Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 3 Intermission_ Lucy and Aya Have a Discussion Bahasa Indonesia
Jeda: Lucy dan Aya Berdiskusi
“Aku mau pergi berburu goblin,” kataku kepada teman-temanku saat sarapan keesokan paginya.
Aku tidak bisa melatih sihir elemental-ku, dan latihan Transformation tidak berjalan lancar, jadi menghasilkan uang adalah satu-satunya hal yang tersisa untuk kulakukan.
Tentu saja, Horn memiliki guild petualang. Pembasmian goblin and orc adalah permintaan tetap, jadi aku tidak perlu meluangkan waktu untuk menerima quest atau melapor kepada staf terlebih dahulu; aku bisa langsung pergi ke guild setelah berburu dan mengambil hadiah (kecil) itu.
“Lucy, Sasa, kalian ikut?” tanyaku. Aku cukup yakin mereka mau, tapi mereka tampak tidak begitu tertarik.
“Hmmm, sepertinya aku lewat saja,” kata Lucy sambil menyisir rambut merah panjangnya.
“Aku mau belanja di kota hari ini,” ujar Sasa sambil mengunyah buah yang menjadi bagian dari sarapan. Aku juga yakin dia memakan buah dari piringku… tapi perutku sudah kenyang, jadi terserah deh.
Tunggu dulu! Kenapa semuanya jadi tidak ramah begini?! Yah… baiklah. Aku pergi sendiri saja. Lagian aku kan memang pemain solo!
Aku mungkin hanya menggertak dalam hati saat meninggalkan penginapan tanpa tujuan yang jelas. Ada beberapa daerah berhutan di sekitar kota, jadi mungkin ada beberapa goblin di sana.
Aku terus menjaga rasa optimis saat meninggalkan kota.
◇ Sudut Pandang Lucy ◇
“Kalau begitu, terserah! Aku pergi sendiri saja!” seru Makoto saat melangkah keluar.
Apa kita berbuat salah?
“Hei, Lu, kita mau ke mana?” tanya Aya kepadaku. Kami sudah punya rencana untuk pergi bersama.
“Aku tidak peduli,” jawabku. “Kamu ada tempat yang ingin dikunjungi?”
“Ayo beli kue.”
“Boleh. Kamu memang suka yang manis-manis ya. Yah, aku juga sih.” Kami berdua tertawa, tapi senyum kami agak canggung. Kami perlu membicarakan sesuatu, hal yang tidak bisa kami bicarakan di dekat Makoto.
Kami memantau beberapa toko pakaian dan toko serba ada, lalu makan siang di restoran pasta. Ada juga taman kecil di sekitar situ, jadi kami membeli beberapa minuman dan beristirahat di sana.
Aku melirik dan melihat Aya sedang meneguk secangkir besar jus buah. Dia tampak seperti makhluk hutan kecil yang menikmati minumannya, bahkan aku pun merasa dia terlihat imut.
“Ada apa?” tanyanya.
“Hmm, cuma mikir kamu imut banget.”
Dia terkikik. “Benarkah? Tapi menurutku kamu lebih imut.”
“Mana mungkin,” protesku.
“Bukan begitu,” tegasnya. “Rambutmu panjang banget, dan warnanya merah yang cantik.” Dia mengelus rambut di tengkukku, dan aku merinding karena sensasi geli itu.
“Yah, kamu kan petarung, jadi bentuk pinggulmu jauh lebih bagus.”
Aku memegang pinggulnya sebagai pembalasan. Dia langsing banget! A-aku iri… Aku kan seorang penyihir, jadi aku tidak begitu banyak berolahraga sepertinya. Aku tidak akan pernah punya pinggul sesrambut… maksudku sesramping itu…
“Hei, Lu! Perhatikan tempat yang kamu sentuh!” serunya, wajahnya merona merah. Tapi kemudian, dia mengalihkan perhatiannya ke bagian lain. “Bagian ini benar-benar tidak adil.”
Aku terpekik saat dia tiba-tiba meremas dadaku. “Hyah?!”
“Ini benar-benar tidak adil,” ulangnya. “Kamu menggunakan dadamu untuk memikat Takatsuki, ya.”
“Mana ada!” Aku meronta sedikit, meraih tangannya dan menyingkirkannya dari dadaku. “Lagipula, akhir-akhir ini kamu mengenakan rok yang lebih pendek.”
“Kyah!”
Aku telah meletakkan tanganku di pahanya. Wah, kulitnya begitu mulus. Sedikit rasa dingin yang kurasakan di bawah jemariku pastinya karena dia adalah seorang lamia.
Tangan Aya kemudian mengulur ke arahku.
“Ada apa, Aya?” balasku dengan keras kepala. Kami berdua akhirnya saling usil untuk beberapa saat sebelum kami ingat bahwa kami sedang berada di taman dan menjadi tenang. Untungnya, tidak ada seorang pun di sekitar yang melihat kami.
“Lulu, itu tadi sudah keterlaluan,” keluh Aya.
“Kamu juga melakukan hal yang sama,” jawabku.
Kami menolehkan wajah kami yang merona ke arah satu sama lain dan tersenyum enggan. Selama kami membahas topik-topik ini, kami akur dengan baik. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi…
“Ngomong-ngomong soal itu…” kata Aya santai, hampir tanpa beban. “Pernikahan Fujiwara sungguh mengejutkan.”
Jadi itu topik pembicaraannya?
“Ya,” akuku. “Punya dua istri benar-benar mengejutkan.”
Sebenarnya, bukanlah hal yang begitu langka bagi para bangsawan untuk memiliki lebih dari satu istri. Meskipun demikian, ini hanyalah awal dari percakapan kami, sekadar obrolan santai.
“Aku penasaran apa pendapat Takatsuki tentang hal itu.”
“Dia bilang itu sebuah kelegaan,” kataku. “Terutama karena Nina dan Chris sekarang sudah akur.”
“Jujur saja, aku juga merasakan hal yang sama,” setuju Aya sambil tertawa. Suasana dalam perjalanan ke ibu kota tadinya begitu tegang, tetapi hubungan di antara kedua orang itu telah mencair. Setidaknya, itulah yang kupikirkan.
“Jatuh cinta pada seseorang di dekatmu di saat yang bersamaan dengan orang lain… pasti terasa berat.”
“Kamu benar…” balas Aya.
Kalau begitu, saatnya membahas inti dari percakapan kita.
“Dengan kata lain, ini tentang kita,” ujarku.
“Yah, caramu mengatakannya terlalu blak-blakan.”
Aku menatap mata Aya, dan dia balas menatapku. Senyuman kami tetap terukir di wajah, jadi dari luar, kami pasti terlihat seperti teman baik. Namun, situasinya tidak begitu damai di dalam hati. Bagaimanapun juga, kami adalah saingan dalam percintaan. Hubungan kami pada dasarnya sama seperti Nina dan Chris, hanya sedikit berbeda.
Chris dan Nina sebenarnya sudah saling tidak menyukai sejak awal—yang satu bangsawan dan yang satu lagi manusia buas. Mereka tidak pernah bisa mencapai kesepakatan, jadi mereka pun bertengkar. Namun, pada akhirnya mereka berbaikan.
Lalu, bagaimana dengan kami?
Tidak ada perbedaan status sosial yang nyata antara aku dan Aya. Dan kami berada di party yang sama. Aya sudah lebih lama mengenal Makoto, tapi aku telah menghabiskan seluruh tahun lalu bersamanya. Dengan kondisinya yang sekarang, aku mungkin adalah orang yang paling memahaminya… tapi aku tidak selalu bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan.
Oleh karena itu, aku memilih untuk bertahan. Meskipun kami bersaing untuk mendapatkan cowok yang sama, kami telah memutuskan untuk tetap menjaga hubungan baik di dalam party. Pertikaian internal mungkin akan membuat Makoto khawatir juga, dan aku yakin Aya juga merasakan hal yang sama.
Aku sangat yakin, tapi…
“Kamu latihan sihir sendirian bersamanya tadi malam. Kamu selalu melakukan itu… Itu tidak adil,” kata Aya.
Tapi dia tidak tahu bahwa “pelatihan” itu sebenarnya adalah Makoto yang menyuruhku untuk fokus mengendalikan sihirku selama lima jam setiap hari. Sama sekali tidak ada hal yang memikat dari itu. Selain itu, ketika aku kehilangan fokus, aku akhirnya jatuh pingsan dan tertidur. Rupanya Makoto tetap melanjutkan latihannya selama sepuluh jam penuh. Terkadang aku khawatir dengan seberapa besar tingkat fokusnya…
“Tapi kamu selalu berkeliaran di kamarnya setiap pagi,” sangkalku balik. “Dan… kamu kadang-kadang tidur bersamanya.”
Aya biasanya menyiapkan sarapan untuk kami, tapi dia selalu menggoda Makoto saat melakukannya, seperti merayap ke tempat tidurnya saat dia sedang tidur. Sejauh yang dikatakan oleh mereka berdua, tidak pernah terjadi apa-apa, tapi…
“Takatsuki dan aku belum melakukan apa pun,” kata Aya. “Belum.”
“Kami juga belum. Belum.”
Kami berdua saling menatap dalam keheningan, saling menjajaki.
◇ Sudut Pandang Aya Sasaki ◇
Aku menatap elf berambut merah yang cantik di hadapanku. Lu…
Kami menghabiskan sepanjang hari bersama-sama. Terakhir kali aku memiliki banyak waktu berdua saja dengannya adalah saat kami pergi berbelanja di sekitar Labyrinth Town. Pada saat itu, kami hampir tidak mengenal satu sama lain, jadi kami cukup menjaga jarak. Tapi sekarang, kami berdua telah menghabiskan lebih banyak waktu bersama dan mulai saling memahami. Jadi…
Kurasa situasinya semakin menegangkan di antara kami.
Kami berada dalam kelompok yang terdiri dari tiga orang, dan kami berdua menyukai satu-satunya pria di dalamnya. Tak satu pun dari kami menyembunyikan perasaan kami terhadap Takatsuki. Kami terus bersaing, dan persaingan itu menjadi semakin ekstrem.
Lu terkadang menatapku dengan tajam, dan terkadang aku melakukan hal yang sama padanya. Kami sebenarnya belum pernah benar-benar bertengkar, tetapi keseluruhan situasi ini bukanlah situasi yang baik.
Setidaknya kami berdua sepakat dalam hal itu, jadi kami memutuskan untuk membicarakannya sambil berkeliling kota hari ini. Dan… kami berdua menikmati waktu yang dihabiskan bersama.
Aku cukup menyukainya…
Kepribadiannya cocok dengan penampilannya yang manis. Dia apa adanya. Mungkin sedikit polos, jika aku harus berkata jujur. Dia tidak menyembunyikan sesuatu atau merencanakan licik. Itulah sebabnya kami bisa menjadi sahabat baik.
Masalahnya, apa yang ingin kulakukan?
Aku telah berreinkarnasi ke dunia ini sebagai monster, dan Takatsuki adalah satu-satunya orang yang bisa kuandalkan. Tentu saja, aku juga bisa mengandalkan Fujiwara, serta Saki dan Sakurai di Highland… Tapi, jika ada yang bertanya dengan siapa aku ingin bersama, aku bahkan tidak perlu berpikir untuk menjawabnya.
Takatsuki. Sejak SMP, dialah satu-satunya pria yang kuperuntukkan perasaanku.
Jadi, memintaku untuk menyerahkannya… rasanya tidak bisa diterima.
Selain itu, dari apa yang telah Lucy sebutkan, dia berada dalam situasi yang serupa.
Dia tidak bisa menggunakan sihir dengan baik dan belum bisa menemukan teman sejati di guild Macallan. Ketika dia akhirnya menemukan sebuah party, mereka diserang oleh monster berbahaya. Mereka kemudian meninggalkannya, tetapi Takatsuki telah menyelamatkan nyawanya.
Bahkan setelah itu, Takatsuki tidak pernah marah padanya, betapa pun seringnya dia membuat kesalahan. Mereka sering menghabiskan sepanjang malam berlatih sihir bersama. Kemudian, ketika griffin mengincar nyawanya, Takatsuki mempertaruhkan nyawanya dengan menggunakan sihir api untuk mengalahkannya. Dia hampir mati dalam proses itu.
Tentu saja dia akan jatuh cinta padanya…
Aku kembali menatap elf yang cantik itu.
Mrgh, dia kelihatan sangat menarik…
Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa kesal, jadi aku mencubit pipinya. Pipi ini sangat lembut.
“Hei… Aya?”
Aku mengabaikan tatapannya yang penuh tanya dan terus mempermainkan pipinya sebelum dia tiba-tiba melakukan hal yang sama padaku.
“Lu?”
Dia juga tidak menjawab, dan kami saling menatap tajam sesaat, sama-sama mencubit pipi satu sama lain.
“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” tanya akhirnya.
“Lupakan saja.”
Segala sesuatunya tidak akan kemana-mana jika kami terus menjaga jarak seperti ini di antara kami. Saat kami berdua mengerutkan kening, seseorang mendekati kami.
“Oh, Nona Lucy, Nona Sasaki’h. Apakah kalian berdua sedang jalan bersama’h?”
Itu adalah Nina.
Benar… Dia dan Chris berhasil menjalaninya dengan pria yang sama.
Mungkinkah kami harus meminta pendapatnya tentang masalah ini karena dia pernah berada di situasi yang sama? Lu pasti memikirkan hal yang sama karena dia melirikku dan mengangguk.
“Nina, apa kamu masih sering bertengkar dengan Chris?” Keduanya bertingkah seperti teman akrab sekarang.
“Tidak, untungnya’h. Chris dan aku akur-akur saja’h,” jawab Nina sambil tersenyum.
“Um, bagaimana kalau di malam hari? Kalian tidak meributkan gilirannya?” tanya Aya blak-blakan.
Dari mana asalnya pertanyaan itu?! Bisakah kamu mengawalinya dengan lebih pelan sedikit?! Maksudku, aku juga ingin tahu…!
Pipi Nina memerah. “Yah, kalau malam hari’h… kami bertiga bersama-sama’h.”
“Apaaaa?!” seru kami berdua menanggapi pernyataannya yang mengejutkan itu.
Tepat saat itu, saku Nina mulai berbunyi bip. “Ya, Suami’h?! Mengerti, aku akan segera ke sana’h!” Rupanya, Fujiwara telah menghubunginya melalui semacam alat sihir (tampaknya sudah cukup mirip dengan telepon).
“Maaf ya’h!” dia meminta maaf. “Rupanya ada negosiasi mendesak, jadi aku harus kembali’h. Sampai jumpa lagi’h!”
Tanpa buang waktu, Nina melompati dinding ke atas atap. Yah, dia kan memang setengah kelinci…
Lu dan aku saling bertukar pandang.
“Mereka bertiga… bersama-sama,” kata Lucy mulai dengan pipi yang sedikit memerah.
“Apa itu benar-benar boleh…?” gumamku. Dari sudut pandang orang Jepang, hal itu terasa sangat salah…
Tidak! Tidak apa-apa. Bertengkar seperti ini juga tidak baik!
“Baiklah, Lu! Begitulah yang akan kita lakukan!” deklarasiku.
“Eh, apa?! Benarkah?” tanya dia dengan mata membelalak.
“Sungguh! Kita akan menghadapinya bersama dia, semuanya bersama-sama!”
“S-Semuanya?”
“Aku tadinya ingin pengalaman pertamaku setidaknya—” kata Lu mulai, sambil gelisah.
“Tidak!”
“I-Itu tirani!” serunya. “Tapi… melawan pun sepertinya tidak ada gunanya.”
Dan setelah itu beres, kami berdua berjalan kembali ke penginapan, bergandengan tangan.
“Tidak ada goblin…” keluh Takatsuki begitu kami kembali, sebelum makan malam. Itu agak manis.
◇ Sudut Pandang Makoto Takatsuki ◇
Aku sudah berangkat pagi-pagi sekali, tapi sekarang aku malah bingung.
“Mana semua monsternya?” Bukan cuma goblin saja yang tidak ada—aku bahkan tidak melihat satupun tikus raksasa atau kelinci bertanduk.
Aku berada di sebuah hutan kecil tepat di luar gerbang utama Horn, dekat Danau Chimay. Tempat itu cukup mirip dengan hutan di sekitar Macallan, jadi aku berharap bisa menemukan sesuatu, tapi…
“Kukira Lucy dan Sasa benar…”
Mereka telah membuat pilihan yang tepat untuk tidak ikut; kalau tidak, itu hanya buang-buang waktu saja…
Secara geografis, Horn terletak tepat di antara Macallan dan danau. Ada banyak elemental air di luar ibu kota sejauh ini, jadi setidaknya aku bisa tetap melanjutkan latihan.
Tiba-tiba, aku mendengar suara dari belakangku. “Makoto Takatsuki?”
Aku berbalik dan melihat mantan pengawal yang dihajar Sasa tempo hari. Tunggu, bukan… Secara teknis, dialah yang menghajar anak buahnya.
“Itu teknik latihan yang aneh,” komentarnya.
Aku sedang berdiri di atas permukaan danau, bermain-main dan menciptakan kawanan burung dari air. Aku butuh konsentrasi yang lumayan untuk melancarkan sihir itu, jadi ini adalah latihan yang bagus untuk melatih penguasaanku.
“Aku cuma sedang berlatih sihir air,” kataku setengah melamun. “Padahal aku ingin memburu beberapa goblin.”
Mantan pengawal itu tampak terkejut, lalu tertawa terbahak-bahak. “Ada penghalang pelindung dari monster yang mengelilingi ibu kota kita,” jelasnya. “Binatang buas tingkat rendah seperti goblin tidak akan pernah bisa mendekat.”
“Apa…?” suaraku berderit karena terkejut. Aku tidak bisa berburu goblin di sekitar sini?! “Kalau begitu, apa gunanya berpatroli?” Jika tidak ada monster, pastinya tidak ada kebutuhan untuk itu.
“Bodoh! Kelalaian semacam itu bisa berakibat fatal. Selain itu, ada bandit dan orang-orang brengsek lainnya. Patroli harian kita adalah pencegah demi menjaga kedamaian.”
Aku bergumam kecil sebagai tanda setuju. Kurasa aku bisa mengagumi dedikasinya. Namun, kalau kepribadiannya, tidak begitu.
“Belakangan ini kami menerima beberapa laporan tentang monster aneh di sekitar Danau Chimay… tapi ternyata itu adalah sihirmu. Jangan menakuti penduduk kota.”
“Ups.” Pasti hal itu sudah dilaporkan. Aku tidak bisa menggunakan sihir di sini sembarangan seperti saat di Macallan. Mulai sekarang, aku harus berhati-hati terhadap segala sesuatu yang berlebihan.
Mantan pengawal itu melirik ke sekeliling, lalu membuang muka dariku dan berbicara. “Sebagian besar pembasmian monster di Roses ditangani oleh para petualang. Aku berterima kasih kepadamu karena sudah datang untuk membasmi goblin, bahkan di ibu kota.”
Aku menghembuskan napas. Dari mana datangnya sikap ini?
“Aku minta maaf atas semuanya,” ucapnya meminta maaf, dengan suara pelan.
Tunggu dulu, kenapa dia mendadak bersikap manis begini?
Setelah menyaksikan pemandangan langka dari si keras kepala itu yang melunak (bukan berarti aku benar-benar ingin melihatnya), aku berjalan kembali ke penginapan.
Rupanya, Lucy dan Sasa menghabiskan sepanjang hari untuk berbelanja.
“Kedua anak itu selalu menikmati waktu bersama ya,” komentar Nina sambil tersenyum.
Mungkin seharusnya aku ikut dengan mereka…
Komentar