lagi dari awal. Bahkan Ibu pun mendapatkan awal baru sebagai Mama, kan? Jadi kita juga bisa.”

“Apa kamu baik-baik saja dengan itu?”

“Onee-chan yang sedang tersenyum jauh lebih memesona.”

Kami tadinya berpikir harus menjaga jarak karena kami saling membenci. Kami menahan diri untuk tidak mencampuri kehidupan satu sama lain.

Namun, jika bukan itu masalahnya, maka kita seharusnya bisa kembali menjadi saudara yang akrab seperti dulu.

“Bolehkah aku mencintaimu?”

“Kamu sendiri yang bilang padaku kalau itu bukan urusanku untuk memutuskannya, jadi…”

“Bisakah kamu mengenakan gaun pengantin padaku?”

“Hmm? Apa yang kamu bicarakan?”

“Ha?”

“Tentu saja, aku akan memakaikanmu gaun pengantin, Nee-san!”

“Asyik! Aku menantikannya.”

“Ya.”

Hmm, apakah benar-benar tidak apa-apa jika semuanya tetap seperti ini? Aku mulai merasa cemas.

Akhirnya, gedung apartemen itu terlihat. Aku lelah hari ini. Aku hanya ingin segera beristirahat.

“—-Yukito, aku tidak akan menahan diri lagi. Aku serius denganmu.”

Saat dia mengatakan itu dan mulai berlari, ekspresi kakakku adalah senyuman lembut yang sama seperti yang kulihat di masa lalu.

Daftar Isi

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *