The World After the Bad Ending Chapter 269 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

[Penerjemah – Night]

[Penyunting – Gun]

Bab 269

Di tengah gempuran pasukan Rasul—

“Aku sudah muak dengan ini.”

Akhirnya, Rosli melemparkan bebannya dan berpaling.

Dia telah berkeringat berbulan-bulan, bertarung melawan pasukan Rasul.

“Aku tak ingin terus berjuang untuk sampah seperti ini. Anakku bahkan tak bisa mengenali wajahku. Aku pun tak tahu lagi untuk apa aku bertarung.”

Rosli menyatakan kekecewaannya, seolah muak dengan dunia itu sendiri.

Dia membenci kehidupan yang hanya dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain.

“Kali ini, aku setuju.”

Ordo menancapkan tombaknya ke tanah dan menghela napas.

Dia baru saja terluka parah beberapa waktu lalu, dan lengannya masih berdenyut nyeri.

Namun dia dipaksa terus bertarung melawan pasukan Rasul tanpa sempat diobati.

“Mereka bersikap seolah ini bukan urusan mereka.”

Bahkan Aquiline yang biasanya ceria, mengeluarkan desahan.

Para penguasa kerajaan dulu tak pernah membuat keputusan bodoh seperti ini.

Tapi setelah bangkitnya Sang Penguasa Iblis, mereka yang berkuasa hanya menjadi oportunis yang egois.

Di masa kekacauan ini, hanya mereka yang pandai merebut kekuasaan dengan cepat yang bertahan.

Dan merekalah yang kini memegang kekuasaan.

Untuk menutupi ketiadaan legitimasi, mereka melancarkan kritik pedas terhadap kerajaan lain bahkan para pahlawan.

Mengalihkan perhatian publik ke luar adalah satu-satunya cara menyatukan negara mereka yang tercerai-berai.

Itu taktik kejam untuk mempertahankan rezim.

Lambat laun, mereka sadar situasi ini justru menguntungkan mereka.

Mereka tak benar-benar berniat menghentikan pasukan Sang Penguasa Iblis.

Bahkan, mereka melihatnya sebagai kesempatan—untuk mengeksploitasi rakyat tanpa ampun, mengeruk sumber daya dan prajurit, sambil mengumpulkan kekayaan dan kekuasaan untuk diri sendiri.

Semakin lama perang dengan Sang Penguasa Iblis berlarut, semakin banyak yang bisa mereka hisap dari rakyat.

Jadi alih-alih mendukung upaya perang, mereka justru memanaskan situasi untuk memperpanjangnya.

Inilah keputusan brilian para penguasa kerajaan.

Sebaliknya, mereka mengagungkan para pahlawan dan menuntut pengorbanan mereka.

Dan ini terjadi serentak di seluruh dunia.

“Mereka sama sekali tak berminat melindungi dunia.”

Narea yang setia menggeleng sedih.

Bahkan Wolfram untuk sekali ini diam membisu.

Dia adalah yang paling aktif dan gagah berani di medan perang ini.

Dan karena itu, dia juga yang paling sering diobati Narea.

Terkadang, Wolfram akan tenggelam dalam pikiran mendalam yang sunyi.

Dia pahlawan dengan kekuatan luar biasa, tapi ada saat-saat dia memandang semua orang dengan ekspresi pilu.

Alasan di balik ekspresi itu tak diketahui yang lain.

Kecuali olehku.

‘Regresi.’

Bagi Wolfram, itu adalah kutukan sekaligus satu-satunya jalan keluar dari setiap bencana.

‘Sebuah kutukan.’

Kegagalan bukanlah pilihan bagi Wolfram.

Saat dia gagal, dunia akan tanpa ampun kembali ke masa lalu dalam sekejap.

Satu-satunya jalan bertahan adalah keberhasilan.

Dan untuk meraihnya, dia harus bertahan melewati cobaan tak terhitung.

Tapi pasukan Sang Penguasa Iblis benar-benar tak ada habisnya.

Sejak kemunculan mereka, makhluk-makhluk asing mulai bermunculan di seluruh dunia.

Orang-orang mulai menyebut mereka Mystic.

Entitas yang terdistorsi karena gagal menjadi dewa.

Para pendeta yang dulu berdoa ke langit kini menggunakan istilah itu untuk menggambarkan mereka.

Mereka mulai muncul di seluruh dunia secara serentak.

Sementara sebagian menderita karena kedatangan mereka, yang lain bahkan mulai mengenakannya di tubuh.

Salah satu Mystic, “Whitewood”, baru-baru ini memusnahkan seluruh kerajaan.

Di dunia seperti itu, bahkan naga-naga kuno yang dulu hanya menyebalkan, mulai bergerak di bawah komando Sang Penguasa Iblis.

Kerajaan manusia tak menguasai seluruh dunia.

Tempat-tempat yang tak terjamah kaki manusia—rumah bagi naga, roh, dan lainnya—masih ada.

Kini, makhluk-makhluk itu bersatu dengan pasukan Sang Penguasa Iblis dan mulai menghancurkan umat manusia.

Itulah mengapa Wolfram begitu mati-matian melawan mereka.

Namun negara-negara masih gagal memberikan dukungan memadai.

Garis depan di ambang kehancuran.

Dalam situasi tanpa harapan ini, Wolfram terus bertahan, lagi dan lagi.

Dia mencoba, gagal, mencoba lagi—dan kegagalan terus menumpuk.

Mereka bilang kegagalan adalah ibu keberhasilan.

Tapi terlalu banyak kegagalan menggerogoti pikiran manusia tanpa henti.

Terutama saat jalan di depan tak menunjukkan tanda-tanda keberhasilan.

‘Dan dari yang kulihat—’

Mataku tertuju pada Wolfram.

Di balik pandangannya yang sunyi, kurasakan kehampaan yang tak terungkap.

Orang lain mungkin tak menyadari, tapi entah bagaimana, aku tahu persis apa itu.

Itu adalah tatapan seseorang yang pernah merasakan keberhasilan—hanya untuk kehilangannya tepat di depan matanya.

‘…Dia hampir saja mengalahkan Sang Penguasa Iblis.’

Dia mengumpulkan seluruh kekuatannya, mencurahkannya, dan mencapai ambang kemenangan.

Tapi di saat terakhir, dia kehilangan lagi—kegagalan lainnya.

Aku bahkan tak bisa menggambarkan betapa sakitnya itu.

Dia melewatkan satu-satunya cara untuk bebas dari kutukan neraka ini.

Hanya tekad baja Wolfram yang masih menyatukannya.

Di dalam, dia pasti sudah hancur sejak lama.

Seorang pahlawan berjalan di jalan yang sunyi.

Dan diterpa kesepian itu, pikiran Wolfram didorong ke batas absolutnya.

Kenyataan itu membuatku mengerutkan kening.

Zaman perang ini—

Kehidupan pahlawan yang terus maju di masa seperti itu sama sekali tak seperti kisah yang dipuji orang.

Tak ada sukacita.

Tak ada kebahagiaan.

Hanya kutukan yang tak berujung.

“Akhirnya!”

Tepat saat itu, seseorang berteriak.

Perhatian semua orang tertuju ke sumber suara, di mana seorang wanita dengan mata berwarna cahaya bintang—Zerion—berteriak ke langit.

“Aku akhirnya tahu dari mana Sang Penguasa Iblis berasal!”

Untuk pertama kalinya, Wolfram berdiri.

Bahkan di medan perang, Zerion tak pernah mengabaikan latihan magisnya.

Bahkan, dia berlatih lebih ganas dari sebelumnya, mendorong dirinya ke batas—bahkan dengan mengorbankan umurnya sendiri.

Bahkan muridnya, Midra, mulai khawatir.

Tapi Zerion tak pernah berhenti.

Wolfram diam-diam mendukungnya melalui semua itu.

Dia tak pernah menyuruhnya berbuat lebih, juga tak kurang.

Dia hanya sesekali menemaninya mengunjungi tempat-tempat tak dikenal.

Dan akhirnya, dia mencapai pencerahan.

‘Sihir Langit.’

Sebuah ranah magis yang begitu maju hingga bahkan para dewa bisa tertipu.

“Alasan Sang Penguasa Iblis muncul… dan mengapa para Mystic mulai bermunculan…”

Zerion menunjuk ke langit.

“Ada lowongan di surga.”

Di balik langit itu ada ranah ilahi yang tak diketahui manusia.

“Tidak mungkin—posisi itu…”

Mata Aquiline melebar.

Zerion mengangguk.

“Ya. Posisi itu awalnya milik Sang Penguasa Iblis.”

Sang Penguasa Iblis dulunya adalah makhluk ilahi yang, karena alasan tak diketahui, jatuh ke dunia fana.

[Penerjemah – Night]

[Penyunting – Gun]

“Para Mystic adalah makhluk yang menyadari lowongan itu—dan mencoba naik dari bumi untuk mengklaimnya, hanya untuk gagal.”

Awalnya ada jumlah kursi tetap di dunia para dewa.

Kursi-kursi itu selalu terisi, dan tak ada cara untuk merebutnya.

Tapi setelah Sang Penguasa Iblis jatuh dari ranah ilahi, lowongan besar muncul.

Makhluk-makhluk yang selalu ingin menjadi dewa segera melesat ke langit.

Tapi mereka tak bisa mencapai surga dan akhirnya kembali ke bumi, menjadi mystic.

Itulah rangkaian peristiwa yang berhasil diungkap Zerion.

Tapi mereka yang hadir di sini ingin bertanya—

Apa yang berubah dengan mengetahui itu?

Namun, ada satu orang.

Satu-satunya orang yang, mengetahui semua ini, mengubah pemikirannya.

“…Aku mengerti.”

Wolfram, yang diam sampai sekarang, akhirnya bicara, ekspresinya berubah.

Pahlawan agung, Wolfram.

Sang regresor yang telah mengulang tanpa hitungan.

Dia yang hampir mengalahkan Sang Penguasa Iblis.

Baginya, sihir Zerion adalah satu-satunya kunci.

“Kenali musuhmu dan kenali dirimu sendiri, maka kau tak akan pernah terkalahkan.”

Dengan kata lain, tanpa mengenal musuh, tak ada kemenangan.

“Rion.”

Wolfram memanggilnya dengan nama panggilannya.

“Kemarilah, kita perlu bicara sebentar.”

Untuk pertama kali sejak lama, tekad kembali di mata Wolfram.

Pahlawan yang hanya merasakan kegagalan kini bergerak lagi, bertekad akhirnya meraih kemenangan.

* * *

Di dalam tenda, tempat dia membawa Zerion.

Zerion dengan semangat bercerita pada Wolfram tentang berbagai hal.

Bagi seorang penyihir, pencapaian baru adalah kebahagiaan terbesar.

Itu tak berbeda bahkan untuk Zerion, yang kelak dikenal sebagai Sage of Transcendence.

Dia selalu seperti ini.

Betapapun putus asa situasinya, dia tetap cerah.

Bahkan dengan pasukan Sang Penguasa Iblis di depan mata, caranya merayakan prestasi magis seperti anak kecil selalu membawa ketenangan bagi Wolfram.

Dan begitu, Zerion menjadi kunci terakhir Wolfram.

“Rion.”

“Hmm?”

Zerion memiringkan kepala, sedang asyik bercerita tentang sihir ilahi.

“Aku telah mengalami regresi di dunia ini.”

Regresi.

Begitu mendengar kata itu, mata Zerion perlahan melebar.

Selalu ada banyak misteri tentang perilaku Wolfram.

Terkadang, dia bergerak seolah sudah tahu segalanya.

Itu selalu terasa seperti kekuatan unik hanya Wolfram yang memilikinya.

Dan jika itu terkait regresi, semuanya masuk akal.

“…Aku mengerti.”

Zerion menggemakan kata-kata Wolfram sebelumnya.

Sebelum sadar, dia mendekat dan memeluknya erat.

Dia kecil, tapi kehangatan yang diberikannya luar biasa.

“Kau sudah bertarung sendirian seperti itu.”

Kini jelas mengapa Wolfram memilihnya sebagai pasangannya.

Zerion menunjukkan persis alasannya.

Senyum bodoh tergelincir di wajah Wolfram.

Dia baru saja mengaku rahasia regresinya, dan dia bereaksi seperti ini—dia merasa sangat beruntung jatuh cinta padanya.

“Jadi, ada alasan kau memberitahuku ini sekarang, kan?”

Dan Zerion tajam.

Dia paham Wolfram punya alasan memberitahunya sekarang.

“Aku berniat menyatukan jiwaku dengan Sang Penguasa Iblis.”

“Apa?”

Itu sesuatu yang tak pernah Zerion duga.

“Kita bisa mengalahkan Sang Penguasa Iblis. Atau lebih tepatnya, kita bisa menyegelnya. Sebentar lagi, Juara Dewi akan muncul dengan wahyu ilahi.”

Dengan Juara Dewi, mereka pasti bisa menyegel Sang Penguasa Iblis.

“Tapi saat kita melakukannya, aku mengalami regresi.”

“Tunggu—apa maksudmu?”

“Ini kali keenam aku mengalami regresi setelah menyegel Sang Penguasa Iblis.”

Mataku melebar.

Aku menduga Wolfram mungkin berhasil menyegel Sang Penguasa Iblis.

Tapi aku tak tahu itu sudah terjadi enam kali.

“Regresi awalnya adalah kekuatan Sang Penguasa Iblis.”

Saat Sang Penguasa Iblis jatuh dari ranah ilahi, pecahannya tersebar ke seluruh dunia.

Salah satu pecahan itu—

Serpihan yang memegang kekuatan waktu dan regresi—jatuh ke Wolfram.

“Sang Penguasa Iblis dan aku berbagi regresi. Tapi hanya aku yang ingat setiap siklus, karena kemampuan regresi terikat padaku.”

Hanya Wolfram yang mengalami regresi.

Tapi bahkan tanpa ingatan, Sang Penguasa Iblis tahu dia bisa dihidupkan kembali melalui regresi.

“Jadi dia tak menggunakannya sembarangan, tapi dia tahu bisa mengaktifkan regresi melalui aku.”

Regresi adalah kekuatan yang tak bisa dikendalikan.

Tapi Sang Penguasa Iblis, sebagai pemilik aslinya, tahu cara mengendalikannya.

Dia memperbaiki garis waktu dan mengaktifkan regresi melalui Wolfram.

Suatu hari, saat Wolfram terlalu lelah oleh regresi—

Itulah saat Sang Penguasa Iblis akhirnya menghancurkan dunia.

Perang panjang yang berlangsung antara Wolfram dan Sang Penguasa Iblis.

Dan kini Wolfram berniat mengakhirinya.

“Sang Penguasa Iblis telah memperbaiki titik waktu. Apa pun yang kulakukan—bahkan jika aku mati karena tua—aku akan selalu kembali ke momen ini.”

Kecuali regresi itu sendiri dihapus, Wolfram dan Sang Penguasa Iblis akan selamanya kembali ke titik waktu yang sama.

“Hanya menghapus regresiku tak menyelesaikannya. Karena regresi adalah kekuatan Sang Penguasa Iblis.”

“Jadi aku harus menyatukan jiwaku dengan Sang Penguasa Iblis. Agar tak ada dari kami yang bisa mengalami regresi lagi.”

Wolfram berkata sambil menatap Zerion.

Situasi di mana mantan dewa menggunakan regresi—itu menakutkan.

“Dan ini kali kesepuluh aku datang padamu meminta bantuan mencari cara menghentikannya.”

Zerion terdiam.

Wolfram pernah memberitahunya tentang regresi sebelumnya.

Mereka berjuang bersama mencari cara menghentikannya, dan gagal.

Tapi melalui upaya itu, Wolfram meneruskan penelitiannya ke Zerion berikutnya—

Dan yang berikutnya, dan berikutnya lagi.

Pengetahuannya yang terakumulasi diwariskan melalui setiap putaran.

Dan akhirnya, hari ini—

Zerion menyelesaikan sihir langit.

“Rion, aku butuh sihir langitmu untuk mengalahkan Sang Penguasa Iblis.”

Sihir yang cukup kuat untuk menipu bahkan para dewa.

Sihir Langit.

Itu satu-satunya cara menghapus regresi Sang Penguasa Iblis dan Wolfram.

“Segel aku dan Sang Penguasa Iblis bersama dengan sihir langitmu.”

Dan itu juga—

Permintaan kejam, meminta orang yang kau cintai untuk menghapusmu.

[Penerjemah – Night]

[Penyunting – Gun]

—–Sakuranovel.id—–

Daftar Isi

Comments

2 responses to “The World After the Bad Ending Chapter 269 Bahasa Indonesia”

  1. Anonymous says:

    klau emng waktu regresi si wolfram ini pas nyegel si demon, berarti di kehidupan sebelumnya dia tau dong klau demon bakal datang setelah damai sementara
    tapi kok bisa anjir dia telat sampe2 ngebuat raja2 semua kerajaannya pada mati pas demonnya datang

    • Isaahn says:

      Dia regresi ga sejauh sampe timeline itu kemungkinan, bisa aja emang regresi titik awalnya ya setelah kekacauan raja iblis itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *