The World After the Bad Ending Chapter 243 Bahasa Indonesia
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
Bab 243
Di bawah hujan yang mengguyur—
Aku menatap Arcadium dengan tenang.
Arcadium, yang transformasi naga-nya telah sirna.
Dia terjatuh dan berusaha mati-matian mengeluarkan sihir.
Tapi dia adalah seseorang yang sirkuit mananya sudah tidak berfungsi akibat sebuah kecelakaan.
Seberapa pun kerasnya dia berusaha, dia tidak bisa melakukan mantra yang sempurna tanpa bantuan sihir naga kuno.
Paling banter, dia hanya bisa memaksakan mantra pendukung sederhana dengan sedikit daya mananya.
Tetes—
Saat itu, darah mulai mengalir dari hidung Arcadium.
Itu adalah hasil dari usahanya yang memaksakan diri untuk menggunakan sihir.
“Guh, batuk…”
Dia memuntahkan darah tipis dari mulutnya dan menggigil hebat.
Aku mulai berjalan mendekatinya.
“T-tolong! T-tolong aku!”
Arcadium menatapku dengan ngeri dan mencoba lari.
Tapi aku bergerak lebih cepat, menginjak punggungnya.
Terjepit di bawah kakiku, Arcadium meronta.
Dia terlihat seperti serangga, dan itu membuatku tertawa.
Denyut keras mengalir dari dalam perutku.
Di dalam Arcadium masih tersisa sisa-sisa naga kuno.
Sisa-sisa itu masih menyimpan daya naga.
Sebelumnya, dalam wujud penuhnya, aku tidak bisa merasakannya.
Tapi dengan efek yang ditingkatkan dari transformasi nagaku, sekarang aku bisa merasakannya dengan jelas.
Lahap itu.
Inginkan itu.
Robek itu.
Suara yang bergema di kepalaku sangat mengganggu.
“T-tolong! Aku tidak bisa mati seperti ini!”
Arcadium memohon untuk nyawanya.
Bagi seseorang yang mengejek dan menyiksa kematian orang lain, permohonannya sangat memalukan.
Sesuatu menetes dari sudut mulutku.
Apakah itu air liur, hujan, atau darah?
Aku tak bisa membedakannya.
Tapi satu hal yang jelas—
Arcadium terlihat lezat.
Tanpa kusadari, wajahku sudah berada di depan lehernya.
Cairan lengket membasahi tenggorokan Arcadium.
Dia menjerit sekuat tenaga.
Ketika mulutku akhirnya terbuka—
Aku menampar wajahku sendiri dengan tangan kanan.
Kretak!
Rahangku hancur dan terkulai.
Rasa sakit yang menyengat menggema di kepalaku.
Penyembuhan naga-ku mencoba memulihkan rahang yang patah—tapi kubiarakan saja.
Sebaliknya, aku menendang kepala Arcadium.
Dorr!
Pukulan yang bersih.
Kesadaran Arcadium langsung sirna.
Arcadium memegang informasi penting tentang misteri vampir.
Bukan hanya Lucas—bahkan melibatkan Celestial Grace.
Jika aku melahapnya di sini, kita akan kehilangan sumber informasi vital.
Kretak!
Kepalaku mengepal dengan keras, memaksa diriku untuk menahan rasa lapar.
Tujuanku hanya satu—
Sebuah akhir bahagia untuk orang-orang di dunia ini.
Hanya itu yang kuperjuangkan.
Aku tak akan membiarkan keinginan sepele menghancurkan semuanya.
Aku mendorong kembali rasa lapar yang menggunung ke dalam tubuhku.
Melepaskan Arcadium, aku berbalik pergi.
Suara-suara memanggil dari kejauhan.
Aku harus memberi tahu mereka bahwa Arcadium perlu diamankan.
Tapi bahkan berbicara pun terasa seperti pemicu bagi rasa laparku.
Dengan terpaksa, kutulis kata “Tahanan” di atas kepalanya di dinding dan pergi.
Aku mulai berlari tanpa arah di hutan.
Penglihatanku kabur, kemerah-merahan.
Rasa lapar yang kusimpan nyaris membuatku gila.
Sisa-sisa naga di dalam tubuhku meluap dengan kegembiraan.
Makhluk itu sangat senang—
Kini dia melihat aku berubah menjadi wadah bagi naga.
“Sial…”
Aku memaksa rahangku yang masih sembuh kembali ke tempatnya dengan tanganku.
Rasa lapar yang kutahan kini semakin kuat.
Jika begini, aku akan mulai melahap orang bahkan jika mereka bukan musuh.
Aku harus bertahan—
Setidaknya sampai Xenia menyelesaikan sihirnya.
Saat aku berpegang pada pikiran itu—
“Senior?”
Suara bergema di telingaku.
Aku menoleh ke arah suara itu—
Dan di sana berdiri seorang gadis.
Bekas pertempuran terlihat di tubuhnya.
Rambut peraknya yang dulu sekarang berwarna coklat tua.
Nikita Cynthia.
Ketika melihatnya, kakiku langsung bergerak maju.
Dalam sekejap, aku sudah ada di depan Nikita—
Dan hampir menggigit lehernya.
Air liur menetes dari mulutku yang terbuka.
Tapi saat sadar, aku segera melompat mundur.
Sial.
Aku hampir saja memakan Nikita tadi.
Nikita menatapku kosong.
Rasa laparku terlalu besar untuk membaca ekspresinya.
“N-Nikita, lari. Sekarang, aku…”
“Ini nafsu makan naga kuno karena persilangan, kan?”
Nikita sudah menyadari gejalaku.
Aku mencoba menyuruhnya lari secepatnya.
Tapi entah kenapa, alih-alih lari, Nikita malah menatapku.
Bibirkupun terbuka dan tertutup tanpa suara.
“Niki…ta…”
“Senior, kamu tahu betapa tersiksanya wajahmu sekarang?”
Aku tak bisa melihat wajahku sendiri.
Yang kupikirkan hanyalah pikiranku akan hancur karena rasa lapar yang mengamuk.
Kulit putih pucat Nikita terlihat jelas.
Otot-otot halus di bawahnya membuat jantungku berdegup kencang.
Aku tak tahan melihatnya lagi dan menutup mataku rapat-rapat.
“Tak apa.”
Saat itu juga, kudengar suara Nikita.
“Aku hanya tak ingin melihatmu menderita, senior.”
“Kenapa!”
Aku bertanya dengan sekuat tenaga—kenapa dia tidak lari?
Aku sudah tak bisa mengendalikan rasa laparku, kakiku gemetar.
Aku hampir saja menerkamnya.
Tapi Nikita tersenyum manis padaku.
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
“Karena aku mencintaimu.”
Mataku yang terpejam terbuka dan menatap Nikita.
Dia merentangkan kedua tangannya.
Basah kuyup hujan, dia tersenyum lembut, penuh kasih.
“Karena aku mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini. Karena jika itu kamu, aku bisa memberimu segalanya.”
Cinta.
Apa itu, sampai dia tetap di sini?
Aku tidak tahu.
Ketidaktahuan itu membuat situasi ini tak tertahankan.
Aku mulai berpikir bahwa cinta mungkin mirip dengan rasa lapar.
Emosi yang tak terkendali, sebuah paksaan.
Kerinduan yang menarikmu pada seseorang yang dulu asing.
“Senior.”
Nikita tersenyum dengan segala cinta di dunia.
Senyum itu terasa hangat, bahkan di tengah hujan.
“Kemarilah.”
Itulah akhirnya.
Kewarasanku sudah mencapai batas, dan aku pun menerjang.
Aku menggigit tengkuk Nikita yang putih bersalju.
Saat darah membanjiri mulutku, air mataku mengalir deras.
Tapi bahkan melalui air mata itu, kulihat dengan jelas.
Nikita tersenyum saat menyerahkan lehernya padaku.
Dia merangkul kepalaku.
“Mari kita tidur sebentar.”
Saat itu, sihir naga menyebar dari seluruh tubuh Nikita.
Sisa-sisa naga kuno menghilang, dan dia mulai menggunakan sihir naga baru.
Satu-satunya yang bisa menggunakan sihir naga tanpa sisa naga kuno.
Hanya ada dua yang bisa menghentikan sihir naga:
Satu adalah sihir suci.
Yang lain adalah sihir naga sejenis.
Salju Naga Es memenuhi hutan.
Dalam sekejap, dingin itu membekukan hutan—dan kami.
Tubuhku melambat, pikiranku memudar.
Di saat-saat terakhir, kulihat wajah Nikita memelukku.
Meski beku, aku merasa hangat.
Karena itu, mataku terpejam lebih tenang.
Membeku dalam salju Naga Es.
Nikita dan aku tertidur seperti itu.
Dan entah bagaimana—
Untuk pertama kalinya sejak lama, kurasakan denyut kecil di dalam diriku.
* * *
Cinta.
Itu adalah emosi samar yang tak bisa didefinisikan.
Dan itu juga emosi pertama yang hilang karena “Perban Kerudung.”
Kenapa perban mencuri emosi?
Pernah kupikirkan sendiri.
Dan tak lama, kusimpulkan dari nama “Perban Kerudung.”
Kerudung.
Prop panggung biasa.
Saat aktor tampil, mereka memukau penonton dengan berbagai emosi.
Tapi saat tirai turun, mereka kembali jadi pemain biasa.
Panggung berakhir di balik kerudung.
Emosi karakter hilang bersamanya.
Perban Kerudung sama.
Terlempar dari panggung dunia, menjadi karakter yang tak lagi ada di panggung hidup.
Mungkin mencuri cinta dulu agar tak kembali ke panggung yang pernah dicintai.
Itu mengapa Perban Kerudung menakutkan.
Karena membuatmu lupa hal paling berharga.
Tapi—
Saat kau mendapatkan kembali sesuatu yang hilang,
Emosi itu akan lebih besar dari sebelumnya, begitu besar sampai takkan terlupa.
Dunia memang ironis.
Hanya saat kehilangan, kita tahu nilainya.
Kilat—
Melalui mataku yang terbuka, kulihat langit-langit yang familiar.
Ruang sakit Akademi Zerion.
Bagaimana bisa hidup ini terus-terusan pingsan?
Sungguh hidup yang melelahkan.
Rasa sakit kecil berkedip di kepalaku lalu hilang.
Mungkin efek samping dari lama tak sadar.
Tapi syukurlah, pikiranku jernih.
Dengan kejernihan itu, ingatanku sebelum pingsan kembali.
Karena lapar, aku menggigit leher Nikita, dan dia membalas dengan sihir naga es.
Saat wajah Nikita terlintas, aku langsung tersadar.
Dia menjadikan dirinya umpan untuk menghentikanku.
Kenapa dia nekat begitu?
Apa pikirannya masih waras?
Kuberanjak dari tempat tidur dan berdiri tergesa.
Aku harus memastikan Nikita baik-baik saja.
Badanku kaku karena tidur lama, tapi kubuka pintu kamar dengan kuat.
“Ah, kakak.”
Di sana, di depan pintu, wajah yang familiar.
Adik perempuanku, Xenia.
“Xenia.”
“Kenapa sudah bangun? Tubuhmu belum sembuh total.”
Xenia mencoba mendudukkanku kembali, bersikeras aku harus istirahat.
Tapi aku tak bisa dipaksa oleh kekuatannya.
“Aku baik-baik saja. Sudah istirahat cukup. Yang lebih penting—”
“Aku sudah menekan sisa naga kuno itu.”
Jadi itu dia.
Kusadari rasa lapar tadi sudah hilang.
Aku penasaran siapa yang mengatasinya—dan tentu saja, itu dia.
“Terima kasih. Kamu bekerja keras.”
“Kamu tahu betapa aku takut? Kamu dan Nikita beku. Aku menghabiskan semua manaku untuk mengeluarkan sihir langit.”
Xenia melihat keadaanku dan Nikita, menyadari rasa laparku meledak, dan berhasil memanggil sihir langit untuk menekan sisa naga.
Tanpa sadar, kusentuh sudut mataku.
“Mungkin kamu merasa aneh—sihir langit sudah terukir di matamu.”
Dia menanamkan sihir langit langsung di mataku.
Pantas sisa naga itu panik.
“Yang lebih penting, belum dua jam sejak sihir es Nikita hilang. Kamu butuh istirahat lagi.”
Dua jam.
Kulihat sekeliling.
Ruang sakit sepi.
Sepertinya insiden istana sihir masih berlangsung.
“Xenia, yang lebih penting—bagaimana Nikita?”
“Nikita ada di kamar 302…”
Aku tak menunggu lebih lama.
Aku berlari.
Xenia berteriak di belakang, tapi aku tak sempat mendengarkan.
Aku harus melihat sendiri Nikita baik-baik saja.
Dipacu oleh pikiran itu, aku sampai di depan pintu 302.
Aku bahkan tak sempat mengetuk.
Saat terbuka, seseorang kaget dan menoleh.
Di sana dia—seorang gadis yang baru saja melepas gaun rumah sakit dan masih memegang seragamnya.
Di antara rambut peraknya yang panjang—
Punggungnya yang pucat, pakaian dalam putih di atasnya,
Dan di tengkuknya yang putih bersalju, bekas gigitan yang jelas.
Saat itu, mataku seperti disambar kilat.
Gambaran sensual itu terukir di pikiranku.
Dia menoleh dengan wajah memerah, menutupi dadanya.
“Senior, aku tahu kamu khawatir dan buru-buru, tapi seharusnya mengetuk dulu sebelum masuk kamar wanita.”
“A-aku minta maaf!”
Kututup pintu dan menyandarkan kepala di dinding.
Aku sudah berbuat buruk pada Nikita.
Jantungku berdegup kencang—mungkin karena kaget.
Tapi di balik itu, kusadari degupan ini berbeda.
—–Sakuranovel.id—–
Comments