The World After the Bad Ending Chapter 170 Bahasa Indonesia
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
Bab 170: Heroin Utama
Selama perjalanan pulang, kami beristirahat sejenak.
Aku terdiam memandang Isabel dengan ekspresi kebingungan.
Wajar saja—Isabel baru saja mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak terduga.
Dia mengklaim bahwa aku menyerang Putri Ketiga untuk melindungi County Niflheim.
Klaim macam apa itu?
Jelas dia merujuk pada kejadian masa lalu—saat Vikamon bersama Putri Ketiga menyergap Lucas di Dungeon Iblis.
Itulah peristiwa yang dibicarakan Isabel.
Tapi mengapa Isabel salah paham begitu buruk?
Jawabannya datang padaku dengan cepat.
Seperti yang pernah kusebutkan sebelumnya, Niflheim memiliki hubungan lama dengan Duke Robliage.
Ini terlihat dari reaksi Xenia.
Keluarga mereka telah terikat selama beberapa generasi.
Dan dengan sejarah itu, muncul jaringan kepentingan yang rumit—usaha bisnis, aliansi, dan hubungan pribadi.
Seperti itulah hubungan antara County Niflheim dan Duke Robliage.
Secara alami, Niflheim berpihak pada faksi Putri Ketiga.
Dan kemudian, seseorang yang menyandang nama Niflheim menyerang Putri Ketiga.
Niflheim tidak boleh menyinggung faksi Putri Ketiga.
Mereka tidak bisa memotong daging mereka sendiri.
Karena itu, Niflheim mengambil tindakan drastis—mengusir putra sulung mereka.
Dan putra yang diusir itu tak lain adalah aku, Vikamon Niflheim.
Tapi apa arti pengusiran ini?
Jawabannya jelas dari tindakan County Niflheim setelahnya.
Setelah mengusir putra sulung mereka, mereka perlu memulihkan citra mereka.
Solusinya adalah menampilkan ahli waris baru.
Ahli waris itu adalah Xenia Niflheim.
Seorang penyihir yang menguasai kekuatan Constellation Magic, mewarisi darah Zerion.
Dia adalah figur sempurna untuk dipromosikan Niflheim menggantikanku.
Dengan kepergian putra sulung, semua otoritas beralih ke Xenia.
Meski masih muda, dia cepat memegang kekuasaan besar di keluarganya.
Terlebih lagi, Xenia menguasai Constellation Magic.
Count Niflheim semakin menyayanginya.
Xenia diberi begitu banyak wewenang sampai bisa memerintah County Niflheim sendiri.
Meski tidak menggunakannya, Xenia sudah menjadi wajah keluarga Niflheim.
Bahkan ada yang tahu namanya tetapi tidak tahu nama Count Niflheim.
Dan kini, dengan kontribusinya menangkap Mystic Cult, pengaruhnya semakin kuat.
Kemudian, Xenia menerima satu informasi krusial: Putri Ketiga, Iris Hysirion, adalah wadah Iblis Sovereign.
Duke Robliage pasti terlibat dalam rencana gelap ini.
Lalu apa yang akan Xenia lakukan?
Jawabannya jelas, tidak perlu berpikir panjang.
Bersekutu dengan Iblis Sovereign berarti menjadikan seluruh dunia sebagai musuh.
Xenia tahu ini. Tentunya dia akan memutus hubungan Niflheim dengan Duke Robliage.
Dia akan melindungi keluarganya menggantikan Count yang terlalu buta oleh kekuasaan.
Itulah tugas yang diambil Xenia.
—Begitulah yang dipercaya Isabel.
“…Meski keluargamu mengusirmu, kamu masih berusaha melindungi mereka seperti ini?”
Aku terdiam kaget.
Ini hanya kebetulan keadaan, tapi Isabel menafsirkannya sebagai tindakan pengorbanan diri.
Aku tidak punya niat seperti itu.
Bahkan jika itu kehendak Vikamon, pasti bukan kehendakku.
Pandanganku melayang ke jendela kereta.
Jika Xenia tahu identitasku yang sebenarnya, dan dia salah paham seperti Isabel… apa yang akan terjadi?
Tiba-tiba, masa depan terasa menakutkan.
Menerima kebencian mungkin lebih baik.
Dipuji palsu terasa jauh lebih tidak nyaman.
Tapi Isabel tampaknya menganggap diamku sebagai konfirmasi.
Dia menghela napas panjang.
“Kamu masih seperti dulu, ya? Dulu dan sekarang… Kenapa kamu selalu mengorbankan diri?”
Kata-katanya menegur, tapi matanya hangat memandangku.
Untuk pertama kalinya, aku sadar betapa opininya tentangku telah berubah.
Pandangan tingginya itu yang menyebabkan salah paham ini.
“Kalau dipikir-pikir, memang aneh. Tidak mungkin kamu menyerang Putri Ketiga dan Lucas begitu saja.”
Aku bertanya-tanya, seperti apa diriku di mata Isabel sekarang.
Dulu, dia hanya melihatku sebagai teman masa kecil yang menjadi penjahat.
Sekarang, dia memandangku begitu tinggi.
‘Mungkin karena aku selalu terlihat sengaja di depannya?’
Tampaknya Isabel sekarang percaya bahwa semua tindakanku punya alasan tersembunyi.
Tapi kali ini berbeda. Sungguh tidak ada motif tersembunyi.
Bagaimana menjelaskan ini?
Ekspresiku menjadi ruwet.
Waktu itu, aku bukan Vikamon.
Vikamon hanyalah pria yang buta oleh cinta.
Bahkan jika ada motif tersembunyi, aku tidak bisa memastikannya.
Vikamon sudah tidak ada lagi.
Buktinya ada di kekosongan yang kutemui di Soul World.
Tapi setidaknya, aku merasa perlu meluruskan salah paham ini.
“Isabel, alasan aku menyerang Lucas adalah karena Nikita.”
Waktu itu, Vikamon mencintai Nikita.
Meski aku tidak lagi merasakan emosi itu, aku tidak ingin menyangkal perasaan Vikamon dulu.
Isabel pasti merasakan ketulusan dalam kata-kataku.
Dia memandangku dengan tenang.
“Iris hanya kebetulan ada di sana, tapi seranganku pada Lucas… itu hanya ledakan emosi.”
Menyangkalnya berarti menyangkal Vikamon sendiri.
Karena itu, kusampaikan kebenarannya.
“…”
Isabel terdiam sejenak.
Apakah aku mengecewakannya?
Jika ya, aku hanya bisa merasa menyesal.
“…Apakah Nikita masih aman?”
Aku belum pernah memberitahu Isabel tentang nasib Nikita.
Dia mengira aku memimpin kelompok boikot karena Nikita meninggal.
Jadi dia tidak tahu apakah Nikita masih hidup.
“Dia aman.”
Nikita bahkan bilang, ‘Kita bertemu lagi tahun depan.’
Belakangan ini, aku sampai merindukannya sedikit.
Dulu, bekerja dengan Nikita di OSIS adalah masa yang damai.
“Kalau begitu… kamu masih menyukai Senior Nikita?”
Isabel tahu aku sudah kehilangan kemampuan untuk mencintai.
Tapi dia tetap bertanya apakah aku masih menyukai Nikita.
Aku mengerdip kaget.
Apa aku masih menyukai Nikita?
Jika harus menjawab singkat, ya, aku masih menyukainya.
Meski tidak merasakan cinta, aku tetap menghargai dirinya.
Tapi itu hanya karena dulu aku menganggapnya favorit.
Tanpa cinta di hati, aku tidak yakin apa yang kurasakan.
‘Vikamon mencintai Nikita.’
Seperti aku merasa nyaman di dekat Nikita, begitu pula Vikamon.
Cintanya pada Nikita tulus.
“Aku tidak tahu.”
Hanya itu yang bisa kukatakan.
“Mungkin jika aku bisa mendapatkan kembali cinta, aku bisa memahaminya.”
Saat memikirkan Nikita, kerinduan bergerak di dalamku.
Ini bukan tentang emosi—hanya fakta bahwa Nikita berharga bagiku.
“Begitu ya.”
Isabel menghela napas kecil, lalu perlahan mengangkat kepala.
Senyum cerah, terang seperti matahari, merekah di wajahnya.
“Kalau begitu, aku akan membantumu mendapatkan kembali semua perasaan yang hilang.”
Tanpa kusadari, Isabel mendekat.
Aroma jeruknya memenuhi ruang antara kami.
“Jika kamu kehilangan kesedihan, aku akan mengingatkanmu pada kesedihan yang dulu kulupakan karena kamu.”
Hari dia kehilangan kakak dan Lucas.
Saat itulah dia belajar rasanya dunia hancur dalam duka.
Bagi Isabel, kesedihan masih menjadi luka dalam.
Karena itu mudah baginya untuk menunjukkan kesedihan padaku.
“Jika kamu kehilangan kemarahan, aku akan mengingatkanmu pada kemarahan yang kudapatkan kembali karena kamu.”
Kemarahan saat melihatku mengutuk Lucas.
Isabel masih ingat jelas amarah membara itu.
Dan amarah itulah yang memberinya kekuatan untuk merebut kembali hidupnya.
Tidak ada yang lebih paham nilai kemarahan selain dia.
“Jika kamu kehilangan cinta, aku akan menunjukkan padamu cinta yang kupelajari karena kamu.”
Dan terakhir—
Saat mengucap itu, mataku membelalak.
Wajahnya lebih merah dari sebelumnya.
Sinar matahari sore bukan penyebabnya.
Itu adalah emosi di hatinya yang terpampang di wajahnya.
Dia tersenyum cerah.
Senyum secemerlang matahari.
Isabel Luna.
Bunga yang melambangkannya adalah bunga matahari.
Bunga yang hanya mengangkat kepala mengikuti matahari.
Mungkin bunga matahari memandang matahari karena ingin menjadi matahari sendiri.
Dan saat itu, Isabel menjadi mataharinya sendiri.
Tidak lagi mengejar cahaya orang lain—dia bersinar dengan gemilang.
Itulah esensi sejati Isabel Luna—heroin utama.
“Aku menyukaimu.”
Akhirnya dia mengungkapkan perasaan yang dipendamnya.
“Aku sangat menyukaimu sampai tidak mau menukarnya dengan apa pun.”
Emosinya meluap, jelas dan tak terbantahkan.
“Jadi, saat kau akhirnya mendapatkan kembali perasaanmu…”
Isabel sudah berada sangat dekat.
Aku menatapnya, tak bisa memalingkan muka.
“Aku akan mengaku lagi, jadi janji kau akan memberiku jawaban saat itu.”
Bibirnya menyentuh lembut bibirku.
Sentuhan paling halus yang pernah kurasakan, membuatku pusing sejenak.
Saat dia menjauh, wajah Isabel merah padam, tapi dia tersenyum.
Matahari sudah terbenam, tapi dia lebih bersinar dari apa pun di senja.
“Kuharap setidaknya sedikit dari ini sampai padamu.”
Cinta bunga matahari yang berubah menjadi matahari—sangat menyilaukan.
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
—–Sakuranovel.id—–
Lucas Ter NTR 😂👍
Kalau gak salah bahagian ciuman ini ada ilustrasi nya di Insta,gw keknya pernah liat
Manaaa??? Minta linkk nya oyyy, pengen liatttt
kadang gw juga kesel sih padahal di korea ada gambar nya tapi beberapa webnovel gk ngasih gambar paling ada itu pun ampe 2foto doang cik