The World After the Bad Ending Chapter 125: Emotional Deprivation Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Penyihir Gila
Vinesha

Ini terjadi sebelum ia dijuluki seperti itu.

Vinesha terguling di antara serpihan langit yang tumpah ke dunia bawah.
Roh jahat yang menyelimutinya nyaris berhasil melindunginya.
Dalam pelukan roh itu, ia menggenggam erat sebuah liontin.

Dadanya terasa sesak.
Pikirannya kacau.

Kenangan yang ia kira takkan pernah terungkit lagi—serpihan masa lalu yang jauh—membanjiri benaknya.
Vinesha kewalahan.
Gempuran ingatan itu berkilat di kepalanya bagai badai gila, membuatnya tak bisa berpikir jernih.

Mungkin karena itu, ingatannya mulai terpampang di depan matanya seperti adegan panorama.

Masa kecil yang ditinggalkan orang tuanya.
Ada satu hal yang sama-sama diucapkan ibu dan ayahnya:

“Kita seharusnya tidak pernah melahirkanmu.”

Kata-kata yang mengutuk keberadaannya.
Meski ia mendengarnya saat masih terlalu kecil, kata-kata itu tetap membara dalam ingatannya.

Ketika berusia enam tahun, orang tuanya meninggalkannya.
Di usia ketika ikatan seharusnya terbentuk—ketika orang tua adalah segalanya—ia justru dibuang.

Dan ia tak punya apa-apa lagi.

“Kenapa kau masih di sini?”

Kelaparan, kehausan, dan nyaris mati, seorang wanita muncul di hadapannya.

Mentor dan ibu angkatnya.
Marisa.

Marisa menyayangi Vinesha melebihi siapa pun.
Itu adalah kasih sayang yang belum pernah Vinesha rasakan seumur hidupnya.

Tapi Vinesha sudah mengalami kehilangan segala yang ia sayangi.
Sebagai gantinya, ia mencengkeram Marisa dengan ketergantungan yang menghancurkan.
Tak ingin ditinggalkan lagi, Vinesha mengabdikan dirinya pada Marisa.

Sepanjang hidupnya, ia tak pernah merasakan kasih sayang yang tulus, meninggalkan lubang kosong di dalam hatinya.
Hanya Marisa yang bisa mengisinya.
Maka, obsesi Vinesha tak terhindarkan.

Untuk menyenangkan Marisa, ia belajar sihir dengan tekad membara.
Untungnya, Vinesha berbakat, dan Marisa memujinya.

Untuk pertama kalinya, Vinesha merasa kekosongan dalam dirinya terisi.
Ia sadar—inilah yang namanya kebahagiaan.

Lalu suatu hari, Marisa membawa pulang dua anak lagi.

Dua anak yang lebih muda dari Vinesha.
Mereka juga anak-anak terlantar.

Seorang anak laki-laki dan perempuan seusia.
Nama anak laki-laki itu Grantoni, dan anak perempuannya Musica.

‘Mengapa mentor membawa orang lain? Apakah aku tidak cukup baginya?’

Awalnya, Vinesha tidak menyukai keduanya.
Kasih sayang Marisa tak mudah diperoleh, dan sekarang harus dibagi.

‘Aku harus bertahan.’

Tapi Vinesha tak bisa meluapkan kebenciannya.
Ia tahu Marisa tak akan menyetujui perasaan seperti itu.

Waktu berlalu, dan ketiga anak itu tumbuh.

Marisa segera menyadari bahwa Grantoni dan Musica juga berbakat sebagai penyihir roh.
Tentu saja, Marisa mengasah kemampuan mereka, seperti yang ia lakukan pada Vinesha.

Meski Grantoni berbakat, Musica lebih mencolok.
Bakatnya bahkan melebihi Vinesha.

Alhasil, tanpa sadar, Marisa kerap memuji Musica.

“Luar biasa, Musica! Bakatmu mungkin yang terhebat di dunia.”

“Hihihi, itu semua berkat ajaran hebatmu, Guru!”

Musica adalah anak yang sangat ceria.
Ke mana pun ia pergi, keceriaannya selalu menonjol.

Karena itu, awalnya Vinesha tidak menyukainya.
Baginya, Musica adalah pencuri tak tahu malu yang mencuri kasih sayang Marisa.

Tapi Musica adalah anak yang baik.

“Vinesha, Kak!”

Begitu melihat Vinesha, Musica langsung melambai gembira dan berlari ke arahnya.

Awalnya, Vinesha berusaha menjauh, merasa tidak nyaman di dekat Musica.
Tapi Musica tidak mengenal jarak.

Setiap menemukan sesuatu yang menyenangkan, ia akan menarik Vinesha untuk berbagi.
Meski kesal, entah mengapa, Vinesha tak pernah bisa menolak.

Di suatu hari bersalju yang sangat dingin, Vinesha ditugaskan menyiapkan makan malam karena Marisa sedang sibuk.
Ia pergi ke pasar, tapi teralihkan dan pulang agak terlambat.

Meski lebih tua dari Grantoni dan Musica, Vinesha masih penuh rasa ingin tahu.
Jadi, ia sempat lupa waktu.

Tapi sepertinya tidak apa-apa.
Jalanan masih cukup terang, dengan banyak orang di sekitar.
Hanya angin dingin yang membuatnya mengencangkan mantel.

Saat Vinesha bergegas pulang, tiba-tiba ia melihat sosok kecil.

Itu Musica.

Berdiri di salju, ia menangkupkan tangan ke arah cahaya lentera, menggigil hebat.

Kaget, Vinesha segera menghampirinya.

“Musica, kenapa kau di sini?”

“Aku menunggumu, Kak. Jalan sendirian di malam hari menakutkan.”

Musica tersenyum cerah, tangan beku-nya meraih tangan Vinesha.

“Hiks… aku meniup tanganku supaya hangat.”

Wajahnya merah padam karena kedinginan.

“Kenapa kau menungguku?”

“Karena aku ingin melihatmu.”

Masa iya ia menunggu dalam kedinginan hanya karena merindukannya?

Vinesha tak mengerti, tapi ia segera menggandeng Musica pulang.
Kalau Musica masuk angin, Marisa mungkin akan menyalahkannya.

Saat tiba di rumah, Grantoni sudah ada di sana.
Dibanding Musica, Grantoni lebih pendiam.

Ia sudah menyalakan perapian dan menyiapkan air hangat.

“Kak, ini selimut!”

Begitu Vinesha duduk di dekat api, Musica buru-buru mengambilkan selimut.
Setelah menyelimuti Vinesha, ia duduk di kakinya dan ikut berselimut.

“Lebih hangat seperti ini!”

Lalu, Grantoni diam-diam juga menyelinap di bawah selimut.

Saat itulah Vinesha menyadari sesuatu.

Ah, jadi begini rasanya dicintai tanpa syarat.
Anak-anak ini memberinya kasih sayang—bukan karena mengharapkan balasan, tapi karena mereka peduli.

Itulah momen ketika Vinesha benar-benar menerima Musica dan Grantoni ke dalam hatinya.

Tapi penerimaan itu justru menjadi awal tragedi berikutnya.

Luka mendalam yang ditorehkan orang tuanya tidak mudah sembuh.

Hari demi hari, kecemerlangan Musica semakin bersinar.
Seiring bakatnya berkembang, perhatian Marisa semakin teralih padanya.

Meski Vinesha ingin mendukung Musica, suara dari masa kecilnya bergema dalam dirinya.

‘Jika ini terus berlanjut, kau akan ditinggalkan lagi. Seperti dulu.’

Marisa memang mencintai Vinesha.

Hati yang Bolong

Hati Vinesha seperti lubang menganga.
Sebanyak apa pun kasih sayang yang dituang, terus bocor tak berujung.

Ini mungkin bagian dari tumbuh dewasa.

Pasti, begitu ia dewasa, perasaan jelek ini akan hilang.
Iri hati yang buruk akan lenyap seiring waktu.
Itulah yang ia harapkan.

Tapi kecemasan terus mencekiknya.

Lalu tibalah hari ketika ia, tanpa kemampuan yang memadai, membuka Dunia Bawah untuk meningkatkan diri sebagai penyihir roh.
Hari itu, sesuatu yang tak bisa diperbaiki terjadi.

Makhluk jahat yang menunggu pembukaan Dunia Bawah menanam benih dalam dirinya.
Kenangan saat itu terhapus bersih.
Benih itu menghapusnya sepenuhnya.

Tapi sejak hari itu, Vinesha mulai merasakan perubahan aneh dalam emosinya.
Sebelumnya, meski hatinya bergolak melihat Musica, rasa sayangnya masih lebih besar.

Sekarang, rasanya seperti emosinya mencekiknya sendiri.
Seperti sumbu yang dinyalakan api takkan pernah padam.

Vinesha mencoba menegur dirinya berulang kali, untuk tetap tenang.
Tapi pengaruh benih itu tak kenal ampun.
Tanpa henti, ia memicu emosi Vinesha.

“Musica, kau tidak tahu seberapa sering aku memujimu di Asosiasi Penyihir Roh belakangan ini!”

“Ah, Guru, itu semua berkat ajaran hebatmu.”

“Meski begitu, bakat sehebat ini di usiamu belum pernah ada. Kau salah satu yang terbaik di antara teman sebayamu.”

Hari itu, Musica kembali dipuji Marisa.

‘Aku takkan pernah jadi yang paling Guru banggakan.’

Saat itulah benih yang terdistorsi dalam hati Vinesha mekar.

“Kak, aku pulang!”

Hari itu, Marisa dan Grantoni pergi, meninggalkan Vinesha dan Musica sendirian di rumah.

Musica baru saja kembali dari konferensi akademik, di mana ia diundang memamerkan sihir rohnya.

“Lihat, Kak! Aku beli kue krim enak di jalan.”

“Musica.”

Musica dengan riang melepas syal sambil berbicara, tapi saat Vinesha menyelanya, ia menoleh.

Dan saat itulah raut wajahnya berubah.

Karena separuh tubuh Vinesha sudah tidak lagi manusiawi.

“M-Maaf… sepertinya aku sudah sampai batas.”

Air mata memenuhi mata Vinesha.

Kecemburuan dan kekosongan yang ia kira akan hilang seiring waktu ternyata tidak.
Dengan gegabah membuka Dunia Bawah tanpa kekuatan memadai, ia memanggil makhluk yang tak seharusnya.

Mengikuti gerakan Vinesha, Dunia Bawah menampakkan diri.
Ia muntah darah, menjerit kesakitan, diliputi kegilaan.

Musica langsung tahu—jika ini berlanjut, Vinesha akan mati.

Satu-satunya cara menyelamatkannya adalah masuk ke Dunia Bawah dan memutus hubungan dengan makhluk jahat itu.
Dan Musica tahu konsekuensinya.

Tapi ia berlari.

Karena Vinesha adalah kakak yang ia cintai.

“Kak, maafkan aku. Aku seharusnya mengerti rasa sakitmu.”

Tidak.

Bahkan saat makhluk itu mengendalikannya, Vinesha menjerit.
Ini salahnya.
Semua karena ia lemah.

Mustahil ini kesalahan Musica.

“Kau tahu, Kak, memiliki dirimu sebagai kakak membuatku paling bahagia di dunia.”

Musica memanggil sihir rohnya.

“Tidak… Tidak! Berhenti!”

Jeritan Vinesha bergema.

Tapi Musica masuk ke Dunia Bawah, memutus hubungan antara Vinesha dan makhluk jahat itu, lalu menutup pintunya.

Kilatan cahaya meledak.
Akibat putusnya hubungan, Vinesha pingsan.

Saat ia bangun, semuanya sudah berakhir.

Mentornya, yang mengorbankan nyawa untuk menyelamatkannya.
Grantoni, yang wajahnya hancur dalam kekacauan itu.
Dan Musica, yang menghilang tanpa jejak.

Di tangan Vinesha yang gemetar, tergenggam liontin pemberian mentornya.

Dikelilingi reruntuhan rumah yang pernah ia sayangi, ia tertawa hampa.

Makhluk jahat itu telah menghancurkan inti emosinya.
Ia tak tahu lagi harus berbuat apa.

Jadi, ia hanya berjalan.

Langkah demi langkah, sisa-sisa ingatannya runtuh, menghilang dalam ketiadaan.
Ia menjadi kosong.

Kosong dari ingatan.
Kosong dari emosi.
Sebuah keberadaan yang hampa.

Itulah Vinesha.

Kilas—

Vinesha membuka mata.

Hanya bekas air mata yang mengering tersisa di wajahnya.

“Ah.”

Dan sekarang, akhirnya ia mengerti mengapa hatinya sakit begitu dalam.
Ia menyadari betapa berat setiap dosa yang telah ia perbuat.

—–Sakuranovel.id—–

Daftar Isi

Comments

2 responses to “The World After the Bad Ending Chapter 125: Emotional Deprivation Bahasa Indonesia”

  1. RedBaron says:

    Vinesha 🥺

  2. Ahiyaiya says:

    Ah hey, dah lah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *