The World After the Bad Ending Chapter 197 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

[Translator – Night]
[Proofreader – Gun]

Bab 197

Midra Fenin.

Mengenainya, sejujurnya aku tak tahu banyak.

Dia bahkan tidak dianggap sebagai karakter penting dalam arc Kupu-Kupu Api.

Selain fakta bahwa ia menduduki peringkat kedua di kelas seni bela diri tahun pertama, tak ada hal lain yang mencolok darinya.

Itulah Midra Fenin.

Tapi setelah aku menduduki tubuh ini, ia perlahan mulai menonjol.

Bahkan, ia akhirnya menyebutkan Wolfram, membawa cerita ke puncaknya.

Kreek—

Suara api unggun sementara yang menyala terdengar di telingaku.

Karena Sharin menyalakannya dengan sihir, tak perlu khawatir padam meski dalam kabut.

Midra dan aku berjaga di shift kedua.

Anak-anak sudah terlelap, dan penjaga shift pertama baru saja pergi tidur.

Keheningan menyapu lantai kelima.

Midra dan aku duduk berhadapan di depan api.

“Midra.”

Aku yang pertama berbicara.

“Ya, Instruktur.”

Midra menjawab santai.

Sangat berbeda dari saat ia menjatuhkan bom informasi itu.

“Kau sudah tahu siapa diriku sebenarnya, bukan?”

Pada pertanyaan itu, Midra mengedipkan mata.

Lalu memiringkan kepalanya.

“Identitasmu, maksudmu? Bukankah kau Instruktur Vikamon Niflheim?”

Jangan bermain kata denganku.

Matanya dipenuhi ejekan yang menggelitik.

Aku tak berniat meladenikan candaannya.

“Aku sudah memikirkan ucapanmu tentang Wolfram. Termasuk niatmu memberitahuku hal itu.”

“Ho~”

Untuk pertama kalinya, ketertarikan asli muncul di mata Midra.

Ia terlihat penasaran dengan apa yang akan kukatakan selanjutnya.

Kuharap rasa penasarannya bertahan.

“Cara memutus lingkaran yang ada antara Wolfram dan Zerion—jujur, aku tak tahu caranya.”

Sebuah cara untuk memutus kekuatan regresi yang konyol itu.

Bahkan setelah memainkan arc Kupu-Kupu Api, aku tak bisa menebaknya.

Tapi kisah yang diisyaratkan Midra mengandung petunjuk.

Mengapa Midra langsung membenarkanku tentang gender Zerion?

Dan mengapa Wolfram mengungkapkan rahasia regresi kepada Zerion, sebuah kebenaran yang tak mudah dibagikan?

Dalam arc Kupu-Kupu Api, tak ada yang tahu Wolfram pernah mengalami regresi.

Bahkan pahlawan lain menggambarkannya hanya sebagai “unik”.

Artinya, mereka pun tak tahu tentang regresinya.

Lalu mengapa Wolfram membagikan informasi itu hanya kepada Zerion?

“Wolfram dan Zerion adalah kekasih.”

Salah satu hubungan paling dalam dan terpercaya: kekasih.

Ini kesimpulan yang kudapat dari petunjuk Midra.

Di seberang api unggun, Midra memandangku dalam diam.

Ia tak menanggapi jawabanku.

Jadi aku melanjutkan.

“Ada cerita yang bertahan bahwa Zerion memiliki anak.

Tak ada yang tahu persis bagaimana garis keturunannya berlanjut, tapi jika kisah dari seribu tahun lalu masih bertahan hingga kini, pasti ada kebenarannya.”

Lalu, siapakah anaknya?

Tak butuh lama untuk sampai pada jawaban.

Reinkarnasi para pahlawan memiliki ikatan dengan kehidupan masa lalu mereka.

Rosli, Sang Api Jatuh, terlahir di keluarga kerajaan Zebra, yang pernah ia benci.

Aquiline, Sang Penjaga Jiwa, berasal dari garis keturunan Musika.

Narea, Sang Saint Mulia, mewarisi gelar ‘Saint’ yang sama.

Zerion, Sang Bijak Transenden.

Apa hubungan reinkarnasinya, Xenia, dengan Zerion?

“Xenia mewarisi garis keturunan Zerion.”

Keluarga Count Niflheim, seperti yang dikatakan Count sendiri, memang mewarisi garis keturunan Zerion.

Garis keturunan itu berlanjut melalui generasi dan bermuara pada reinkarnasi Xenia sebagai Zerion.

“Dan Zerion bukan satu-satunya dalam garis keturunan itu.”

Jika Wolfram dan Zerion adalah kekasih, jawabannya menjadi sederhana.

“Darah Wolfram juga bercampur dalam keluarga Count Niflheim.”

Seorang anak yang lahir dari Wolfram dan Zerion.

Darah mereka menyatu dan berlanjut hingga berujung pada keluarga Niflheim di masa kini.

Ketika menyatukan semua ini, aku menyadari satu hal.

Stamina Vikamon Niflheim yang abnormal.

Seorang pria yang mencurahkan hidupnya untuk mempelajari sihir—bagaimana mungkin ia memiliki ketahanan yang luar biasa?

Jawabannya adalah bahwa darah Wolfram termanifestasi lebih kuat.

Tepuk, tepuk—

Midra bertepuk tangan.

Ekspresinya riang, seolah tak menyangka aku bisa menyimpulkan sebanyak ini.

“Luar biasa. Aku tak memberimu banyak petunjuk, tapi kau bisa menyimpulkan semua itu.”

Midra mengakui jawabanku benar.

Aku menghela napas panjang.

Semua waktu yang kuhabiskan memikirkan ini terbayar.

Jadi sekarang saatnya menanyakan sesuatu yang tak bisa dijawab dengan informasi yang kumiliki.

“…Apakah memutus regresi Wolfram terkait dengan keturunannya?”

Setelah menyebutkan regresi, Midra mengungkapkan bahwa Zerion adalah perempuan.

Itu secara tak langsung mengaitkan regresi dengan garis keturunan.

Bibir Midra perlahan melengkung menjadi senyum.

“Yah, siapa tahu?”

“Aku tak suka jawaban samar.”

“Untuk itu… kurasa kau akan mengetahuinya sendiri nanti.”

Aku mengerutkan kening.

Jelas ia tak berniat mengatakannya sendiri.

Baiklah.

Aku tak berharap ia memberitahuku segalanya.

Pertanyaan selanjutnya, kalau begitu.

“Apakah Vikamon adalah reinkarnasi Wolfram?”

Vikamon Niflheim, seorang penjahat kelas tiga yang keluar di tengah arc Kupu-Kupu Api.

Mungkinkah ia sebenarnya reinkarnasi Wolfram?

Itulah hipotesis yang kusampaikan.

Bahkan aku sendiri tak yakin.

Para pahlawan yang bereinkarnasi memiliki bakat yang luar biasa.

Tapi Vikamon hanya memiliki stamina.

Bahkan itu pun bukan yang terbaik—Aisha mengunggulinya dalam hal fisik mentah.

Terlalu kurang untuk dianggap sebagai reinkarnasi Wolfram.

Midra dan aku saling menatap.

Keheningan kembali.

Kreek—

Api kembali berderak pelan.

Setelah beberapa saat, Midra menarik lututnya dan terkekeh.

“Tidak.”

Hipotesisku ditolak.

Memang benar Vikamon mewarisi darah Zerion dan Wolfram.

Tapi hanya itu—garis keturunan.

Ia bukan reinkarnasi Wolfram.

“Lucas.”

Jadi kusebut nama berikutnya yang terlintas.

Protagonis arc Kupu-Kupu Api, Lucas.

[Translator – Night]
[Proofreader – Gun]

Ada kemungkinan ia sebenarnya adalah Wolfram.

“Orang itu reinkarnasi Wolfram?”

“Api Tekad adalah kemampuan yang luar biasa. Tak berlebihan menyebutnya reinkarnasi pahlawan.”

Midra memberikan pujian singkat pada Lucas.

“Tapi Wolfram belum mati.”

Hipotesis tentang Lucas juga ditolak.

Jujur, aku pun tak terlalu percaya yang satu itu.

Jika dipikir, Vikamon sebagai reinkarnasi Wolfram lebih masuk akal—setidaknya garis keturunannya memberi dasar.

Tapi Lucas tak punya koneksi nyata dengan Wolfram.

Pikiranku semakin ruwet.

Lalu, siapa sebenarnya reinkarnasi Wolfram?

“Tapi, kau sudah cukup dekat sehingga pantas dapat pujian. Bisa dibilang kau benar sekitar setengahnya.”

“Jadi kau benar-benar tak akan memberitahuku jawabannya sendiri.”

“Haha, kuharap kau tak berpikir buruk tentangku. Aku terikat semacam mantra pengikat, begitulah.”

Mantra pengikat seperti apa?

Midra tampaknya juga tak berniat menjelaskannya.

Napas panjang keluar dari bibirku.

Tapi, jam-jam yang kuhabiskan memikirkan ini tak sia-sia.

Ini bukan jawaban yang jelas, tapi cukup dekat.

Tinggal mengumpulkan lebih banyak informasi dan mengajukan hipotesis berikutnya.

“Midra, kurasa kau juga tak akan memberitahuku siapa dirimu sebenarnya.”

“Sayangnya, itu juga terikat oleh batasan. Tapi akan kukatakan, ini bukan batasan yang merugikan Instruktur Vikamon. Justru, ini demi kebaikanmu.”

Ia memberikan petunjuk lain.

Midra tak memainkan peran aktif dalam arc Kupu-Kupu Api.

Lalu mengapa ia tiba-tiba terlibat sekarang?

‘Midra baru bertindak setelah aku menduduki tubuh ini.’

Di dunia setelah kematian Lucas, akhir yang buruk terjadi.

Di dunia itu, Midra tak melakukan apa pun dan membiarkan akhir buruk itu terjadi.

Tapi di dunia ini, ia mengambil tindakan.

Satu-satunya penjelasan adalah pendudukanku.

Sejak menduduki tubuh ini, aku telah banyak mengintervensi cerita.

Alur cerita asli sudah menyimpang sejak kematian Lucas.

Untuk membawa dunia menuju cerita yang kuyakini benar, aku harus terlibat, dengan cara apa pun.

Karena itu, alur cerita berjalan jauh lebih cepat dari yang diharapkan.

Aku mencoba mengikuti peristiwa secara berurutan, tapi situasi tak bekerja sama.

Dan hanya dalam situasi kacau ini, Midra akhirnya muncul.

Seolah pendudukanku adalah pemicu yang menggerakkannya.

“…Midra, sebenarnya kau ini apa?”

Bagaimana ia tahu semua ini?

Dan apa sebenarnya “mantra pengikat” yang menahannya?

Midra tak pernah menunjukkan permusuhan padaku.

Misterius seperti dirinya, ia mempertahankan hubungan yang kooperatif.

Ia bahkan membantuku selama insiden Vinesha dengan Makhluk Eldritch.

Tapi untuk tujuan apa ia membantuku?

Aku bahkan tak bisa mulai menebaknya.

“Pertanyaan yang bagus.”

Midra membalikkan pertanyaanku padaku.

“Apa yang kulakukan semua ini untuk apa, ya?”

Senyum getir melintas di wajahnya.

“Mungkin aku membantu Instruktur Vikamon hanya untuk menemukan jawaban itu sendiri.”

Ia membantuku untuk menemukan jawaban yang bahkan ia sendiri tak tahu.

Aku tak terlalu paham maksudnya.

Tapi satu hal jelas.

“Kau bilang kau berada di pihakku.”

“Ya, benar. Aku tak berniat menjadi musuhmu.”

“Itu cukup bagiku.”

Midra terkejut.

Ia tak menyangka aku menerimanya dengan mudah.

“Dengan begitu banyak musuh yang sudah ada, selama aku tak menambahkannya, aku akan menerima apa yang bisa kudapat.”

Musuh sudah lebih dari cukup.

Tak perlu menambah jumlahnya.

Jika Midra bersedia bekerja sama, tak ada alasan bagiku untuk menolaknya.

Bahkan, aku harus menyambutnya.

“Aku sudah tahu kau menyimpan semacam kartu as. Suatu hari, itu akan berguna.”

Midra pernah menunjukkan kemampuan teleportasi spasial.

Sesuatu yang bahkan Sharin tak bisa rasakan.

Aku punya beberapa teori tentang Midra.

Salah satunya adalah ia mungkin terhubung dengan metode yang digunakan Wolfram untuk memutus siklus regresi.

Mantra pengikatnya mungkin berasal dari sana.

Dan fakta bahwa ia tak bisa memberitahuku mungkin berarti ada hubungan antara Wolfram dan aku—bahkan mungkin termasuk Vikamon.

Bisa jadi pendudukanku terkait dengan regresi Wolfram.

“Haha.”

Midra tiba-tiba menutup mulut dan tertawa.

“Itu hal yang kuharapkan darimu, Instruktur Vikamon.”

Ada nada nostalgia dalam suaranya.

“Sudah waktunya.”

Sebelum aku bisa bertanya lebih jauh, Midra berdiri.

“Mari ganti shift jaga malam.”

Sudah waktunya untuk penjaga berikutnya.

Kami sudah berbicara begitu lama sampai aku lupa waktu.

“Masih banyak waktu di depan kita, kan?”

Midra tersenyum licik, mengisyaratkan bahwa aku akan punya kesempatan lain untuk bertanya lebih banyak.

Pada ucapannya, aku juga berdiri.

“Suatu hari, aku akan mengungkap semuanya.”

“Aku akan menantikannya.”

Midra, kembali ke cara bicaranya yang biasa, pergi membangunkan penjaga berikutnya.

Kreek—

Api unggun berderak pelan di malam hari.

[Translator – Night]
[Proofreader – Gun]

—–Sakuranovel.id—–

Daftar Isi

Comments

One response to “The World After the Bad Ending Chapter 197 Bahasa Indonesia”

  1. reader says:

    jangan jangan yang di maksud Wolfram seorang regresor itu sebenernya MC, MC regresi ke masa lalu dan jadi Wolfram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

romawibet

bikhoki

romawibet

slot gacor

slot gacor

slot

slot

kantinslot

kantinslot

slot

slot

bighoki288

slot