The World After the Bad Ending Chapter 165 Bahasa Indonesia
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
Bab 165: Yang Terbebas dari Keraguan
Kilatan putih menyilaukan menyembur ke segala penjuru.
Di bawahnya, aku tergeletak di tanah dalam keadaan menyedihkan.
Serangan itu telah mendorong tubuhku melampaui batasnya.
Alhasil, efek baliknya membebaniku dengan berat.
Tapi aku tak bisa lengah.
Terlalu banyak penyimpangan dari skenario asli kali ini.
Dalam cerita aslinya, aku bisa yakin Vulcan sudah dikalahkan, tapi sekarang, aku tak bisa memastikannya.
“Guh-hah!”
Aku memuntahkan cairan pahit yang naik ke kerongkongan dan memaksakan diri untuk bangkit.
Seluruh tubuhku gemetar, tulang-tulang terasa nyeri menusuk.
Harga yang harus dibayar karena memaksakan kekuatan.
Dengan limbung aku berdiri, memaksa mata terbuka dan menatap ke depan.
Saat arus listrik menghilang, siluet seorang pria muncul.
Vulcan berdiri di sana, babak belur.
Sehebat apa pun dia, mustahil bisa tetap tak terluka setelah dihajar sihir naga kuno, kekuatan suci Saint, dan Proklamasi Kemenangan Dewi sekaligus.
Tetes—
Darah hitam menetes dari mulut Vulcan,
bukti kerusakan internal telah mencapai bagian dalam tubuhnya.
Namun, dia tidak jatuh.
Sebaliknya, kegelapan mengalir keluar dari wujudnya.
Kekuatan yang dia dapatkan lewat perjanjian dengan Sang Kekejian.
Krak!
Tapi itu tak bertahan lama.
Energi gelap yang mengalir dari tubuhnya tercerai-berai dan menghilang.
Getaran halus muncul di sudut mata Vulcan.
Centriol dan Acrede berhasil mengusir Sang Kekejian,
sementara Grantoni dan Vinesha memulangkannya ke Dunia Lain dengan mantra pemanggilan terbalik.
Vulcan tak punya langkah lagi.
Sambil batuk berdarah, dia berusaha bertahan.
“Aku… aku tak bisa jatuh di tempat seperti ini.”
“Tempat seperti ini?”
Aku meludahkan air liur bercampur darah.
Tubuhku terus gemetar, tapi aku mengepal erat,
menerjang rasa sakit dengan tekad.
“Aku mengerahkan segala yang kumiliki untuk menjatuhkanmu. Dan bagimu, ini cuma ‘tempat seperti ini’?”
Aku kembali memanggil sihir naga kuno.
Bahkan sisa-sisa naga itu melawan, tapi aku menekannya,
memeras setiap tetes kekuatan terakhir.
“Kalau begitu cara pandangmu, wajar saja kau kalah di sini.”
Orang bodoh yang menatap jauh ke depan tapi buta pada saat ini.
Kau buta oleh apa yang ada di depan, maka kau akan kalah dari orang sepertiku,
yang merangkak maju melalui kekinian.
Aku memastikan dia paham itu.
Tak lama, Vulcan terkekuk kosong.
Baginya, ini pasti hal paling menggelikan.
Terpikir dia akan dikalahkan bukan oleh sesama pahlawan,
tapi oleh orang tak dikenal yang bahkan tak pernah didengarnya.
Tak ada penghinaan yang lebih besar.
Tapi kenyataan tak bisa dibantah.
“Siapa namamu tadi?”
“Hannon.”
“Bukan, bukan nama itu.”
Vulcan tampaknya sadar penampilanku adalah samaran.
Tentu saja, orang yang mahir memanipulasi kekuatan mistis akan mudah mendeteksi Kain Kerudung.
Lagipula, bahkan Lucas memutuskan tak bisa menghindari persepsi Vulcan saat menyusup dan memilih kabur.
Mataku melirik ke belakang.
Karena asap masih mengepul, Xenia belum bisa melihat situasi di sini.
Jadi, aku kembali menghadap Vulcan,
menatapnya langsung dan mengangkat tangan.
“Vikamon.”
Aku tak lagi repot menyebut nama marga.
Lagipula aku sudah dikucilkan dari keluarga Niflheim.
Mendengar nama itu, Vulcan sedikit menunduk.
“Begitu rupanya. Kau bukan ‘orang sembarangan’.”
Api korupnya kembali berkobar,
tapi tak sepanas sebelumnya.
“Kau adalah penerus Zerion, bukan?”
Penerus Zerion?
Aku tak tahu apa yang dia maksud.
Ada rumor bahwa garis darah Count Niflheim berasal dari Zerion.
Lagipula, Xenia menggunakan sihir suci.
‘Dan aku sendiri menggunakan sihir naga kuno.’
Tak aneh jika Vulcan mengira aku keturunan Zerion.
“Zerion… sepertinya sihirmu benar dari awal.”
Bergumam sendiri, Vulcan membentangkan tangan.
Api korup yang nyaris tak bisa dia kendalikan menyala dahsyat.
“Tapi meski begitu, aku takkan jatuh di sini. Vikamon, benar kan?”
Sudut mulut Vulcan menyeringai.
Mataku perlahan membesar saat menyadari niatnya.
Bajingan itu…
“Sampai jumpa lagi.”
Dengan itu, Vulcan menangkupkan tangannya.
Pada detik itu, seluruh tubuhnya meledak menjadi api korup.
Itu adalah Fase 3 barunya.
Melarikan diri.
“Musika!”
Api korup itu membawa mantra pembakar jiwa.
Dengannya, dia berencana membakar jiwanya sendiri,
menjadikannya abu, dan memindahkannya ke wadah lain.
‘Karena dia sudah menyentuh Dunia Lain lewat Sang Kekejian, ini mungkin.’
Saat melawan Lucas, dia bertahan sampai akhir.
Tapi melawanku, dia memilih kabur.
Aku memanggil Musika, tapi tak ada jawaban.
Jelas, dia masih sibuk menahan Sang Kekejian di Dunia Lain.
Mengatupkan gigi, aku menatap Vulcan yang terbakar.
Bangsat terkutuk.
Aku takkan biarkan skenario dipelintir seperti ini.
Aku menendang tanah dan menerjangnya.
“Kau?!”
Suara Isabel berteriak saat akhirnya memahami situasi.
Sebentar, janji antara Sharin dan Seron melintas di pikiranku.
Tapi aku sudah meraih Vulcan.
Tidak apa.
Aku tak berniat mati.
Aku hanya ingin menghentikannya.
Aku merangkul Vulcan yang terbakar,
dan pada saat itu, api korup menyelimutiku sepenuhnya.
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
* * *
Kesadaranku yang tercerai berangsur pulih.
Saat membuka mata, aku melihat hamparan lapangan luas.
Lapangan yang diterangi matahari.
Aku menatapnya kosong sebentar,
lalu menggeleng, menyadarkan diri.
Baru saja aku bertarung melawan Vulcan.
Lalu kenapa aku di sini sekarang?
Aku menekan dahi,
lalu teringat bagaimana aku menerjang Vulcan,
bertekad merebut jiwanya sebelum dia kabur.
‘Aku memang nekat.’
Aku selalu tahu diriku rela mempertaruhkan tubuh,
tapi bahkan aku terkejut dengan keputusasaanku sendiri.
Aku sadar tempat ini sebenarnya makam seseorang.
Dua nisan berdiri di lapangan.
Diterangi matahari, mereka tampak tenang dan damai.
Saat kutatap sebentar, langkah kaki terdengar dari kejauhan.
Saat menoleh, seorang pria berjalan mendekat.
Pria dengan mata merah tua, bernuansa kuning api.
Di tangannya, seikat bunga.
Aku mengenalnya.
Dia muncul sekilas di pembukaan Akt 5 Kupu-Kupu Api.
Salah satu pahlawan yang diperkenalkan di sana.
Sang Api yang Jatuh, Rosli.
Meski pertama kali melihatnya langsung, dia ada di sana.
Angin berhembus,
menerbangkan rambut kami berdua.
Refleks, aku mengangkat tangan dalam sikap siap.
Biasanya, aku mungkin tak waspada,
tapi aku ke sini untuk menghabisi Vulcan.
Rosli memandangku datar, lalu akhirnya bicara.
“Tak kusangka kau mengejarku sejauh ini.”
“Aku agak bandel. Ini… duniamu atau apa?”
“Bukan, bukan hanya duniaku.”
Rosli menatapku.
“Bisa dibilang ini milik kita berdua.”
Dunia jiwa yang kami bagi.
Saat dia mengatakannya, mataku membelalak.
Karena tangan yang kangkat refleks terasa anehnya familiar.
‘Penampilan ini…’
Bentuk yang sama saat aku memperkenalkan diri sebagai Ryu.
Bentuk asliku di dunia nyata, bukan karakter game.
“Kau menyebut diri Vikamon, tapi penampilanmu sama sekali berbeda. Aku bahkan tak bisa melihat wajahmu.”
Dia tak bisa melihat wajahku?
Aku mengangkat tangan dan menyentuhnya.
Aku bisa merasakan hidung dan mataku normal,
tapi baginya, sepertinya wajahku sama sekali tak terlihat.
Rosli bergumam sambil menatap, lalu tiba-tiba berhenti.
“Tidak… mungkin itu tak sepenuhnya benar.”
Apa maksudnya?
Aku tak tahu, tapi Rosli berjalan mendekat.
Tak ada permusuhan dalam gerakannya.
Saat aku mundur, dia melewatiku dan berlutut di depan makam keluarga,
meletakkan bunga.
“Dulu, aku juga ingin menyelamatkan dunia ini.”
Aku tahu.
Itu sebabnya dia bertarung begitu keras,
sampai dijuluki pahlawan.
“Tapi dunia menghancurkan duniaku.”
Keluarga Rosli.
Mereka tewas di tangan Kerajaan Zebra,
negara yang dia korbankan diri untuk lindungi.
Kerajaan ingin memanfaatkan Rosli sebagai pion.
Untuk itu, mereka menyandera keluarganya
dan memaksanya bertempur sebagai tentara bayaran.
Di masa itu, Rosli dijuluki Raja Bayaran,
namanya ditakuti di Perang Besar di bawah bendera Zebra.
Tapi saat dia kembali setelah mengakhiri perang,
keluarganya sudah lama mati, dikubur diam-diam.
Keluarga kerajaan meminta maaf resmi,
memohon pengampunannya.
Warga mengadakan prosesi untuk berkabung,
meratapi tragedinya.
Tapi bagi Rosli, itu justru lebih memuakkan.
Dunia memaksanya memaafkan,
padahal dia sendiri tak pernah memberi maaf itu.
Akhirnya, Rosli putus.
Dia melepaskan utas kewarasan terakhirnya.
Dia ingin membakar dunia dalam kemarahannya.
Meski para pahlawan akhirnya mengalahkannya, amukannya nyaris tak terhentikan.
Dunia tak tahan malu mengakui
bahwa salah satu pahlawan mereka telah jatuh.
Maka, kejatuhan Rosli dihapus dari sejarah,
tersembunyi dalam bayang-bayang masa lalu.
Begitulah dendam Rosli pada dunia bermula.
“Aku tak bisa berhenti membenci dunia ini.”
Rosli hancur.
Yang tersisa hanya kebencian pada dunia.
Kebencian itulah yang dia wariskan ke Vulcan.
Pria di depanku adalah Rosli sekaligus Vulcan.
“Kenapa kau berjuang begitu keras untuk dunia ini?”
Kenapa aku bertarung mati-matian untuk dunia ini?
“Karena aku pernah menyerah sekali sebelumnya.”
Hari aku melepaskan segalanya karena luka.
Hari itu, kekosongan yang kurasakan seperti dunia runtuh.
Aku tak perlu ada yang mengerti.
Itu yang kurasakan.
Itu sebabnya aku tak ingin merasakannya lagi.
Arc Kupu-Kupu Api di Academy Slayer
adalah kesempatan keduaku memiliki dunia yang berarti segalanya.
“Begitu… maka kau dan aku tak akan pernah sepaham.”
Dari tubuh Vulcan, Sang Api yang Jatuh kembali berkobar.
“Saat kau menerjangku saat aku menjadi abu, kau dan aku terpaksa terikat oleh dunia jiwa bersama ini.”
Lapangan berubah hitam pekat,
cahaya lenyap sepenuhnya.
Langit sendiri gelap menjadi kekosongan mengerikan,
aura jahat menyebar.
“Artinya, saat salah satu dari kita menguasai dunia ini, dia akan mengendalikan tubuh juga.”
Mata ketiga di dahi Vulcan terbuka,
air mata hitam mengalir darinya.
“Tubuh reinkarnasiku sudah jadi abu. Yang tersisa hanya dagingmu. Aku akan memanfaatkannya.”
“Kau tak akan menikmatinya.”
Aku menyeringai, tangan masih siap.
“Ini tubuh cuma berisi stamina. Tak banyak yang didapat.”
Kalau dia mengambilnya, pasti kecewa.
Tapi tentu saja, aku tak berniat memberikannya.
“Kita lihat saja.”
Rosli—bukan, Vulcan—tersenyum keji,
bibirnya melengkung jahat.
Pertarungan terakhir di dunia jiwa dimulai.
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
—–Sakuranovel.id—–
apalah, namanya yang konsisten dong, jangan di ubah-ubah