Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 3 Bonus Short Stories Bahasa Indonesia
Cerita Pendek Bonus
Percakapan antara Putri Sophia dan Dewi-nya
◇ Sudut Pandang Putri Sophia ◇
“Lihat! Kemampuanku berenang sudah jauh lebih baik sekarang, kan?”
Selama beberapa malam terakhir, aku telah berenang di laut malam bersama Hero Makoto.
“Ya, tentu saja,” jawabnya dengan senyuman lembut. Makoto sedang berdiri di atas air menggunakan sihirnya. Tatapan lembut di matanya membuat tubuhku terasa panas, tapi…
Kamu sepertinya tidak tertarik padaku…
Dia mengenakan perlengkapan berpetualangnya yang biasa, pakaian serba abu-abu kelabu. Aku melirik sisa peralatannya di pantai.
Dia berniat mencoba mencapai kuil itu lagi malam ini…
Tepat saat itu, aku melihat Hero Makoto sedang menatap ke arah air. Matanya tertuju ke tempat Kuil Dasar Laut berada di bawah ombak… alih-alih menatapku. Dari apa yang telah diceritakannya kepadaku, aku tahu bahwa dia menyelam ke sana setiap malam dan mencoba maju melewati celah bernama Deep Scar.
Tempat itu sangat berbahaya dan penuh dengan monster, namun dia terus kembali setiap hari.
Kuharap dia tidak menempatkan dirinya dalam bahaya sebesar itu… Tetapi, jika aku mengatakannya dengan suara keras, aku yakin dia akan memasang ekspresi jengkel.
Tiba-tiba, aku teringat akan sebuah percakapan yang kulakukan dengan Dewi Air, Lady Eir.
◇
“Heeeii, Sophieee☆ Ada apa?”
“L-Lady Eir?!”
Saat aku sedang mempersembahkan doa harian, sang dewi berbicara kepadaku. Meskipun biasanya dia sangat santai dalam berbicara, dia tetaplah dewi yang mengawasi seluruh Roses—bukan hal sepele baginya untuk bercakap-cakap dengan seorang pendeta wanita fana.
“Apakah ada suatu masalah?” tanyaku dengan ragu-ragu.
“Yups! Ini keadaan darurat, benar-benar darurat.”
“K-Keadaan darurat?” Bencana seperti apa yang akan dianggap sebagai keadaan darurat oleh seorang dewi? Rasa cemas merasuki seluruh tubuhku.
“Jadi, Sophie,” mulainya.
“Y-Ya…?” jawabku, menunggu apa yang akan dia katakan selanjutnya.
“Kamu sedang jatuh cinta!”
“Apa…?” Meskipun aku memiliki skill Coldhearted, aku hanya bisa mengeluarkan suara bodoh. “Um…Lady Eir, apa…?” Saat aku berjuang untuk merespons, aku memikirkan kembali perilakuku selama beberapa hari terakhir… dan langsung berkeringat dingin.
“Ayolah, jangan malu-malu,” goda Lady Eir. “Kamu selalu begitu serius saat berdoa, selalu memikirkan warga kotamu. Tapi! Kepalamu akhir-akhir ini penuh dengan seorang ‘pahlawan’ tertentu. Tentu saja aku akan menyadarinya,” katanya kepadaku sambil terkikik.
“A-Aku sangat minta maaf!” seruku spontan, menundukkan kepalaku ke lantai di hadapan patung yang menyerupainya. “Aku telah melalaikan posisiku!”
“Oh, tidak, tidak, aku justru senang!” serunya, dan aku bisa merasakan kegembiraan dalam kata-katanya. “Kamu begitu serius! Kamu belum pernah memiliki perasaan pada siapa pun seperti ini sebelumnya, bukan? Tentu saja aku senang karena akhirnya ada seseorang yang menarik perhatianmu. Aku tahu ini akan menjadi sebuah wahyu. Sophie, kamu harus membuat pria itu jatuh cinta kepadamu.”
“L-Lady Eir?!”
Aku tidak bisa melakukan itu! Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus mulai memikirkannya!
“Tidak apa-apa! Aku akan mengajarimu.”
Yah… itu sangat baik darinya, tapi aku bisa merasakan sang dewi yang usil mulai antusias…
◇
“Kalau begitu, sampai jumpa nanti,” Pahlawan Makoto memberitahuku. Kami telah selesai di pantai, dan dia mengantarku kembali ke kamar. Biasanya di sinilah kami akan berpisah.
“Um… hati-hati,” kataku. Menyimpang dari kebiasaanku biasanya, aku memeganginya dengan kedua tangan dan mendongak menatap matanya. Lady Eir telah mengatakan bahwa teknik ini efektif pada pria, tapi aku tidak begitu yakin.
Meskipun demikian, aku dapat melihat pemandangan langka dari Pahlawan Makoto yang tampak salah tingkah dengan pipi memerah.
“B-Baiklah. Aku akan berhati-hati,” jawabnya terbata-bata. Kemudian, dia pergi dengan langkah terburu-buru.
Kerja bagus, kata sebuah suara di dalam benakku. Ini berhasil.
Lady Eir sedang memerhatikan?!
Mau coba memeluknya lain kali?
A-Aku tidak bisa melakukan itu! Itu kotor. Oh, tapi… dia terlihat begitu imut dengan pipi yang merona. Aku ingin melihat pemandangan itu lagi. Kalau menyangkut perasaanku, kurasa sudah terlambat bagiku…
Makoto, Lucy, dan Sasa
“Berat…” gerutuku.
Aku baru saja terbangun, dan rasanya ada beban di kedua sisiku. Semalam, aku mencoba memasuki Kuil Dasar Laut lagi, tetapi sekali lagi aku melakukan penarikan taktis yang sempurna.
Aku sudah memutuskan bahwa menerobos masuk ke kamar Pangeran Leonardo setiap malam akan merepotkan, jadi kali ini aku berada di ranjangku sendiri. Seperti yang kuduga, para penyusup biasa telah datang.
Yah, lagipula aku tidak mengunci pintunya… batinku.
Aku melirik ke samping dan melihat rambut merah panjang menjuntai di leherku. Peri yang dikelilingi oleh rambut itu sedang bernapas dengan lembut dalam tidurnya.
“Lucy,” gumamku, “ayo bangun.”
“Mmph… Oh, kamu sudah kembali, Makoto?” tanyanya, terbangun sambil mengucek matanya dengan mengantuk. Seperti biasa, pakaian tidurnya lebih mirip pakaian dalam karena suhu tubuhnya yang tinggi, dan tali kamisolnya melorot dari bahunya.
“Rasanya aku sudah mengatakannya beberapa kali, tapi cara berpakaianmu itu—”
Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh sepasang lengan yang melingkar di leherku.
“Takatsukiii.” Suaranya terdengar dekat di telingaku, dan dia menyingkirkan rambut Lucy. Pemilik lengan yang dingin itu tidak lain dan tidak bukan adalah… Sasa.
“Pagi, Sasa.”
“Selamat pagi. Jadi kali ini kau kembali ke kamarmu! Sudah lama sekali…” Sambil berbicara, dia menarikku lebih dekat dengan lengannya dan melilitkan kakinya pada kakiku. Dia melingkariku… hampir seperti seekor ular. Yah, dia memang seorang lamia, jadi kurasa itu wajar…
“Ayolah, Aya, kau terlalu menempel,” protes Lucy. Dia melepaskan lengan Sasa dan menggantinya dengan lengannya sendiri.
“Luuu, apa yang kau lakukan,” keluh Sasa, kembali merangkul Lucy.
“Kita berjanji untuk saling membantu, kan?” tanya Lucy.
“Lalu kenapa kau malah menghalangi?” balas Sasa.
Mereka berdua saling melotot melewati diriku. Ehm… hei, kalian?
“Kau terlalu dekat dengannya.”
“Dan kau tidak mengenakan pakaianmu dengan benar.”
Sementara itu, aku kekurangan oksigen. “T-Tidak bisa bernapas… tolong…” Sasa memiliki kekuatan manusia super, dan Lucy lebih kuat dari kelihatannya… Aku terjepit di antara mereka berdua.
“Ah! Makoto!”
“Gawat, Takatsuki!”
Mereka berdua dengan cepat menyadari apa yang sedang mereka lakukan dan mundur.
Nyaris saja… Aku hampir menemui akhir yang buruk, tergencet di antara para gadis.
Yakin itu bukan akhir yang bagus? selak Noah.
Tidak, Dewi, bukan begitu cara aku ingin mati!
Sambil mengatur napas, Lucy dan Sasa menatapku dengan cemas.
“Kau tidak apa-apa, Makoto?”
“Kau marah?”
“Enggak,” jawabku. “Sebenarnya, kita semua harus jalan-jalan hari ini.”
Sejujurnya aku merasa agak bersalah… Selama liburan kami, aku sepenuhnya fokus pada Kuil Dasar Laut, jadi aku hampir tidak meluangkan waktu untuk mereka.
Atas saranku, wajah mereka berdua langsung tersenyum.
“Kami akan ganti baju!”
“Tunggu di sini.”
Mereka berdua dengan cepat berlari kecil ke kamar masing-masing.
◇
“Makoto!” seru Lucy. “Pertama-tama, ada pantai yang sangat indah! Setelah itu, kita bisa mampir ke tempat yang enak untuk makan siang, dan aku ingin membeli pakaian baru untuk latihan sihir…”
Sasa kemudian menyela dengan ide-idenya sendiri. “Takatsuki! Aku ingin melihat-lihat bazar itu. Ada tempat dengan kue yang enak di sana, jadi kita bisa pergi ke sana. Aku juga ingin kau membantuku memilih sepatu baru…”
“Terdengar bagus, Aya!” kata Lucy dengan penuh antusias. “Mungkin aku harus membelinya sepasang juga.”
“Boleh juga!” setuju Sasa. “Bagaimana dengan rencana malam ini?”
“Serahkan itu padaku! Aku memesan ruangan pribadi di sebuah restoran—pemandangannya konon sangat luar biasa! Pangeran Leonardo yang memberitahuku tentang itu, jadi itu akan sempurna!”
“Hore! Kalau begitu kita bisa bermain kartu di kamarmu, Takatsuki.”
Jadwal kami benar-benar padat. Kedua gadis itu tidak mau berhenti…
Tepat saat kami sedang memastikan rencana perjalanan kami untuk hari ini, aku merasakan tatapan seseorang tertuju pada kami. Aku menoleh dan mendapati Putri Sophia sedang melihat ke arah kami. Tapi saat mata kami saling bertatap, dia buru-buru mengalihkan pandangannya. Ada apa sebenarnya dengan itu…?
Makoto, saatnya tunjukkan sisi jantanmu.
Noah… Baiklah. Aku juga akan berbicara dengan Putri Sophia.
Obrolan antara Dewi dan Penganut
Itu adalah malam saat kami meninggalkan Kepulauan Habhain, dan aku sedang bermimpi.
“N-Noah?” geragapku. “Pakaian apa yang kaukenakan…?”
“Bagaimana menurutmu? Apakah ini cocok untukku?”
Dewiku sedang berada dalam mimpiku… mengenakan pakaian renang. M-Maksudku, jika dilihat dari penampilannya… Aku menelan ludah. Aku sudah terbiasa melihat teman-teman normaliku mengenakan pakaian renang sekarang, tetapi yang ini… luar biasa.
“Ini imut, kan?” tanyanya, sambil berpose seperti model pin-up.
“Kau merusaknya,” kataku, dan dia menanggapi kritikanku dengan acuh tak acuh. “Tapi kenapa kau memakai itu?”
Mendengar pertanyaanku, dia tiba-tiba memasang wajah cemberut. “Yah, kalian semua bersenang-senang di pantai selama ini! Coba pikirkan bagaimana perasaanku melihat kalian!”
“Ah, jadi kau cemburu…”
Aku merasa tidak enak.
“Hih, tidak apa-apa. Hari ini kau bersamaku,” ucapnya sambil menjentikkan jarinya. Aku bisa mendengar suara deburan ombak sekarang.
“Apa?!”
Atas isyaratnya, tempat itu telah berubah menjadi bentang alam berupa pantai berpasir dan laut biru.
A-Apa-apaan ini?
“Ini tidak nyata,” akuinya. Kemudian, dia menambahkan dengan bangga, “Tapi ini soal prinsipnya.”
“Maksudku, ini terlihat seperti pantai sungguhan,” kataku kepadanya. “Aku tidak tahu kau bisa melakukan ini.”
“Yah, tidak ada gunanya kalau aku sendirian, tapi karena kau sudah di sini sekarang, aku bisa bersenang-senang sedikit.”
Dia tampak ceria saat mengatakan itu, tetapi senyumannya menyiratkan sedikit kesepian. Melihat ekspresinya membuat dadaku terasa sakit.
Andai saja aku bisa sampai ke Kuil Dasar Laut…
“Bodoh! Sudah kubilang ini terlalu cepat.” Omelan Noah disertai dengan pukulan di kepalaku, dan ekspresinya tampak kecewa sesaat. Namun, dia langsung bersemangat kembali. “Benar! Kita punya pantai dan laut, jadi kau tahu apa selanjutnya. Ayo, lewat sini!”
Dia menarik tanganku. Noah memang selalu suka bersentuhan fisik, tetapi pakaian renangnya yang asing dan memori tentang ekspresinya tadi membuat jantungku berdegup kencang.
“Lihat ke sana,” ujarnya. “Inilah yang membuatnya menjadi liburan pantai!” Dia tersenyum sambil menunjuk ke arah… sebuah gubuk dengan meja. Berbagai macam makanan tersusun rapi, termasuk yakisoba, cumi goreng, bir, dan es serut.
Semacam kedai…?
“Ayo, duduk,” desak Noah.
Dalam sekejap, dia sudah bersantai di bangku berpenampilan murahan dengan segelas bir di tangan. “Ahhh, ini baru benar-benar liburan pantai!” serunya. “Kau tidak mau makan?” Dia dengan gembira mengunyah yakisoba sambil meminum birnya. Segala kesan kesepian—atau keilahian—darinya tadi telah lenyap.
Apa kau ini kakek-kakek…? batinku.
“Kurang ajar! Cepat duduk.”
“Baiklah, baiklah, aku akan menuangkan minuman untukmu.”
Sedikit kikuk, aku berhasil duduk di sebelah oragnya. Aku menuangkan dua gelas bir, dan dia langsung menghabiskan minumannya sekaligus. Noah tampak cantik saat dia meneguk habis isinya.
“Hei, punyamu masih penuh. Ayo! Habiskan, habiskan!”
Aku menghela napas. “Bisakah kau hentikan gaya seperti anggota geng kampus itu?”
Yah… dia sangat mempesona jika dia menutup mulutnya. Ini hanyalah mimpi, tetapi kami berdua bersenang-senang. Noah… tampak seolah-olah dia sedang bersenang-senang, setidaknya di hadapanku.
Aku akan mengalahkan dungeon itu, sumpahku dalam hati.
Petualangan Kecil Makoto dan Pangeran Leonardo
◇ Sudut Pandang Pangeran Leonardo ◇
Setelah mengumpulkan keberanianku, aku memanggil, “Makoto!”
“Pangeran Leonardo?” jawabnya, menoleh ke arahku dengan tatapan heran. Kami berdua sedang berdiri di atas permukaan laut, cukup jauh dari area tempat vila liburan kami berada.
“Ada apa?” tanya dia. “Kita akan segera melewati penghalang, dan itu akan berbahaya bagimu. Sebaiknya kau kembali saja… Aku bisa mengantarmu.”
Saat Makoto meraih tanganku, itu membuatku sedikit terkejut.
“Tidak… Tolong ajak aku bersamamu! Kau berlatih di dungeon setiap malam, dan aku ingin ikut!”
Pernyataan dariku memunculkan ekspresi ragu dari wajahnya.
“Aku sedang menuju ke Kuil Dasar Laut,” ujarnya.
Ini persis seperti yang kudengar dari kakakku… Makoto pergi ke salah satu dungeon terakhir setiap malam. Itu adalah salah satu dungeon paling sulit yang pernah ada, dan belum pernah ada manusia yang menaklukkannya, tetapi Makoto selalu menyelinap keluar dan mendedikasikan dirinya untuk tugas itu. Padahal baru beberapa hari sejak dia menyelamatkan ibu kota… Seberapa berdedikasi sebenarnya dia?!
Aku ingin menjadi seorang kesatria yang berani, pikirku, yang sama kuatnya dengan Makoto!
Pada akhirnya, permintaanku dikabulkan—aku berhasil membuatnya mengajakku.
◇
Iiip!
Aku sudah menyesali keputusanku. Lautan sangat gelap gulita pada jam malam begini, dan monster-monster mengerikan berenang melewati air di luar penghalang.
“A-Apa itu tadi?!”
“Sepertinya sea serpent. Yang ukurannya lumayan besar,” jawab suara santai dari sampingku.
Makoto saat ini sedang memegang tanganku saat kami berenang di dalam air menggunakan sihir. Dia berhasil mengobrol sembari mempertahankan mantra pernapasan air miliknya.
Sebenarnya apa…
“A-Ada sepuluh ekor!” seruku. “Dan mereka menuju ke arah sini!”
“Aneh. Biasanya mereka mengabaikanku. Kira-kira ada apa ya?”
Makoto! Jangan bersikap tenang begitu! Kita harus lari!
“Yah, karena kamu bersamaku, kita sebaiknya menjauh,” usul Makoto.
“Wawaa!”
Seketika, kecepatan kami melonjak, dan kami melesat menjauh dari para sea serpent. Namun, kami segera menemui lebih banyak monster.
“Makoto!” Aku menunjuk ke depan kami. “Ada sekawanan kelpie!”
“Ooh, aku belum pernah melihat makhluk itu sebelumnya.”
Kelpie adalah roh jahat yang konon berkeliaran di lautan. Mereka juga monster yang berbahaya… aku pernah dengar kalau mereka akan menenggelamkan manusia fana begitu melihatnya. Selain itu, kelpie jauh lebih cepat daripada sea serpent.
“Mereka mendatangi kita,” memperingatkanku.
“Huh, mereka lumayan cantik,” gumam Makoto.
“Apakah sekarang waktu yang tepat untuk bilang begitu?!” Bulu mereka memang indah, tapi mereka juga dikenal suka menyerang orang!
“Ayo, ke sini.” Makoto memanggil mereka. Kelpie itu pasti menganggap isyaratnya sebagai provokasi karena sekarang mereka semua berenang ke arah sini.
“Gawat ini!” kataku. “Mereka akan menangkap kita.”
“Kurasa ini balapan, kalau begitu.” Saat Makoto berbicara, dia menggunakan sihirnya untuk membuat kita melaju lebih cepat lagi.
A-Apa dia bermain-main selama ini?! Jika aku mencoba berbicara, aku pasti akan menggigit lidahku, jadi aku hanya bisa menjerit dalam hati.
“Oh, ada lagi,” amati Makoto.
Aku melihat, dan benar saja, ada monster lain yang tertarik pada mangsa yang dikejar oleh para kelpie… alias kita.
Hiiiy!
Seram, seram, seram, seram, seram, seram, seram, seram… tapi…
“Wah! Siren juga!” seru Makoto. “Oh, tunggu, kamu seharusnya tidak mendengarkan nyanyian mereka.” Dia dengan cepat menutup telingaku.
Tapi kamu bisa mendengarnya?!
Kami akhirnya menghabiskan sepanjang malam dengan dikejar-kejar oleh monster, meskipun tak satu pun dari mereka yang berhasil menyentuh Makoto.
◇
“Wah, itu tadi seru,” kata Makoto, tertawa seperti anak nakal. “Biasanya aku hanya tinggal di Deep Scar, jadi itu adalah perubahan suasana yang menyenangkan.”
Aku tertawa lemah. Sepanjang malam, kami diseret ke sana kemari oleh sihir airnya, melarikan diri dari serangan monster. Rasanya aku hampir pingsan.
Tapi sekarang aku tahu—bukan keberanian yang dimiliki Makoto… dia hanya sama sekali tidak memiliki akal sehat.
Komentar