The World After the Bad Ending Chapter 224 Bahasa Indonesia
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
Bab 224
Berkat ciumanku, Sharin berhenti menangis dan kini berbaring diam di pelukanku. Mayat ibu Sharin telah hangus menjadi arang. Sekarang, bahkan dengan seni mistis vampir, kebangkitan mustahil dilakukan.
Sharin mengayunkan tongkatnya, mengumpulkan abu dengan hembusan angin. Lalu, ia menggunakan pasir untuk membuat botol kaca dan menyimpan abu itu di dalamnya dengan hati-hati.
“Apa yang akan kau lakukan dengan itu?”
“Aku akan menyimpannya di wilayah Menara Sihir. Siapa tahu ada orang iseng yang mengacaukannya lagi?”
Kita tak bisa membiarkan insiden seperti ini terulang. Jadi, Sharin memutuskan untuk menguburkannya di Menara Sihir.
“Yang lebih penting, kau sudah memulihkan emosi lagi, kan?”
Cepat sekali ia menyadarinya.
“Ya, aku sudah memulihkan kesedihan.”
Bersama dengan kemarahan, perasaan sedih yang samar telah kembali. Untuk sepenuhnya mekarnya, apa yang terjadi selanjutnya akan menjadi kunci.
“Kenapa bukan cinta?”
Sharin mendongak padaku, cemberut. Aku membelai kepalanya dengan lembut.
“Bisa memulihkannya saja sudah pencapaian besar.”
“Aku hanya berkata karena tak mau ketinggalan~”
Ketinggalan dalam apa? Orang mana pun akan mengira ini semacam kompetisi untuk memulihkan emosi.
“Lebih dari itu, aku sudah tahu seni mistis apa yang bisa menyelamatkan orang. Itu adalah seni mistis vampir.”
“Seni mistis vampir…”
Sharin mengulangi kata-kataku dengan raut wajah yang sedikit muak. Mengingat apa yang ia alami dengan Sharen, jelas ia sudah jengah.
“Sharin, dalam kasusmu setidaknya berakhir seperti ini.”
Pandanganku beralih ke botol kaca yang berisi abu Sharen.
“Tapi jika seseorang yang berharga bagimu kembali sebagai vampir, ceritanya akan berbeda.”
Dari sudut pandangku, haus darah vampir bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan. Jika tubuh mereka hampir mati karena kekurangan darah, mereka akan secara naluriah mengambil nyawa orang lain.
‘Sharen pun awalnya tampaknya tidak bermaksud membunuh pria itu.’ Ada tanda-tanda kebingungan dan usaha kabur di antara jejak tragedi itu.
‘Aku tak tahu berapa lama vampir bisa bertahan dengan darah yang penuh.’ Tapi semakin mereka menyantap, semakin sulit berhenti.
“Seseorang dalam keluarga mungkin akan membantu mereka memberi makan, ya~”
Ekspresi Sharin menjadi muram.
Seperti yang ia katakan, mungkin ada orang yang rela mengorbankan orang lain demi menjaga orang yang dicintai tetap hidup. Manusia mampu menyakiti orang lain demi orang yang mereka sayangi.
Dalam arti luas, perang hanyalah membunuh orang lain untuk melindungi keluargamu sendiri.
“Kau benar. Kita harus cepat menemukan dalang di balik ini.”
Jika vampir bermunculan di seluruh kota, pembantaian massal akan terjadi. Itu harus dihindari bagaimanapun caranya.
Lebih dari apa pun, Iris yang terpikir olehku. Ia mengaku mengikuti Celestial Grace atas kehendaknya sendiri. Tapi aku tak percaya itu benar.
‘Jika ibu Iris dihidupkan kembali sebagai vampir…’ Mungkin Iris juga menyakiti orang lain untuk menjaga ibunya tetap hidup.
Tentu, aku tak yakin ia akan melakukan itu. Mengenal kepribadiannya, ia mungkin akan membunuh ibunya sendiri seperti Sharin.
‘Tapi jika Celestial Grace terlibat, semuanya berbeda.’ Ada kemungkinan nyata bahwa Celestial Grace menyandera ibu Iris. Ia tipe pria yang tak ragu menggunakan anaknya sendiri sebagai bidak.
“Kita harus cepat membawa Duke of Whitewood ke sini.”
Sharin mengangguk setuju. Duke of Whitewood memegang kekuasaan dan legitimasi terbesar. Kecuali kami membawanya segera, ini tak akan terselesaikan.
“Untuk itu, pertama kita harus menyelesaikan ukiran.”
Waktunya mengukir segel magis baru.
“Iya, jadi suamiku—lepaskan semuanya.”
…Apa?
* * *
Perintah Sharin yang mengguntur untuk telanjang bulat. Alasannya sederhana. Untuk menerima sihirnya, seluruh tubuhku harus diukir dengan segel magis baru.
Jadi, aku tidak punya pilihan selain melepas semuanya. Untungnya, setelah sedikit negosiasi, aku diizinkan memakai celana dalam.
Sharin terlihat agak kecewa, tapi ia tak memaksa. Kami berada di laboratorium magis pribadi Sharin di Menara Sihir Biru.
Ia masuk mengenakan jubah dan membersihkan tenggorokannya.
“Senang bekerja sama.”
“Kedengarannya seperti pengantin wanita di malam pernikahan.”
Sharin menyentakkan tongkat pengukirnya. Seolah ia tidak sabar menyuruhku cepat-cepat melepas baju. Pada akhirnya, aku menuruti dan melepas jubahku.
Mata Sharin yang menyipit menyapu tubuhku dari ujung kepala sampai kaki. Lalu ia bangkit dari kursinya dan mendekatiku. Jarinya mengetuk kulitku dengan lembut.
Kehangatan sentuhannya menyusup, membuatku membeku sejenak. Tatapannya tidak biasa. Apakah aku akan dimakan hari ini?
Tapi tak lama, ia menyentuh tubuhku lagi dengan raut wajah yang getir.
“Ini berantakan.”
Dari sambaran petir dewi sampai luka-luka lain, tubuhku dipenuhi bekas luka. Seperti kata Sharin, tak ada satu bagian pun yang utuh. Wajahku masih lumayan, meski satu matanya menyisakan sisa naga kuno.
“Hah…” Sharin menghela napas pendek.
“Kau sudah beberapa kali melakukan ini, jadi kau tahu—kali ini akan butuh waktu lama~”
Ukiran seluruh tubuh memakan waktu.
“Ya, aku akan bertahan.”
“Bahkan jika kusentuh bagian yang aneh, jangan protes~”
“Sepertinya aku harus protes soal itu.”
Tak baik membiarkan pikiran kotor mengganggu sihir suci. Sharin tak peduli dengan jawabanku dan bersenandung sambil memegang tongkatnya.
Lalu ia mulai mengukir segel magis dari punggungku. Tanpa kusadari, Sharin sudah diam. Ia kini sepenuhnya fokus pada pekerjaannya. Dalam hal sihir, Sharin selalu serius.
Aku tak akan bisa mengajaknya bicara untuk sementara waktu. Gores, gores— Tongkatnya mengukir kulitku, menorehkan segel. Aku sudah terlalu sering mengalami ini hingga hampir tak merasakan apa-apa sekarang.
Jadi aku pun tenggelam dalam lamunan. Apa yang harus kulakukan selanjutnya, tantangan di depan… Belakangan, kepalaku penuh kekhawatiran hingga tak ada jawaban jelas yang muncul.
Gores, gores— Pada suatu titik, Sharin sudah berpindah dari belakangku ke depanku. Aku bisa jelas melihat kilau Mirinae bersinar terang di matanya. Melihatnya dari dekat lagi, ia memang memiliki wajah yang cantik.
Aku masih tak mengerti bagaimana wajah sekecil itu bisa memuat mata, hidung, dan bibir bersama-sama seperti itu. Rambutnya yang biru tua sama memesonanya. Diselingi cahaya bintang seperti matanya, rambutnya tanpa sengaja menarik pandanganku.
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
Sharin mulai mengukir simbol magis tepat di bawahku. Sesekali terasa geli, dan aku hampir tertawa, tapi berhasil menahannya. Tanpa berhenti sekali pun, ia terus mengukir simbol.
Tak lama, matahari terbenam dan bulan muncul. Bahkan sepanjang malam, Sharin tak menghentikan pekerjaannya. Waktu berlalu, dan akhirnya, saat matahari terbit—
“Huuu…” Desah puas akhirnya keluar dari bibir Sharin.
“Sudah selesai?”
“Iya, kerja bagus~”
“Kau yang bekerja keras.”
Sharin meregangkan badan dengan menguap panjang. Lalu, dengan bibir kecil yang mengantuk, ia menguap lagi. Wajahnya dipenuhi kantuk. Ia tampak sangat berbeda dari sosok yang fokus tadi.
“Tidurlah.”
“Mmm, aku akan~”
Sharin meletakkan tongkatnya dan, tanpa kusadari, merangkulku erat.
“Ayo tidur bersama, suamiku~”
Apa ia jadi manja langsung setelah menyelesaikan simbol magis?
“Baiklah, baiklah.”
Sharin sudah bekerja keras seharian. Aku bisa mengizinkan tingkat kemanjaan seperti ini. Saatnya memamerkan keterampilan tidur yang terasah dari banyak tidur siang bersama Iris.
Aku dengan lembut mengangkat Sharin yang setengah tertidur ke dalam pelukanku. Lalu kubawa ia ke kamar tidurnya dan membaringkannya di tempat tidur.
“Sayanggg.”
Tapi Sharin menggenggam pergelangan tanganku erat, tak mau melepaskannya. Ia bertekad untuk tidur bersama bagaimanapun caranya. Pada akhirnya, aku berbaring di sampingnya, dan ia menyelusup ke pelukanku.
Seperti kucing yang mencari posisi sempurna untuk meringkuk. Akhirnya, ia tampak puas dan terlelap, memelukku erat. Sambil melihatnya tidur, aku pun menutup mata.
Tidur nyenyak penting untuk pemulihan. Hanya untuk hari ini, aku akan benar-benar beristirahat.
* * *
Aku melihat ring bersegi empat. Seorang pria berteriak keras di antara lima tali ring. Pria paruh baya—siapa dia lagi? Saat mencoba mengingat memori yang kabur, kudengar ia berteriak padaku.
“Kenapa kau melamun?! Fokuslah!”
Ah, dia pelatih yang dulu melatihku.
Saat kudengar suaranya, sebuah tinju melesat ke arah kepalaku. Secara naluriah, aku menoleh untuk menghindar, tapi tubuhku limbung. Kakiku terasa berat. Sepertinya aku sudah cukup lama dalam pertandingan ini.
Lawanku muncul dalam pandanganku. Penglihatanku sempit. Otakku terasa tidak berfungsi dengan baik. Tubuhku mengambang. Sensasi itu—aku ingat. Dan ini juga hari pertandingan terakhirku.
Pertandingan. Pertandingan?
“Apakah aku benar-benar melakukan hal semacam itu?”
Aku menatap kosong ke langit-langit. Kenangan kaburku terasa aneh dan kacau. Sensasi aneh dan menyeramkan menyapu seluruh tubuhku. Flash— Mataku terbuka lebar.
Aku terengah-engah karena panas yang memancar dari tubuhku dan keringat dingin yang membasahiku. Penglihatanku yang kabur menatap kamar Sharin. Benar—aku tertidur bersama Sharin.
Aku mengerang kesakitan karena sakit kepala yang berdenyut. Aku pasti bermimpi tentang pertandingan. Tapi ada yang terasa sangat salah tentang mimpi itu. Sensasi aneh menyadari mimpi dalam mimpi.
“Apa aku terlalu memaksakan diri belakangan ini?”
Aku meningkatkan intensitas latihan untuk persiapan menghadapi naga kuno. Itu bisa jadi penyebabnya.
“Kau sudah bangun.”
Tiba-tiba, suara pria paruh baya mencapai telingaku. Aku menoleh dan melihat seorang pria duduk di kursi di sudut ruangan. Pria paruh baya tampan dengan rambut biru tua sama seperti Sharin.
Ia menutup buku yang dibacanya dengan keras.
“Aku memahami gairah muda, tapi ingat—ini adalah Menara Sihir.”
Apa maksudnya? Masih setengah sadar, aku mencoba menghilangkan kabut dari kepalaku. Lalu aku menyadari aku hanya memakai celana dalam. Dan aku sadar kesalahpahaman apa yang mungkin terjadi di kepala Master Menara Sihir Biru.
“Oh, ini salah paham. Kami tertidur setelah menyelesaikan simbol magis, itu saja.”
“Hmm.”
Pandangannya melayang ke bawah. Secara alami, aku mengikuti pandangannya. Dan aku berkedip. Tanpa kusadari, Sharin sudah melepas atasan dan celananya, berbaring hanya dengan pakaian dalam. Lingerie biru muda dan putih yang dihiasi renda lucu.
Wajahku membeku. Apa. Yang. Terjadi.
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
—–Sakuranovel.id—–
Ketahuan papa mertua dong
Woooo habis ngapainnnn, ko ga ditulis njir
Sepertinya kita semua sepemikiran ga gengs, KITA BUTUH ILUSTRASI INI!1!1